Loker Tenaga Kesehatan RSKIA PKU Muhammadiyah Kotagede s.d 23 Januari 2018

Loker Tenaga Kesehatan RSKIA PKU Muhammadiyah Kotagede s.d 23 Januari 2018. Lamaran ditujukan kepada Bagian SDI via email di sdi.pkukg@gmail.com.

Assalamualaikum Wr, Wb.

Dalam rangka pengembangan Rumah Sakit serta pemenuhan kebutuhan karyawan, RSKIA PKU Muhammadiyah Kotagede membuka kesempatan kepada Saudara/i untuk dapat mengisi posisi sebagai:

  1. APOTEKER; 
  2. RADIOGRAFER; 
  3. REKAM MEDIK; 
  4. KESEHATAN LINGKUNGAN; 
  5. PERAWAT. 

Dengan Kualifikasi :

  • Pria/ Wanita
  • Beragama Islam
  • Usia maksimal 30 tahun
  • Pendidikan S1 Profesi Apoteker (1)
  • Pendidikan Min D3 sesuai jurusan (2,3,4,5)
  • Memiliki STR yang berlaku (1,2,3,4,5)
  • Memiliki Sertifikat PPGD (5)
  • Bersedia bekerja secara shift (1,2,3,5)
Lamaran ditujukan kepada :

Bagian Sumber Daya Insani (SDI)
RSKIA PKU Muhammadiyah Kotagede
Jl. Kemasan No. 43 Kotagede Yogyakarta

Atau melalui email di: sdi.pkukg@gmail.com

Paling lambat 23 Januari 2018

Demikian kami sampaikan, Wassalamualaikum Wr, Wb.

RUMAH SAKIT KHUSUS IBU ANAK
PKU MUHAMMADIYAH KOTAGEDE
JALAN KEMASAN NO. 43 KOTAGEDE YOGYAKARTA
TELP. (0274) 371201
EMAIL : sdi.pkukg@gmail.com

Penyuluh Kesehatan Kunci Sukses Tercapainya Program Pembangunan Kesehatan

Tenaga penyuluh kesehatan menjadi kunci suksesnya program pembangunan di bidang kesehatan, ujar Sekretaris Kota (Sekot) Tomohon, Ir. Harold V Lolowang, MSc.

Peran tenaga penyuluh kesehatan sangat penting dalam peningkatan kesehatan penduduk. Tenaga penyuluh pun dapat menjadi kunci suksesnya program pembangunan di bidang kesehatan.

Demikian Sekretaris Kota (Sekot) Tomohon, Ir Harold V Lolowang MSc saat tampil selaku pemateri dalam kegiatan peningkatan pendidikan tenaga penyuluh kesehatan, Selasa (11/7). Menurutnya, dalam melakukan tuhasnya, tenaga penyuluh hendaknya mendekati tokoh masyarakat (Tomas).

“Peran Tomas sangat besar dalam perubahan pola hidup penduduk. Mereka (Tomas) akan menjadi contoh di tengah-tengah masyarakat. Selain itu, pendekatan lewat diskusi dan penyampaian informasi kesehatan harus terus dilaksanakan,” ujar Lolowang di Aula Tulip Inn Hotel, Paslaten Satu.

Lanjutnya, seorang tenaga penyuluh dikatakan berhasil ketika pola hidup masyarakat berubah, menuju ke kehidupan yang baik dan sehat. Masyarakat termotivasi untuk melaksanakan dan mempertahankan perilaku bersih dan sehat dengan penuh kesadaran. Sehingga masyarakat dapat hidup mandiri yang bisa menyelamatkan diri dan lingkungannya.

Dirinya menjelaskan, tujuan dari pembangunan kesehatan, yaitu untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang. Ini demi terwujudnya derajat kesehatan masyarakat yang tinggi. Hal tersebut sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomis.

Saat membacakan sambutan Wali Kota Tomohon, Jimmy F Eman, SE Ak, Lolowang mengatakan, tenaga penyuluh sangat besar perannya bagi masyarakat. Dimana dalam tugasnya untuk penyadaran pola hidup yang sehat. Dengan perilaku hidup sehat, tingkat kesehatan masyarakat Kota Tomohon akan lebih baik.

“Tugas berat bagi tenaga penyuluh, menyadarkan masyarakat untuk melakukan hidup sehat. Tingkat kesehatan masyarakat pun akan lebih baik. Seperti kita ketahui, masih banyak masyarakat yang belum paham dan sadar dalam pelaksanaan hidup sehat ini,” kata Lolowang.

Sekot juga membeberkan, berbagai hal pada pelayanan kesehatan masih banyak yang harus dibenahi. Ini harus dikerjakan oleh tenaga kesahatan, walau berbagai penyakit terus bermunculan.

Sebelumnya, Kabid Kesmas dan Promosi Kesehatan, Moudy S Pusung S.Kep, Ns menyampaikan, pelaksanaan kegiatan ini untuk meningkatkan kinerja petugas kesehatan. Dalam hal ini untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

“Juga untuk meningkatkan kompetensi dan keterampilan tenaga penyuluh kesehatan. Peserta tenaga penyuluh kesehatan di Puskesmas se-Kota Tomohon, berjumlah 28 orang,” tutur Pusung.

Diketahui, tampil sebagai narasumber lainnya, dr. Rima Lolong, M.Kes selaku Kepala Seksi Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat. Dihadiri Sekretaris Dinkes Kota Tomohon Djoni P Kereh, S.KM, M.Kes dan para tenaga penyuluh.

Sumber manadoexpress.co

Bertahun-tahun Selesai Dibangun, Ruangan Khusus Merokok RSUD Aceh Tamiang Belum Difungsikan

Direktur RSUD Kabupaten Aceh Tamiang, Ibnu Azis saat dikonfirmasi menyebutkan, akan segera memfungsikan dua unit bangunan tersebut.

Dua unit ruangan khusus tempat merokok yang dibangun di komplek RSUD Aceh Tamiang oleh salah satu dinas, dianggap hanya membuang-buang anggaran saja. Pasalnya, sejak dibangun beberapa tahun silam, hingga kini ruangan tersebut belum juga difungsikan.

Salah seorang tenaga medis RSUD setempat, Selasa (4/7/2016) kepada GoAceh merasa heran atas didirikannya bangunan yang menurut penilaiannya sebagai proyek salah kaprah alias mubazir.”Itu proyek salah kaprah yang dibangun tanpa melalui proses analisis yang berkaitan dengan program peningkatan kesehatan masyarakat,” ungkapnya.

Menurutnya, secara medis merokok itu tidak dibenarkan dan sangat berdampak tidak baik pada kesehatan.

“Tapi herannya, kenapa malah dibangun gedung khusus perokok yang berlokasi di rumah sakit,” ujarnya. Pantauan GoAceh, satu dari dua unit gedung tempat merokok tersebut didirikan persis di samping kantin rumah sakit. Sayangnya, para perokok lebih memilih merokok di kantin seraya menikmati segelas kopi ketimbang di ruangan khusus yang telah disediakan. Sementara itu, Direktur RSUD Kabupaten Aceh Tamiang, Ibnu Azis saat dikonfirmasi menyebutkan, akan segera memfungsikan dua unit bangunan tersebut. “Saya tidak tahu kenapa dulu bangunan itu bisa didirikan di situ. Tapi kita telah merencanakan akan memanfaatkannya untuk kepentingan rumah sakit,” ujar Ibnu Azis di ruang kerjanya. “Yang satu untuk kantor koperasi RSU dan satunya lagi yang disamping kantin akan kita manfaatkan untuk pos Satpam,” sambungnya.

Sumber goaceh.co

Marak Anti Vaksin, Beberapa Daerah Ini Pernah KLB Penyakit

i Indonesia sendiri beberapa tahun terakhir kejadian mewabah kembalinya penyakit dilaporkan pernah terjadi memicu status KLB, karena warga anti vaksin.

“Biarkan saja orang tua tidak vaksinasi anaknya toh itu anak dia sendiri. Kalau untung rugi ya sendiri.” Pemahaman seperti itu mungkin pernah Anda dengar dan meski sekilas masuk akal namun sebetulnya keliru.

Ketika ada orang tua tak memvaksinasi anaknya maka yang dibahayakan bukan cuma sang anak namun populasi masyarakat secara umum. Hal ini dijelaskan oleh ahli karena ketika cakupan vaksinasi berkurang maka bibit penyakit bisa kembali ke dalam populasi mendapatkan kesempatan untuk menyebar.

Di Indonesia sendiri selama beberapa tahun terakhir kejadian mewabah kembalinya penyakit dilaporkan pernah terjadi memicu status Kejadian Luar Biasa (KLB). Penyebabnya cakupan vaksinasi yang minim salah satunya karena ada gerakan penolakan vaksin atau anti vaksin.

Berikut contoh beberapa daerah yang pernah mengalami KLB penyakit:

1. Padang

Semenjak awal tahun 2015 lalu, terjadi kejadian luar biasa (KLB) atau outbreak penyakit difteri di kota tersebut. Wakil Wali Kota Padang, Ir Emzalmi, MSi, mengatakan bahwa sejak awal tahun sudah ada 24 suspek difteri di kota ini, dengan 4 orang di antaranya positif. Oleh karena itu, outbreak response immunization (ORI) sudah harus dilakukan.

“Target kami imunisasi kepada 250.000 anak usia di bawah 15 tahun. Saat ini sudah kurang lebih 53 persen yang sudah diimunisasi,” ungkap Emzalmi beberapa waktu lalu.

Difteri disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheria. Jika tak mendapat imunisasi, difteria dapat menyebabkan kelumpuhan otot bahkan membuat anak-anak kehilangan nyawa.

2. Aceh

Sepanjang tahun 2017, 53 warga dari beberapa kabupaten di Aceh terkena difteri. 3 di antaranya meninggal dunia dan selebihnya dinyatakan sehat. Angka tersebut meningkat drastis dibandingkan tahun lalu.

Kepala Dinas Kesehatan Aceh dr Hanif mengatakan, penyakit difteri ini mulai muncul kembali di Aceh sejak tahun 2010 lalu. Jumlah penderita penyakit ini meningkat pada tahun 2016 dan 2017.

“Tempat kita (Aceh) timbul kembali penyakit difteri padahal dulu sudah kita anggap sudah tidak ada,” kata dr Hanif.

Angka penderita penyakit difteri ini meningkat tajam dalam dua bulan terakhir. Pada tahun 2016 lalu, jumlah warga yang terkena difteri yaitu 11 orang dengan rincian 4 di antaranya meninggal dunia.

3. Malang

Pada tahun 2011 Dinas Kesehatan Kota Malang menyatakan KLB difteri setelah ditemukan puluhan anak terserang penyakit. Pada saat itu Kepala Dinas Kesehatan Malang Enni Sekarengganingati secara detail menyebut ada 48 anak yang diketahui tertular.

“Anak-anak sangat mudah tertular, makanya perlu imunisasi lengkap sebagai pencegahan,” jelasnya.

4. Kalsel

Pada tahun 2015 Kejadian Luar Biasa (KLB) campak terjadi di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Di wilayah tersebut, disebut-sebut ada satu desa yang warganya banyak menolak imunisasi.

“Ada satu desa yang warganya banyak menolak imunisasi. Dari 23 kasus yang kami tangani, 12 kasus berasal dari desa tersebut,” kata Dr dr Edi Hartoyo dari Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin beberapa waktu lalu.

Menurut dr Edi bukan disebabkan oleh faktor agama. Beberapa warga menolak imunisasi karena ada anak yang mengalami demam setelah imunisasi.

5. Papua

Penyakit batuk rejan atau pertusis dilaporkan terjadi di Mbua, Kabupaten Nduga, Papua tahun 2016. Sekitar 55 anak dilaporkan meninggal dunia akibat penyakit yang sebetulnya bisa dicegah ini.

Hanya saja di Papua yang menjadi masalah bukan karena ada penolakan vaksin melainkan terbatasnya akses dan juga tenaga kesehatan. Oleh karena itu menurut laporan Kementerian Kesehatan Papua tahun 2016 masih menjadi provinsi dengan cakupan vaksinasi terendah hanya mencapai 62,9 persen dari estimasi total populasi.

Sumber detik.com

Lebih Banyak Anak Terkena Rubella daripada Campak

Sebanyak 453.000 warga Kabupaten Bandung Barat menjadi sasaran imunisasi campak (measles) dan rubella yang akan digda Agustus-September 2017 nanti.

Sebanyak 453.000 warga Kabupaten Bandung Barat menjadi sasaran imunisasi campak (measles) dan rubella yang akan digda Agustus-September 2017 nanti. Saat ini, Dinas Kesehatan setempat tengah menyosialisasikan hal itu kepada para guru dan kader.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung Barat, Pupu Sari Rohayati mengungkapkan, imunisasi MR ini merupakan program nasional yang dicanangkan tahun ini. Imunisasi MR akan menjangkau sasaran berusia 9-59 bulan serta 60 bulan-15 tahun kurang sehari.

“Jadi, sasarannya adalah anak-anak dan remaja. Khusus untuk remaja, kami bekerja sama dengan Dinas Pendidikan untuk disosialisasikan di sekolah-sekolah,” ujar Pupu di Ngamprah, Kamis, 15 Juni 2017.

Imunisasi MR tersebut, menurut Pupu, akan diberikan dengan cara disuntikkan pada lengan sebelah kiri. Satu suntikan berisi dua vaksin, yakni anticampak dan antirubella. Vaksinasi untuk anak-anak diberikan di posyandu, sedangkan untuk remaja di sekolah masing-masing.

Pemberian imunisasi MR itu dilatarbelakangi banyaknya kasus campak dan rubella yang melanda anak-anak dan remaja di Indonesia. Awalnya, Dinas Kesehatan hanya memberikan imunisasi campak, tetapi kini ditambah dengan antirubella.

“Sebab, berdasarkan pemeriksaan, ternyata lebih banyak yang terkena rubella daripada campak. Memang, rubella ciri-cirinya hampir sama dengan campak,” katanya.

Perbedaan campak dan rubella

Untuk diketahui, inilah perbedaan campak dan rubella. Campak merupakan penyakit menular yang disebabkan virus dengan masa inkubasi 8-13 hari.  Gejalanya, yaitu demam, bercak kemerahan pada kulit disertai dengan batuk atau pilek.

Sementara itu, rubella adalah penyakit akut dan ringan yang sering menginfeksi anak dan dewasa muda yang rentan. Penyakit ini bisa menular kepada wanita hamil dan membahayakan janinnya.

Pupu mengungkapkan, imunisasi dibutuhkan untuk mencegah kedua penyakit tersebut. Satu kali vaksin untuk seumur hidup.

“Lebih baik mencegah daripada mengobati. Imunisasi ini cara untuk mencegah agar penyakit itu tidak menyerang anak-anak kita,” tuturnya.

Dia menambahkan, imunisasi MR nanti akan melibatkan 325 petugas medis. Mereka merupakan tenaga medis yang tergabung dalam berbagai organisasi kesehatan, seperti Ikatan Dokter Indonesia dan Ikatan Bidan Indonesia.

Sumber pikiran-rakyat.com

Hati-Hati, Asap Letusan Mercon Dapat Sebabkan ISPA

Kepala Dinkes Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Syahrizal Antoni mengatakan bahwa dampak dari asap letusan mercon dapat menyebabkan ISPA.

Mercon seolah tak pernah absen di bulan ramadan. Tak hanya anak-anak, orang dewasa pun terkadang ikut bermain peledak berdaya rendah berupa bubuk yang dikemas dalam beberapa lapis kertas itu.

Kepala Dinas Kesehatan Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, Syahrizal Antoni mengatakan bahwa dampak dari asap letusan mercon dapat menyebabkan infeksi saluran pernapasan.

Pemerintah setempat pun mengimbau masyarakat untuk tidak meletuskan mercon karena asap yang keluar dari letusan itu jika terhirup dapat menyebabkan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

“Dampaknya tidak secara langsung, namun dipastikan akan dirasakan tiga hingga tujuh tahun kemudian,” kata Kepala Dinas Kesehatan setempat Syahrizal Antoni di Painan, Senin.

Ia menerangkan penggunaan mercon juga bisa menciderai bagian tubuh seperti mata, jari, wajah dan bagian lainnya.

Agar tidak berdampak negatif, ia mengajak warga tidak menggunakannya terutama oleh anak-anak karena lebih rentan.

Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Pesisir Selatan Harianto mengatakan pihaknya akan memastikan tidak ada tempat hiburan beroperasi selama Ramadhan termasuk mengawasi penggunaan mercon.

Meletuskan mercon akan mengganggu ketertiban dan juga dapat mengganggu umat Islam yang sedang beribadah, katanya.

“Kami telah menggelar beberapa kali razia penertiban pedagang yang menjual mercon,” katanya.

Warga Koto XI Tarusan, Al Amin (30) mengatakan meletuskan mercon pada saat Ramadan cukup mengganggu terutama bagi keluarga yang memiliki anak kecil.

“Apalagi mercon yang berukuran besar. Jangankan anak kecil kami yang dewasa saja kaget,” ujarnya.

Ia berharap aparat penegak hukum tidak lengah terkait hal itu sehingga suasana Ramadhan tenang dan tertib.

Sumber : malangtoday.net

Dinkes Klaten Gelar Imunisasi Serentak pada Agustus-September 2017

Dinas Kesehatan (Dinkes) Klaten bakal menggelar imunisasi measles rubella secara serentak pada Agustus-September mendatang.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Klaten bakal menggelar imunisasi measles rubella secara serentak pada Agustus-September mendatang.

Imunisasi menyasar ke anak usia sembilan bulan hingga 15 tahun. Imunisasi itu dimaksudkan untuk memutus transmisi penularan virus campak dan rubella.

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Klaten, Herry Martanto, mengatakan kegiatan digelar serentak di seluruh Jawa. Kebutuhan vaksin bakal disediakan oleh pemerintah pusat.

“Agustus ditargetkan untuk anak-anak sekolah dulu dari PAUD, SD, hingga SMP. Sementara, pada September untuk anak nonsekolah,” kata dia saat ditemui sebelum workshop kampanye imunisasi measles rubella di ruang B1 Pemkab Klaten, Jl. Pemuda, Klaten, Selasa (9/5/2017).

Herry menjelaskan tenaga kesehatan dari pelayanan kesehatan milik pemerintah dan swasta dilibatkan untuk imunisasi itu. Sementara, untuk imunisasi pada anak usia sekolah dilakukan di masing-masing sekolah.

Sementara, anak usia nonsekolah dilakukan di masing-masing pelayanan kesehatan. “Setelah workshop ini akan dilakukan pendataan,” kata dia.

Herry menuturkan untuk imunisasi Dinkes menggandeng sejumlah instansi termasuk Kementerian Agama dan Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Hal itu dimaksudkan untuk membantu pemberian pemahanan orang tua masing-masing anak terkait pentingnya imunisasi measles rubella. “Harapannya pada 2020 nanti sudah bebas campak dan rubella. Untuk kasus campak dan rubella Klaten tidak tinggi,” kata dia.

SUMBER

Puskesmas Kuala Mandor Berinovasi Pelayan Kesehatan Pada Bayi

Inovasi ini, tak hanya untuk mendorong pelayanan serta memberikan dorongan kepada para ibu secara benar dalam memberikan asi yaitu selama 1 tahun penuh.

Pukesmas Kuala Mandor B melakukan sedikitnya tiga inovasi dalam hal pelayanan kesehatan kepada masyarakat, khususnya pada pertumbuhan bayi di masa keemasannya selama seribu hari.

Kepala Puskesmas Kuala Mandor B, Firmansyah mengatakan di masyarakat, khususnya di Kubu Raya masih banyak ibu-ibu yang belum mengerti. Dengan tiga inovasi ini diharapkan bisa meningkatkan pemberian ASI pada bayi.

“Inovasi ini tentang pentingnya masa emas 1.000 hari kehidupan janis sejak dalam kandungan hingga berusia 2 tahun. Yaitu dengan melaunching pemberian Sertifikat Imunisasi Dasar, melaunching sticker ada ibu hamil dan bekerjasama juga dengan masyarakat Kuala Mandor B, kita melakukan penanaman cangkok manis di belakang halaman Puskesmas Kuala Mandor B,” ujarnya, Kamis (4/5/2017).

Menurutnya tiga inovasi, sangat membantu sekali mendorong pelayanan kesehatan dalam rangka pemberian asi kepada balita. Tanaman cangkok manis ini, bisa diambil siapa saja bagi ibu yang sedang menyusui untuk mendorong produksi asinya semakin lancar dan banyak,” ungkap Kapuskesmas Kuala Mandor B.

Pelaksanaan inovasi kesehatan ini, juga melibatkan seluruh pihak instansi vertikal. Pada launching yang dilakukan pada 26 April lalu, hadir para Muspika Kecamatan Kuala Mandor B, Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, Dinas Pertanian, Kepala Desa se Kecamatan Kuala Mandor B dan juga tokoh masyarakat dan tokoh agama di wilayah Kecamatan Kuala Mandor B.

“Kita melakukan inovasi ini, tak lainnya hanya untuk mendorong pelayanan serta memberikan dorongan kepada para ibu secara benar dalam memberikan asi yaitu selama 1 tahun penuh,” terangnya.

Seperti halnya pemberian sertifikat asi bertujuan untuk menggiatkan program imunisasi sekaligus memotivasi orang tua agar lebih perduli terhadap kesehatan buah hatinya. Karena masih banyak orang tua yang tidak perduli atau bahkan belum mengetahui tentang pentingnya imunisasi bagi buah hatinya.

Serifikat ini juga akan ditanyakan ketika anak akan masuk sekolah sebagai kelengkapan untuk mendapatkan imunisasi pada saat kelas 1, 2, 3 dan 6 sekolah dasar

“Serta adanya pemberian sticker ada ibu hamil merupakan kerjasama puskesmas kuala mandor B dengan seluruh kepala desa sekecamatan kuala mandor B bertujuan agar semua masyarakat tahu bahwa ada ibu hamil didesanya sehingga masyarakat dan perangkatnya dapat berpartisipasi untuk medorong ibu hamil, melahirkan ke tenaga kesehatan dengan fasilitas kesehatan. Sebab hal ini sebagai upaya menurunkan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) di seluruh desa wilayah kecamatan kuala mandor B,” paparnya.

Sedangkan khusus tanaman cangkok manis ini sendiri, guna mendukung program asi exclusive pada periode emas 1000 hari kehidupan. Cangkok manis mengandung folifenol yang berfungsi meningkatkan kadar prolaktin guna memperlancar ASI, dan juga zat mikro seperti asam folat, mineral, vitamin A, vitamin C.

“Zat-zat tersebut sangat penting bagi kesehatan di 1000 hari kehidupan pertama sehingga dapat melahirkan anak yang sehat dan cerdas. Makanya kita tanam cangkok manis ini dan nantinya diperbolehkan siapa saja untuk mengambil khusus masyarakat Kuala Mandor B,” pungkasnya.

Tokoh masyarakat asal Desa Teluk Lerang, Saiful mengungkapkan adanya inovasi pelayanan kesehatan yang dilakukan Puskesmas Kuala Mandor B sangatlah baik. Sebab, saat ini banyak sekali ibu-ibu yang jsutru memberikan asi penggati kepada bayinya.

“Kita sangat setuju sekali dengan adanya program inovasi ini. Makanya kita akan selalu dorong agar di masyarakat bisa menerapkan apa yang telah diupayakan puskesmas. Terutama menanam cangkok manis. Ini kan sangat mudah sekali,” katanya.

Menurut Saiful dengan adanya peningkatan pelayanan, tentunya bisa memberikan pengetahuan tersendiri bagi masyarakat. Terutama untuk wilayah Kuala Mandor B, meski masih banyak yang memberikan asi, namun terkadang mereka kurang maksimal dalam memberikannya.

“Jadi, saat ini puskesmas sudah menyuarakan sejumlah cara pemberian asi yang baik serta cara melahirkan dengan tepat tinggal dilaksanakan. Untuk asi sendiri bisa dibantu dengan memakan cangkok manis untuk melancarkan produksi asi,” pungkasnya.

Kader Kesehatan Tomohon Dibekali Program P4K

Kepala Dinkes Tomohon menjelaskan, kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan kader tentang P4K dan terdatanya status ibu hamil.

Pelatihan kader kesehatan Kota Tomohon kaitan program pendampingan perencanaan persalinan dan pencegahan komplikasi (P4K), digelar di Aula Tulip Inn Hotel, Kelurahan Paslaten I, Tomohon Timur, Rabu (3/5).

Kadis Kesehatan, dr Deesje Liuw MBiomed menjelaskan, kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan kader tentang P4K dan terdatanya status ibu hamil.

Selain itu, juga agar terpasangnya stiker P4K di setiap rumah ibu hamil serta tersedianya persiapan pendampingan persalinan. Untuk proses persalinan termasuk menghadapi kegawatdaruratan ibu hamil, bersalin dan bayi baru lahir.

“Kegiatan ini berlaku dari 3 sampai 4 Mei 2017. Pesertanya, yakni para koordinator kader di wilayah kerja Puskesmas se-Kota Tomohon yang berjumlah 44 orang,” terang Liuw.

Wali Kota Tomohon, Jimmy F Eman SE Ak saat membuka kegiatan mengatakan, penyebab dan latar belakang kematian ibu saat melahirkan sangat kompleks.

Untuk itu, upaya percepatan penurunan jumlah kematian memerlukan penanganan menyeluruh. Katanya, tentu dengan melibatkan sektor terkait, bahkan organisasi masyarakat seperti PKK dan kader kesehatan.

“Sejalan dengan rencana pembangunan jangka menengah nasional 2015-2019, Pemerintah Provinsi Sulut dan Pemerintah Kota Tomohon berupaya keras untuk mencapai target yang ada,” sebut Eman.

Adapun target yang telah ditetapkan, di antaranya perbaikan derajat kesehatan ibu dan bayi dengan melibatkan semua pemangku. Hal ini memerlukan tekat dan target kerja nyata menggunakan sumber daya yang telah tersedia.

“Untuk itu diperlukan tim kerja yang efektif, sinergis dan berkesinambungan dari tingkat kota sampai tenaga kesehatan di kelurahan. Salah satu pendorong akan hal ini, yakni seperti kegiatan pelatihan kader saat ini,” tutup Eman.

Hadir sebagai pemateri, Kepala Seksi Promkes Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Daerah Provinsi Sulut, dr Rima Lolong M Kes bersama stafnya, Dorlentji Hangewa SKM.

Diketahui, peran serta tanggung jawab para kader, yaitu mengajak keluarga dan masyarakat untuk peduli kesehatan ibu hamil dan nifas. Juga mengoptimalkan P4K dan Posyandu. Terakhir, mengajak masyarakat mencegah pernikahan dini pada remaja.

SUMBER

Dinkes Bolaang Mongondow Siap Bagikan 1000 Kelambu

Dinkes Bolaang Mongondow (Bolmong), dalam waktu dekat akan menyalurkan 1000 kelambu untuk warga. Bantuan itu berasal dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

Dinas Kesehatan (Dinkes) Bolaang Mongondow (Bolmong), dalam waktu dekat akan menyalurkan 1000 kelambu untuk warga. Bantuan itu berasal dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

“Ya, kami dapat bantuan kelambu dari Kemenkes, sekitar 1000 buah, dan secepatnya disalurkan,” kata kata Kepala Dinkes Bolmong, Julin Papuling.

Yulin mengatakan pembagian kelambu itu dipergunakan untuk ibu hamil, balitas serta Lansia serta warga tidak mampu. “Ini agar terhindar dari penyakit malaria,” papar Yulin.

Ia mengatakan, pihaknya juga terus menghimbau kepada para pimpinan Puskesmas agar lebih dekat dengan masyarakat.

“Kami berharap pelayanan kepada masyarakat untuk lebih ditingkatkan untuk  demi Bolmong sehat dan hebat,” katanya.

Dari bantuan kelambu tersebut, nantinya seluruh Puskesmas akan kebagian. “Dari 17 puskesmas yang ada semua akan diberikan. Setelah itu, Puskesmas akan memberikan kepada masyarakat yang membutuhkan kelambu ini,” katanya.

SUMBER