4 Langkah Ini Bikin Program Puskesmas Kamu Lebih Powerful Bersama Lintas Sektor
Bagaimana menganalisis lintas sektor yang ada di wilayah kerja? Berikut4 langkah yang bisa dilakukan oleh programmer di Puskesmas.

Pusat Kesehatan Masyarakat atau Puskesmas merupakan pemeran utama dalam pembangunan kesehatan di level kecamatan. Puskesmas dituntut melakukan berbagai program dan kegiatan untuk meningkatkan kesehatan di wilayah kerjanya. Sasarannya mengikuti siklus life cycle, mulai dari dalam kandungan, bayi, anak-anak, remaja, usia subur, ibu hamil, dan lanjut usia.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah dengan sumber daya yang terbatas akan mampu mencapai target-target program? Jawabannya tentu TIDAK. Puskesmas perlu menggandeng sektor lain dalam penyelenggaraan pelayanan. Hal ini sesuai dengan salah satu prinsip penyelenggaraan Puskesmas yaitu Keterpaduan dan Kesinambungan. Puskesmas bukan hanya wajib mengintegrasikan dan mengoordinasikan penyelenggaraan UKM dan UKP ke lintas program tetapi juga ke lintas sektor dalam hal perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi.

Ada istilah, “Bersama-sama tentu lebih baik”. Ya, jika saling bersinergi mengatasi masalah maka beban akan menjadi terasa ringan. Namun, masih ada juga “penyakit” Puskesmas yang tidak mau melibatkan lintas sektor. Ini adalah kekeliruan yang bisa jadi blunder. Mengapa? Sekarang bukan zaman lagi menjalankan sendiri programnya tanpa melibatkan lintas sektor atau mengedepankan ego program dan tidak bekerja sama dengan program lain. Tapi harus berkolaborasi satu sama lain.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, jangan heran kita mendapati kegiatan kita kurang dihadiri oleh masyarakat, atau misalnya kurang mendapatkan dukungan dari Pak Camat, dan lain sebagainya.

Kerap kali jika menghadapi kondisi tersebut, kita sering mengkambing-hitamkan masyarakat atau lintas sektor atas rendahnya partisipasi mereka terhadap program Puskesmas. Hal yang harus dilakukan adalah jangan langsung menyalahkan lintas sektor, namun bertanya pada internal Puskesmas terlebih dahulu.

Contoh, sudah sejauh mana mendekati masyarakat dan lintas sektor? Atau sejauh mana kualitas program intervensi Puskesmas untuk masyarakat?

Jangan sampai masyarakat mempunyai citra kurang baik dengan Puskesmas (Puskesmas hanya melaksanakan kegiatan yang tidak berkualitas, hanya sebentar saja, hanya foto-foto, terus pulang, dan laporan kelar). Bisa jadi itu yang membuat mereka tidak berminat mengikuti kegiatan puskesmas.

Lintas sektor berkaitan dengan Akreditasi Puskesmas. Puskesmas diwajibkan harus menjalin komunikasi dan koordinasi yang baik bukan saja lintas program namun juga lintas sektor. Tak berhenti sampai disitu. Puskesmas juga harus mengidentifikasi peran-peran masing-masing lintas sektor terkait terhadap peningkatan mutu pelayanan.

Berikut ini 4 Tipe Lintas Sektor yang dapat memudahkan program untuk memetakan lintas sektor di wilayahnya:

  1. Memiliki kepentingan tinggi namun memiliki pengaruh yang rendah

Pihak-pihak yang berada di tipe ini perlu didekati. Mereka mempunyai visi yang kuat untuk melihat perubahan-perubahan ke arah lebih baik. Namun, karena tidak memiliki pengaruh yang kuat sehingga “suara mereka tenggelam”. Dalam artian, mereka enggan atau tidak yakin memulai kegiatan.

Hal yang harus dilakukan adalah jalinlah komunikasi dengan baik dan yakinkan stakeholder tersebut bahwa jika bersama-sama melakukan kegiatan maka tujuan bersama akan tercapai pun termaksud kebutuhan mereka.

  1. Kepentingan tinggi dan juga pengaruh yang besar

Stakeholder yang termaksud di tipe ini bisa dibilang adalah aktor kunci eksternal terhadap keberhasilan program.Mereka memiliki kepentingan tinggi yang sejalan dengan program kesehatan dan disamping itu juga mereka memiliki power untuk menentukan keberhasilan atau kegagalan kegiatan kita.

Hal yang perlu dilakukan saat mengadvokasi ke stakeholder tipe ini adalah pertama, tetap harus menjalin komunikasi yang intens. Tujuannya adalah meyakinkan mereka bahwa kita adalah mitra atau partner yang bisa dipercaya dan mampu bekerja sama mencapai tujuan masing-masing. Kedua adalah perlu dikomunikasi mengenai tujuan, detail rangkaian proses, output hingga outcome yang bisa diperoleh dari hasil kegiatan. Termaksud feedback yang akan diterima atau dirasakan oleh stakeholder tersebut.

  1. Kepentingan rendah dan juga pengaruh rendah

Untuk lintas sektor tipe ini mau tidak mau juga perlu dilibatkan dalam program atau kegiatan Puskesmas, namun tidak memerlukan strategi untuk melibatkan mereka secara khusus. Tetaplah memberikan informasi seperlunya dan menjaga hubungan agar tidak menjadi penghambat.

  1. Kepentingan rendah namun pengaruh tinggi

Lintas sektor tipe ini bisa jadi bukan menjadi target utama dari program kesehatan namun sangat mungkin menjadi penentang atau penghambat program. Mereka perlu mendapatkan perlakuan bahwa keberadaan mereka itu adalah penting bagi program kesehatan. Hal yang harus dilakukan yaitu selalu berikan pada mereka informasi-informasi, dan berikan pengakuan terpada pandangan-pandangan mereka, hal ini diperlukan agar tidak timbul konflik terbuka.

Selain Puskesmas harus memetakan lintas sektor ke dalam 4 tipe di atas, juga harus mengetahui bagaimana menganalisis lintas sektor yang ada di wilayah kerjanya. Berikut adalah langkah-langkah yang bisa dilakukan oleh programmer di Puskesmas:

Langkah 1, duduk sama-sama bersama programmer lainnya membahas identifikasi lintas sektor kunci. Berikut pertanyaan yang bisa membantu puskesmas dalam mengidentifikasi karakteristik lintas sektor:

  1. Siapa saja penerima manfaat yang potensial dari kegiatan Puskesmas?
  2. Siapa saja yang mungkin menerima dampak buruk dari kegiatan?
  3. Apakah kelompok-kelompok yang rentan telah diidentifikasi? Siapa saja?
  4. Apakah kelompok-kelompok pendukung dan kelompok-kelompok lawan juga telah diidentifikasi? Siapa saja?
  5. Apa saja hubungan-hubungan yang terjadi di antara lintas sektor tersebut?

Langkah 2, lakukan assessment terhadap kepentingan-kepentingan para lintas sektor dan dampak-dampak potensial yang muncul dari kepentingan tesebut?

  1. Apa saja harapan-harapan yang muncul dari para stakeholder terhadap program/ kegiatan ?
  2. Keuntungan – keuntungan /manfaat apa saja yang mungkin akan diperoleh pada stakeholder/ lintas sektor ?
  3. Sumber daya apa saja yang bisa atau bahkan mungkin sangat ingin dimobilisasi oleh para lintas sektor?
  4. Apa saja kepentingan-kepentingan para stakeholder yang berlawanan dengan tujuan-tujuan program/ kegiatan?

Langkah 3, lakukan assessment terhadap pengaruh dan kepentingan pada stakeholder ini:

Untuk setiap kelompok lintas sektor lakukan assessment terhadap:

  1. Kekuasaan dan statusnya (politik, sosial dan ekonomi)
  2. Derajat/ level lembaga/ organisasinya
  3. Penguasaan terhadap sumber daya yang strategis
  4. Pengaruh-pengaruh informal (seperti hubungan personal)
  5. Relasi kekuasaan dengan lintas sektor lain
  6. Arti penting terhadap keberhasilan program/ kegiatan

Langkah 4, buatlah satu kerangka  untuk menentukan strategi pelibatan lintas sektor. Rencana pelibatan stakeholder/ lintas sektor ini berdasarkan:

  1. Ketertarikan, pengaruh, dan kepentingan dari setiap kelompok lintas sektor
  2. Upaya khusus yang dilakukan untuk melibatkan lintas sektor yang penting/ yang berkepentingan namun tidak mempunyai pengaruh
  3. Bentuk-bentuk partisipasi yang memadai pada keseluruhan siklus program/ kegiatan

Padahal, untuk skala kecamatan sangat banyak potensi lintas sektor yang bisa dilibatkan dalam program kesehatan.  Misalnya, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, pendamping desa, pendamping PKH, kader BKB, pertanian, imam desa, tokoh pemuda, LSM, sekolah dan lain sebagainya. Tugas puskesmas-lah untuk merangkul semua potensi lintas sektor, agar bersinergi menuntaskan masalah kesehatan di wilayah kerja Puskesmas. Karena urusan kesehatan adalah urusan kita semua. Salam Sehat.

Sumber:
Materi Pembekalan NSI dan Pengalaman Penulis

Sharing is caring!

(Visited 509 times, 1 visits today)