Tertarik Isu Rokok? Yuk Gabung Menjadi Relawan PROGRESIF!

Program ini akan mengintegrasikan informasi mengenai bahaya rokok ke dalam kurikulum sekolah dipadu dengan peningkatkan soft skills siswa untuk tidak terpengaruh tekanan sosial untuk merokok.

Relawan PROGRESIF (Program Generasi Sehat dan Kreatif)

Center for Indonesia’s Strategic Development Intiatives (CISDI) akan kembali melaksanakan program yang bertujuan untuk mengedukasi remaja mengenai bahaya merokok bernama PROGRESIF (Program Generasi Sehat dan Kreatif) setelah sebelumnya menjalankan program serupa, yakni Program Generasi Kreatif: Penggerak Nusantara.

Apa itu PROGRESIF?

Program Generasi Sehat dan Kreatif (Progresif) merupakan program promotif dan preventif untuk mencegah keinginan merokok di usia muda terutama pada anak-anak. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan mengenai bahaya rokok untuk siswa/i kelas 7 dan kelas 8 di sekolah lanjut tingkat pertama (SMP/MTs) terpilih di Jakarta.

Agar anak-anak tidak mudah terpengaruh mengonsumsi rokok dan mampu mempengaruhi teman sebayanya agar tidak merokok, kemampuan soft skill diperlukan sejak dini. Program ini akan mengintegrasikan informasi mengenai bahaya rokok ke dalam kurikulum sekolah dipadu dengan peningkatkan soft skills siswa untuk tidak terpengaruh tekanan sosial untuk merokok.

Melibatkan partisipasi relawan, kegiatan pelatihan, dan kerja kelompok; PROGRESIF menyasar peningkatan pengetahuan sekaligus mengasah keterampilan kepemimpinan siswa.

Tahun ini, CISDI membuka kesempatan bagi kamu yang ingin berkontribusi pada pembangunan negara melalui bidang pendidikan. Apabila kamu merupakan seorang yang memiliki minat yang tinggi untuk menjadi relawan, memiliki ketertarikan pada isu tembakau, serta memiliki pengalaman dalam bidang pendidikan, yuk bergabung bersama kami!

Relawan Progresif akan mendapat pengalaman terlibat dalam pelaksanaan sebuah program positif secara komprehensif: terlibat dalam penyusunan materi edukasi, memberikan workshop kepada siswa/i, dan terlibat dalam publikasi kegiatan dalam setiap channel komunikasi CISDI.

Siapa saja yang dapat bergabung menjadi Relawan PROGRESIF?

  1. Laki-laki/perempuan usia 19-24 tahun;
  2. Diprioritaskan memiliki latar belakang ilmu di bidang kesehatan masyarakat;
  3. Memiliki pengetahuan tentang bahaya dan faktor risiko rokok;
  4. Tertarik dengan isu tembakau pada anak-anak usia sekolah;
  5. Memiliki pengalaman dalam memberikan training atau mengajar ke siswa/sekolah;
  6. Memiliki pengalaman dalam menyusun pengembangan kurikulum;
  7. Memiliki kemampuan manajemen (waktu/pekerjaan) yang baik;
  8. Memiliki kemampuan bekerja dalam tim dan individu yang baik.

Bagaimana peran kamu pada Program PROGRESIF?

  1. Terlibat dalam pengkajian dan penyusunan modul serta mengintegrasikannya dengan kurikulum pendidikan SMP saat ini;
  2. Memberikan training soft skills terhadap siswa di sekolah tempat berjalannya program;
  3. Mengikuti training persiapan menjadi Relawan Progresif;
  4. Hadir dan membantu proses jalannya program secara keseluruhan.

Apakah keuntungan bergabung menjadi Relawan PROGRESIF?

Sebagai volunteer, selain akan mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan diri, kamu juga akan mendapatkan sertifikat volunteer, sertifikat pelatihan, serta keuntungan lainnya.

Kapan dan dimana pelaksanaan kegiatan Program Progresif?

Program Progresif akan dilaksanakan mulai Februari-April 2018 di SMP/Sederajat Area Jabodetabek.

Jadi, tunggu apa lagi? Ayo segera daftarkan diri kamu dan jadi bagian dari generasi muda Indonesia yang aktif dan progresif hingga Jumat, 9 Maret 2018.

——————————————————————————————————————

Submit your application with subject: [Name]_[Position] to secretariat@cisdi.org cc: hrd@cisdi.org

Example email subject: Desi_Volunteer_Progresif

Selengkapnya di http://cisdi.org/pages/index/relawan

Sssstt…! Ini Nih Rahasia Puskesmas Poto Tano Bisa Raih Akreditasi Paripurna!

Puskesmas Poto Tano adalah Puskesmas Pertama yang TERAKREDITASI PARIPURNA Tahun 2017 di  wilayah Indonesia Tengah. Ini nih Rahasia Suksesnya!

Puskesmas Poto Tano adalah Puskesmas Pertama yang TERAKREDITASI PARIPURNA Tahun 2017 di  wilayah Indonesia Tengah
(Red: http://www.sumbawakini.com/2017/10/puskesmas-poto-tano-terbaik-di.html)

Paripurna loh? Tingkatan akreditasi puskesmas tertinggi, dimana hal ini mengindikasikan bahwa semua yang melekat dalam puskesmas, mulai dari Upaya Kesehatan Perorangan (UKP), Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM), dan semua administarsi manajemen puskesmas (Admen) sudah terstandar, sehingga dapat memberikan pelayanan yang paripurna di masyarakat.

Puskesmas Poto Tano

Selain karena memang 3 (tiga) hal tadi sudah bagus, dua hal krusial yang menurutku membuat salah satu puskesmas di Kabupaten Sumbawa Barat – dengan landscape Savana dan Pantai bak surgawi ini – mendapatkan predikat Paripurna adalah:

INOVASI KECAMATAN KELOR

Kelorisasi untuk peningkatan status gizi masyarakat Poto Tano. Jadi, melalui Peraturan Daerah (Perda) yang dicetuskannya, Bapak Bupati menetapkan Kecamatan Poto Tano sebagai Kecamatan Kelor yang mewajibkan setiap Rumah Tangga (RT) menanam minimal 3 (tiga) pohon kelor di pekarangannya untuk memenuhi asupan gizi.

Bahkan posyandu yang ada di kecamatan ini pun PMT (Pemberian Makanan Tambahan)-nya berbahan kelor gengs. Aku sendiri sudah mencicipi dua dari sekian banyak inovasi pengolahan kelor yang ada, yakni nugget kelor dan puding kelor. Awalnya terasa aneh, bahkan mau mengonsumsinya pun ragu-ragu, tapi setelah dicicip ternyata rasanya enak bahkan anak-anak balita pada doyan di sana. Tak tanggung-tanggung, beberapa Kepala Desa pun menganggarkan dana desanya untuk penggalakan kelorisasi ini.

APIKNYA KERJASAMA LINTAS SEKTOR

Salah satu kebijakan Kepala Puskesmas Poto Tano yang aku akui TOP banget adalah ada kewajiban untuk semua petugas puskesmas yang sedang turun lapangan wajib membawa 3 (tiga) buku yakni: 1) Buku Program; 2) Buku Koordinasi Lintas Sektor; dan 3) Buku Keluhan Masyarakat.

Dari sini saja sudah terlihat bagaimana puskesmas ini paham akan urgensi dukungan lintas sektor kan? Sebagai buktinya, aku menyaksikan secara langsung – sehabis posyandu dilaksanakan, terdapat evaluasi yang melibatkan lintas program dan lintas sektor.

Tidak hanya itu, dalam Musyawarah Masyarakat Desa (MMD), puskesmas juga turut hadir dan sumbang pikiran melalui Petugas Kesehatan Desa. Itu masih dari sisi Puskesmas.

Dari sisi Pemerintah Kecamatan dan Desa tak kalah dukungannya. Camat Poto Tano adalah seorang SKM yang dulunya Mantan Kepala Puskesmas Poto Tano. Bisa dibayangkan bagaimana kecamatan yang dipimpin seorang SKM?

Gelontoran dana untuk jaminan kesehatan masyarakat khususnya para lansia dan difabel menjadi mata anggaran terbesar serta dukungan dan komitmen untuk penggalakan KTR di instansi pemerintahan bukan isapan janji politik belaka. Pun juga Kepala Desanya – memahami dengan gamblang apa itu akreditasi, pentingnya untuk masyarakat, dan apa peran desa.

Sepertinya, belum tentu puskesmas yang ada di daerah maju sekalipun sudah terakreditasi paripurna, ha..ha..ha..ha… bangga kok memang! Bahkan semakin bangga karena ini puskesmas penempatan Pencerah Nusantara.

Pencerah Nusantara Poto Tano

Buat teman-teman PN Sumbawa Barat, so proud of you gengs juga semua staf Puskesmas Poto Tano. Semangat terus untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di Kecamatan Poto Tano!

Disini, Romantisme Membangun Kesehatan Masyarakat itu Begitu Nyata!

“This is really called Relationship Goals. At that moment, I immediately admired both of them”, begitu pikirku selepas berkunjung bertemu dengan Bapak Camat dan Ibu Kepala Puskesmas Poto Tano

“This is really called Relationship Goals. At that moment, I immediately admired both of them”, begitu pikirku selepas berkunjung bertemu dengan Bapak Camat dan Ibu Kepala Puskesmas Poto Tano. Keduanya sepasang suami istri. Namun, bukan sepasang suami istri yang “biasa saja” atau seperti pada umumnya.

Jelas! Gak mungkinlah seorang Nurmalasari akan mengagumi kedua sosok tersebut jika beliau berdua adalah “sosok yang biasa saja”. Beliau berdua memiliki hubungan yang LUAR BIASA! Sepasang suami istri yang memiliki kiprah dan pengaruh besar dalam pembangunan suatu bangsa.

Tepatnya pembangunan Kecamatan Poto Tano, Kabupaten Sumbawa Barat. Kecamatan yang memiliki julukan “Kecamatan Kelor” sejak tahun 2017 kemarin. Di bawah tangan cerdas beliau, pembangunan Kecamatan Poto Tano kini maju dengan pesatnya.

Puskesmas Poto Tano, Nurmalasari

Dari sekian banyak kebijakan beliau untuk pembangunan, yang paling aku apresiasi adalah kebijakan beliau di bidang kesehatan. Dari Milyaran jaminan sosial masyarakat yang berbentuk Kartu Pariri Bariri, angka paling tinggi digelontorkan untuk menjamin kesehatan masyarakat serta jaminan untuk lansia dan warga berkebutuhan khusus (difabel).

Tidak kalah penting, adalah komitmen besar beliau dalam mendukung inovasi Tim Pencerah Nusantara Sumbawa Barat dan Puskesmas Poto Tano untuk mengoptimalkan potensi pangan lokal yakni kelor menjadi asupan pangan kaya nutrisi untuk menjamin gizi anak-anak balita hingga dewasa.

Puncaknya ketika Kecamatan Poto Tano dinobatkan sebagai Kecamatan Kelor oleh Bupati Sumbawa Barat. Jelas! Karena Beliau adalah Bapak Camat dengan latar belakang SKM yang dulunya adalah seorang Kepala Puskesmas Pototano. Lihat kan bedanya? Red: tetep promosi Kiprah SKM untuk Negeri ha..ha..ha..ha…

Tidak kalah dengan suaminya, sosok Ibu Kepala Puskesmas Poto Tano ini nampak sangat bersahaja dalam kepemimpinannya. Pernah puluhan tahun menjadi Perawat Pustu di kecamatan ini, membuatnya memahami hal apa yang paling penting untuk mewujudkan pelayanan yang paripurna bagi masyarakat.

Tidak hanya harmonisasi kolaborasi antar profesi di dalam puskesmas, namun apiknya kerja sama yang tercipta antara puskesmas dan lintas sektor, mengantar Puskesmas Poto Tano menjadi salah satu puskesmas terakreditasi PARIPURNA: tingkatan akreditasi tertinggi.

Ah, sungguh indah melihat wujud kolaborasi nan romantis di antara keduanya, Bapak Camat dan Kepala Puskesmas Kecamatan Poto Tano.

Pencerah Nusantara Muara Enim: Intervensi Kesehatan Sebaiknya Selaras dengan Keluhuran Budaya Lokal!

Program intervensi kesehatan tidak hanya berangkat dari pemikiran yang benar menurut kita, namun juga penting melihat keluhuran budaya yang ada disana.

“Posyandu di sini agak sulit dilakukan di pagi hari Mal, karena sebagian besar masyarakat lagi mantang”, tutur Mas Aris Tri Susilo, Sanitarian sekaligus Team Leader Pencerah Nusantara Muara Enim kala aku berkunjung ke sana untuk melakukan site visit.

Mantang, istilah ini pada awalnya masih asing di telingaku tatkala aku baru saja menginjakkan kaki di Kecamatan Sungai Rotan. Salah satu daerah di Bumi Serasan Sekundang, dimana disana hidup masyarakat dari Marga/Marge Lematang dan Belida/Belide.

Mantang atau bisa disebut “Nyait” atau “begetah” rasa-rasanya tak kan pernah bisa dipisahkan dari metabolisme kehidupan kedua marga/marge ini. Ya, menjadi hal yang lumrah karena mantang ini bisa dibilang jantung kehidupan. Saat jantung ini berhenti berdetak maka tubuh bisa lumpuh bahkan itu pertanda sebuah kematian.

Pun serupa yang terjadi pada masyarakat Sungai Rotan ini. Walaupun sebagian besar wilayah ini disapa oleh anak Sungai Musi, yakni Sungai Lematang, yang pastinya menandakan bahwa menjadi nelayan merupakan salah satu pilihan hidup masyarakat di sana, nyatanya mantang masih menjadi pilihan utama.

Mantang, Menyadap Getah Karet

Mantang, kegiatan mengelola perkebunan karet, adalah primadona hati masyarakat Sungai Rotan. Ritual wajib masyarakat dari pagi hingga siang hari. Seakan mengamini itu semua, Tuhan pun menurunkan rezeki dari langit ke tujuh melalui mantang ini. Roda perekonomian berputar kencang.

Sehingga, jika kegiatan itu bukanlah merupakan kegiatan yang (mungkin) dapat mengancam hidup mereka ataupun bukan kegiatan yang berkaitan dengan keimanan dan keyakinan mereka, maka jangan harap mantang ini bisa ditinggalkannya.

Salahkah nafas kehidupan yang berhembus seperti ini?

Sebagai seorang praktisi dalam pembangunan kesehatan, haram hukumnya kita menyalahkan kegiatan yang bahkan sudah menjadi tradisi yang membudaya. Menjadi kesalahan besar (menurutku) saat kita memaksakan kegiatan-kegiatan kesehatan di waktu mantang.

Mungkin kita lupa bahwa suatu program intervensi kesehatan tidak hanya berangkat dari pemikiran-pemikiran yang benar menurut kita, namun juga yang terpenting adalah dari keluhuran budaya yang ada di sana.

Maka tak heran, Puskesmas Sukarami menjadwalkan kegiatan posyandu dan kegiatan kesehatan lainnya di siang atau sore hari selepas masyarakat selesai “mantang”. Ini merupakan contoh nyata pelaksanaan kegiatan kesehatan yang berbasis keluhuran budaya.

Posyandu di Puskesmas Sukarami

Sumber Foto:
Dok Pribadi & Dok PN 5 Muara Enim

Ini Nih Untungnya Gabung dengan Komunitas Sahabat Remaja Mentawai (SRM)!

Sejak bergabung dengan Komunitas Sahabat Remaja Mentawai, ilmu dan wawasanku semakin bertambah. Ilmu yang didapat berbeda dengan ilmu di sekolah.

Yorimarlika Samaloisa gembira saat mengetahui dirinya mendapatkan penghargaan sebagai Tunas Muda Pemimpin Indonesia (TMPI) Tingkat Usia SMP. Dia menjadi putra daerah pertama Kabupaten Kepulauan Mentawai mewakili Provinsi Sumatera Barat yang meraih prestasi tersebut.

Penghargaan yang didapatkan remaja kelahiran Manganjo, 16 Maret 2000 tersebut diberikan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak berdasarkan SK Nomor B-397/Set/KPP-PA/D.V/03/2015 tertanggal 30 Maret 2015. Penghargaan prestisius tersebut diberikan kepada kaum muda mulai dari tingkat SD hingga mahasiswa yang memberikan pengaruh positif terhadap teman-teman sebayanya.

Penghargaan yang diterima langsung dalam Perhelatan Akbar Peringatan Hari Anak Nasional tahun 2015 di Istana Kepresidenan Bogor, menurut Yori tidak diberikan begitu saja tanpa pertimbangan yang kuat di baliknya. Sejak duduk di kelas VII SMP, dia memanfaatkan waktu luangnya untuk melakukan kegiatan yang bermanfaat dalam membangun kesadaran akan pemenuhan hak anak terutama hak kesehatan dan pelaksanaan kewajiban anak di lingkungan sebayanya sesuai tingkat kedewasaannya bersama Komunitas Sahabat Remaja Mentawai (SRM).

“Banyak anak yang menjadi korban pergaulan bebas, kekerasan, dan juga banting tulang memenuhi kebutuhan keluarga seperti jualan sayur setelah pulang sekolah; membuatku tersentuh dan tergerak untuk mengubah keadaan yang ada di tengah-tengah masyarakat tersebut. Alasan itu sudah cukup meyakinkanku untuk bergabung di Komunitas Sahabat Remaja Mentawai (SRM)”, tutur anak penggemar Subet, makanan khas Mentawai yang terbuat dari Keladi atau umbi-umbian.

Menurut Yori, sejak bergabung dengan SRM, dia merasakan peningkatan prestasi akademik di sekolah. Sebelum bergabung, pada Semester I dia hanya meraih Ranking 2 di kelasnya, namun setelah bergabung dengan komunitas yang didirikan oleh Tim Pencerah Nusantara; Yayasan Cipta Fondasi Komunitas (CFK); Yayasan Rebbana Indonesia; dan Puskesmas Sikakap ini, prestasinya meningkat pada semester-semester berikutnya hingga lulus SMP menjadi Ranking 1. Bahkan dia berhasil terpilih menjadi Wakil Ketua OSIS dan PKS (Polisi Keamanan Sekolah). Hal ini dikarenakan Anggota Komunitas Sahabat Remaja Mentawai diperbolehkan menjadi pengurus dan mengikuti kegiatan rutin mingguan jika dia bisa mempertahankan prestasinya di sekolah baik prestasi akademik maupun non akademik.

Yori menyebutkan banyak ilmu yang didapatnya saat bergabung dengan komunitas yang didirikan tahun 2013 tersebut. Waktu luang di luar jam sekolah diisi dengan hal yang bermanfaat seperti belajar kelompok tentang pentingnya ilmu perlindungan anak, menjauhkan diri dari jeratan rokok dan narkoba, serta risiko pergaulan bebas.

“Sejak bergabung dengan Komunitas Sahabat Remaja Mentawai, ilmu dan wawasanku semakin bertambah. Ilmu yang didapat di komunitas tidak sama dengan ilmu yang didapat di sekolah. Di komunitas aku juga belajar tentang public speaking, advokasi, dan menjalankan organisasi. Semoga ilmu yang aku dapatkan ini dapat bermanfaat bagi orang banyak tidak hanya aku sendiri”, ujarnya.

Dari ilmu yang dia dapat, dia bersama rekan-rekannya melakukan banyak kegiatan. Mulai dari sosialisasi tentang hak anak di beberapa dusun di Kecamatan Sikakap bekerja sama dengan Gereja dan Pastoran; penyuluhan bahaya merokok, narkoba, dan pergaulan bebas di sekolah SMP dan SMA di Kecamatan Sikakap; membantu Puskesmas Sikakap melakukan skrining kesehatan pada siswa sekolah; hingga bekerja sama dengan Dinas Perikanan dan Kelautan melestarikan terumbu karang.

Sahabat Remaja Mentawai saat melakukan penanaman terumbu karang
Sahabat Remaja Mentawai saat melakukan penanaman terumbu karang sebagai himbauan kepada masyarakat untuk tidak membuang sampah di pantai yang dapat merusak ekosistem terumbu karang dan membuat populasi ikan berkurang

“Penghargaan ini akan aku persembahkan untuk kedua orang tuaku, kakak Pembina yang telah bersusah payah dalam melakukan pembinaan selama aku bergabung di Komunitas Sahabat Remaja Mentawai, teristimewa buat masyarakat di Kabupaten Kepulauan Mentawai”, ucapnya.

Keren! Usia Sudah Kepala 8, Dua Nenek Ini Masih Aktif Jadi Kader Posyandu

Meski usia sudah tak muda, mereka berdua masih aktif sebagai Kader Posyandu. Tak jarang harus berjalan kaki 10 km lebih dari rumah menuju tempat posyandu.

Di samping kanan kiriku ini, berdiri dua sosok wanita tangguh. Wanita tangguh yang usianya sudah tidak muda lagi. Jika dihitung kira-kira sudah >85 tahun.

Tahukah siapa mereka?

Mereka berdua adalah Kader Kesehatan. Tidak hanya Kader Posyandu namun juga menjadi Kader Kesehatan Lingkungan di Dusun Betumonga Timur, Desa Betumonga, Kecamatan Saumanganyak, Kabupaten Kepulauan Mentawai.

Sudah bukan menjadi cerita baru lagi jika Mentawai merupakan salah satu daerah yang masih tergolong DTPK (Daerah Terpencil, Pedalaman, dan Kepulauan) dan DBK (Daerah Bermasalah Kesehatan). Rupa menonjol dari alamnya adalah medan yang masih susah sekali untuk dijamah. Bahkan sekedar akses jalan mulus pun gak semua titik ada. Babat alas adalah salah satu cara untuk bisa mengakses jalan dari satu dusun ke dusun lainnya.

Dengan alam yang kadang tak ramah itu, mereka menghabiskan masa tuanya untuk melayani masyarakat di setiap sudut dusun yang daerahnya jauh sekali di dalam Pulau Pagai Utara. Bahkan mereka tak jarang harus berjalan kaki 10 km lebih dari rumahnya menuju tempat posyandu.

Di usia yang tidak lagi muda, mereka melakukan itu semua.

Tidakkah kita malu?

Kepada segala pelayanan yang diabdikan dan pengabdian yang diberikan? Jika kita sebagai tenaga kesehatan yang masih diberikan usia muda dengan tubuh masih kuat bugar tidak mau berbuat lebih seperti mereka?

Tidakkah kita malu?

Saat kita tidak mau turun pelayanan jika tidak ada transportasi tersedia lantaran akses yang jauh. Tidak mau turun pelayanan jika tidak ada uang jalan. Tidak mau turun pelayanan jika tidak ada dana operasional untuk programnya. Atau berjuta alasan lainnya.

Tahu tidak? Insentif sebagai kader tidak rutin turun setiap bulan seperti gaji kita. Bahkan pada beberapa daerah, kader benar-benar melayani tanpa ada penghargaan atas jasa-jasanya.

Tidakkah kita malu?

Copot saja gelar sebagai tenaga kesehatan jika hati kita tidak tergerak untuk berbuat lebih dengan alasan-alasan tadi.
_

Ini bukan tentang menyalahkan siapa-siapa terlebih tenaga kesehatan.

Ini hanyalah cara saya, cara untuk merawat dan melaksanakan sumpah yang saya angkat saat saya dikukuhkan sebagai tenaga kesehatan. Karena saya juga tenaga kesehatan.

#30HBC #30haribercerita #refleksidiri #pencerahnusantara #pencerahmentawai #sayapencerah

Kisah Remaja Pejuang Kesehatan dari Batas Samudera, Mentawai

Yorimarlika Samaloisa: Remaja Pejuang Kesehatan dari Batas Samudera, Mentawai. Penerima Anugerah Tunas Muda Pemimpin Indonesia Tingkat SMP Tahun 2015.

Banyak cara menyampaikan rasa cinta terhadap Tanah Air Indonesia. Yorimarlika Samaloisa, contohnya. Salah satu Putra Bangsa Terbaik dari Kabupaten Kepulauan Mentawai ini, sejak kecil aktif organisir teman-teman sebayanya untuk memperjuangkan kesehatan masyarakat khususnya anak dan remaja hingga mendapatkan penghargaan prestisius dari Presiden RI melalui Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak sebagai Tunas Muda Pemimpin Indonesia Tahun 2015.

Aktif Organisir Anak-Anak Mentawai 

Penampilan Yori, panggilan akrabnya, tampak tenang. Dari gaya bicaranya, remaja yang kala itu masih berstatus siswa kelas IX di SMPN 1 Pagai Utara Selatan, tampak cerdas. Remaja 15 tahun ini sangat fasih dalam menjelaskan segala sesuatu terkait hak-hak anak, upaya perlindungan anak, permasalahan anak, kesehatan reproduksi remaja, dan sebagainya. Maklum saja, anak sulung dari pasangan Pendeta Bilmar Samaloisa dan Paina Berliani Tambunan ini, sudah aktif di forum anak sejak duduk di bangku SMP.

Berturut-turut pada tahun 2007 dan 2010, Kabupaten Kepulauan Mentawai ditimpa gempa dan tsunami. Bencana ini melululantahkan sebagian besar pemukiman warga tak terkecuali Kecamatan Sikakap, kampung Yori. Tentu saja, bukan hanya menimbulkan dampak pada lingkungan fisik saja, lebih dari itu. Psikologis anak-anak Mentawai terguncang. Bagi mereka, bencana tersebut sukses merampas kehidupan mereka bahkan menjadi akhir dari masa depan mereka. NGO (Non-Government Organization) Yayasan Cipta Fondasi Komunitas (CFK) dan Rebbana Indonesia beserta Tim Pencerah Nusantara dari Kantor Utusan Khusus Presiden RI untuk MDGs dan Puskesmas Sikakap sepakat membentuk “Sahabat Remaja Mentawai”.

Di awal pembentukannya, komunitas yang biasa disingkat SRM ini merekrut beberapa siswa SMP dan SMA untuk dijadikan konselor terhadap teman-teman sebayanya. Dari beberapa tahap seleksi yang terbilang ketat, Yori yang saat itu duduk di kelas VII, terpilih menjadi salah seorang anggota Sahabat Remaja Mentawai Batch 1. Dia bertugas sebagai Koordinator Tingkat SMP.

Sederet kegiatan ditekuni oleh Yori dengan sungguh-sungguh. Mulai dari mempromosikan hak anak-hak anak, perlindungan anak perempuan dari kasus kekerasan seksual dan kehamilan tidak diinginkan (KTD), dan lainnya.

Sebagai seorang Konselor Sebaya, Yori aktif blusukan ke sekolah-sekolah, perkumpulan remaja gereja, dan karang taruna mengkampanyekan bahaya rokok, narkoba, dan HIV AIDS pada teman-teman sebayanya. Agar dapat diterima dan tepat sasaran, mau tidak mau Yori dan Sahabat Remaja Mentawai lainnya harus memutar otak, membuat program yang kreatif.

Pertemuan Mingguan Sahabat Remaja Mentawai
Pertemuan Rutin Mingguan Sahabat Remaja Mentawai di Pastoran Sikakap

Tidak mudah memang menjadi Konselor Sebaya. Cibiran, dianggap sok tahu, dan tudingan miring kerap dialamatkan kepadanya. Pernah suatu kali ketika dia bersama rekannya melakukan penyuluhan rokok dan kesehatan reproduksi, aksinya malah menjadi bahan olok-olokan, “Ah tahu apa kamu. Kamu anak kecil belum bisa apa-apa, sudah mengajak kami,” ungkap Yori sambil menirukan cemoohan orang-orang di kampungnya.

Olok-olokan tersebut tidak lantas membuat berputus asa bahkan berhenti berbuat. Justru semakin memotivasinya untuk gencar memberikan promosi kesehatan membantu Puskesmas Sikakap. Di luar jam sekolah, dia aktif mengajak teman-temannya bergabung dalam forum-forum diskusi, “Melalui pertemuan di forum-forum tersebut, setidaknya bisa mengurangi kegiatan mereka yang kurang bermanfaat, seperti nongkrong di jalan atau di pantai”, imbuh Yori ketika diliput oleh Crew Net.TV dalam Acara Lentera Indonesia.

Kegiatan Sahabat Remaja Mentawai sebenarnya sempat vakum di tengah-tengah perjalannya. Menurut Yori, hal tersebut disebabkan karena keterbatasan alat transportasi dan dana penunjang untuk melaksanakan berbagai kegiatan yang telah disusun. Untungnya kevakuman itu tidak berlangsung lama setelah Yori dan Sahabat Remaja Mentawai menyampaikan permasalahan ini dalam Musyawarah Rencana Pembangunan Desa atau lebih dikenal Musrenbang di Kantor Camat Sikakap. Yori dan Sahabat Remaja Mentawai lainnya dapat kembali bekerja mengedukasi remaja-remaja Mentawai.

Perjuangan Menembus Batas Keyakinan

Keikutsertaan Yori dalam event bergengsi tingkat nasional ini berawal dari rekomendasi Team Leader Pencerah Nusantara, Nurmalasari, setelah berdiskusi dengan Muharman dari Ruang Anak Dunia Foundation di Kelas Inspirasi yang dihelat oleh Sahabat Remaja Mentawai.

Selain itu, Pria Paruh Baya yang akrab dipanggil Imoe tersebut, menilai Yori memenuhi semua kriteria yang dipersyaratkan dalam Ajang Pemilihan Tunas Muda Pemimpin Indonesia mewakili Kabupaten Kepulauan Mentawai. Hal ini dilihatnya saat Yori mempresentasikan kegiatan Sahabat Remaja Mentawai dalam Forum Pokja P2TP2A (Pelaksana Tugas Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak) di Kecamatan Sikakap.

Kompetisi yang dihelat oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak ini ditujukan kepada siswa tingkat SD hingga Mahasiswa yang berkontribusi dan memberikan dampak positif terhadap lingkungan sekitarnya. Perwakilan setiap kabupaten diminta mengirimkan karya tulis yang menceritakan tentang jejak kontribusi dan bukti pendukungnya melalui Kantor Pos.

Setelah seminggu pengiriman berkas, Panitia Pemilihan Tunas Muda Pemimpin Indonesia menghubungi Yori untuk wawancara selama kurang lebih 1 jam. Selama wawancara via phone berlangsung, Yori ditanya tentang berbagai permasalahan anak di Mentawai khususnya Kecamatan Sikakap seperti perilaku merokok, kehamilan tidak diinginkan, bahaya narkoba, dan lainnya. Yori pun bisa menjawabnya secara lugas.

Tiga hari setelah itu, diumumkanlah nama-nama Peraih Penghargaan Tunas Muda Pemimpin Indonesia. Bersama 19 anak yang tergabung dalam Forum Anak Perwakilan Kabupaten/Kota Provinsi Sumatera Barat, Yori terbang ke Bogor untuk mengikuti Forum Anak Nasional di Instana Kepresidenan dan menerima penghargaan. Dia bersama perwakilan anak dari seluruh Indonesia berada di Bogor selama 5 hari mulai dari tanggal 8 hingga 12 Agustus 2015. Selama di karantina, semua peserta mengikuti berbagai kegiatan salah satunya sharing permasalahan anak di daerah masing-masing dan best practices yang dilakukan.

Pada Penutupan Acara Forum Anak Nasional yang dihadiri oleh Presiden Joko Widodo, Yori sebagai Peraih Penghargaan Tunas Muda Pemimpin Indonesia Kategori SMP menerima Piagam, Piala, dan Beasiswa Pembinaan Kegiatan dari Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Susana Yembise.

“Pesan dari Ibu Menteri adalah agar kami bisa menjadi motor penggerak untuk anak-anak di wilayah kami masing-masing. Aku sendiri berjanji akan terus mensosialisasikan hak anak terutama hak kesehatan ke setiap pelosok Kabupaten Kepulauan Mentawai. Paling tidak mereka mengerti masalah anak itu apa, kebutuhan anak itu apa, hak-hak anak yang selama ini tidak mereka dapatkan bagaimana. Intinya, bagaimana anak-anak mendapatkan tempat yang lebih layak di Mentawai, karena anak-anak adalah masa depan dan itu sebuah kepastian”, ujarnya.

Anugerah Tunas Muda Pemimpin Indonesia Tingkat SMP Tahun 2015
Piala dan Piagam Penghargaan sebagai Penerima Anugerah Tunas Muda Pemimpin Indonesia Tingkat SMP Tahun 2015

Berawal Dari BToPH Menuju Bonus Demografi Indonesia 2045

Terima kasih banyak kepada Panitia Basic Training of Public Health (2017) dan Dekanat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga

The improvement of understanding is for two ends. First, our own increase of knowledge. Secondly, to enable us to deliver that knowledge to others (John Locke)

Rasanya patutlah bibir ini berucap terima kasih kepada Panitia Basic Training of Public Health (BTOPH) Tahun 2017 dan Dekanat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga yang telah memberikan kami, Civitas Alumni, khususnya buat aku sendiri, untuk bisa berjumpa, belajar bersama, berbagi ilmu dan pengalaman kepada adik-adik Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga 2017.

Tenang saja, berbagi ilmu dan pengalaman tidak akan membuat kita melarat kok. Justru sebaliknya. Kita akan semakin kaya. Kaya dengan pengetahuan baru hasil pembelajaran baru dari diskusi yang terjadi. Lebih penting, bisa ngeksis #eh jujur banget hahahaha

Basic Training of Public Health (BToPH) sendiri adalah pelatihan dasar bagi Mahasiswa Baru Program Studi S1 Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga. Pelatihan ini merupakan program rutin tahunan untuk memberikan pemahaman mendalam tentang Kesehatan Masyarakat terhadap mahasiswa baru dan juga memberikan pengalaman terjun langsung di lapangan untuk melakukan assessment komunitas.

Lebih lengkapnya, BTOPH memiliki beberapa tujuan spesifik sebagai berikut:
1. Memberikan pemahaman tentang 8 Kompetensi Dasar dalam Kesehatan Masyarakat;
2. Memperkenalkan Ikatan Organisasi Mahasiswa Seprofesi (IOMS) khususnya Ikatan Senat Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Indonesia (ISMKMI);
3. Membangun jejaring dan mengenalkan prospek kerja Alumni S1 Ilmu Kesehatan Masyarakat;
4. Mengembangkan diri dan menumbuhkan soft skill mahasiswa baru baik soft skill public health maupun soft skill secara informal (minat dan bakat).

Dua tahun membersamai kegiatan hebat ini, nyatanya rasa kagum kepada adik-adik mahasiswa baru bukanlah manis-manis bibir saja. Itu nyada adanya. Terbukti di depan mata.

Throwback ke zaman aku mengikuti BTOPH Tahun 2010 dulu, rasanya mungkin analitycal thinkingku sebagai Calon Public Health Warrior terhadap berbagai permasalahan kesehatan tidak sekompleks yang mereka punya.

Hal ini terlihat waktu aku berkesempatan menjadi fasilitator sekaligus pemateri di POS 3: Dasar Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Pemberdayaan Masyarakat bersama Mas Diansanto. Mereka sudah menyadari bahwa dalam menyelesaikan permasalahan kesehatan yang kompleks ini, mereka tidak bisa bekerja sendiri. Kolaborasi interprofesi dan multisektor dibutuhkan. Juga, pemahaman bahwa modal sosial dalam masyarakat adalah aktor kunci yang sebenarnya.

Dari hal ini, aku yakin banget bahwa kelak mereka bisa menjadi bagian dari kepingan puzzle Bonus Demografi Indonesia 2045 mendukung Pembangun Kesehatan Masyarakat.

#sharingiscaring #RuangAlumni #BTOPH2017 #FKMUNAIR