Peringati HAS 2017, HMKM STIKes Indramayu Gelar Talkshow Teenagers Without AIDS

Sabtu, 9 Desember 2017, HMKM STIKes Indramayu  menyelenggarakan Talkshow dan Test VCT dalam rangka memperingati  Hari  AIDS Sedunia 2017.

Sabtu, 9 Desember 2017, Himpunan Mahasiswa Kesehatan Masyarakat STIKes Indramayu  menyelenggarakan Talkshow dan Test Voluntary Conseling and Testing (VCT) dalam rangka memperingati  Hari  AIDS Sedunia dengan tema “Teenagers Without AIDS”, bertempat di kuliner Cimanuk.

Talkshow ini diselenggarakan untuk mengadvokasi pemangku kebijakan terkait dengan permasalahan HIV/AIDS di kabupaten Indramayu, sehingga dapat memberikan rekomendasi program, kebijakan,  dan menghasilkan komitmen bersama antar lintas sektor terkait dengan penyelesaian masalah HIV/ AIDS.

Menghadirkan narasumber dari 5 sektor terkait yaitu Dinas Kesehatan, Komisi Penanggulangan AIDS (KPA), Perkumpulan Keluarga Berencana Indoenesia (PKBI), Akademisi, dan Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI).

Talkshow HAS 2017 HMKM STIKes Indramayu

Kegiatan ini dihadiri oleh BEM/ Hima Perguruan tinggi di indramayu, Perwakilan osis di indramayu, LSM Setia Indonesia, dan Masyarakat umum.

Narasumber sepakat bahwa masalah HIV/AIDS di Indramayu ini adalah tangggung jawab bersama, masyarakat dan pemangku kebijakan harus bersatu untuk terus mengedukasi masyarakat agar masyarakat tidak melakukan perilaku berisiko. Sehingga tidak ada lagi kasus baru HIV/ AIDS dan tidak ada lagi masyarakat yang meninggal karena HIV/AIDS.

Upaya untuk mewujudkan hal tersebut, seluruh narasumber sepakat setelah selesai kegiatan Talkshow akan dilaksanakan pertemuan kembali untuk membahas rencana program/ kegiatan dalam mengatasi permasalahan HIV/ AIDS di Indramayu. Pertemuan tersebut sebagai leading sector-nya adalah Dinas Kesehatan dan KPA.

Selain itu disepakati bahwa seluruh sektor terkait dan masyarakat harus mengadvokasi kepada Bupati Indramayu untuk membuat peraturan bupati tentang penanggulangan HIV/ AIDS di Indramayu.

Nota Kesepakatan HAS 2017 Indramayu

Hal ini disepakati oleh  Ibu Sri Nafsiah M.KM yang mewakili kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Indramayu,  Bapak Drs. H. Susanto, BAE,M.Si dari KPA, Bapak Dr. Caya, S.IP,M.Si dari PKBI, Bapak Idham Latif S.KM,M.Epid dari IAKMI, dan Bapak Heri Sugiarto, S.KM,M.Kes. perwakilan dari Akademisi di Kabupaten Indramayu.

Ketua Pelaksana Risni Putri Indriawati berharap semoga kesepakatan yang sudah ditandatangani dapat direalisasikan, sehingga kegiatan talkshow yang telah diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Kesehatan Masyarakat benar-benar bermanfaat untuk masyarakat.

“Kesepakatan yang sudah ditandatangani akan terus dipantau dan ditindaklanjuti kepada leading sector. Kami tidak ingin kesepakatin yang sudah dibuat hanya janji manis saja,” ujar Ketua Umum Hima Kesmas STIKes Indramayu Maxi Abi Permana.

Jalan Panjang Penegakan Kawasan Tanpa Rokok di Indramayu

Menegakan KTR tidak semudah membalikan telapak tangan. Untuk itu kami siap berjuang untuk Indramayu yang lebih sehat tanpa asap ROKOK.

Indramayu memang sudah mengesahkan PERDA Tentang KTR, namun masih terdapat pelanggaran yang belum bisa ditindak lanjut seperti halnya merokok ditempat sembarangan, iklan rokok menguasai setiap sudut kota, gencarnya promosi dengan sasaran generasi muda, dan mensponsori setiap kegiatan hiburan yang ada di Kabupaten Indramayu.

Masalah atau kendala yang ada, bisa jadi karena kurangnya dukungan dari pemangku kebijakan, akan tetapi Bupati Indramayu sebetulnya mendukung berjalanya Kawasan Tanpa Rokok.

Hal ini terungkap manakala Ketua LSM NOCT (No Tobacco Community) Bogor melakukan audensi dengan LSM ISTAR (Indramayu Sehat Tanpa Asap Rokok) Indramayu. 26 September 2017 lalu.

Dalam pertemuan tersebut, dibahas juga langkah – langkah yang sudah ditempuh untuk penegakan KAWASAN TANPA ROKOK.

Memang, menegakan KTR tidak semudah membalikan telapak tangan. Untuk itu kami siap berjuang! mohon dukungan dan doa restu untuk Indramayu yang lebih sehat tanpa asap ROKOK.

Hidup Mahasiswa! Hidup Rakyat Indonesia!

Foto Bersama Abi Indramayu

Milad KE – 15, BEM STIKes Indramayu Gelar Lomba Fotografi, Hingga Film Pendek

Milad KE – 15, BEM STIKes Indramayu Gelar Lomba Fotografi, Hingga Film Pendek, bertema “WORK WITHOUT LIMITES WITH TECHNOLOGY”.

Badan Eksekutif Mahasiswa STIKes Indramayu Proudly Present….

Woro woro, kabar gembira buat kalian yang punya talent dalam hal

  • Fotografi,
  • Membuat Poster, dan
  • Film Pendek

Kami BEM STIKes Indramayu mengadakan lomba “Explore Youre Creativity” dengan bakat di atas dalam rangka Dies Natalis STIKes Indramayu ke-15 dengan tema,

“WORK WITHOUT LIMITES WITH TECHNOLOGY”

Syarat & Ketentuan

  1. Peserta untuk umum
  2. Mengisi formulir dan surat pernyataan ke aslian karya
  3. Karya sesuai dengan tema yang telah di tentukan
  4. Lomba tidak di pungut biaya
  5. Panitia tidak bertanggung jawab apabila ada pelanggaran hak cipta atau ada pihak yang mengajukan tuntutan hukum dari pihak lain
  6. Foto, poster, atau film yang di setorkan masih murni dalam artian belum pernah diikutkan lomba atau di publikasikan
  7. Pemenang di umumkan pada puncak acara Dies Natalis STIKes Indramayu ke-15

Tema Karya

  • Our culture our life
  • Dari sisa menjadi berguna
  • Sehat dengan PHBS

Total hadiah jutaan rupiah + trophy

Info lebih lanjut:
Klik Disini

Download Klik Disini

Terimakasih

Rp 3,6 Miliar untuk BPJS Kesehatan Warga Miskin Tidak Terserap Sepeserpun

“Premi BPJS Kesehatan bagi masyarakat miskin dari bantuan provinsi tidak terserap sepeser pun”, ujar Imon Hidayat, Anggota Komisi IV DPRD Majalengka.

Upaya Pemerintah Kabupaten Majalengka untuk mendongkrak indeks pembangunan manusia (IPM) dari sektor kesehatan dinilai belum serius. Hal itu terkait adanya temuan tidak terserapnya BPJS Kesehatan penerima bantuan iuran (PBI) senilai Rp 3,6 miliar di APBD 2016.

Hal tersebut mengemuka saat rapat dengar pendapat (RDP) antara Dinas kesehatan (Dinkes) dengan DPRD Majalengka, Selasa (18/4). Anggota Komisi IV Imon Hidayat menyebutkan, dana BPJS Kesehatan warga miskin tersebut sumbernya dari bantuan provinsi yang sudah ditransfer ke APBD Kabupaten Majalengka.

“Premi BPJS Kesehatan bagi masyarakat miskin dari bantuan provinsi tersebut tidak terserap sepeser pun. Padahal di lapangan, masih banyak masyarakat miskin yang belum menjadi penerima PBI dari APBN dan kesulitan mendapatkan layanan kesehatan,” sebutnya.

PBI dari bantuan provinsi tersebut sebetulnya bisa digunakan untuk mengaver layanan kesehatan bagi warga miskin yang lain. Di mana premi BPJS yang ditanggung APBN berdasarkan keputusan Mensos RI, dialokasikan untuk 502.932 orang

“Memang kalau sekadar untuk melakukan pelayanan medis di puskesmas, warga miskin manapun sudah diberikan keringanan tanpa dikenakan tarif. Tapi ketika mereka sakit cukup parah dan memerlukan rujukan ke rumah sakit, perlu ada yang mengklaim,” sebutnya.

Anggota Komisi IV lainnya Nana Heryana mengatakan, jika dikonversi ke dalam jumlah penerima, dana sebesar Rp 3,6 miliar tersebut bisa diberikan kepada hampir 12 ribu warga miskin. Perhitunganya, Rp 3,6 miliar dibagi 12 bulan kemudian dibagi besaran premi untuk peserta BPJS kelas III yakni Rp 25.500.

“Ini artinya sepanjang tahun 2016 lalu, ada hak dari hampir 12 ribu warga miskin di Majalengka yang tidak tersampaikan. Jika anggaran tersebut terserap bisa memberikan jaminan pelayanan kesehatan bagi yang tidak mampu. Ini sangat ironis dengan realitas di lapangan,” ungkap politisi asal Cikijing ini.

SUMBER

Cegah HIV AIDS, Jabar Gandeng AIDS Healthcare Foundation

Sebelumnya, Th 2016, AHF sendiri telah memberikan dukungan kegiatan penanggulangan HIV-AIDS di Jabar yaitu Kabupaten Purwakarta, Indramayu dan Pangandaran.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat semakin gencar melakukan upaya pencegahan dan penanggulangan HIV-AIDS di wilayah Jabar. Salah satunya adalah dengan menggandeng lembaga nirlaba asal Amerika Serikat, AIDS Healthcare Foundation (AHF).

Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar menuturkan, kerjasama tersebut merupakan salah satu langkah dalam meningkatkan pengetahuan komprehensif tentang bahaya dan pencegahan HIV-AIDS kepada semua lapisan masyarakat Jabar.

“AHF ini sangat konsen dan terus berkomitmen menanggulangi HIV-AIDS di seluruh dunia. Kita bersama-sama akan terus mengurangi jumlah penderita HIV-AIDS demi terwujudnya masyarakat Jabar yang sehat,” ungkap Deddy seusai melakukan pertemuan dengan Vice President AHF, Peter Reis, di Gedung Sate, Selasa, 4 April 2017.

Sebelumnya di tahun 2016, AHF sendiri telah memberikan dukungan kegiatan penanggulangan HIV-AIDS pada layanan kesehatan di tiga daerah di Jabar yaitu Kabupaten Purwakarta, Indramayu dan Pangandaran.

“Kita ingin perluasan dukungan AHF tidak hanya di tiga daerah itu tapi di 27 Kabupaten/ Kota di Jabar,” katanya.

Organisasi yang berdiri pada tahun 1987 ini juga telah mendapatkan ijin dari Kementerian Luar Negeri RI dan sudah menandatangani MoU dengan Kementerian Kesehatan RI dalam kerjasama penanggulangan HIV-AIDS di Indonesia.

Sejak pertama kali ditemukan pada tahun 1987, jumlah kasus HIV-AIDS di Indonesia hingga triwulan II tahun 2016 berjumlah 208.920 (HIV) dan 82.556 (AIDS) yang tersebar di 407 Kabupaten dan Kota. Adapun di Jabar, berdasarkan data Komisi Penaggulangan AIDS Jabar kasus HIV-AIDS dari tahun 1989 sampai Desember 2016 sebanyak 26.422 kasus HIV dan 8.043 kasus AIDS.

“Per Desember 2016 Jabar peringkat keempat kasus HIV positif terbanyak setelah DKI Jakarta, Jatim dan Papua. Sedangkan untuk AIDS Jabar di peringkat keenam terbanyak setelah Jatim, Papua, DKI Jakarta, Bali dan Jateng,” ujar Deddy.

Pola penularan HIV di Jabar semula berasal dari kelompok Lelaki Seks dengan Lelaki (LSL) dan pengguna Narkoba suntik. Kemudian pola penularannya bergeser pada seks Lelaki Beresiko Tinggi (LBT) dan Wanita Penjaja Seks (WPS) yang berdampak pada ibu rumah tangga dan anak.

Kumulatif kasus AIDS dari tahun 1989-2016 pada kelompok ibu rumah tangga melebihi jumlah kasus pada wanita penjaja seks dengan jumlah kasus sebanyak 1.012 kasus sedangakan WPS sebanyak 382 kasus. Kasus HIV positif baru pada anak usia 0-14 tahun selama tahun 2016 ditemukan sebanyak 130 kasus.

“Upaya advokasi juga akan terus kita lakukan kepada pengambil kebijakan, perubahan perilaku pada kelompok resiko tinggi dan peningkatan pengetahuan pada kelompok resiko rendah yaitu remaja dan ibu rumah tangga,” ucap Deddy.

Ia berharap kerjasama ini mampu mencapai tiga tujuan utama yaitu zero new infection, zero AIDS related death dan zero discrimination di Indonesia khususnya di Jabar.

SUMBER

Penderita TB di Indramayu Capai 1.293

Berdasarkan catatan Dinas Kesehatan Kabupaten Indramayu, angka penderita Tuberkulosis (TB) di Kabupaten Indramayu mencapai 1,293. Dinas Kesehatan telah menempuh berbagai upaya dalam rangka menurunkan jumlah penderita tersebut.

“Angka tersebut tercatat dari tahun 2016 sampai sekarang,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Indramayu, Deden Boni Koswara, Kamis (30/3).

Menurut Deden, dari jumlah tersebut, sebanyak 652 di antaranya menderita Basil Tahan Asam (BTA) positif. “Jumlah ini tergolong tinggi,” ujarnya

Tingginya jumlah kasus ini, kata Deden, disebabkan karena faktor penularan. “TB dapat menular dari penderita yang belum sembuh kepada orang lain melalui percikan ludah,” imbuhnya.

Ia juga menambahkan, tingginya kasus disebabkan oleh pola perilaku hidup bersih dan sehat di masyarakat. Masyarakat terkadang belum mengetahui cara batuk dan membuang dahak yang benar. Selain itu,  pengawasan terhadap para penderita TB juga merupakan faktor lainnya.

Ia mengatakan, para penderita TB perlu diawasi dan disiplin untuk minum obat. Dengan demikian, penyakit yang diderita pun perlahan akan segera sembuh.

Deden mengatakan, Dinas Kesehatan Kabupaten Indramayu telah menempuh berbagai upaya guna menurunkan kasus TB. Salah satu upaya yang ditempuh yakni dengan bekerjasama dengan rumah sakit untuk pengobatan pasien yang keluar dari pengobatan puskesmas.

Selain itu, Dinas Kesehatan juga menggandeng lembaga swadaya masyarakat. Sementara itu, Wakil Bupati Indramayu, Supendi mengatakan, pihaknya berharap agar masyarakat dan para camat dan kepala puskesmas di Indramayu untuk memanfaatkan kader-kader tersebut guna meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.

‘’Saya berharap tidak hanya di empat kecamatan saja, tapi juga di kecamatan lainnya,’’ pungkasnya.

SUMBER

Senam Aerobik Makin Digemari Berbagai Kalangan di Kabupaten Ini

Dewasa ini olahraga tidak hanya menjadi kebutuhan, melainkan sudah menjadi gaya hidup.

Seperti olahraga senam aerobik yang kian digemari berbagai kalangan di wilayah Kabupaten Indramayu bagian barat (Inbar).

Tak heran, banyak instansi pemerintahan maupun swasta menggelar acara senam masal untuk memenuhi tuntutan masyarakat yang menginginkan pola hidup sehat.

Biasanya senam masal ini diadakan minimal satu kali seminggu dengan jumlah peserta mencapai puluhan sampai ratusan orang. Bahkan pada momen tertentu seperti menyemarakkan hari besar nasional, jumlahnya bisa mencapai ribuan peserta.

“Sekarang senam areobik makin digandrungi hampir semua lapisan masyarakat, baik anak-anak, remaja, dewasa bahkan orang tua,” ujar Novita, instruktur senam asal Kecamatan Kandanghaur.

Ia mengaku, dalam satu minggu minimal mendapat panggilan memandu acara senam rutin sampai 3 kali. Yakni setiap hari Jumat, Sabtu dan Minggu pagi.

Ibu dua orang anak ini membenarkan jika olahraga senam aerobik sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat.

Selain untuk kesehatan jasmani, senam juga biasa digunakan orang untuk rekreasi, relaksasi atau menenangkan pikiran. “Faktor lainnya karena murah,” tambahnya.

Senada juga disampaikan Yani, instruktur senam lainnya. Kecenderungan meningkatnya penggemar senam aerobik juga karena divariasikan dengan iringan musik atau lagu-lagu populer.

Ada pula latihan senam berkelompok itu mulai dikonversi dengan jenis tarian-tarian tertentu seperti tari salsa.

SUMBER

Potensi Penularan TB di Indramayu Disebut Tinggi

Potensi penularan Tuberkolosis (TB) di Indramayu cukup tinggi, karena masih banyak penderita yang masih belum terdata dan terobati secara tuntas.

Potensi penularan Tuberkolosis (TB) atau yang lebih dikenal dengan istilah TBC di Kabupaten Indramayu disebut cukup tinggi. Itu karena masih banyak penderita penyakit itu yang masih belum terdata dan terobati secara tuntas.

‘’Kasus TB di Kabupaten Indramayu seperti fenomena gunung es,’’ ujar Kabid Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Indramayu, Sri Nafsiyah, saat ditemui di sela sosialisasi TB di Gedung Muhammadiyah, Kabupaten Indramayu, Kamis (30/3).

Sri mengungkapkan, sangat memungkinkan banyak penderita TB di Indramayu yang belum terdata oleh Dinas Kesehatan. Sebagai gambaran, Kabupaten Indramayu menargetkan menjaring 5.500 penderita TB. Namun hingga kini, yang terjaring baru sekitar 2.700 penderita.

Padahal, lanjut Sri, TB sangat mudah menular kepada orang lain di sekitar penderita. Karenanya, para penderita TB harus segera ditemukan dan diobati secara tuntas. ‘’Kalau tidak, khawatir akan menularkan pada orang lain,’’ terang Sri.

Sri menambahkan, kesadaran masyarakat Indramayu untuk memeriksakan diri ke Puskesmas juga masih rendah. Mereka seringkali mengabaikan tanda-tanda penyakit dan penyebab timbulnya TB.

Sri menegaskan, TB dapat disembuhkan jika penderitanya minum obat yang diberikan dokter selama kurun waktu enam bulan. Namun, obat tersebut harus diminum secara rutin hingga penyakitnya bisa dituntaskan. ‘’Jika pengobatan tidak sampai tuntas, maka risikonya justru akan jadi resisten atau kebal,’’ tutur Sri.

Lebih lanjut Sri menjelaskan, selain mengobati penderita secara tuntas, masyarakat juga dapat melakukan cara-cara sederhana untuk mencegah menularnya TB. Salah satunya dengan membuka jendela rumah setiap hari agar sirkulasi udara tetap terjaga. ‘’Udara lembab suhu di Indramayu yang panas berpotensi menularkan TB ke sekeluarga,’’ kata Sri.

Untuk mensosialisasikan tentang TB, Dinas Kesehatan Kabupaten Indramayu bekerja sama dengan berbagai lembaga, salah satunya PD Aisyiah Kabupaten Indramayu. Sejak Oktober 2016, lembaga itu telah melaksanakan program TB HIV Care di empat kecamatan. Yakni Kecamatan Indramayu, Karangampel, Kandanghaur dan Jatibarang.

Dalam program itu, kegiatan yang dilaksanakan di antaranya ‘ketuk pintu’ dari rumah ke rumah warga di empat kecamatan tersebut. Dalam kegiatan itu, para kader TB terlatih memberikan informasi mengenai TB sekaligus penapisan gejala TB hingga terungkap warga yang suspek TB.

Selama rentang waktu Desember 2016–Maret 2017, kegiatan ketuk pintu di empat kecamatan itu berhasil menemukan 297 orang suspek TB. Dari jumlah tersebut, diketahui ada 31 orang yang positif TB setelah dilakukan pemeriksaan.

Ketua PD Aisyiah Kabupaten Indramayu, Nur Aliyah Suryaningsih mengatakan, akan terus melakukan sosialisasi dengan menggandeng lebih banyak camat di Kabupaten Indramayu. Selain itu, sosialisasi juga akan dilaksanakan di sekolah-sekolah. ‘’Kami berharap masyarakat dapat mengetahui ciri dan bahaya TB sehingga dapat mengantisipasi penularan penyakit  tersebut,’’ tegas Nur Aliyah.

Nur Aliyah juga berharap, ada peningkatan kepedulian dari pemerintah daerah terhadap TB dan HIV di Kabupaten Indramayu. Salah satunya dengan mengalokasikan anggaran khusus terkait TB HIV.

SUMBER