You are here
Home > Tips Kesehatan > Awas Lho Mom, Anak Gemuk Bukan Berarti Sehat

Awas Lho Mom, Anak Gemuk Bukan Berarti Sehat

Awas Lho Mom, Anak Gemuk Bukan Berarti Sehat
Adelia Marista Safitri ,SKM

Adelia Marista Safitri ,SKM

Public Health Nutrition
Diponegoro University
Adelia Marista Safitri ,SKM

Latest posts by Adelia Marista Safitri ,SKM (see all)

Sharing is caring!

Menjaga kesehatan anak memang sudah menjadi kewajiban para orang tua. Tentunya orang tua patut untuk mengatur pola makan untuk kesehatan tubuh si buah hati. Tubuh anak yang subur dan montok dinilai lucu bagi sebagian orang tua.

Penilaian seperti ini kemudian membuat orang tua membiarkan anaknya tumbuh berkembang hingga hampir melupakan berat badan ideal pada anak di usianya. Pembiaran seperti ini justru membahayakan tubuh si anak di masa perkembangannya.

Banyak orang tua yang salah kaprah bahwa anak bertubuh gemuk itu sehat. Tak heran jika orang tua memberikan konsumsi yang berlebihan demi membangun respon sehat dari orang lain mengenai anaknya.

Anggapan yang terlanjur menjamur dikehidupan masyarakat seperti ini jelas tidak benar adanya. Orang yang gemuk belum tentu sehat sepenuhnya, justru bisa menandakan kondisi yang sebaliknya. Orang yang gemuk bisa saja menyimpan penyakit yang harus diwaspadai sejakdini, terlebih sedari masa anak-anak.

Kondisi kegemukan seseorang yang melebihi batas normal biasa disebut dengan obesitas. Tidak hanya berlaku bagi orang dewasa, obesitas pun bisa menimpaanak-anak dan remaja. Usia 5-15 tahun merupakan usia rentan pada anak menderita obesitas. Kecenderungan anak berbadan gemuk sejak kecil dapat berlanjut hingga anak tersebut dewasa. Inilah mengapa obesitas pada anak menjadi momok menakutkan yang siap menghantui para orang tua.

Dilansir dari tempo.co, terdapat sebanyak 15 provinsi di Indonesia yang memiliki prevalensi sangat gemuk di atas nasional, yakni Kalimantan Tengah, JawaTimur, Banten, Kalimantan Timur, Bali, Kalimantan Barat, Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Jambi, Papua, Bengkulu, Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, dan DKI Jakarta.

Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementrian Kesehatan Republik Indonesia pada 2013, secara nasional masalah gemuk pada anak usia 5-12 tahun masih tinggi, yakni 18,8% yang terdiri atas gemuk 10,8% dan sangat gemuk atau obesitas 8,8%. Sedangkan prevalensi gemuk pada remaja usia 13-15 tahun sebesar 10,8% terdiri atas 8,3% gemuk dan 2,5% sangat gemuk atau obesitas. Prevalensi kegemukan pada anak terendah berada di daerah Nusa Tenggara Timur sebesar 8,7% dan tertinggi di daerah DKI Jakarta sebesar 30,1%.

Obesitas bisa disebabkan pula oleh pola makan anak. Junk food dan makanan serba instan menjadi kegemaran anak-anak di era globalisasi seperti sekarang ini. Makanan tersebut bukan tidak boleh dikonsumsi oleh anak-anak, tetapi harus dalam batas wajar. Orang tua harus memberi jeda dalam pemberian junk food atau makanan instan, seperti sekali sebulan atau dua kali dalam satu bulannya. Kandungan karbohidrat, lemak, dan gula pada makanan juga menjadi sumber masalah penyebab obesitas pada anak-anak. Oleh sebab itu, makanan maupun minuman yang manis pun perlu dibatasi.

Era globalisasi yang penuh dengan alat-alat canggih membuat anak lebih menyukai duduk menikmati gadget miliknya, dibandingkan beraktivitas aktif di luar rumah. Kebiasaan menonton televisi dan bermain game menghapus kebiasaan anak-anak dahulu yang gemar bermain petak umpet, engklek, kelereng, dan sebagainya di usianya. Transisi kebiasaan seperti ini mengakibatkan anak-anak cenderung malas untuk bergerak. Anak yang minim melakukan mobilitas cenderung lebih mudah gemuk dari pada anak yang aktif bergerak. Hal ini dapat diantisipasi dengan ketegasan orang tua dalam mengurangi jam untuk menonton tv ataupun bermain game. Orang tua harus aktif mengajak anak-anaknya bermain dan memotivasi mereka untuk bereksplorasi dengan permainan-permainan yang mengasah kekuatan ototnya untuk bergerak aktif. Dengan begitu, proses pembakaran di tubuh anak akan berlangsung dengan baik dan tidak menimbun lemak sehingga mengurangi kerentanan terhadap obesitas.

Selain itu, banyak isu yang beredar di masyarakat mengenai obesitas. Salah satunya anggapan bahwa ‘banyak tidur bikin gemuk’ yang ternyata tidak benar. Tidur yang kurang pada anak justru menaikkan risiko obesitas karena mengganggu proses metabolisme dan menaikkan selera anak untuk makan makanan ringan. Oleh karena inilah orang tua perlu mengawasi jam tidur anak sehingga anak mendapatkan istirahat yang cukup setiap harinya.

Obesitas pada anak di usia pertumbuhan tentu berdampak buruk bagi penderitanya, dimulai dari peningkatan risiko penyakit tidak menular, gangguan hormon, hingga penurunan kemampuan belajar. “Obesitas yang terjadi pada anak di usia pertumbuhan akan menjadi faktor pemicu terjadinya beberapa penyakit tidak menular, baik itu diabetes mellitus tipe 2 ataupun penyakit kardiovaskuler yang memerlukan pengobatan seumur hidup dan akan menyedot pembiayaan kesehatan yang diskenariokan melalui Jaminan Kesehatan Nasional yang dikelola BPJS Kesehatan,”jelas dr. Anung Sugihantono, M.Kes, Dirjen Gizi dan KIA Kementrian Kesehatan RI. (28/8)

Dampak lain yang secara nyata terlihat adalah rasa minder yang dialami oleh anak-anak bertubuh gemuk ketika bermain dan berbaur dengan sebayanya. Kondisi ini akan semakin diperburuk apabila teman-teman sebayanya mulai memberikan ejekan akan postur tubuhnya. Hal ini akan berpengaruh pada kepribadiannya yang bisa berubah menjadi lebih tertutup dan memilih untuk menyendiri. Secara psikologis, jiwa si anak tentu akan sangat terganggu.

Permasalahan obesitas pada anak akan menjadi masalah dunia kesehatan di masa yang akan datang sehingga perlu dilakukan penanganan sedini mungkin. Salah satunya adalah pengadaan riset yang bersifat sporadis maupun yang bersifat mendalam berkolaborasi antar lembaga riset atau universitas. Dengan lingkup yang sudah sangat beragam, mulai dari aspek perilaku, baik pilihan makanan, pola konsumsi, aktivitas fisik, hingga penelitian yang bersifat public policy.

Anung menuturkan bahwa pemerintah telah melakukan berbagai hal, mulai dari yang bersifat kebijakan, regulasi, hingga dukungan sarana dan prasarana bagi unit pelayanan kesehatan, sekolah, institusi pemerintah lainnya. “Pendekatan program yang sifatnya terintegrasi juga telah dilakukan seperti Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi Masyarakat (Gernas PGM) yang di dalamnya berkaitan dengan penanggulangan gizi kurang dan gizil ebih,” tuturnya.

Tidak hanya dari sisi pemerintah, seluruh pihak memiliki peran dalam menekan prevalensi obesitas di Indonesia, termasuk lulusan kesehatan masyarakat. Lulusan kesehatan masyarakat harus mampu memberikan pengetahuan kepada para orang tua untuk mengontrol perkembangan anaknya. Orang tua perlu menjaga pola asupan makanan bagi anak-anaknya dalam kadar yang seimbang. Di samping itu, orang tua juga perlu mengawasi jajanan anak, khususnya yang memiliki kadar manis yang tinggi. Selain itu, lulusan kesehatan masyarakat perlu memotivasi orang tua dalam mengurangi asupan junk food yang biasa digemari anak-anak masa kini. Penerapan makan sayuran dan buah-buahan sangat penting diberikan kepada anak-anak sejak dini untuk menghapus rasa enggan anak-anak dalam mengonsumsi sayur dan buah-buahan.

Dukungan lulusan kesehatan masyarakat sangat dibutuhkan untuk mengajak para orang tua dalam menerapkan kebiasaan hidup sehat dalam jiwa anak-anaknya. Olah raga dan bermain aktif, contohnya, dapat menjadi cara yang menyenangkan bagi si anak untuk mulai menerapkan hidup sehat sedini mungkin. Selain melatih hidup sehat, gerak motorik pada anak juga akan terlatih sekaligu sbelajar bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya.

Tidak hanya berusaha, pemerintah juga menargetkan prevalensi gizi lebih pada ibu, anak remaja, bayi dan balita serta anak usia sekolah akan berkurang secara umum. “Namun fokus perhatian saat ini kepada remaja dengan usia balita dan usia 18 tahun,” tutup Anung di akhir wawancara.

Mata rantai tingginya kasus obesitas harus segera diputus dengan kepedulian dari seluruh pihak. Penekanan risiko sakit dari obesitas pun perlu dihindari oleh remaja dan orang tua sejak awal, seperti merokok dan minum minuman beralkohol agar tidak memberikan penyakit yang akan diwariskan pada anaknya kelak.

—–

Tulisan ini pernah terbit di Majalah Publica Health Vol. 26 Th V September 2014 bertajuk “Obesitas: Antara Gemas dan Cemas”

Sumber tempo.co

Sharing is caring!

(Visited 28 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Top