Bahaya Keracunan Penambangan Emas Illegal di Kuantan Singingi
Sadar atau tidak kegiatan PETI akan merusak lingkungan juga membahayakan jiwa penambang karena keterbatasan pengetahuan si penambang dan juga karena tidak adanya pengawasan dari dinas instansi terkait.
Latest posts by Agung Saputra Agus (see all)

Kabupaten Kuantan Singingi di Provinsi Riau dilalui oleh dua (2) sungai yaitu Sungai Kuantan dan Sungai Singingi. Daerah Aliran Sungai (DAS) dari keduanya merupakan awal terbentuknya emas dari hasil endapan alluvial. Awalnya Sungai Kuantan dimanfaatkan warga untuk aktivitas sehari-hari seperti sumber air minum, mandi, mencuci pakaian, mencuci piring, mencari ikan. Tidak hanya itu, penambangan batu, pasir dan penambangan emas secara liar atau yang lebih dikenal dengan Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) pun mudah dijumpai.

Dengan adanya kegiatan PETI ini menyebabkan banyak warga yang beralih pekerjaan dari petani karet menjadi penambang emas, karena secara ekonomi kegiatan PETI lebih menguntungkan. Dalam sehari, mereka dapat menghasilkan uang antara 3-10 juta. Warung-warung pun bermunculan guna menyediakan makanan bagi para penambang karena tidak mau lagi membawa bekal dari rumah.

Secara perlahan tapi pasti, keberadaan PETI mengubah perilaku masyarakat setempat, terutama penambang emas. Awalnya mereka memasak dengan kayu bakar kemudian beralih ke gas LPG, kebiasaan MCK di sungai berganti dengan mendirikan MCK di rumah menggunakan air bor hingga memiliki kendaraan bermotor dan gadget keluaran terbaru.

Aktivitas PETI membuat air sungai Kuantan menjadi menghitam dan berbau. Hal ini disebabkan oleh proses pencucian dan pendulangan menggunakan teknik amalgamasi. Ampas (tailing) yang terbuang ke dalam sungai menjadikan sungai keruh dan tercemar oleh merkuri (Hg), sehingga populasi ikan menjadi berkurang dan dampaknya penduduk yang bekerja mencari ikan di sungai lambat laun menghilang.

Penambangan emas secara tradisional melalui proses amalgamasi dengan peralatan yang sederhana dan memanfaatkan merkuri (Hg) sebagai bahan baku utama dalam memisahkan emas. Semua kegiatan yang dilakukan oleh para pekerja tidak menggunakan alat pelindung diri yang bisa memproteksi diri mereka dari keterpaparan dengan zat kimia.

BACA JUGA:  Di Era Milenial, Preventif Promotif Bisa Dikembangkan di Media Sosial

Para penambang sudah menggeluti pekerjaannya lebih dari 10 tahun dan telah menggunakan merkuri selama bertahun-tahun tanpa alat pelindung diri. Hal ini memungkinkan keterpaparan merkuri yang sangat tinggi terhadap para penambang yang dapat menyebabkan keracunan merkuri.

Sadar atau tidak kegiatan PETI akan merusak lingkungan juga membahayakan jiwa penambang karena keterbatasan pengetahuan si penambang dan juga karena tidak adanya pengawasan dari dinas instansi terkait.

Penambangan Emas Illegal di Kuantan Singingi

Kejadian keracunan merkuri sering terjadi seperti “Minamata Disease”, yaitu kejadian keracunan merkuri di Kota Minamata Jepang. Pencemaran limbah merkuri dari pabrik kimia Chisso Corp tahun 1958 menyebabkan pencemaran pada ikan dan mengakibatkan lebih dari 1.000 orang meninggal dan menghabiskan biaya sebesar USD 342 juta untuk membersihkan Teluk Minamata.

Kasus keracunan merkuri lainnya terjadi di Irak tahun 1971, 450 orang dilaporkan meninggal dan 6.500 orang dirawat di rumah sakit. Di Pakistan tahun 1963, dilaporkan 4 orang meninggal dan 34 orang lainnya dirawat di rumah sakit. Tahun 1966 di Guatemala, merkuri menyebabkan 20 orang meninggal dan 45 lainnya masuk rumah sakit.

Peristiwa keracunan merkuri juga pernah terjadi di Indonesia, seperti pencemaran di Teluk Buyat yang diduga berasal dari limbah PT Newmont Minahasa.

Sebuah penelitian menyebutkan bahwa kadar merkuri di dasar Sungai Rungan sebesar 0,554 mg/l dan 0,789 mg/l di Sungai Kahayan Kalimantan Tengah, padahal ambang batas untuk sedimen hanya 0,005 mg/l. Sesuai dengan Kepmen LH No. 2 tahun 1998 yang mengatur tentang kadar merkuri dalam air sebesar 0,001 mg/L (Sumantri, dkk. 2014). Pencemaran tersebut diakibatkan oleh aktivitas PETI di wilayah tersebut (Haerimariaty, 2011).

Dan hasil penelitian dari Laboratorium Kesehatan Lingkungan Provinsi Riau tahun 2013 melakukan uji kandungan merkuri pada air bersih di Kecamatan Cerenti dan Kecamatan Teluk Kuantan, Kabupaten Kuantan Singingi hasilnya yaitu 0,001 mg/l, sedangkan di Lubuk Ambacang telah melewati ambang batas yaitu sebesar 0,0 mg/l (Chandra, 2014).

BACA JUGA:  4 Catatan Penuhi Kebutuhan Gizi Ditengah Pandemi

Untuk menanggulangi kegiatan PETI pemerintah daerah Kabupaten Kuantan Singingi harus benar-benar bertindak secara cepat dalam mengatasinya, karena ini bukan masalah kecil atau masalah sepele. Cepat atau lambat kejadian penyakit (keracunan) dan kerusakan yang lebih besar pasti akan muncul.

Diharapkan kepada pemerintah daerah agar dapat memberikan suatu tidakan tegas dan memberikan sosialisasi kepada masyarakat khususnya pelaku PETI tentang pentingnya mengelola alam dengan baik serta akibat yang diterima jika melalaikannya.

Daftar Pustaka

  • Candra, D. 2014. Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Kuantan Singing “Sungai Habis, Tanah Binasa”, artikel. Liputan khusus Riau Pos tanggal 12 Januari 2014. Pekanbaru.
  • Haerimariaty, 2011. Upaya Pencegahan dan Penanggulangan Pencemaran Air Akibat Penambangan Emas di Sungai Ruyan. Mimbar Hukum. 23 (3): 431 – 645.
  • Juliawan N. 2006. Pendataan Penyebaran Merkuri pada Wilayah Pertambangan di Daerah Pongkor, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Proceeding Pemaparan Hasil-hasil Kegiatan Lapangan dan Non- Lapangan, Pusat Sumberdaya Geologi. Jakarta.
  • Palar, H., 1994. Pencemaran dan Toksikologi Logam Berat. Penerbit Rineka Cipta. Jakarta
  • Sumantri, A., E. Laelasari, N. R. Junita dan Nasrudin. 2014. Logam Merkuri pada Pekerja Penambangan Emas Tanpa Izin. Kesehatan Masyarakat Nasional 8 (8) :398 – 403.
  • Supannoko, M. dan M. R. Suparnoko, 2000. Ekonomika Lingkungan. Edisi Pertama BPFE. Yogyakarta.
  • Tasriani dan Zulhadi. 2013. The Pollution Control of Water Resources Kuantan River and Singingi River Using Local Wisdom (Local Wisdom) in the Kuantan Singingi District. Kutubkhanah. 16 (2) : 82 – 93
  • Zuhri, A. 2015. Konflik Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Desa Petapahan Kecamatan Gunung Toar Kabupaten Kuantan Singingi. JOM FISIP. 2 (2): 1 – 12
(Visited 21 times, 1 visits today)

Sharing is caring!