UNAIR Gencarkan Germas “Gerakan Masyarakat Hidup Sehat”

Minggu (11/2), Didampingi Dekan FKM Prof. Prof. Dr. Tri Martiana, dr., MS., Rektor Universitas Airlangga Prof. Dr. Mohammad Nasih, SE., MT., Ak., CMA., menggencarkan program Germas (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat) untuk sivitas akademika UNAIR.

Senam dan jalan sehat bulanan di Universitas Airlangga dilaksanakan lagi Minggu (11/2), di halaman Rektorat UNAIR, Kampus C Mulyorejo. Kali ini, senam dan jalan sehat diselenggarakan oleh Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM).

Pada kesempatan ini, didampingi Dekan FKM Prof. Prof. Dr. Tri Martiana, dr., MS., Rektor Universitas Airlangga Prof. Dr. Mohammad Nasih, SE., MT., Ak., CMA., menggencarkan program Germas (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat) untuk sivitas akademika.

Tiga aspek Germas adalah melakukan aktivitas fisik (di acara ini senam dan jalan sehat), makanan seimbang (buah dan sayur) setiap hari, dan memeriksakan kesehatan secara rutin.

Turut mewarnai kegiatan Germas kali ini yakni dilaksanakan konsultasi gizi, pemeriksaan kesehatan, bahkan “Kuliah Kopi”. Kegiatan dilaksanakan di lantai dasar Gedung manajemen UNAIR.

(Foto-foto: Bambang Bes)
Sumber: http://news.unair.ac.id/2018/02/12/unair-gencarkan-gerakan-masyarakat-hidup-sehat/

Mari Kaka Kitorang Patungan Untuk Asmat!

Mari Kaka Kitorang Patungan Untuk Asmat!!! Bersama kita berangkatkan Kapal Kemanusiaan (KK) menuju Papua dengan membawa 100 ton bantuan pangan dan medis serta seratus relawan termasuk tenaga medis dan ahli gizi. Menyasar penderita campak dan gizi buruk yang ada di Kabupaten Asmat, Papua.

Kamu anak muda yang peduli dengan saudara-saudara kita di Asmat, papua?

Mari Kaka Kitorang Patungan Untuk Asmat!!! Bersama kita berangkatkan Kapal Kemanusiaan (KK) menuju Papua dengan membawa 100 ton bantuan pangan dan medis serta seratus relawan termasuk tenaga medis dan ahli gizi. Menyasar penderita campak dan gizi buruk yang ada di Kabupaten Asmat, Papua.

Berdonasi 130K++ dengan membeli kaos kece #Pantunganuntukasmat kita sudah ikut turun tangan membantu saudara-saudara kita di Asmat. Seluruh keuntungan dalam penjualan Kaos ini akan disalurkan melalui ACT (Aksi Cepat Tanggap) dalam Kapal Kemanusiaan untuk Papua.

Kaos combed 30s warna Blue Navy.

Ingin memesan? Silahkan WA/sms ke :

  • Mardiana : 081355623408
  • Santa : 082167447155
  • Yhuni : 081213920733
  • Naomi : 081280582679

Dengan format:

Nama_Ukuran Kaos_lengan panjang/pendek_Alamat lengkap_No.hp

Jika sudah dikonfirmasi jumlah pembayaran, silahkan transfer ke rekening BRI a/n Mardiana: 4985.01.002961.53.7

PO sampai dengan tgl 19 Feb 2018

Kitorang Samua Basodara, Katong untuk Papua.

Ko Traa Kosong Kawan!

#NSBersatu #NSuntukAsmat #PatunganUntukAsmat #KapalKemanusiaanUntukPapua

Ini Tentang Kisah Tujuh Penjuru, Petualangan Para Pemuda Pencerah Nusantara

Ini tentang petualangan para pemuda Pencerah Nusantara di tujuh penjuru Indonesia, yaitu Sikakap, Pakisjaya, Tosari, Kelay, Ogotua, Lindu, dan Ende.

“Salah satu pilar masyarakat maju adalah tumbuhnya kegiatan yang berlandaskan inisiatif masyarakat sendiri.  Kisah Tujuh Penjuru  merekam kegiatan seperti itu oleh anak-anak muda kita di berbagai pelosok tanah air, khususnya dibidang kesehatan masyarakat. Saya sungguh menghargai semangat dan idealisme mereka untuk menyumbangkan karya nyata bagi bangsanya. Semoga memberikan inspirasi bagi kita semua.”

~ BOEDIONO, Wakil Presiden RI 2009 – 2014 ~


Kemarin saya dapat kiriman buku dari sahabat di Jakarta, Kisah Tujuh Penjuru, begitu saya baca Judul di sampulnya. Luar biasa pikir saya, betapa tidak, di sampul depan buku ini saja, tertulis “testimoni” atas nama Bp. Boediono, Wapres kita saat itu (Buku ini terbit tahun 2014).

Hujan turun di saat rombongan baru menempuh setengah perjalanan. Tidak ada tempat berteduh di tengah sungai. Perjalanan dilanjutkan sehingga seluruh anggota rombongan basah. Dingin sudah pasti, lapar juga tidak bisa diingkari. namun, tidak ada alasan untuk mengeluh. Semua tetap harus dinikmati sampai rombongan benar-benar sampai di kampung yang dituju.

Wah..wah…ini buku novel atau apa? Belum apa-apa sudah bikin penasaran aja. Salut untuk penulis, Editor, dan semua tim yang terlibat dalam penyusunan buku ini. Lha gimana gak salut, Editornya aja ada Pak Wisnu Nugroho, beliau ini disebut-sebut sebagai salah satu yang membidani lahirnya Visual Interaktif Kompas (VIK) Kompas, sebuah model laporan jurnalistik berbasis multimedia.

Tapi sepertinya, gaya penulisan buku ini serasa novel, bisa jadi karena ada sentuhan magis Arimbi Bimoseno disana. Hemm..hanya menduga saja, tapi mungkin ada benarnya. Dan yang paling bikin penasaran, buku ini ditulis oleh Tim Pencerah Nusantara. Siapa mereka? Apa sih yang mereka kerjakan, sampai-sampai Wapres pun mau kasih testimoni untuk “catatan perjalanan” mereka?

Kisah Tujuh Penjuru

Ini tentang pengabdian anak-anak muda yang peduli pada perbaikan kesehatan masyarakat di tujuh penjuru Indonesia, yaitu Sikakap, Pakisjaya, Tosari, Kelay, Ogotua, Lindu, dan Ende.

Berdiri di tujuh penjuru Indonesia, menyentuh kehidupan setidaknya 200.000 orang. Di daerah yang dilupakan, ditengah masyarakat yang ditinggalkan. Di pinggir sungai, di dalam hutan, di tengah samudra lepas, didaerah rawan bencana, di perbatasan, di pulau terpencil, kesemuanya mempresentasikan negeri kita yang beragam. 

Ahhhh…baca pengatar demi pengantar, kalimat demi kalimat di awal buku ini saja sudah bikin hati ini terenyuh, iri (dalam arti positif), apa yang sebetulnya mereka pikirkan?

Seringkali mereka tertantang melangkah lebih maju & bergerak lebih cepat. kadangkala mereka memilih untuk diam, mendengar, dan merenung, semuanya adalah bagian dari sebuah petualangan yang bernama pengabdian untuk sebuah panggilan, PENCERAH NUSANTARA.

Istimewa, Ini Misi Spesial Untuk Pencerah Nusantara Angkatan 6!

“Ratakan sabun dengan tangan sok gosok gosok…

Punggung tangan sela jari, sok gosok gosok…

Telapak tangan sela jari, juga digosok…

Pegang erat jari tangan yo ayo ayo…

Kuncup kanan kuncup kiri

Jempol kanan jempol kiri

Basuh tangan dan keringkan, kumannya hilang…yeee….”

(Catatan Tim PN Ogotua, hal:119)

 

Aahhhh….makin jatuh cinta. Buat kawan-kawan yang gak sempat punya bukunya, jangan khawatir, saya bakal bagi sekelumit kisah inspiratif mereka, Tim Pencerah Nusantara.

Saya sadar, catatan saya ini mungkin tak seindah para penulis aslinya. Tapi satu tujuan saya menulis ini, tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada para penulis, editor, dan semua tim yang terlibat dalam penulisan buku Kisah Tujuh Penjuru ini, ijinkan kami untuk dapat berbagi, meneruskan energi positif yang ada dalam buku ini, MOTIVASI, INSPIRASI dari kawan-kawan Pencerah Nusantara untuk generasi muda di pelosok negeri ini.

~ BERSAMBUNG…

Sumber Foto:

Dok Pribadi dan Dok Tim Pencerah Nusantara

Puskesmas Bambalamotu: Terus Berbenah, Optimalkan Pelayanan Kesehatan Untuk Masyarakat!

Puskesmas Bambalamotu optimis untuk terus mendekatkan akses layanan kesehatan kepada masyarakat serta meningkatkan kualitas layanan kesehatan.

Oleh:

Ramadhan S.Sos – Pemerhati Kesehatan Pencerah Nusantara 4 Mamuju Utara

“10 tahun yang lalu ketika saya datang ke Puskesmas ini, di depan sana masih banyak pohon-pohon yang tinggi, jalannya juga susah sekali ke sini banyak debu dan kerikil. Namun, hari ini saya sangat senang sekali bisa ketemu dokter” – Mama Acho

Kamis Pagi, 24 Januari 2018. Satu demi satu pasien mulai berdatangan menuju UPT Puskesmas Bambalamotu untuk memeriksakan kesehatan mereka. Beberapa terlihat mengantri di loket pendaftaran untuk mengambil nomor antrian. Staf puskesmas juga telah bersiap di bagiannya masing-masing untuk memberikan pelayanan yang optimal di hari yang paling banyak kunjungannya dalam sepekan ini.

Puskesmas Bambalamotu dulunya dirintis pada masa Alm Hj. Nasruddin yang kala itu menjabat sebagai Kepala Puskesmas Pembantu Bambaira pada tahun 2003. Melihat banyaknya penduduk, jumlah sasaran, serta luasnya wilayah mengakibatkan pelayanan kesehatan menjadi tak mampu diakomodir secara optimal oleh Puskesmas Pasangkayu kala itu. Tak hanya sendiri, Pak Haji sebutan akrabnya ditemani Ibu Hasna yang juga bertugas di Puskesmas Pasangkayu waktu itu berinisiasi memulai pelayanan kesehatan yang baru di Desa Bambalamotu. Pembangunan gedung pelayanan pun selesai di tahun yang sama, walaupun belum cukup memadai dari berbagai aspek namun masih bisa untuk memulai operasional.

Puskesmas Bambalamotu kala itu dibangun untuk melayani masyarakat di 2 kecamatan sekaligus yaitu Kecamatan Bambaira dan Kecamatan Bambalamotu yang menjangkau 10 desa. Uniknya, di wilayah kerja puskesmas ini masih banyak suku dari Komunitas Adat Terpencil (KAT) yang tinggal dan terkadang hidup nomaden, berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Alhasil dalam sehari hanya ada 1 orang saja bahkan tidak ada sama sekalipun yang berkunjung di tahun pertama dibukanya puskesmas ini.

Tak hanya berdiam diri di puskesmas, Pak Haji yang kala itu menjabat sebagai Kepala Puskesmas Bambalamotu pun akhirnya membawa stafnya ke desa-desa untuk mencari dan “mengejar-ngejar pasien”. Mulai dari pasar hingga door to door ke rumah-rumah. Mulai dari yang di tepi pantai hingga puncak gunung. Semuanya dilakukan atas keinginan untuk membuat masyarakat sehat dan membangun kepercayaan layanan kesehatan di mata masyarakat.

Akses jalan yang sangat sulit ke puskesmas, kepercayaan yang masih tinggi terhadap dukun, wilayah puskesmas yang masih berhutan, tenaga kesehatan yang sangat kurang, serta tantangan geografis wilayah kerja membuat rentetan panjang pekerjaan rumah yang harus diselesaikan satu demi persatu oleh Pak Haji dan Ibu Hasna. Namun, itu tak membuat mereka gentar untuk melanjutkan tugas mulia tersebut apalagi dengan bantuan Suster Bahra yang bertugas di Puskesmas Pembantu Bambalamotu.

Dua tahun berselang, satu demi satu tenaga kesehatan mulai diangkat oleh Pemerintah Kabupaten Mamuju Utara untuk ditugaskan di sini. Tambahan kekuatan ini menjadi semangat baru apalagi dengan dibentuknya UPTD Kesehatan Bambaira pada Juli 2012, wilayah kerja Puskesmas Bambalamotu sedikit berkurang walau masih terasa sangat luas dirasa saat ini. Hingga kini 64 orang tercatat bertugas melayani lebih dari 18.000 jiwa penduduk Kecamatan Bambalamotu, 25 di antaranya Pegawai Negeri Sipil dan 39 merupakan Tenaga Sukarela.

Kini tampuk kepemimpinan Puskesmas Bambalamotu diamanahkan kepada Hasna, ibu dari dua anak yang punya semangat tinggi untuk melakukan perubahan. Berbagai upayapun telah coba dilakukannya untuk memberikan pelayanan seluas-luasnya dan sebaik-baiknya ke masyarakat. Bukan mudah untuk meneruskan komitmen yang telah dikerjakan sebelumnya, butuh keberanian lebih untuk menjadi pemimpin apalagi jika seorang wanita.

Inovasi demi inovasi diuji cobakan olehnya. Satu hal yang paling berkesan dengan adanya perubahan besar yang dilakukan di awal kepemimpinannya adalah dengan perombakan manajemen puskesmas. Dalam pikirannya saat itu adalah bagaimana ibu-ibu hamil bisa bersalin secara nyaman di puskesmas yang saat itu hampir dikatakan mustahil dilakukan. Tak berpikir Panjang, keikhlasannya pun terbukti di sini. Ruang nyaman yang selama ini digunakan untuk operasional Kepala Puskesmas pun direlakan olehnya untuk dijadikan ruang bersalin ibu-ibu hamil. Hasna mau bersempit-sempitan di ruang keuangan merelakan kepentingan pribadi untuk kepentingan masyarakatnya.

Namun, perjuangannya tak hanya sampai di situ. Sekarang Hasna pun bersama seluruh staf Puskesmas Bambalamotu harus meyakinkan ibu-ibu hamil untuk mau melahirkan di puskesmas. Puskesmas yang dilabeli mistis oleh masyarakat menjadi penyebab masalah terbesar yang harus diurai sedikit demi sedikit. Berbagai pendekatan ke masyarakat dilakukannya untuk membangun kepercayaan. Pengorbanannya pun terbayarkan. Satu demi satu ibu hamil mulai melahirkan di puskesmas hingga saat ini, sungguh mulia kan jasanya?

Sederet pekerjaan lainnya yang telah dilakukannya dan harus diapresiasi adalah ikut sertanya dalam proyek pengentasan malaria bersama LSM Global Fund ketika Mamuju Utara tercatat sebagai daerah endemis zona merah malaria, menginisiasi pertemuan lintas sektoral, melakukan advokasi ke BPJS untuk penambahan kepesertaan di wilayah kerja puskesmas, mendatangkan tim Pencerah Nusantara (Tim Kolaborasi Kesehatan Lintas Profesi) untuk mendampingi puskesmas selama tiga tahun atas “lobi”-nya ke pusat (CISDI) hingga menjadi juara lomba Keluarga Berencana Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (KB MKJP) tingkat Provinsi Sulawesi Barat pada tahun 2017.

Puskesmas Bambalamotu terus menerus berbenah di masa kepemimpinannya. Masih banyak memang yang harus dikerjakan olehnya dan tidak sedikit pula inovasi yang harus dipikirkannnya. Menuju terakreditasinya puskesmas pada tahun 2018, Puskesmas Bambalamotu yang bermoto “TABE” (Terampil, Amanah, Bekerjasama, dan Empati) ini semakin optimis untuk berhasil mendekatkan akses layanan kesehatan kepada masyarakat serta meningkatkan kualitas layanan kesehatan. Semoga tercapai.

Apa yang Bikin Kamu Bangga Sebagai Seorang SKM?

Ya, karena seharusnya kebanggaan itu diikuti pula oleh Rasa Syukur. Bangga sebagai SKM, Bersyukur karena menjadi bagian dari Profesi Mulia ini.

Apa yang Bikin Kamu Bangga Sebagai Seorang SKM?

Ya, karena seharusnya kebanggaan itu diikuti pula oleh Rasa Syukur. Bangga sebagai SKM, Bersyukur karena menjadi bagian dari Profesi Mulia ini.

#skm #skmuntukrepublik #kesmas #kesehatanmasyarakat #anakkesmas #mahasiswakesmas #kesmashits #kesmas_id

A post shared by Kesmas-ID (@kesmas.id) on

Apa yang Bikin Kamu Bangga Sebagai Seorang SKM?

@merishadheas 

Menjadi bagian dari pencegahan dan penyelamatan masyarakat dalam bidang kesehatan. Karena kesehatan masyarakat meliputi beberapa bidang dan sangat dibutuhkan untuk berkoordinasi dengan pemerintah dan tenaga medis.

@aig_baladhika

Belajar ilmu kesehatan masyarakat seperti belajar menjadi orang yg asyik dan pintar menempatkan diri di masyarakat

@arianita_dyah

Multitalent

@mitariyadi24

SKM itu bisa belajar multidisipliner ilmu. Dari macam-macam penyakit tropis manusia, kes.veteriner, kesling, farmakologi, gizi, kia, segala jenis vektor nyamuk, lalat dan tikus serta kutu-kutuan, sampai ke-ergonomisan benda-benda yang digunakan manusia, dan masih banyak lagi.

@mayyasaaini

SKM itu adalah Pengabdian Masyarakat, Menjadi orang yang bisa bermanfaat bagi orang lain.

@putrimayaa_

Orang yg dipercaya masyarakat untuk curhat masalah kesehatan yg dialami, karena SKM dekat dengan masyarakat❤️

Tau Gak Sih, Kenapa Hari Gizi Nasional Diperingati Setiap 25 Januari? Baca Nih!

Hari Gizi Nasional pertama kali diselenggarakan oleh Lembaga Makanan Rakyat (LMR) pada pertengahan tahun 1960-an dan dilanjutkan sampai sekarang.

Tahu gak kenapa tanggal 25 Januari setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Gizi Nasional?

Pentingnya gizi dalam kehidupan sudah diperkenalkan oleh Bapak Gizi Indonesia, almarhum Prof. Poorwo Soedarmo sejak awal kemerdekaan.

Saat itu, Prof. Poorwo Soedarmo ditunjuk oleh Menteri Kesehatan, almarhum dokter J. Leimena, untuk mengepalai Lembaga Makanan Rakyat (LMR). Waktu itu lebih dikenal sebagai Instituut voor Volksvoeding (IVV) yang merupakan bagian dari Lembaga Penelitian Kesehatan yang dikenal sebagai Lembaga Eijckman.

Hari Gizi Nasional pertama kali diselenggarakan oleh Lembaga Makanan Rakyat (LMR) pada pertengahan tahun 1960-an. Kemudian dilanjutkan oleh Direktorat Gizi pada tahun 1970-an sampai sekarang.

Kegiatan ini diselenggarakan untuk memperingati dimulainya pengkaderan Tenaga Gizi Indonesia dengan berdirinya Sekolah Juru Penerang Makanan tanggal 26 Januari 1951 kawan.

Sejak saat itu, disepakati bahwa tanggal 25 Januari di peringati sebagai Hari Gizi Nasional Indonesia.

Selamat Hari Gizi Nasional ke 58 tahun 2018, Mari Membangun Gizi menuju Bangsa Sehat & Berprestasi. “Bersama Keluarga Kita Jaga 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK)”.

 

SKM Nusantara Sehat, Mengabdi Untuk Kesehatan Masyarakat Pulau Terluar

Neni Yulita, lulusan SKM, hampir dua tahun ini ditempatkan di salah satu pulau terluar di Kepulauan Sangihe, Nusa Tabukan, dalam program Nusantara Sehat.

Bertugas di daerah terpencil, jadi tantangan tersendiri bagi Neni Yulita. Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM) ini, hampir dua tahun ditempatkan di salah satu pulau terluar di Kepulauan Sangihe, Nusa Tabukan.

 

Laporan: Sriwani Adolong, Sangihe

NENI memulau tugasnya di Nusa Tabukan pada 2 Desember 2016. Program Nusantara Sehat yang menempatkannya di sana. Nusa Tabukan masuk daftar pulau terluar di Indonesia. Lokasinya cukup jauh dari ibu kota Kepulauan Sangihe, Tahuna. Sekira 2,5 jam paling cepat. Itupun harus menempuh transportasi laut dan darat. Transit di Kecamatan Petta. Sebagai tenaga kesehatan di wilayah kepulauan, Neni harus ekstra kerja.

Profesinya menuntut dia harus memberi pengetahuan pada masyarakat terkait hidup sehat. Fokusnya mengatasi permasalahan kesehatan masyarakat melalui pendekatan promotif dan preventif. “Dititikberatkan pada upaya pencegahan. Mempertahankan masyarakat sehat agar tetap sehat dan memberikan dorongan kepada mereka yang sakit agar memperhatikan kesehatannya,” jelas perempuan asal Provinsi Jambi ini.

Dikisahkannya, berbagai kendala harus dihadapi. Mulai dari jaringan internet sulit, sehingga sering ketinggalan informasi. Apalagi jika ada informasi penting dari Dinas Kesehatan, terkadang nanti bisa diketahui keesokan harinya. “Selain itu medannya harus naik turun gunung dengan jalanan licin,” ceritanya, pada Manado Post.

Neni pun harus menjajal kampung yang satu, ke kampung lain. Alat transportasinya adalah perahu. Cuaca ekstrem sering ditemui. Namun harus ditempuh untuk melihat kondisi masyarakat.

Namun dia bersyukur kesulitan tersebut bisa hilang karena masyarakat dan pemerintah kecamatan maupun kampung sangat ramah dan baik. “Yang membuat betah juga banyak ikan. Saya sering makan ikan,” katanya tersenyum. Hal itu juga yang membuat Neni jarang meninggalkan lokasi tugas. “Saya ke Tahuna nanti ketika ada yang perlu dikonsultasikan atau diinformasikan ke dinas. Lain dari itu tinggal di tempat tugas karena harus terus melihat kondisi masyarakat,” ungkapnya.

Dia berharap aktivitas di Puskesmas bisa berjalan lancar meski terkendala listrik karena masih menggunakan PLTS. Agar semua masyarakat dapat terlayani dengan baik. “Di pulau ini saya sadar kesehatan masyarakat sangat mahal. Sehingga saya ingin terus berupaya agar kedepannya masyarakat pulau mendapat pelayanan kesehatan yang baik,” tutup Nenu.

Sumber http://manadopostonline.com/read/2018/01/24/Gigihnya-Tenaga-Kesehatan-Mengabdi-di-Pulau-Terpencil/29426

Yuk Kenali Tanda, Gejala Juga Faktor Risiko Penyakit Katarak

Berikut ini sekilas tentang tanda, gejala dan juga faktor risiko penyakit katarak, yang disampaikan oleh P2PTM Kemenkes RI lewat akun Instagramnya.

Katarak adalah proses degeneratif berupa kekeruhan di lensa bola mata sehingga menyebabkan menurunnya kemampuan penglihatan sampai kebutaan, kekeeruhan ini disebabkan oleh terjadinya reaksi biokimia yang menyebabkan koagulasi protein lensa.

Katarak bisa terjadi secara kongenital (katarak sejak lahir) namun pada umumnya, katarak terjadi karena proses degenerasi yang berhubungan dengan penuaan, atau bisa juga diakibatkan karena trauma dan induksi dari obat-obatan (steroid, klorromain, alupurinol, amiodaron) ataupun komplikasi dari kondisi sistemik seperti diabetes mellitus atau penyakit mata seperti glukoma dengan uveitis.

Keadaan diabetes mellitus dapat mempercepat terjadinya proses katarak.

Tanda & Gejala Katarak

Tanda dan gejala katarak meliputi:

  1. Penglihatan kabur, ciri khasnya adalah seperti melihat dari balik air terjun atau kabut putih,
  2. Penglihatan ganda,
  3. Silau,
  4. Penglihatan semakin blur, walaupun sudah berganti-ganti ukuran kacamata

Faktor Risiko Katarak

Adapun faktor risiko penyakit katarak antara lain:

  1. Usia lanjut diatas 40 tahun,
  2. Riwayat Keluarga,
  3. Penyakit mata lainnya (seperti: glukoma, uveitis, trauma),
  4. Kelainan sistemik (seperti: Diabetes Mellitus),
  5. Penggunaan tetes mata secara rutin, yang mengandung steroid,
  6. Kebiasaan merokok,
  7. Paparan sinar ultraviolet

Sumber https://www.instagram.com/p2ptmkemenkesri/

Kapan KLB Difteri Dinyatakan Selesai? Ini Indikatornya

Apa indikator sebuah KLB bisa dinyatakan selesai? KLB difteri baru dinyatakan mereda apabila tidak ditemukan lagi kasusnya sampai dua kali masa inkubasi.

Pemerintah sampai saat ini terus gencar melakukan kampanye imunisasi sebagai respons atas merebaknya kasus Kejadian Luar Biasa (KLB) difteri. Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Kementerian Kesehatan Elizabeth Jane Soepardi berharap kesadaran masyarakat akan pentingnya imunisasi dapat segera mengakhiri KLB difteri.

Lalu apa indikator sebuah KLB bisa dinyatakan selesai? Jane menuturkan KLB difteri baru dinyatakan mereda apabila tidak ditemukan lagi kasusnya sampai dua kali masa inkubasi. Satu masa inkubasi berlangsung selama 10 hari. “Jadi jika dalam 20 hari dinyatakan sudah tidak ada lagi kasus difteri maka dinyatakan selesai,” kata Jane saat ditemui pada Ahad (2/1) usai acara Forum Group Discussion Indonesia Bebas Difteri.

Data Kementerian Kesehatan menujukkan sampai 2 Januari tercatat ada 939 kasus difteri di seluruh Indonesia. Sementara pada pekan pertama Januari 2018 dilaporkan adanya 15 kasus difteri. Jawa Timur dan Jawa Barat merupakan provinsi di mana kasus difteri paling banyak ditemukan.

Kondisi ini, kata Jane, tak lepas dari masih banyaknya masyarakat yang enggan diimunisasi dengan alasan mempertanyakan kehalalan vaksin. “Bahkan ada pesantren yang santrinya ribuan namun menolak diimunisasi, ini yang menyebabkan difteri semakin menyebar,” ujarnya.

Dia mengingatkan, pentingnya imunisasi terhadap anak-anak dan orang dewasa yang masuk golongan berisiko difteri. Orang dewasa yang masuk golongan berisiko antara lain petugas medis dan mereka yang tinggal di daerah ditemukannya kasus difteri.

Kepala Bagian Mutu Uji Klinik Imunisasi PT Bio Farma (Persero) Mahsun Muhammadi menerangkan pihaknya terus berupaya memenuhi kebutuhan vaksin difteri. Kontrak ekspor vaksin pun terpaksa dibatalkan karena Biofarma mengutamakan kebutuhan masyarakat Indonesia. “Pembatalan ekspor ini dapat diterima dan memperoleh dukungan WHO karena kondisi Indonesia sedang KLB difteri,” kata Mahsun.

FGD Indonesia Bebas Difteri diselenggarakan Pengurus Pusat Ikatan Alumni Universitas Indonesia (Iluni UI) di Ruang Senat Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Kampus Salemba Jakarta. Acara yang dibuka Direktur Kemahasiswaan dan Hubungan Alumni Universitas Indonesia Erwin Nurdin ini disaksikan Ketua Umum Iluni UI Arief Budhy Hardono. Keynote speaker Dekan FKUI Ari Fahrial Syam, dengan moderator ketua Iluni UI Taufik Jamaan.

Sujatmiko dari Satgas imunisasi IDAI mengatakan penyakit difteri itu adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri corynebacterium diphteriae  yang menyerang tenggorokan, hidung dan kulit. Penyakit ini dapat menimbulkan komplikasi dan berakhir kepada kematian karena dapat menyerang saluran napas atas yang menyebabkan orang susah bernapas, merusak jantung, ginjal dan syaraf. “Selain itu dapat menular,” ujar dia.

Agar 2018 Indonesia terbebas dari wabah penyakit difteri,  Dosen FKM UI yang juga Ketua Iluni UI Wahyu Sulistiadi menyampaikan, pemerintah dan masyarakat perlu bersama-sama menggalakkan imunisasi difteri. Selain itu, melakukan penguatan sistem informasi kesehatan, melakukan majamen crisis solution serta memproduksi serum dan vaksin yang berkualitas.

“Yang tidak kalah pentingnya adalah, keterpaduan antara pemerintah dan masyarakat, apapun latar belakang politik dan agamanya, semuanya harus punya satu tujuan, menghilangkan penyakit difteri,” kata Wahyu.

Sumber http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/daerah/18/01/07/p26lca396-kapan-klb-difteri-dinyatakan-selesai-ini-indikatornya

Dinkes Kab Berau Distribusikan Imunisasi Hingga Pedalaman

Untuk mencegah masyarakat terjangkit dfiteri, Dinkes Kab Berau melakukan imunisasi kepada anak-anak di semua kecamatan, hingga ke pedalaman.

Untuk mencegah masyarakat terjangkit dfiteri, Dinas Kesehatan Kabupaten Berau melakukan berbagai upaya upaya pencegahan. Salah satunya melakukan imunisasi kepada anak-anak di semua kecamatan, melalui Puskesmas, Pustu hingga Posyandu.

Menurutnya, cara yang paling efektif mencegah penyakit difteri adalah dengan mengoptimalkan program imunisasi.

“Jangan sampai balita tidak diimunisasi,” tegas Kepala Dinas Kesehatan, Totoh Hermanto, Kamis (4/1) pukul 4.00 wita.

”Dalam pencegahan kasus ini, kami melibatkan beberapa tim dalam upaya antisipasi ini. Di antaranya tim kesehatan, rumah sakit, puskesmas, pustu hingga posyandu,” imbuhnya.

Tidak menutup kemungkinan, jika ada warga yang terjangkit difteri, pihaknya akan meningkatkan status waspada menjadi Kejadian Luar Bisa (KLB).

”Satu (kasus) saja ditemukan, bisa ditetapkan kejadian luar biasa (KLB). Karena itu kita harus bersiap-siap,” kata Totoh.

Selain itu pihaknya juga telah mendistribusikan imunisasi difteri dan Universal Child Imunization (UCI) untuk anak-anak di wilayah pedalaman hingga daerah pesisir. Termasuk alat suntik imunisasi sekali pakai juga disiapkan di seluruh Puskesmas dan fasilitas kesehatan lainnya.

Sumber http://kaltim.tribunnews.com/2018/01/04/dinkes-distribusikan-imunisasi-hingga-pedalaman