4 Catatan Penuhi Kebutuhan Gizi Ditengah Pandemi
Ini akan saya lakukan di masa pandemi ini kalau sampai lockdown dan krisis moneter, insha Allah survive.
Deni Frayoga, S.KM

Belajar dari krisis moneter, mereka yang survive, mereka yang memiliki lahan pangan untuk memenuhi kebutuhan dasar.

Di masa pandemi ini dampak sosial ekonominya memang luar biasa. Yang kerja kena PHK, yang punya bisnis mengalami penurunan pendapatan, pekerja harian kehilangan pendapatan.

Setiap buka media sosial, keluh kesah warga net yang lebih ke ekonomi terus bermunculan. Belum lagi bantuan yang tidak bisa mencakup seluruh rakyat, sehingga hanya sebagian yang diprioritaskan menimbulkan kecemburuan sosial. Hujatan kepada pemerintah pun jadi nyanyian setiap hari. Memang tidak ada yang bisa disalahkan, tak ada negara yang mau mengalami pandemi ini.

Baiklah kita berhenti sejenak ngomongin segala kegalauan ini. Kita kilas balik ke krisis moneter 22-23 tahun lalu.

Saat saya masih di Klaten saya berbincang dengan salah satu kolega saya membicarakan soal pandemi ini. Dia mengatakan, “Mas Deni, saya tidak khawatir dengan dampak pandemi ini jika sampai krisis moneter, tapi saya khawatir terhadap orang-orang di negeri ini. Saya sudah berhasil melewati krisis moneter.”

“Wah gimana itu Pak strateginya?” tanya saya.

“Gini mas, saya menahan sekeluarga menahan nafsu duniawi. Anak saya menahan untuk jajan di luar. Istri saya menahan untuk tidak belanja pakaian, tas dan segala macem. Sing penting mas, tidak kelaparan dan tidak kekurangan gizi.

Saya punya pekarangan depan dan belakang rumah, coba lihat semua tanamannya adalah pangan, saya bikin kolam kecil buat pelihara ikan, halaman depan saya tanami berbagai buah-buahan dan sayuran sedangkan di belakang saya tanami sumber karbohidrat (ubi, singkong).

Saya memang punya sawah tapi panen hanya 6 bulan sekali, dan itu hasilnya tidak lebih dari 2 kuintal. Dulu saat krisis moneter saya sempet kehabisan stock beras, sedangkan panen masih 1 bulanan lagi.

Survive di tengah pandemi

Yang istri saya lakukan dia memasak sayuran yang ada depan rumah, dan ikan dengan karbohidratnya singkong belakang rumah. Awalnya aneh, tapi lama-lama terbiasa.

Sehingga sampai sekarang kami selalu ada ritual khusus seminggu sekali untuk mengenang masa sulit yaitu sehari tanpa nasi dengan menggantinya oleh ubi-ubian.

Ini akan saya lakukan di masa pandemi ini kalau sampai lockdown dan krisis moneter. Kemarin saya tanya istri, bu sawah panennya kapan? Ikan aman kan? Ini akan saya lakukan di masa pandemi ini kalau sampai lockdown dan krisis moneter Ini akan saya lakukan di masa pandemi ini kalau sampai lockdown dan krisis moneter. Kemarin saya tanya istri, bu sawah panennya kapan? Ikan aman kan?

Mas, sebulan lagi saya panen beras, kalau ekonomi sulit insha Allah kami bisa memenuhi kebutuhan dasar dan gizinya ada. Bosan mungkin makan ikan tiap hari, tapi ini adalah lebih baik agar kebutuhan protein terpenuhi. Itulah strateginya mas, insha Allah kami survive”, terang beliau.

Begitulah yang dilakukan kolega saya, dalam menghadapi krisis. Namun sayangnya kita semua gak bisa menerapkannya, terutama kita yang tak punya lahan. Apalagi rumah-rumah KPR itu nyaris gak ada pekarangannya.

Dari pengalaman beliau kita bisa menerapkan:

  1. Belajar mengurangi ketergantungan nasi dengan cara sehari tanpa nasi, ganti dengan umbi-umbian.
  2. Manfaatkan pekarangan, lahan dengan tanaman pangan.
  3. Yang tidak punya lahan, ataupun pekarangan kita manfaatkan tanaman di pot. Menanam sayuran di pot, setidaknya sedikit membantu.
  4. Puasa dari nafsu duniawi, hal yang paling penting kebutuhan dasar, gizi itu yang terpenuhi dulu.

Sharing is caring!

(Visited 77 times, 1 visits today)