Etnografi Kesehatan! Ini Hobiku, Mana Hobimu?

Ya, saya suka memotret etnik, mempelajari adat budaya etnik-etnik di Indonesia. Dan sampai sekarang, saya selalu punya ketertarikan tersendiri untuk mempelajari etnografi kesehatan.

Memotret etnik adalah hobi saya. Semenjak masih SD saya tertarik dengan mempelajari berbagai macam etnik di Indonesia.

Makanya waktu kelas 4 SD mata pelajar favorit saya adalah IPS, karena disinilah belajar berbagai macam etnik di Indonesia.

Tidak puas dengan pelajaran di sekolah, pergi ke toko buku bersama ibu untuk beli buku RPUL (buku pintar) dan Ragam Budaya Indonesia. Zaman saya SD gak ada yg namanya gadget atau tablet, ada juga tablet obat atau vitamin.

Kemudian ketika SMA ketika sudah mengenal FB, Youtube, Twitter dan Friendster. Saya sangat hobi mendowload lagu-lagu daerah, dan video-video tentang etnik Indonesia. Hobi membaca mulai menurun, karena beralih ke menonton dan mendengarkan.

Ketika kuliah, saya aktif di organisasi sehingga mendapat kesempatan buat jalan-jalan keliling Indonesia karena dibiayai kampus. Ikut LKTI di kampus luar pulau, ikut acara rapimnas, rapimwil, dsb. Tempat yang seneng dikunjungi adalah museum dan taman budaya. Dan tentunya berfotolah di sana.

Ketika sudah menginjak usia 23 masih tertarik mempelajari etnik. Malahan mendapat kesempatan untuk melakukan studi etnografi kesehatan di pedalaman suku dayak sepauk Kalimantan Barat.

Itu kan mempelajari secara formal karena tugas negara, saya juga suka mempelajari secara informal sebagai tugas pribadi.

Saya suka mempelajari budaya pernikahan atau adat pernikahan. Mulai adat Bugis, Mandar, Banjar, Gayo, Minang dan Dayak. Entahlah adat pernikahan begitu menggoda buat dipelajari. Termasuk mitos pernikahan Jawa dan Sunda.

Baiklah itu tadi soal mempelajari etnik, yang tak kalah penting adalah memotret etnik.

Mesti hanya bermodalkan kamera HP Smartphone, atau kamera DSLR pinjaman atau kamera pocket/prosuimer yang kualitasnya kacangan. Tapi seneng-seneng aja sih memotret.

Dan kalau ada foto etnik, suka terinspirasi buat puisi. Sempet terpikir dan ada keinginan serta sudah memulai buat buku puisi dan fotografi etnik. Tapi gak kelar-kelar, soalnya sempet ditolak dan reviewnya banyak amat dari penerbit. Reviewnya karena kualitas fotonya, maklum bukan fotografer profesional.

Etnografi Kesehatan! Ini Hobiku, Mana Hobimu?

Lewat 13 Slide Ini, Kamu Bakal Tahu Apa itu Kesehatan Reproduksi Remaja!

Pengen tahu soal kesehatan reproduksi remaja? Coba deh kamu baca 13 slide berikut ini. So pasti kamu bakal lebih tau apa itu kesehatan reproduksi remaja.

DEFINISI KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA

Yaitu kesejahteraan fisik, mental dan sosial yang utuh bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan, dalam segala aspek yang berhubungan dengan sistem reproduksi, fungsi serta prosesnya.

Definisi kesehatan reproduksi menurut hasil ICPD 1994 di Kairo adalah keadaan sempurna fisik, mental dan kesejahteraan sosial dan tidak semata-mata ketiadaan penyakit atau kelemahan, dalam segala hal yang berkaitan dengan sistem reproduksi dan fungsi dan proses.

Pengertian kesehatan reproduksi menurut WHO (World Health Organizations) adalah suatu keadaan fisik, mental dan sosial yang utuh, bukan hanya bebas dari penyakit kecacatan dalam segala aspek yang berhubungan dengan sistem reproduksi, fungsi serta prosesnya. Atau suatu keadaan dimana manusia dapat menikmati kehidupan seksualnya serta mampu menjalankan fungsi dan proses reproduksinya secara sehat dan aman (Nugroho, 2010).

Menurut konferensi Internasional Kependudukan dan Pembangunan, 1994 Kesehatan Reproduksi adalah Keadaan sejahteravfisik, mental dan sosial yang utuh dalam segala hal yang berkaitan dengan fungsi, peran & sistem reproduksi (BKKBN, 2010)

Kesehatan reproduksi menurut Depkes RI adalah: suatu keadaan sehat, secara menyeluruh mencakup fisik, mental dan kedudukan sosial yang berkaitan dengan alat, fungsi serta proses reproduksi, dan pemikiran kesehatan reproduksi bukan hanya kondisi yang bebas dari penyakit, melainkan juga bagaimana seseorang dapat memiliki seksual yang aman dan memuaskan sebelum dan sudah menikah (Nugroho, 2010)

Definisi kesehatan reproduksi yang ditetapkan dalam Konferensi Internasional Kependudukan dan Pembangunan (International Conference on Population and Development/ ICPD) adalah kesejahteraan fisik, mental, dan sosial yang utuh, bukan hanya tidak adanya penyakit atau kelemahan, tetapi dalam segala hal yang berhubungan dengan system reproduksi dan fungsi serta prosesprosesnya (Ns.Tarwoto,2010).


PELAYANAN KESEHATAN REPRODUKSI ESENSIAL (PKRE)

  • Kesejahteraan Ibu dan Anak
  • Keluarga Berencana
  • Pencegahan dan penanganan ISR/PMS/HIV
  • Kesehatan Reproduksi Remaja

Pelayanan Kesehatan Reproduksi Komprehensif (PKRK): PKRE + Pelayanan dan Penanganan Masalah Usila


STRATEGI KESEHATAN REPRODUKSI

  • Komponen Kesejahteraan Ibu dan Anak: mengurangi kematian ibu → ANC, pelayanan persalinan dan nifas
  • Komponen Keluarga Berencana: untuk PUS → mengatur jumlah dan jarak kelahiran
  • Komponen Pencegahan dan Penanganan Infeksi Saluran Reproduksi (ISR): termasuk Penyakit Menular Seksual dan HIV/AIDS → klinik IMS
  • Komponen Kesehatan Reproduksi Remaja: program kesehatan untuk remaja
  • Komponen Usia Lanjut: ditekankan pada pencegahan komplikasi dan peningkatan kualitas hidup lansia

HAK REPRODUKSI

  • Hak mendapatkan informasi dan pendidikan kesehatan reproduksi
  • Hak mendapatkan pelayanan dan perlindungan kesehatan reproduksi
  • Hak untuk kebebasan berfikir tentang kesehatan reproduksi
  • Hak untuk menentukan jumlah anak dan jarak kelahiran
  • Hak untuk hidup (hak untuk dilindungi dari kematian karena kehamilan dan proses melahirkan)
  • Hak atas kebebasan dan keamanan berkaitan dengan kehidupan reproduksi.
  • Hak untuk bebas dari penganiayaan dan perlakuan buruk termasuk perlindungan dari perkosaan, kekerasan, penyiksaan dan pelecehan seksual.
  • Hak Mendapat manfaat dari kemajuan ilmu pengetahuan yang terkait dengan kesehatan reproduksi
  • Hak atas kerahasian pribadi dengan kehidupan reproduksinya
  • Hak membangun dan merencanakan keluarga
  • Hak atas kebebasan berkumpul dan berpartisipasi dalam politik yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi
  • Hak untuk bebas dari segala bentuk diskriminasi dalam kehidupan berkeluarga dan kehidupan reproduksi.

DEFINISI REMAJA

  • Menurut WHO (badan PBB untuk kesehatan dunia) remaja adalah jika anak berusia 12 sampai 24 tahun.
  • Usia remaja menurut UU perlindungan anak No 23 tahun 2002 adalah 10 – 18 tahun.
  • Pada buku-buku pediatri, pada umumnya mendefinisikan remaja adalah bila seorang anak telah mencapai umur 10 – 18 tahun (untuk anak perempuan) dan 12 – 20 tahun (untuk  anak laki-laki)
  • Menurut UU No. 4 tahun 1979 mengenai kesejahteraan anak, remaja adalah individu yang belum mencapai 21 tahun dan belum menikah
  • Menurut UU Perburuhan, anak dianggap remaja apabila telah mencapai umur 16 – 18 tahun atau sudah menikah dan mempunyai tempat untuk tinggal
  • Menurut UU Perkawinan No 1 tahun 1974, anak dianggap sudah remaja apabila cukup matang untuk menikah, yaitu umur 16 tahun (untuk anak perempuan) dan 19 tahun (untuk anak laki-laki)
  • Menurut Diknas, anak dianggap remaja bila anak sudah berumur 18 tahun, yang sesuai dengan saat lulus Sekolah Menengah

TAHAPAN REMAJA

  • Masa remaja awal/dini (early adolescence): umur 11 – 13 tahun
  • Masa remaja pertengahan (middle adolescence)  : umur 14 – 16 tahun
  • Masa remaja lanjut (late adolescence) : umur 17 – 20 tahun

PERMASALAHAN PADA REMAJA

  • Remaja aktif seksual sebelum tercapai kematangan mental dan social
  • Kehamilan yang tidak diinginkan (KTD)
  • Kondisi remaja yang tidak menunjang kehamilan sehat (anemia, kurang energy dan kalori, dsb)
  • Percobaan pengguguran kandungan (abortus) yang tidak aman oleh tenaga yang tidak terlatih
  • Terkena infeksi menular seksual (IMS)
  • Risiko berganti-ganti pasangan seksual
  • Risiko komplikasi kehamilan dan persalinan
  • Risiko melahirkan bayi berat lahir rendah dan kelainan lainnya

SASARAN

  • Sasaran Utama : kelompok remaja berusia 10 – 19 tahun di sekolah maupun di luar sekolah
  • Sasaran sekunder : orang tua, keluarga yang mempunyai anak remaja, guru/pamong belajar, organisasi pemuda, pemimpin agama
  • Sasaran tertier : petugas kesehatan, petugas lintas sektoral, LSM, organisasi masyarakat

PENGETAHUAN DASAR

  • Pengenalan mengenai sistem, proses dan fungsi alat reproduksi (aspek tumbuh kembang remaja)
  • Mengapa remaja perlu mendewasakan usia kawin serta bagaimana merencanakan kehamilan agar sesuai dengan keinginnannya dan pasanganya
  • Penyakit menular seksual dan HIV/AIDS serta dampaknya terhadap kondisi kesehatan reproduksi
  • Bahaya narkoba dan miras pada kesehatan reproduksi
  • Pengaruh sosial dan media terhadap perilaku seksual
  • Kekerasan seksual dan bagaimana menghindarinya
  • Mengambangkan kemampuan berkomunikasi termasuk memperkuat kepercayaan diri agar mampu menangkal hal hal yang bersifat negatif
  • Hak-hak reproduksi

Five Life Transitions of Youth

  • Melanjutkan sekolah,
  • Mencari pekerjaan,
  • Memulai kehidupan berkeluarga,
  • Menjadi anggota masyarakat, dan
  • Mempraktekan hidup sehat.

TEGAR REMAJA

  • Menunda usia pernikahan,
  • Berperilaku sehat,
  • Terhindar dari resiko TRIAD-KRR (Seksualitas, HIV dan AIDS, dan Napza),
  • Bercita-cita mewujudkan Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera
  • Menjadi contoh, model, idola, dan sumber informasi bagi teman sebayanya.

 

Kalau Kamu Berfikir Kecantikan itu No.1, Berarti Kamu Wajib Baca Tulisan Ini!

Sadarkah kita, bahwa persepsi yang salah membuat para wanita menjadi stress dan bersikap radikal untuk mencapai kecantikan yang katanya ideal?

“Seperti apa Tipe Wanita Idamanmu?”

Sering kali kita sebagai laki-laki, saat kita ditanya tioe wanita idaman, selalu menjawab pada hal-hal yang berkaitan dengan fisik dari seorang wanita; cantik, langsing, rambutnya panjang lurus, hidungnya mancung dan tinggi semampai.

Sadarkah kita kaum pria, bahwa persepsi seperti ini membuat para wanita menjadi stress dan bersikap radikal untuk mencapai fisik yang ideal seperti yang diidamkan oleh laki-laki pada umumnya.

Berikut ini dampak dan potensi resiko bahaya dari dari persepsi yang salah soal kecantikan:

1. Langsing

Para wanita menjadi kurang PD manakala memiliki berat badan berlebih, berpipi tembem, sehingga mereka melakukan apapun untuk menurunkan berat badannya itu. Bahaya jika wanita tersebut melakukan cara yang tidak sehat, misalnya diet yang salah.

Maka wajar jika zaman sekarang ada istilah “cantik itu sakit”. Wanita akan rentan terkena penyakit dan infeksi jika melakukan diet yang salah.

Diet yang sehat tentu diet gizi seimbang. Dimana berat badan ideal (BBI) serta Indeks Masa Tubuh (IMT) menjadi standar dalam mengetahui apakah dia gemuk atau tidak.

Sejauh ini wanita mudah stress jika naik berat badan meski itu hanya setengah kilo. Ingat yang jadi penilaiannya adalah bukan cubby-nya pipi tapi berat badan ideal dan indeks masa tubuh.

2. Kulitnya putih dan mulus

Jelas wanita makin beramai-ramai membeli kosmetik demi memutihkan dan memuluskan kulitnya terutama di wajah.

Tapi tidak semua wanita memiliki pengetahuan yang baik mengenai kesehatan kulit, banyak yang tidak mengetahui kesehatan kulit. Sehingga mereka memakai sembarangan kosmetik, yang penting dapat memutihkan dan memuluskan. Apa akibatnya?

Akibatnya jika mereka membeli produk kosmetik yang abal-abal yang nilai pH tidak sesuai dengan standar, maka akan terjadi iritasi pada kulit. Bukannya putih mulus dan cantik, tapi malah sakit dan menimbulkan panas. Akhirnya jadilah masalah kesehatan dan ekonomi karena harga dari kosmetik itu lumayan mahal.

Saat ini juga kaum hawa sedang ramai-ramainya menggunakan serum. Serum memang memiliki pungsi dalam menyamarkan kerutan, dan membuat wajah terlihat cerah. Tapi perlu diketahui penggunaan serum tidak bisa digunakan semua orang.

Beberapa yang kulitnya sensitif, serum dapat menyebabkan bintik-bintik merah di kulit dan ada sensasi panas seperti terbakar. Solusinya adalah ingin cantik, harus sesuai dengan standar kesehatan.

Konsultasi dengan ahli dermatologi, dan memperbanyak konsumsi buah-buahan yang mengandung vitamin C, yang sudah jelas memberikan manfaat bagi kesehatan kulit.

Persepsi seperti ini tidak membuat wanita menjadi smart, justru akan membuat mereka berlebihan.

Maka, saran saya untuk kaum laki-laki, kita perlu bersikap bijak dalam mendefinisikan kata “Cantik”. Persepsi yang kita berikan terhadap kecantikan seorang wanita, haruslah membuat mereka menjadi smart dan sehat serta semakin menjadi pribadi yang lebih baik.

Saat kita ditanya soal tipe wanita idaman, maka jawablah:

“Wanita yang cantik ialah wanita yang selalu membuat hati saya tenang.”

Pandangan yang demikian akan membuat wanita untuk terus berusaha untuk menjadi pribadi yang menenangkan bagi pasangannya.

Atau, “Wanita yang cantik ialah wanita yang cerdas dan baik hatinya.”

Hal ini akan membuat wanita untuk terus belajar mengembangkan dirinya dan berusaha bersikap positif.

Hal demikian, akan baik secara kesehatan mental. Mengurangi risiko stress bagi wanita dan tentunya indeks happy-nya juga baik.

Intinya apapun persepsi yang diberikan oleh laki-laki terhadap wanita haruslah yang memiliki nilai positif yang berkaitan dengan intelektual dan moralitas serta kesehatan.

Babat Ramayana Dalam Kesehatan Masyarakat

Kisah Ramayana ini sama halnya dengan para pejuang kesehatan masyarakat yang sedang berjuang menghapuskan masalah kesehatan. Penasaran gimana ceritanya?

Dalam babat Ramayana kita mengenal perang antara Rama Wijaya dan Rahwana yaitu perang kebaikan dan kejahatan.

Rahwana yang merupakan raksasa yang sakti dan tidak bisa dibunuh dengan senjata apa pun termasuk pusaka para dewa.

Rama Wijaya yang merupakan titisan Dewa Wisnu pun merasa putus asa ketika memerangi Rahwana karena saking tidak bisanya dibinasakan.

Hal ini berarti kejahatan memang tidak bisa dilenyapkan dari muka bumi selama bumi masih berputar.

Batara Guru memberikan petuah kepada Rama Wijaya bahwa Rahwana memang tak bisa dibunuh, tapi dia bisa ditekan dibuat putus asa dengan penyiksaan untuk membatasi kejahatannya.

Kisah Ramayana ini sama halnya dengan para pejuang kesehatan masyarakat yang sedang berjuang menghapuskan masalah kesehatan.

Anggap saja kita tenaga kesehatan sebagai Rama Wijaya dan masalah kesehatan itu sebagai Rahwananya.

Tidak sedikit dari kita frustasi dalam menghadapi masalah kesehatan masyarakat ini.

Baik yang berjuang di layanan kesehatan primer maupun di tingkat dinas kesehatan daerah.

Masalah kesehatan memang sangat sulit untuk dihapuskan, sebagai contoh AKI dan AKB menjadi 0 memang sangat sulit, angka TB menjadi 0 sangat sulit, dan sebagainya.

Kita memang sulit untuk benar-benar menjadikan 0 untuk masalah kesehatan, namun yang bisa kita lakukan adalah menekan masalah kesehatan dengan pusaka preventif, promotif, kuratif dan rehabilitatif. Sehingga masalah kesehatan masyarakat menurun.

Rokok Ancaman Bangsa Kita

Rokok memiliki dampak buruk terhadap kesehatan masyarakat, dan jika kesehatan masyarakat buruk maka ketahanan nasional pun akan lemah.

Kita akui bahwa Indonesia adalah negara yang memiliki perkebunan tembakau yang cukup luas. Bahkan Indonesia dikatakan sebagai surganya tembakau di dunia.

Namun hal ini membahayakan bagi bangsa Indonesia sendiri sebagai ancaman terhadap kesehatan masyarakat. Kita percaya bahwa Allah menciptakan sesuatu dimuka bumi tidak 100% mudharot, pasti nilai manfaatnya.

Namun yang kita lihat saat ini bukan manfaatnya dari tembakau tetapi kerugian dan bahaya bagi kesehatan. Hal ini karena penggunaan tembakau hanya sebatas rokok.

Rokok dampaknya memang bagi kesehatan tidak langsung terasa pada saat merokok, namun adanya akumulasi zat toksin dalam tubuh. Sehingga perokok sering berkata, “Saya sudah merokok bertahun-tahun tapi sehat-sehat saja, saya sudah merokok tapi saya masih hidup sampai sekarang.”

Namun mereka tidak menyadari bahwa sedang melakukan investasi penyakit dalam tubuhnya sendiri. Asap rokok yang mengandung nikotin dan tar terhisap oleh tubuh masuk kedalam darah, bercampur dalam darah.

Ketika jantung memompakan darah tersebut, darah tersebut akan meruksak jantung secara pelan-pelan, selain itu darah akan lebih kental sehingga kerja jantung pun semakin berat, sedangkan jantung sudah mengalami keruksakan akibat nikotin dan tar.

Apa akibatnya pada pemilik jantung tersebut?

Dia akan megalami penyakit jantung coroner (PJK). Kita tahu bahwa penyakit jantung coroner (PJK) adalah penyakit pembunuh nomor satu di Indonesia, serta penyakit tercepat dalam membunuh tubuh manusia. Pasien – pasien penyakit jantung coroner (PJK) rata-rata memiliki riwayat sebagai perokok aktif maupun yang terpapar asap rokok atau perokok pasif terutama ibu-ibu.

Rokok juga berbahaya bagi anak-anak dan balita, orang tua yang merokok didepan anaknya yang masih balita sama saja dengan membunuh anaknya sendiri. Dampak pada anak-anak dan balita lebih cepat dibanding dengan orang dewasa.

Dampak yang paling cepat adalah pneumonia, itu adalah paling cepat dan ringan. Pada saat saya praktek di Puskesmas, banyak pasien balita pneumonia padahal cuaca tidak dalam keadaan musim hujan atau musim peralihan.

Setelah di anamesis ternyata ayahnya sering merokok di dalam rumah. Saya juga pernah melakukan penelitian terkait pneumonia pada balitapa dan warga bantaran sungai di wilayah Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Balita yang mengalami pneumonia status gizinya baik, keberadaan ventilasi dalam rumah juga baik, namun ayahnya memiliki kebiaaan merokok di dalam rumah.

Hal ini jangan dianggap sepele, jika lebih sering terpapar asap rokok balita akan mengalami peradangan broncolus atau penyakit bronchitis. Penyakit ini akan terbawa sampai tumbuh menjadi dewasa.

Dampak rokok terhadap kesehatan memang banyak, dalam tulisan ini saya hanya berbicara tentang penyakit jantung coroner (PJK), dan pada balita pneumonia serta bronchitis. Belum lagi kita berbicara impotensi, kanker paru, kanker nasoparing dan kanker saluran pernapasan lainnya, keruksakan janin pada ibu hamil dan lain-lain. Kita harus menyadari bahwa rokok pun menjadi ancaman bagi ketahanan nasional.

Rokok memiliki dampak buruk terhadap kesehatan masyarakat, dan jika kesehatan masyarakat buruk maka ketahanan nasional pun akan lemah. Suatu ketika saya bertugas melakukan penelitian di pedalaman Kalimantan Barat, saya bertemu dengan anggota TNI yang berpatroli dan berbincang-bincang mengenai ketahanan nasional, menurutnya Ketahanan Nasional tidak akan terwujud jika kesehatan masyarakat buruk, bagaimana angkat senjata jika sakit-sakitan. Dampak buruk rokok adalah penyakit-penyakit yang sangat melemahkan fisik, itu berbahaya bagi ketahanan.

Melalui tulisan ini saya memberikan rekomendasi, diantaranya:

  1. Mengingat adanya steatment bahwa Indonesia sebagai surganya tembakau, maka perlu dikembangkannya riset-riset pemanfaatan tembakau non rokok. Seperti digunakan sebagai obat luka pada pasien diabetes. Penggunaan tembakau dengan cara dibakar seperti pada rokok jelas berbahaya.
  2. Para Ulama dari berbagai macam ormas di Indonesia bersatu dan membuat fatwa haram terhadap rokok. Di negara-negara kawasan arab, rokok adalah barang haram maka Indonesia yang penduduknya mayoritas beragama islam mengapa tidak menfatwakan haram untuk rokok. Padahal Allah telah berfirman:
    “Janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri kedalam kebinasaan…” (QS. Al-Baqoroh: 195). Dampak rokok yang sudah jelas dapat membinasakan manusia.
    “Dan (Rosul) itu menghalalkan yang baik-baik dan mengharamkan segala yang buruk …”.  (QS. Al-A’rof : 157).
    Rokok adalah sesuatu yang buruk dam memberikan dampak buruk yang mebahayakan tubuh.
  3. Pemerintah segera membuat regulasi, pengendalian tembakau dan pembatasan produksi rokok. Bahkan jika pemerintah berani alangkah baiknya mengalih fungsikan industri rokok menjadi industri farmasi, bahwa tembakau tidak lagi diproduksi sebagai rokok namun tembakau diproduksi sebagai produk farmasi seperti obat luka pada pasien diabetes.

Triad Kearifan Lokal Wajah Penulisan Ilmiah Kesehatan

Jika dipetakan menurut triad epidemiologi, aspek host, agent dan environment, Indonesia memiliki ciri khas tersendiri yang tidak dimiliki oleh negara lain.

Indonesia adalah negara yang memiliki banyak kekayaan kearifan lokal yang tidak dimiliki oleh negara lain. Banyak abiotik, biotik maupun budaya yang dapat dimanfaatkan sebagai riset di bidang kesehatan. Jika dipetakan menurut triad epidemiologi, dari aspek host, agent dan environment di Indonesia memiliki ciri khas tersendiri yang tidak dimiliki oleh negara-negara lain.

Host, memiliki ciri khas tersendiri yang tercermin dari budaya. Riset di bidang kesehatan dapat memanfaatkan aspek tersebut, sehingga menghasilkan artikel ilmiah yang sangat bernilai untuk publikasi di jurnal nasional maupun internasional.

Penelitian tersebut tidak harus bersifat kualitatif tapi juga dapat dilakukan melalui riset kuantitatif. Kita harus pandai melihat segala fenomena yang terjadi pada masyarakat daerah di Indonesia untuk diangkat pada sebuah riset yang akan dijadikan sebagai jurnal penelitian.

Seperti riset kajian budaya terhadap masalah kesehatan, mengangkat variabel yang justru akan dinilai unik. Setiap daerah memiliki budaya yang berbeda, yang  menjadi nilai lebih untuk riset. Indonesia juga memiliki kesenian daerah seperti tari, upacara ritual keagamaan yang selama ini dianggap sebagai mitos penyembuhan dan kesenian lainnya dapat dijadikan sebagai riset.

Di masyarakat suku banjar Kalimantan Selatan mengenal kesenian yang bernama madihin, sebuah nyanyian yang berisi cerita ataupun pesan yang dapat dimanfaatkan sebagai media promosi kesehatan.

Dilakukan penelitian  dengan cara mengukur efektivitasnya, atau perubahan pengetahuan dan perilaku. Tentu jika dijadikan sebagai jurnal ilmiah yang dipublikasi akan menjadi rujukkan pembelajaran antropologi kesehatan.

Agent yang dimiliki Indonesia ada yang tidak ada di wilayah lain. Tentu kita mengenal cacing Buski yang hanya ada di Kalimantan Selatan. Para peneliti datang ke Kalimantan Selatan untuk melakukan riset dan hasilnya dipublikasi secara internasional.

Tapi sangat disayangkan banyak peneliti tersebut berasal dari luar negeri. Sungguh sangat ironis, kita sebagai pemilik Indonesia tetapi hanya bisa membaca saja jurnal yang penelitiannya ditulis peneliti luar negeri yang meneliti di Indonesia.

Environment Indonesia memiliki kondisi geografis yang sangat unik, dan setiap musim selalu menghasilkan dampak kesehatan. Kondisi geografis dapat menjadi riset yang berkaitan dengan gizi dan pangan, yang sebagai implikasinya terhadap penyakit akibat rawan pangan. Musim di Indonesia meskipun hanya memiliki 2 musim sering menghasilkan masalah kesehatan baik secara langsung maupun tidak langsung.

Jika kita mampu ekplorasi melalui riset dan dituangkan melalui jurnal ilmiah yang dipublikasikan tentu akan sangat menaikkan nama Indonesia dalam dunia pendidikan. Hasil penelitian tersebut tentu akan menjadi bahan yang efektif dalam advokasi kebijakkan strategis baik kepada WHO, FAO maupun lembaga internasional sehingga Indonesia terbantu dalam menyelesaikan permasalahan kesehatan.

Ini Alasan Mengapa Mahasiswa Kesmas Harus Punya Kompetensi Menulis

Kulitas Mahasiswa Kesmas dilihat dari isi otaknya, dibuktikan dengan karya yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Biasakan menulis dari sekarang!

Mahasiswa pada umumnya harus berkiblat pada Tridharma Perguruan tinggi sebagai pedoman pengembangan kompetensi. Bagi mahasiswa kesmas, 2 dari Tridharma Perguruan Tinggi yaitu pengajaran dan pengabdian masyarakat sudah sangat mantap dilaksanakan oleh mahasiswa dari setiap institusi. Namun, untuk penelitian kita harus mengakui bahwa masih sangat kurang berkembang pada mahasiswa kesehatan masyarakat.

Penelitian tidak lepas dari kepenulisan ilmiah, karena inilah yang akan menjadi bukti kebaruan atau penguatan teori dari hasil suatu penelitian. Profesi kita yang akan mendapatkan gelar SKM sering diplesetkan menjadi “Sarjana Kebanyakan Makalah”.

Jika itu menjadi plesetan untuk gelar sarjana kita maka sudah sepantasnya seorang mahasiswa kesehatan masyarakat menjadi mahasiswa yang paling kompeten dibidang kepenulisan ilmiah dibandingkan dengan mahasiswa bidang keilmuan lainnya.

Kita akui bahwa penugasan kuliah begitu banyak karya tulis–karya tulis mulai dari makalah tinjauan pustaka, laporan pengabdian, laporan studi kasus, dan lain sebagainya. Tapi, ironisnya kita masih kalah dalam kualitas kepenulisan ilmiah dibandingkan dengan mahasiswa bidang keilmuan lain seperti Kedokteran dan MIPA. Hal ini disebabkan karena kurangnya dukungan program dari organisasi intra kampus sendiri terhadap kepenulisan ilmiah.

Ada beberapa cara yang dapat diterapkan pada organisasi intra kampus untuk pengembangan kepenulisan ilmiah, diantaranya:

Membentuk kelompok atau forum studi ilmiah bagi mahasiswa, dengan dibentuknya kelompok tersebut akan menjadi wadah untuk saling bertukar inovasi dan kerjasama dalam mengembangkan inovasi dalam bentuk karya tulis ilmiah maupun karsa cipta dan prototipe teknologi.

Hal ini telah dibuktikan oleh Kesehatan Masyarakat Universitas Lambung Mangkurat yang membentuk Forum Studi Ilmiah Mahasiswa (FSIM), dengan dibentuknya organisasi tersebut institusi kesmas ini berhasil menjadi institusi kesmas paling produktif di Kalimantan dengan menghasilkan 100 Proposal PKM 2 Bidang, 100 Proposal 5 bidang dan menjadi langganan finalis Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS). Bahkan sempat menyabet 1 Medali Perunggu dan 1 Emas di ajang PIMNAS. Sehingga dalam waktu kurang dari 5 tahun berhasil memperoleh Akreditasi B.

Mengadakan program kegiatan pelatihan kepenulisan ilmiah, ini akan sangat berguna bagi semua mahasiswa untuk kepentingan kuliah, penyusunan KTI atau skripsi. Sehingga memiliki kualitas yang baik dan layak untuk dipublikasikan baik di jurnal nasional maupun internasional.

Mengadakan lomba-lomba kepenulisan ilmiah seperti lomba karya tulis ilmiah (LKTI), dan poster ilmiah. Tujuannya agar mahasiswa memiliki motivasi untuk selalu belajar, meningkatkan kulitasnya serta memiliki daya saing di bidang keilmiahan.

Manfaat yang akan didapatkan dari pengembangan kepenulisan ilmiah, bagi mahasiswa akan membentuk pola pikir ilmiah yang sangat diperlukan di berbagai lingkungan, memberikan kesempatan untuk menjadi mahasiswa yang prestatif, mendapatkan kesempatan untuk keliling Indonesia bahkan keliling dunia untuk presentasi ilmiah. Bagi institusi tersendiri akan mendapatkan nilai penunjang untuk akreditasi.

“Kualitas Mahasiswa Kesmas dilihat dari isi otaknya, yang dibuktikan dengan karya yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Mari kita mulai menulis yang baik dari sekarang.”

Mengangkat Kearifan Lokal Dalam Budaya Literasi

Saya menyarankan untuk meningkatkan budaya literasi di Kabupaten Tasikmalaya perlu dibentuk organisasi maupun komunitas yang bergerak di bidang kepenulisan.

Budaya literasi merupakan buadaya membaca pada literatur – literatur baik yang bersifat kajian masalah maupun gagasan-gagasan yang ilmiah. Sebenarnya literasi tidak hanya sebatas membaca buku saja, banyak bahan literatur yang dapat dijadikan rujukan seperti jurnal penelitian, artikel dari situs yang kredibel.

Budaya literasi tidak hanya berfokus pada membaca referensi, namun pada alam visual. Setiap hari kita sering melihat pemandangan baik itu berupa masalah maupun potensi-potensi untuk menumbuhkan ide. Sehingga budaya literasi ini dimulai dengan membaca, menemukan ide atau gagasan dan dituangkan dalam bentuk tulisan.

Proses pencarian ide tentunya tidak hanya dari membaca saja. Pengalaman saya, ide untuk menulis saya sering dapatkan dari sesuatu yang saya lihat, baik yang unik maupun masalah. Jika permasalahan yang saya lihat maka ide yang muncul adalah ide mengenai solusi permasalahan yang saya lihat.

Selanjutnya saya akan melakukan kajian literatur pada jurnal – jurnal hasil penelitian, guna memperkuat ide atau gagasan untuk solusi yang saya tawarkan. Sehingga solusi tersebut bersifat ilmiah yang dapat direalisasikan.

Selain itu juga, ide muncul dari pernyataan pemegang kebijakan seperti halnya yang dikatakan oleh Bapak Bupati Tasikmalaya mengenai magrib mengaji, sehingga muncul ide untuk menulis gagasan mengenai implementasi magrib mengaji, yang tujuannya mendetailkan dengan gagasan untuk mendukung pernyataan bapak Bupati Tasikmalaya tersebut.

Ide dalam menulis juga didapatkan dari kearifan lokal, hal ini yang jarang kita angkat dalam karya tulis. Kearifan lokal adalah kekayaan budaya setempat, yang tentunya bersifat positif. Tidak harus kesenian saja, perilaku atau kebiasaan positif yang khas dari daerah tersebut itu merupakan kearifan lokal.

Menurut Koentjaraningrat aspek budaya terdiri dari sistem kepercayaan, pengetahuan, teknologi dan peralatan hidup, organisasi kemasyarakatan, kesenian, bahasa dan mata pencaharian. Hal-hal seperti perlu kita eksplore untuk menemukan ide-ide kreatif yang dituangkan dalam tulisan. Hal ini yang saya maksudkan dengan mengangkat kearifan lokal dalam budaya literasi.

Tasikmalaya merupakan daerah yang memiliki banyak kearifan lokal. Sangat disayangkan jika hal itu tidak angkat kedalam tulisan. Kita ambil contoh, Tasikmalaya memiliki industri batik Sukapura. Kita tulis dengan kreatif, dan memikirkan ide yang sederhana namun kita olah dengan tulisan yang menarik.

Pengalaman saya ketika masih kuliah di Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin yang terkenal dengan kain khas Sasirangan, mereka memodernisasi sampai kedalam bentuk jersey dan diberi judul sasirangan eropa dan itu dijadikan branding.

Jika ini kita terapkan dalam industri batik sukapura, menulis tentang batik sukapura yang dikombinasikan dengan jersey sepakbola liga italia dan saya kasih judul De Batiko Sukapura in Liga Calcio. Orang akan berfikir unik mengenai judul ini, kemudian di tulisan kita eksplore ide mengkombinasikan motif batik dengan kaos atau polo jersey liga calcio.

Idenya memang sederhana namun dengan olah tulisan ini akan terihat unik dan menjual serta menginspirasi para pelaku usaha batik sukapura di Tasikmalaya. Hal ini yang saya maksudkan mengangkat kearifan lokal Tasikmalaya dalam budaya literasi.

Pengalaman saya dalam mengangkat kearifan lokal dimulai dari sejak zaman kuliah. Kearifan lokal adalah ilham yang paling unik dan kreatif dalam buadaya literasi. Saya selalu memulai dengan jalan-jalan atau traveling, suatu ketika saya traveling ke pedalaman dayak dan melihat orang pedalaman menumbuk sebuah daun kemudian dioleskan ke anus anak kecil.

Mereka menganggap hal itu untuk mengobati cacingan pada anak. Saya lihat daunnya dan kemudian cari tahu nama daun tersebut kemudian cari referensinya mengenai khasiat dari daun tersebut pada jurnal-jurnal hasil penelitian. Saya muat dalam artikel ilmiah, sehingga hal ini mengundang para peneliti untuk melakukan penelitian terkait fungsi daun ini. Mengangkat kearifan lokal dalam budaya literasi akan menularkan kepada orang lain dan menjadi inspirasi dalam budaya literasinya.

Ketika saya masih kuliah juga setiap tahun saya membuat karya tulis untuk seleksi program kreatifitas mahasiswa (PKM) yang diselenggarakan DIKTI. Program ini bagus untuk menumbuhkan budaya literasi pada kalangan mahasiswa. Sebagai putra daerah Tasikmalaya saya sangat menyarankan para mahasiswa di Tasikmalaya untuk aktif menulis proposal PKM.

Pada saat saya menulis proposal PKM pun saya mengangkat kearifan lokal yang ada di daerah sekitar kampus saya saat itu. Icon daerah adalah binatang khas yang hampir punah yaitu Bekantan, pada saat itu saya berfikir untuk membuat sebuat kurikulum TK yang cinta lingkungan dengan menyayangi bekantan tersebut.

Maka saya tulis dan uraikan dalam proposal PKM tersebut sehingga lulus didanai, dan saya jalankan project-nya. Sehingga mengantarkan saya untuk berprestasi dengan di kancah nasional dengan mendapakan medali emas di Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) pada tahun 2015.

Maka sebagai putra daerah Tasikmalaya, jika saya menjadi dosen di perguruan tinggi yang ada di Tasikmalaya, saya ingin menumbuhkan budaya literasi pada mahasiswa dengan kegiatan menulis kreatif seperti yang saya alami sejak masih mahasiswa.

Metode yang akan saya terapkan adalah membaca dan jalan-jalan untuk menemukan ide dan kemudian menulis serta mentoring kepenulisan agar tulisan layak untuk dipublikasi dalam suatu kompetisi sehingga harapannya dapat lolos seleksi nasional.

Keuntungan jika lolos seleksi nasional, akan mendapatkan pendanaan untuk melaksanakan gagasan yang kita tulis tersebut di daerah sesuai yang kita tulis. Jika itu terjadi pada anak-anak Tasikmalaya yang berkuliah di Tasikmalaya maka akan menjadi keuntungan bagi Pemerintah maupun masyarakat Tasikmalaya sendiri karena ide-ide tersebut tidak hanya sekedar tulisan namun juga dapat direalisasikan.

Menumbuhkan budaya literasi pada diri perlu dipacu oleh lingkungan. Saat kuliah saya mengikuti organisasi keilmiahan yang fokus pada kegiatan penelitian, kajian dan kepenulisan ilmiah. Selain itu saya tergabung dalam Komunitas Anak Kesehatan Suka Menulis.

Bergabung dalam organisasi dan komunitas ini mendapatkan suntikan motivasi untuk membudayakan literasi dalam kehidupan sehari-hari, karena setiap bulan harus menghasilkan minimal satu tulisan yang ilmiah. Program organisasi maupun komunitas yang memfokuskan pada kearifan lokal sebagai topik tulisan, ini menjadi dorongan untuk terus mengasah kemampuan menulis dan mengekplore kearifan lokal dari berbagai literatur.

Pembiasaan budaya literature dapat dilakukan setiap hari dengan membuat jadwal dan catatan-catatan atas literatur yang telah kita kaji. Saya biasa menggunakan pembiasaan one day one journal, setiap hari saya baca 1 jurnal kemudian saya catat intisarinya.

Membaca dan mencatat intisari jurnal selama 20 hari, kemudian selama seminggu digunakan untuk menulis, konsultasi kepada mentor, dan perbaikan tulisan. Selanjutnya 1 sampai 3 hari digunakan untuk mensubmit tulisan, karena tulisan berupa artikel ilmiah maka saya submit ke berkala-berkala ilmiah.

Pembiasaan tersebut pernah saya sosialisasikan saat diundang sebagai pemateri dalam workshop kepenulisan PKM di Fakultas Ilmu Kesehatan UNSIL. Saya tekankan bahwa dalam mengangkat topik kepenulisan adalah kearifan lokal yang ada di Tasikmalaya, jika ingin mengangkat permasalahan pun juga adalah permasalahan yang ada di Tasikmalaya dengan diberikan solusi untuk problem solving.

Selain itu harus didukung oleh komitmen dari msing-masing individu, yang dibuktikan dengan melakukan pembiasaan literasi. Mulai melihat permasalahan, membaca dan mencatat intisari literatur di hari ke-1 sampai ke-20. Menulis dan konsultasi selama satu minggu dan selanjutnya submit.

Akhir dari essay ini, saya menyarankan untuk meningkatkan budaya literasi di Kabupaten Tasikmalaya perlu dibentuk organisasi maupun komunitas yang bergerak di bidang kepenulisan. Program yang dibuat dalam organisasi maupun komunitas tersebut adalah mengeksplore kearifan lokal kabupaten Tasikmalaya melalui tulisan artikel popular, sedangkan untuk organisasi keilmiahan adalah tulisan artikel ilmiah. Program hariannya yaitu 20 kajian literature yang terdiri dari melihat, membaca dan mencatat intisari. Kemudian satu minggu menulis artikel serta perbaikan, dan 2 sampai 3 hari publikasi.

Kenapa Dana Desa Harus Digunakan Untuk Kesehatan Masyarakat?

Kesehatan Tidak Egois.
Kesehatan Tidak Bisa berdiri sendiri.
Kesehatan Masyarakat perlu dukungan semua sektor.

Di era pemerintah Presiden Jokowi adanya kebijakan Dana Desa, setiap Desa berhak menerima dana untuk digunakan oleh desa itu sendiri. Penggunaan dana desa sebagaimana Permendesa nomor 22 tahun 2016 tentang penggunaan dana desa 2017, dana desa harus dipergunakan dengan memperhatikan azas manfaat, salah satunya harus memberikan manfaat terhadap kesehatan.

Lalu kenapa dana desa harus digunakan untuk kesehatan? Bukankah sudah ada kapitasi dari JKN dan BOK?

Kapitasi memang digunakan untuk program preventif, begitu juga dengan BOK. Namun permasalahan kesehatan masyarakat di masing-masing desa sangatlah kompleks, tidak hanya 1 penyakit saja. Dana BOK maupun Kapitasi tidak mungkin cukup untuk membangun posyandu di setiap dusun, atau membuat PMT untuk sekian banyak balita di masing-masing desa. Adanya dana desa ini membantu yang tentunya manfaat kesehatannya untuk masyarakat desa itu sendiri.

Dana desa bangun Infrastruktur, itu penting?

Sangatlah penting, akses jalan juga mendukung kesehatan masyarakat disana. Sehingga pemerintah desa dapat membagi persentase untuk perbaiki infrastruktur lebih besar dibanding yang lainnya.

Jangan sampai ambulance kesulitan menempuh rumah warga, jangan sampai juga jalan terlalu ektreme sehingga berbahaya dan menimbulkan banyak korban. Jangan sampai ada ibu dan bayi meninggal karena telat menuju faskes yang disebabkan sulitnya akses.

Inilah kesehatan tidak bisa berdiri sendiri, perlu dukungan sektor lain. Namun jangan dilupakan dalam pembangunan jangan hanya fisiknya saja, tapi manusianya harus dibangun melalui pemberdayaan masyarakat dalam bidang kesehatan, pendidikan dan sosbud.
.
Loc: Desa Wulai Kec.Bambalamotu Mamuju Utara

#Danadesa #Pencerahnusantara #publichealth #Nurse #midwife #doctor #pencerahdesa #akses #pembangunan #pemberdayaanmasyarakatdesa

Ini Cerita Tentang SKM, Sarjana Kebanyakan Makalah

Sering kali gelar SKM itu diplesetkan menjadi Sarjana Kebanyakan Makalah. Kadang bikin kesal, tapi ambil postifnya aja, siapa tahu bikin kita lebih maju.

Sering kali gelar SKM itu diplesetkan menjadi Sarjana Kebanyakan Makalah, kadang hal ini membuat kita kesal. Bagaimana tidak kesal, gelar ini adalah gelar kebanggaan kita namun selalu diplesetkan ke hal-hal lain.

Tapi kita coba pikir positif saja, memang di kuliah kesehatan masyarakat banyak sekali tugas-tugas membuat makalah. Sehingga inilah yang menjadi alasan mengapa gelar SKM diplesetkan menjadi sarjana kebanyakan makalah.

Dalam hal ini saya berfikir bahwa kalau gelar kita diplesetkan menjadi sarjana kebanyakan makalah, maka inilah kelebihan kita. Tugas membuat makalah yang banyak itu menjadi kelebihan kita, kalau kita kebanyakan membuat makalah itu artinya kita ahli dalam membuat makalah.

Hal ini harus kita kembangkan agar menjadi bernilai, tidak hanya sekedar memenuhi tugas perkuliahan saja. Menulis makalah artinya kita menulis dengan gaya ilmiah, kemampuan menulis ilmiah adalah salah satu kompetensi yang harus setiap mahasiswa kuasai. Kaitannya nanti dengan menulis proposal dan skripsi yang membuat mahasiswa pada umumnya merasa tertekan. Mahasiswa kesehatan masyarakat sudah sering membuat makalah berarti tidak galau dan merasa stress saat menulis proposal dan skripsi.

Setiap saya mengisi materi tentang kepenulisan bagi mahasiswa, saya selalu tekankan kepada mahasiswa agar jangan menjadikan aktivitas menulis itu sebagai sesuatu yang menakutkan. Mahasiswa selalu dipacu atau dimotivasi untuk tidak alergi terhadap menulis ilmiah dengan manfaat yang akan diperoleh. Lebih tepatnya adalah ilmiah itu seru.

Mari kita kembangkan kemampuan menulis ilmiah, kita bisa memsnfaatkan hal ini untuk mengikuti lomba-lomba ataupun conference tingkat nasional, regional bahkan internasional. Selain itu kita juga bisa menulis opini-opini mengenai kesehatan masyarakat di media sosial ataupun media masa. Bisa juga kita menulis buku, sangat keren jika kita masih mahasiswa tapi sudah menghasilkan banyak tulisan yang dapat dibaca oleh orang lain dan bahkan dipresentasikan di conference tingkat naisonal, regional maupun internasional.