Kisah dr Rio Herison Penggagas Posyandu Remaja Penangkal Kenakalan ‘Kids Jaman Now’

Setidaknya kegiatan ini sudah menelurkan 65 kader posyandu remaja yang akan terus berkembang karena kegiatannya positif dan mendapat dukungan banyak pihak.

Muda dan berprestasi. Itulah dua kata untuk menggambarkan sosok dr Rio Herison. Pemegang dua kali gelar Dokter Teladan tingkat Kabupaten Meranti pada 2015 dan 2017. Serta Dokter Teladan tingkat Provinsi Riau pada 2017. Dan yang lebih membanggakan ia masuk dalam 10 besar dalam nominasi Dokter Teladan tingkat nasional pada 2017.

Usianya baru genap 33 tahun pada 28 Desember 2017 lalu. Namun, kiprahnya menjadi pelayanan masyarakat di bidang kesehatan, sungguh luar biasa.

Usai lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Riau, Rio langsung mendaftar menjadi dokter pegawai tidak tetap (PTT) Kementerian Kesehatan. Ia lulus dengan  penempatan di Unit Pelaksana Teknis (UPT) Puskesmas Pulau Merbau, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau pada April 2012.

Pilihan yang tidak biasa karena menjadi dokter di daerah terpencil lebih banyak pengabdiannya ketimbang mengejar materi semata.

“Ini panggilan jiwa. Menjadi dokter dan melayani masyarakat di pelosok karena Allah ta’la,” ujar pria kelahiran Bagan Siapiapi, Rokan Hilir.

Lantas kiprah apa yang membuat dokter yang masih lajang ini selalu diganjar dokter teladan ?

“Saya berikhtiar membentuk Posyandu Remaja di sekolah sekolah yang ada di Pulau Merbau,” ujar pria gempal berkulit manis ini.

Setidaknya ada tiga sekolah setingkat SMU dan sederajat yang dibentuk posyandu yakni SMU N 1 Pulau Merbau, Madrasah Aliyah (MA) Hidayatul Mubtadiin Semukut dan MA Hidayatul Rahmah Batang Meranti.

Siswanya dilatih menjadi kader Posyandu. Mereka dipandu untuk bisa mengukur tinggi dan berat badan sehingga bisa menentukan status gizi rekannya. Dalam kegiatan Posyandu Remaja ini juga diisi dengan pemberian tablet penambah darah untuk remaja putri.

Setidaknya kegiatan ini sudah menelurkan 65 kader posyandu remaja yang akan terus berkembang karena kegiatannya positif dan mendapat dukungan banyak pihak.

Yang lebih penting lagi, posyandu remaja ini melahirkan kader kader anti merokok.

“Hasil pengamatan pada awal awal tahun mengabdi di Pulau Merbau, saya melihat tingkat kenakalan remajanya cukup tinggi. Ini bisa dilihat dari kebiasaan mereka merokok di tempat umum tanpa takut dan sungkan,” ujar Kepala Unit Promosi Kesehatan UPT Puskesmas Pulau Merbau ini.

Hasil surveinya, sekitar 40 persen remaja SMP dan SMU di Pulau Merbau punya kebiasaan merokok. Kebiasaan ini dilakukan tidak lagi sembunyi sembunyi. Malah buat gagah gagahan.

Ia khawatir sekali kebiasaan merokok ini bisa menjadi pintu masuk bagi perilaku kenakalan lainnya seperti penyalahgunaan narkoba. Apalagi Pulau Merbau merupakan wilayah pesisir yang berbatasan dengan negeri jiran Malaysia. Sehingga salah satu pintu masuk paling rawan penyelundupan dan peredaran narkoba.

Setelah dua tahun lebih posyandu ini berjalan, remaja merokok di Pulau Merbau bisa ditekan hingga menjadi 4 persen.

“Kader kader Posyandu itu membentuk remaja anti merokok. Mereka aktif mengkampanyekan bahaya merokok kepada teman teman mereka. Dan bisa merubah stigma merokok bukan kebiasaan ‘jantan’ untuk remaja,” ujarnya.

Kader posyandu ini juga aktif melakukan sosialisasi dan kampanye kesehatan ke SMP dan SD. Ini sebagai langkah langkah dini pengenalan bahaya merokok. Dengan langkah ini, lambat laun bisa tercipta kesadaran kolektif di masyarakat tentang bahaya merokok.

Para remaja kader anti rokok ini juga melakukan sosialisasi ke orang terdekat mereka di rumah. Mulai dari ayah, paman atau Abang abang mereka yang merokok.

“Mereka bilang begini, bapak harus berhenti merokok karena berbahaya untuk kesehatan. Saya kader anti rokok, selalu melarang orang orang untuk berhenti merokok. Masak, bapak saya sendiri nggak  berhenti,” ujarnya mengulang cerita para remaja anti rokok binaannya.

Alhamdulillah, banyak bapak bapak yang berhenti merokok karena malu terus menerus diingatkan anaknya.

Muatan Lokal IKR

Tidak hanya posyandu remaja yang digagas Rio. Ia bersama pihak UPT Puskesmas Pulau Merbau juga menginisiasi pelajaran Ilmu Kesehatan Remaja (IKR) sebagai Muatan Lokal yang diajarkan di sekolah tingkat SMU sederajat yakni MA Hidayatul Mubtadiin Semukut dan MA Hidayatul Rahmah Batang Meranti.

“Ini merupakan satu-satunya muatan lokal di sekolah tingkat SMU sederajat yang berbasis kesehatan tidak hanya di Kabupaten Kepulauan Meranti, bahkan di Provinsi Riau,” ungkapnya.

Mata pelajaran ini merupakan kerja sama lintas sektoral dengan UPTD Pendidikan Kecamatan Pulau Merbau melalui penandatanganan MoU dengan kedua sekolah tersebut.

Rio sendiri yang menjadi gurunya. Ia mengajar sebulan sekali dengan mata pelajaran tadi. Pembelajaran Ilmu Kesehatan Remaja ini menganut sistem Problem Base Learning (PBL) dengan jadwal sebulan sekali pada hari Sabtu di Minggu ke-III setiap bulannya.

Di kelas ini, siswa diharapkan mampu memahami dan mengerti tentang informasi-informasi kesehatan remaja mulai dari bahaya rokok, sex bebas, bahaya narkoba, HIV-AIDS dan masalah lainnya.

Yang membuat mata pelajaran ini berbeda dibandingkan dengan penyuluhan kesehatan remaja lainnya yakni siswa tidak hanya mempelajari materi materi yang diberikan. Tetapi juga mengikuti test diakhir materi. Nilai Mid semester dan Ujian Akhir Sekolah dimasukkan ke dalam rapor sekolah.

Pada kelas pertama Muatan Lokal Ilmu Kesehatan Remaja di MA Hidayatul Rahmah diikuti sebanyak 28 orang siswa.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau Hj  Mimi Nazir mengatakan sangat mengapresiasi atas kiprah dokter Rio Herison di Pulau Merbau. Makanya, pihaknya menganugerahi Rio sebagai dokter teladan tingkat Provinsi Riau. Serta mengirimnya untuk tingkat nasional.

“Dokter Rio sudah mengharumkan nama Riau karena masuk 10 besar tingkat nasional,” ujarnya.

Mimi berharap, apa yang dilakukan Rio bisa menjadi inspirasi bagi dokter dokter lainnya tidak hanya di Riau. Tapi juga di berbagai pelosok nusantara. Mengabdikan diri untuk pelayanan kesehatan di mana pun berada.

Sumber http://pekanbaru.tribunnews.com/2017/12/31/kisah-dr-rio-herison-penggagas-posyandu-remaja-penangkal-kenakalan-kids-jaman-now/

Bebas Stunting Untuk Mengejar Bonus Demografi Indonesia Sehat, Cerdas dan Produktif

S1 IKM STIKIM gelar “SEMINAR KESEHATAN NASIONAL 2018. Tema “Bebas Stunting Untuk Mengejar Bonus Demografi Indonesia Sehat, Cerdas dan Produktif”.

S1 IKM STIKIM proudly present, “SEMINAR KESEHATAN NASIONAL 2018”.

Tema “Bebas Stunting Untuk Mengejar Bonus Demografi Indonesia Sehat, Cerdas dan Produktif”

Tentunya dengan menghadirkan pembicara hebat yang tidak kalah menarik, diantaranya:

Keynote Speaker :
dr. Anung Sugihanto, M.Kes, Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan RI*

  • dr. Imran Agus Nurali.,Sp.KO, Direktur Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan RI
  • Iing Mursalin, M.Si, Direktur PKGBM Millenium Challenge Account Indonesia
  • dr. BRW Indriasari Sp.A, M.Si, Med. M.Kes, Dokter Anak RS Puri Mandiri Kedoya & RSUD Mampang Prapatan
  • Ns. Nana Supriyatna, M.Kep.,Sp.Kep.Kom, Ketua PPNI Jakarta Pusat.

MODERATOR*

  • Dr. Sobar, S.Psi, MKM
  • Arseka Pertiwi, Amd. Keb

CATAT TANGGALNYA!

Dont forget to mark your calendar !!!!
📆Sabtu, 03 Februari 2018
⏰ 07.00-14.00 WIB
🏬Gedung BPPT, Jl. M. H Thamrin No. 8 RT 02/RW 01, Menteng, Jakarta Pusat.

Pembayaran :
📎PRE-SALE = Rp. 175.000,-
📎ON THE SPOT = Rp. 200.000.-

Fasilitas:
📍Sertifikat ber-SKP 9 *SKP (2 SKP IAKMI, 2 SKP IBI, 1 SKP PPNI, 2 SKP PERSAGI, 2 SKP HAKLI)*
📍Seminar kit
📍Snack
📍Lunch
📍Doorprize
📍Mini Konser

Pendaftaran:
Bit.ly/SemnasSTIKIM2018

Cara Pembayaran:
💵Pembayaran langsung : Gedung HZ Jl. Harapan No. 50 Lenteng Agung.
💳Via transfer : No rek BNI. 610679168 a.n Mifta Ulyasari

Konfirmasi pembayaran : NAMA LENGKAP_INSTANSI_PRODI/JABATAN
Contoh : HAMIMAH_STIKIM_KESMAS_
Cantumkan gelar jika ada dan kirim foto bukti transfer ke. 085782599684 (Mifta)

Apabila ada yang kurang jelas ataupun ingin bertanya terkait acara bisa hubungi CP dibawah ini:
Contact person :
Darusman (087837540778)
Mifta (085782599684)

Special Performence
Lutfi Aulia *Artis Hits Jaman Now*

Grab it fast!

Bebas Stunting Untuk Mengejar Bonus Demografi Indonesia Sehat, Cerdas dan Produktif

Tanya Dong, STR Kamu Jadi Berapa Lama Sih?

STR kamu jadi berapa lama sih? Bikin STR GAMPANG ato RIBET? Share dong pengalaman kamu soal STR. Yuk, komen pengalaman kamu…

Banyak lowongan kerja,
Tapi kadang STR jadi syarat
Meski sdh LULUS, sdh WISUDA, klo STR blm ada, bs repot juga ya?

Numpang tanya nih,
STR kamu jadi berapa lama sih?

Bikin STR GAMPANG ato RIBET ?

Dari wirmamarantika

Kemarin ngurusnya 6 bulan sudah jadi, pengurusan tidak ribet, hanya saja nunggu nya kayak nunggu jodoh min 🙂

Dari raden_febry_istyanto

Saya sih udah jadi min, mulai ngurus Desember 2016 dan STR jadi nya bulan Oktober 2017. Gampang sih ngurusnya cuman lamanya itu loh min hehe ekstra sabar.

Dari linaw09

Lumayan lama banget min, aku ngurus dari awal bulan Maret 2016, dan baru jadi pertengahan bulan November 2017. Ngurusnya juga lumayan ribet buat ngurus surat-surat keterangan sedang dalam prosesnya, harus bolak balik ke dinas kes.provinsi, terus ke dinas kesehatan kota, ngabisin waktu banget, gampangnya pas daftar onlinenya doang.

Dari lafeniaaa

Aku buat dari bulan April 2017 ini sampai sekarang belum jadi. Belum ada kabar. Aku cuma ada surat keterangan sedang membuat. Tapi temanku bikin tahun 2016 juga jadi tahun 2017an.

Dari annisasani

Gampang banget, alhamdulillah kurang lebih 3 bulan dari selesai ujikom STR udah jadi. Asal berkas lengkap, patuhin prosedur dan emang beruntung pasti STR bisa cepet selesai. Kebetulan MTKP DIY nya juga bagus kerjanya.

Dari christy_esra

Menunggu STR bagaikan menunggu jodoh yang tak kunjung dateng. Kapan tong kerja kalo Nunggu STR-nya lama begitu.

Dari kinansarweni

Kebetulan nih min, saya OP-nya PERSAKMI Jawa Timur, dan setiap hari ke MTKP Jatim. Ngurusin STR SKM wilayah Jatim. Banyaknya berkas yang masuk dan tertumpuk setiap hari itu juga bagi kami butuh waktu untuk menarik data dan verifikasi. Belum lagi ke pusat nya juga harus “antri”. Beberapa waktu yg lalu sempat ada ODS (One Day Service) STR Tenaga Kesehatan di Jatim. Dan lebih dari 1000 STR sudah di cetak dalam waktu 1 hari. Semua punya pengharapan yg sama biar segera cepat. Hehehe.


Share dong pengalaman kamu soal STR
Yuk, komen pengalaman kamu… #str#kesmas #tenagakesehatan #loker

Persiapkan Dirimu Untuk Memeriahkan Rapimwil 1 ISMKMI di Kota Padang

Persiapkanlah dirimu untuk memeriahkan Acara RAPIMWIL 1 yang akan diadakan Oleh ISMKMI wilayah satu, 16 – 20 Desember 2017 di Gedung BKKBN Kota Padang.

Assalamualaikum, wr, wb
Hallo dunsanak kasado nyo…
Hallo Sahabat Kesmas…

Ada Info nih buat kamu !!
Pendaftaran peserta RAPIMWIL 1 masih kita buka loohh…
Dibuka sampai H-1
.
.
.
Persiapkanlah dirimu untuk memeriahkan Acara RAPIMWIL 1 yang akan diadakan Oleh ISMKMI wilayah satu..
.
.
.
Dan seperti kita ketahui, Tuan Rumah RAPIMWIL 1 saat ini diamanahkan kepada STIKES Alifah Padang.
.
.
.
Dilaksanakan pada :
📆 16 – 20 Desember 2017
🏤 Gedung BKKBN Kota Padang
.
.
.
Sudah siapkah menuju Kota Padang Tacinto??
Kota Sejuta Keindahan..
Sudah siap berjumpa, bertatap muka, menghangatkan persaudaraan dalam perbedaan, menyatakan rindu bertemu bersama seluruh sahabat Kesmas, Pejuang kesmas yang ada di Indonesia?
.
.
.
Ayooo.. persiapkan dirimu. !!
.
.
“BATAMU KITO BALIAK di RANAH MINANG”
.
.
biaya Pendaftaran :
500 k
—> Full Agenda

di Transfer paling lambat Pada tanggal yang Sudah ditentukan..
.
Bagi OTS (+50 k)
—> 550 k
.
.
More Info [ SMS / WA ]
Yuni Marsitah : +6282385005474
Deski Haryandi : +6282386174527
.
himakesmasalifahpadang@gmail.com
.
Jan sampai lupo dunsanak sadonyo
CATAT TANGGALNYA!!

#ISMKMI
#hidupmahasiswa
#hiduprakyatINDONESIA
#Rapimwil1
#ISMKMIwilayah1
# ISMKMISUMBAR
#KesmasAlifah
#BatamuKitoBaliakdiRanahMinang

 

Besok Kalau Kamu Lulus, Gelar Kamu SKM, Kamu Mau Kerja Dimana?

Pasti pernah dong diskusi, curhat sama kawan, besok lulus SKM mau kerja dimana? Nah, apa mimpi kamu, siapa tahu kawan kamu bakal Aminin do’a kamu.

Hallo sahabat Kesmas-ID, kali ini kita mau bahas soal topik yang selalu menarik buat mahasiswa kesmas, juga para alumninya. Pasti pernah dong diskusi, curhat sama kawan, besok lulus mau kerja dimana?

Nah, tulisan ini merupakan cuplikan kecil aja dari diskusi sahabat-sahabat Kesmas-ID di akun Instagram @kesmas.id, seperti apa serunya, apa sih mimpi para Calon SKM, berikut ini penuturan mereka:

Dari hattaillah Mahasiswa FKM Unsri di Palembang

Ingin jadi HSE. Amiin… bukan hanya bekerja di perusahan, tapi mengajak perusahaan bekerja menerapkan K3 preventiv seefektif mungkin

Dari jellyssela Mahasiswa Kesmas STIKes Bhakti Husada Mulia Madiun

Kerja di Komisi Penanggulangan HIV AIDS

Dari jejejean_hsd

Keinginan jadi Dosen Promkes, dan ingin buka usaha EO di bidang kesehatan terutama bidang penelitian 😄 semoga ya Allah..Aminnn

Dari nurfadilahsudirman Mahasiswa Kesmas UIN Alauddin Makassar

Dinas Kesehatan Provinsi Sulsel, atau tenaga kesehatan lingkungan yg ada di Sulsel. Aamiin

Dari cindypermatass

MIMPI kerja di Rumah Sakit! Mau berkontribusi banyak di sana, SKM harus MIRACLE 😉

Dari raden_febry_istyanto Mahasiswa S2 di Universitas Sebelas Maret

Jadi dosen yang profesional dan peneliti handal hehe mohon doanya saya lagi S2 Epid n Biostat. Semangat SKM. Salam kenal saya lulusan skm (epid)😊😊

Dari radenyudistira09  Mahasiswa Kesmas STIKes Respati Tasikmalaya

Menjadi Menkes RI di tahun yang akan datang (man jadda wa jadda) 🙏😊

Ada banyak sekali mimpi sahabat kesmas yang tidak mungkin kita muat semuanya disini.

Tetapi, satu hal yang ingin kami sampaikan, bahwa, ruang lingkup Kesmas itu sangat luas, begitu pun peluang kerja untuk lulusan SKM tentunya.

Setelah lulus nanti, kawan-kawan bisa pilih kerja di Pemerintahan, Dinkes, Rumah Sakit, Puskesmas, dll. Atau bekerja di Swasta misal RS, Perusahaan Tambang, dan sebagainya. Atau bisa juga menjadi pengajar, terjun ke masyarakat lewat NGO kesehatan, bahkan juga menjadi pengusaha yang tentu masih relevan dengan keilmuan kesmas.

Gapai MIMPI kamu setinggi langit, siap untuk berproses, semoga Allah kabulkan do’a dan mimpi kita, sehingga Allah mudahkan urusan dan rejeki kita semuanya, Amin.


BESOK, kalau kamu LULUS, Gelar kamu SKM, kamu mau KERJA DIMANA ?
>>>>
Yuk jawab MIMPI KAMU via komen,
siapa tahu temen-temen yang baca MIMPI KAMU mau ngaminin 😊
>>>>
Apa MIMPI KAMU setelah jadi SKM ?

Seharusnya Tak Perlu Ada Difteri

Untuk itu, selain meningkatkan program imunisasi, sistem pencegahan dan strategi sosialiasinya mesti disesuaikan dengan zaman sekarang.

Di dalam ilmu kedokteran yang tertuang dalam berbagi literasi terpercaya disebutkan penyakit difteri sangat menular dan dapat menyebabkan kematian. Dijelaskan pula bahwa difteri adalah penyakit akibat terjangkit bakteri yang bersumber dari Corynebacterium diphtheriae.

Bahkan di masa lalu, difteri dimasukkan ke dalam golongan penyakit yang mengerikan karena telah menyebabkan ribuan kematian, dan masih mewabah di daerah-daerah dunia yang belum berkembang. Orang yang selamat dari penyakit ini menderita kelumpuhan otot-otot tertentu dan kerusakan permanen pada jantung dan ginjal.

Disebutkan juga anak-anak yang berumur satu sampai sepuluh tahun sangat peka terhadap penyakit difteri. Kuman difteri disebarkan oleh menghirup cairan dari mulut atau hidung orang yang terinfeksi, dari jari-jari atau handuk yang terkontaminasi, dan dari susu yang terkontaminasi penderita.

Namun, penyebaran kuman mematikan itu bisa dicegah jika sejak anak usia dini diberikan imunisasi difteri, petusis, dan tetanus (DPT). Imunisasi ini merupakan upaya untuk menimbulkan dan atau meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap penyakit difteri, pertusis, dan tetanus dengan cara memasukkan vaksin DPT ke dalam tubuh sehingga tubuh dapat menghasilkan zat anti terhadap ketiga kuman tersebut, dan apabila suatu saat nanti terpajan dengan ketiga penyakit tersebut anak tidak akan menjadi sakit atau hanya mengalami sakit ringan.

Sayangnya, tidak semua orang tua dan masyarakat menyadari imunisasi itu. Akibatnya, wabah yang seharusnya tidak perlu terjadi malah menjadi kejadian luar biasa. Terbukti, Kementerian Kesehatan melaporkan pada Januari hingga November 2017 tercatat 593 kasus difteri terjadi di Indonesia dengan angka kematian 32 kasus. Kasus tersebut terjadi di 95 kabupaten-kota pada 20 provinsi. Data Kementerian Kesehatan juga menyebutkan kasus difteri yang ditemukan sepanjang 2017 tidak terbatas usia, yang termuda 3,5 tahun, yang tertua 45 tahun.

Dari kenyataan itu, ternyata masih ada yang belum diimunisasi. Faktor kedua, sudah mendapatkan imunisasi, tapi tidak lengkap. Adapun faktor ketiga, terjadi padahal sudah imunisasi lengkap.

Oleh karena itu, Kementerian Kesehatan menyatakan imunisasi difteri sebagai langkah pencegahan utama penyakit tersebut harus dilakukan. Ini artinya, penyebaran difteri bisa dihentikan dengan mencapai kekebalan kelompok yakni 95 persen cakupan imunisasi. Saat terjadi kekebalan kelompok, lima persen orang yang tidak diimunisasi tetap dapat terlindungi dari penyakit tersebut. Namun, ketika capaian kekebalan kelompok tidak terpenuhi, maka bakteri akan mudah menyebar bahkan bisa menginfeksi orang-orang yang sudah melakukan imunisasi. Ketika sudah terjadi seperti itu, maka disarankan penggunaan masker untuk mencegah terjadinya penyebaran bakteri.

Berbagai upaya memang harus segera dilakukan agar wabah difteri tidak meluas. Pemerintah juga tidak bisa hanya menyalahkan salah satu pihak. Pemerintah harus berperan bahwa kasus difteri ini bisa ditanggulangi dan tidak akan terulang lagi.

Untuk itu, selain meningkatkan program imunisasi, sistem pencegahan dan strategi sosialiasinya mesti disesuaikan dengan zaman sekarang. Artinya, sekalipun tetap mengandalkan tenaga-tenaga penyuluh di tingkat Puskemas hingga Posyandu, perlu juga ditambah dengan bantuan teknologi informasi, semacam smartphone.

Fungsi dari teknologi digital itu adalah pemberitahuan sekaligus alat bantu mengenai program imunisasi. Jadi, jika ada warga yang terlewatkan bisa segera terdeteksi. Demikian pula sebaliknya, jika ada program imunisasi, warga bisa segera membawa anak-anaknya ke Posyandu.

Kita tak ingin wabah difteri terulang lagi. Maka sangat penting kita untuk mewujudkan lingkungan yang sehat sehingga semua terbebas dari penyakit. Faktor kesehatan akan sangat berperan penting dalam menghadapi kemajuan zaman sehingga kita dapat mewujudkan impian kita di masa depan.

Sumber http://www.koran-jakarta.com

Ada Imunisasi Ulang Difteri di 3 Provinsi Ini pada 11 Desember 2017

Imunisasi pertama akan dilakukan pada tanggal 11 Desember secara serentak di DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten.

Kementerian Kesehatan akan melakukan imunisasi ulang atau ORI (Outbreak Response Immunization) terhadap difteri yang telah menyebar di sejumlah provinsi.

Hingga November 2017, terdapat 20 provinsi yang telah melaporkan adanya difteri dengan 593 kasus dan 32 kematian.

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, Mohamad Subuh, berkata bahwa imunisasi dilakukan dengan rumus 016. Artinya, penyuntikan imunisasi terbagi menjadi tiga tahap.

Setelah penyuntikan pertama, imunisasi akan diulangi pada bulan berikutnya dan enam bulan setelahnya. “Dengan demikian, diperlukan waktu delapan bulan untuk mengevaluasi kasus merebaknya difteri,” kata Subuh di Ditjen P2P Kemenkes, Jakarta, Rabu (6/12/2017).

Imunisasi pertama akan dilakukan pada tanggal 11 Desember secara serentak di DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten. Ketiga provinsi itu dipilih sebagai tempat pertama ORI karena jumlah prevalensi yang tinggi dan jumlah kepadatan masyarakat.

Untuk DKI Jakarta, imunisasi akan dilakukan di Kabupaten Jakarta Utara dan Jakarta Barat. Sedangkan, Jawa Barat imunisiasi dilaksanakan di Kabupaten Purwakarta, Kabupaten Kerawang, Kota Depok, Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi.

Lalu, di Banten pada Kabupaten Tangerang, Kabupaten Serang, Kota Serang, dan Kota Tangerang, dan Kota Tangerang Selatan.

“Kami perluaskan sasarannya dari umur 1 tahun sampai dengan dibawah 19 tahun. Ya sampai usia SMA,” kata Subuh.

Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Koesmedi Prihato, mengatakan, hingga Desember 2017 terdapat 25 pasien difteri dengan dua kasus kematian.

Menurut dia, setelah melihat posisi dan penyebaran di 12 kecamatan, difteri masuk ke Jakarta melalui Tangerang.

Untuk itu, Koesmedi mengimbau kepada masyarakat agar ikut mensukseskan imunisasi. Dia menilai imunisasi penting dilakukan untuk meredam penyebaran difteri.

“Saya tahu bahwa DKI Jakarta ini memang agak susah. Banyak orang keluar masuk. Saya mengimbau kepada masyarakat, tolong dipertimbangkan imunisasi,” kata Koesmedi.

Sementara itu, Kepala Seksi Surveilans dan Imunisasi, Dinas Kesehatan Provinsi Banten, Rostina berkata bahwa ada 63 kasus dengan sembilan kematian di daerahnya. Selanjutnya, Rostina akan menghitung kebutuhan SDM terkait imunisasi di 5 Kabupaten/Kota.

Lalu, ada 132 kasus di Jawa Barat dengan 13 kematian dan jumlah sejak Januari 2017.

“Kesuksesan mengatasi kejadian ini tidak terletak pada kami semata, tapi juga kemauan masyarakat untuk diimunisasi,” kata Kepala Seksi Surveilans dan Imunisasi, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Bara Yos Ruseno.

Sumber http://sains.kompas.com

Pengen Tahu Profesi Kesmas Dimasa yang Akan Datang? Yuk Ikut Seminar Nasional STIKes Alifah Padang

STIKes Alifah Padang akan  mengadakan Seminar Nasional yang mampu mengupas semua permasalahan yang sedang hangat didunia kesehatan, Minggu 17/12.

Hidup Mahasiswa!
Hidup Rakyat Indonesia!
.
Hallo generasi Tenaga Kesehatan penerus bangsa, ada yang mau datang nih!!
.
Apaaaa??
.
Sebentar lagi STIKes Alifah Padang akan  mengadakan Seminar Nasional yang akan mengupas semua permasalahan yang sedang hangat didunia kesehatan dengan tema “Mewujudkan Public Health Menuju Generasi Cerdas, Siap dan Tangguh Sebagai Garda Terdepan Dalam Meningkatkan Derajat Kesehatan Masyarakat”.
.
.
Narasumber
  1. Nizwardi Azkha, SKM, MPPM, M.Pd, M.Si, C.EIA (Ketua IAKMI SUMBAR),
    “Keprofesian Kesmas Dimasa yang Akan Datang”.
  2. Nilna Rahmi Isna, SKM,
    “Optimalisasi Pelaksanaan Program Jaminan Kesehatan Nasional Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) Menuju Universal Health Coverage 1 Januari 2019”.
SAVE THE DATE
  • Hari/ Tanggal : Minggu, 17 Desember 2017
  • Pukul : 08.00 WIB – 12.30 WIB
  • Tempat : STIKes Alifah Padang (Jln. Khatib Sulaiman No. 52B)
Insert
  • Mahasiswa : 65k
  • Umum : 80k
  • OTS : 100k
 Fasilitas
  • Seminar Kit
  • Serifikat + SKP
  • Snack
  • Hiburan
  • Doorprice

Contact Person (SMS/WA)

  • Yuni Marsitah: 0823-8500-5474
  • Deski Hariandi: 0823-8617-4527
  • himakesmasalifahpadang@gmail.com
Cara Pendaftaran:
Silahkan hubungi CP / Datang langsung ke Sekretariat Stikes Alifah Padang
#ISMKMI
#hidupmahasiswa
#hiduprakyatINDONESIA
#Rapimwil1
#ISMKMIwilayah1
# ISMKMISUMBAR
#KesmasAlifah
#BatamuKitoBaliakdiRanahMinang
Seminar Nasional STIKes ALifah Padang 2017

KLB Difteri, KPAI Ingatkan Bahwa Vaksinasi Adalah Hak Anak

Komisioner Bidang Kesehatan KPAI mengatakan vaksinasi adalah hak anak, oleh karenanya orangtua harus memberikan imunisasi kepada anak sejak kecil.

Komisioner Bidang Kesehatan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Sitti Hikmawatty mengatakan vaksinasi adalah hak anak, oleh karenanya orangtua harus memberikan imunisasi kepada anak sejak kecil.

“Masih banyak orangtua bahkan guru menganggap bahwa imunisasi bukan hak anak melainkan hak orangtua, padahal secara undang-undang itu salah. Jika orangtua tidak melakukan imunisasi kepada anak maka itu adalah pelanggaran hak kemanusiaan,” kata Sitti saat dihubungi Antara, Rabu.

Sitti Hikmawatty mengatakan itu menanggapi data Kementerian Kesehatan yang menyebutkan 66 persen kejadian luar biasa difteri 2017 karena pasien tidak diimunisasi.

Dia mengatakan keraguan atas kehalalan vaksin menjadi salah satu faktor orangtua enggan memberikan anaknya vaksinasi, menurut Sitti, bahwa menurut MUI demi kemaslahatan bersama maka vaksin dapat digunakan.

“Kalau kondisinya sudah seperti sekarang ini ya vaksin sudah harus dilakukan karena untuk kemaslahatan umat. Penyakit difteri ini menyebar lewat udara, bayangkan jika satu siswa terjangkit penyakit tersebut, kemudian dia bersin maka teman-temannya bisa ikut terjangkit. Maka jika ada satu saja kasus difteri akan disebut sebagai kasus kejadian luar biasa (KLB),” kata Sitti.

Selain itu, kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai imunisasi juga memicu para orang tua menolak anaknya diberi imunisasi, padahal vaksin DPT yang salah satunya membentuk kekebalan tubuh terhadap penyakit difteri menjadi vaksin wajib yang diberikan untuk balita, sejak usia dua bulan bayi harus diberikan vaksin DPT.

Sitti mengatakan orangtua juga ada yang menolak imunisasi karena efek samping dari vaksinasi tersebut, memang vaksinasi DPT mempunyai efek samping seperti demam tetapi hal itu hanya berlangsung dalam dua hingga tiga hari.

Vaksin DPT juga menjadi salah satu dari lima vaksin dasar yang harus diberikan negara kepada warga negaranya.

“Saya mengimbau masyarakat untuk percaya apa yang diupayakan negara untuk melindungi warga negaranya, pemberian vaksinasi merupakan langkah pencegahan yang lebih baik dibandingkan mengobati dan rehabilitasi,” kata Sitti.

Dia juga menyarankan orangtua untuk mendengarkan pendapat anak dalam pemberian vaksinasi, karena dia mengatakan ada beberapa kasus bahwa anak mau diimunisasi tetapi orang tua melarangnya.

“Saya mohon para orang tua menyadari dampak yang akan dirasakan anak jika tidak diimunisasi, walaupun orangtua pasti bertanggung jawab membawa anak ke dokter apabila anaknya sakit,” kata Sitti.

Pada Januari hingga November 2017 tercatat 593 kasus difteri terjadi di Indonesia dengan angka kematian 32 kasus. Kasus tersebut terjadi di 95 kabupaten-kota pada 20 provinsi.

Data Kementerian Kesehatan juga menyebutkan kasus difteri yang ditemukan sepanjang 2017 tidak terbatas usia, yang termuda 3,5 tahun, yang tertua 45 tahun.

Penularan difteri juga diketahui terjadi tidak tergantung musim. Sepanjang Januari hingga November 2017 terus terdapat laporan kasus difteri.

Sumber https://www.antaranews.com

Ramai KLB Difteri, Ini Cara DIY Nihil Kasus Difteri

DIY belum pernah dilaporkan ada KLB Difteri beberapa tahun terakhir,” ujar Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Masalah Kesehatan Dinas Kesehatan DIY.

DI Yogyakarta bebas penyakit difteri pada 2017. Bahkan Dinas Kesehatan DIY mengklaim telah terbebas dari penyakit ini sejak beberapa tahun belakangan.

“DIY belum pernah dilaporkan ada Kejadian Luar Biasa (KLB) Difteri beberapa tahun terakhir,” ujar Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Masalah Kesehatan (PPMK) Dinas Kesehatan DIY Akhmad Akhadi melalui sambungan telepon di Yogyakarta, Selasa, 5 Desember 2017.

Sempat ada laporan pasien gejala difteri, namun negatif ketika diperiksa. Tingginya cakupan vaksinasi menjadi faktor utama nihilnya penyakit difteri.

Akhmad menjelaskan sejak tahun 2007 imunisasi anak di DIY mencapai di atas 90 persen. “Kami sudah pastikan juga ada immunisasi DPT lima kali. Kalau sudah diimunisasi lima kali, Insyaallah si anak kuat,” terang Akhmad.

Walau nihil difteri, Pemda kini melakukan sejumlah antisipasi untuk mencegah Difteri masuk ke DIY. Di antaranya dengan memperkuat sistem pengawasan melalui diagnosis dini dengan melibatkan petugas medis di puskesmas dan tingkat pelayanan pertama.

“Jadi kalau ada pasien yang sakit ciri-cirinya seperti panas tinggi, batuk sampai kehilangan suara, dan ada bercak putih di tenggorokan segera diperiksa lebih dalam. Lalu segera diberi antidifteri serum,” tuturnya.

Ia menjelaskan, penyakit difteri disebabkan bakteri Corynebacterium diphteriae. Penyakit ini dan ditularkan jika ada kontak langsung dengan penderita dan bisa disebarkan melalui udara. Kuman difteri keluar bersama air ludah atau ingus penderita.

Bayi berusia tiga tahun ke bawah paling rentan terkena Difteri. Mereka lemah karena sistem kekebalan tubuhnya belum terbentuk dengan baik.

Sementara itu Kepala Bagian Humas dan Hukum RSUP Sardjito Trisno Heru Nugroho mengatakan selama tahun 2017, RS Sardjito belum pernah merawat pasien Difteri. “Dari tahun-tahun sebelumnya juga belum pernah ada. Suspect juga nihil,” katanya.

Agar tidak tertular, Pria yang juga berprofesi sebagai dokter ini mengimbau masyarakat untuk rajin menggunakan masker mulut, rajin berolahraga, menjaga pola hidup sehat dan rajin mengkonsumsi vitamin.

Sumber http://jateng.metrotvnews.com/