Atasi Gizi Buruk, Ini Peran Penting Pahlawan Pangan di Losari

Atasi Gizi Buruk, Ini Peran Penting Pahlawan Pangan di Losari
Pahlawan pangan yang notabene kader melaporkan adanya kasus balita gizi buruk hingga membantu proses pembuatan dan distribusi PMT Pemulihan.

Pedoman Jangka Panjang Ketahanan Pangan Indonesia menyebutkan bahwa dalam periode 2012-2014 sebanyak 51% penduduk Indonesia dalam kategori rawan pangan, menunjukkan bahwa lebih dari setengah penduduk Indonesia tidak dapat memenuhi kebutuhan pangan dan energi harian mereka.

Dalam jangka waktu yang lama, ketahanan pangan memicu kurangnya pemenuhan gizi yang akan mengakibatkan masalah gizi kronis. Pada kategori umur tertentu, masalah gizi kronis dapat mengakibatkan dampak yang turun-temurun dari generasi ke generasi (intergenerational impact).

Menyadur statement World Food Programme pada platform media sosial Twitter 11 Oktober 2018 lalu, “investing in nutrition is investing in health, learning & a brighter future”. Apakah benar bahwa berinvestasi pada nutrisi sama dengan berinvestasi pada kesehatan, pembelajaran dan masa depan yang baik? Apakah ini berarti anak dengan gizi buruk tidak memiliki masa depan yang cerah?

BACA JUGA:  Jangan Ada KUSTA di Antara Kita! Kisah Pengalaman Dokter Pencerah Nusantara di Sudut Pantura!

Berdasarkan hasil Pemantauan Status Gizi 2017 presentase underweight (gabungan gizi buruk dan gizi kurang) balita 0-59 bulan di Indonesia sebesar 17,8% dengan atau tanpa komplikasi. Berarti jika ada 100 anak maka sedikitnya terdapat 17 anak mengalami masalah gizi akut berupa gizi buruk atau gizi kurang. Menurut UNICEF, masalah gizi ini disebabkan secara langsung oleh infeksi dan/atau asupan makanan yang tidak adekuat.

Untuk mengatasi masalah gizi buruk non-komplikasi, salah satu upaya yang dilakukan pemerintah adalah pemberian makanan tambahan atau dikenal dengan istilah PMT. Ada 2 jenis PMT yaitu PMT Pemulihan dan PMT Penyuluhan. Mari kita pelajari PMT jenis pertama, PMT Pemulihan.

Di Puskesmas Losari, PMT Pemulihan diberikan kepada anak gizi buruk. Pada awalnya, mereka dideteksi dari penimbangan berat badan dibawah garis merah atau pita kuning pada grafik Kartu Menuju Sehat (KMS) saat posyandu yang dilakukan tiap bulan.

Tenaga pelaksana gizi bersama bidan desa akan turun lapangan memvalidasi data anak gizi buruk yang dilaporkan dengan cara melakukan pengukuran ulang dan melihat riwayat penimbangan. Pada pelaksanaan tahun ini, PMT Pemulihan Puskesmas Losari diberikan kepada 10 balita dengan pemberian makanan olahan lengkap memperhatikan nilai makro dan mikronutrien sesuai pedoman pemberian PMT Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) tahun 2017.

BACA JUGA:  Atasi Gizi Buruk, Alumni Nusantara Sehat Siap Tugas ke Asmat!

Kegiatan PMT Pemulihan ini tak lepas dari dukungan para pahlawan pangan yang berasal dari masyarakat, terutama kader kesehatan di masing-masing desa. Dibuktikan dengan kontribusi mereka dalam melaporkan adanya kasus balita gizi buruk hingga membantu proses pembuatan dan distribusi PMT Pemulihan.

Para kader kesehatan ini dengan suka rela meluangkan waktu dan tenaga membantu mengentaskan masalah gizi buruk dilingkungannya. Semangat kerelawanan itu semakin terlihat manakala mereka berkomitmen melakukan distribusi PMT Pemulihan selama 90 hari kedepan.

Pemberian PMT Pemulihan ini juga membutuhkan dukungan dari keluarga balita. Ibu sebagai anggota keluarga yang paling dekat dengan balita menjadi aktor utama dalam pemenuhan gizi sasaran. Peran Ibu dalam intake makanan balita diantaranya adalah sebagai aktor penentu jenis asupan makanan, porsi makanan yang diterima balita dan frekuensi makan balita.

PMT Pemulihan ini pun hadir sebagai media percontohan bagi ibu dalam menyiapkan makanan yang sesuai bagi balita. PMT Pemulihan di Puskesmas Losari pada tahun 2018 ini berupa makanan olahan yang dipilih dari berbagai bahan pangan lokal yang mudah didapat seperti udang, bandeng, dan ayam, sesuai dengan prinsip pemberdayaan sumber pangan lokal yang mudah diakses dan dijangkau oleh masyarakat. Hal ini dimaksudnya untuk mendorong kebiasaan makan balita dalammemenuhi prinsip gizi seimbang dan mendukung ketahanan pangan ditingkat keluarga.

BACA JUGA:  Pencerah Nusantara Muara Enim: Intervensi Kesehatan Sebaiknya Selaras dengan Keluhuran Budaya Lokal!

Keluarga tahan pangan akan menjadi katalis yang baik untuk mewujudkan keluarga sadar gizi. Lebih jauh, pemenuhan pangan yang terjangkau berkualitas dan merata akan menurunkan angka kelaparan dan kerawanan pangan. Efek jangka panjangnya adalah meningkatnya produktivitas individu danakhirnya mereka dapat memaksimalkan kesejahteraan dan mendukung perkembangan nasional di berbagai aspek.

Maka jawaban dari pertanyaan utama sebelumnya adalah kita masih bisa mengupayakan optimalisasi status gizi. Salah satunya dengan memastikan kecukupan asupan makan anak ditambahbantuan distribusi PMT Pemulihan bagi balita gizi burukberbasis pangan lokal. Harapannya keluarga terbiasa memenuhi prinsip gizi seimbang dan nantinya menjadi keluarga tahan pangan.

Selamat Hari Pangan Sedunia!


Penulis : Unun Fitry Febria Bafani
Pencerah Nusantara VI Cirebon

Sharing is caring!

(Visited 70 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *