Berawal dari keprihatinan tingginya kasus Demam Berdarah di Dusun Ganjuran, dibentuk Jumatik Cilik yang diberi nama TABO Ganjuran, bertugas memantau jentik bersama kader dewasa melakulan PSN setiap Minggu.

Woro Ispandiyah. SKM.MPH

Dosen STIKes Surya Global Yogyakarta

Latest posts by Woro Ispandiyah. SKM.MPH (see all)

Berawal dari keprihatinan tingginya kasus Demam Berdarah di Dusun Ganjuran, dan Kepala Dukuh sebelumnya selalu minta Fogging ke Puskesmas, akhirnya Puskesmas membentuk kader kesehatan.

Kala itu ketika datang ke rumah warga untuk memantau jentik selalu diikuti anak-anak, mereka selalu senang dan pengen tahu kegiatan petugas Puskesmas dan kader.

Dari situlah ada ide melibatkan anak-anak untuk PSN. Akhirnya ada musyawarah Dusun yang terdiri dari Kepala Dukuh, RT/RW, kader kesehatan dan tokoh masyarakat lainnya bersama petugas Puskesmas Sleman.

BACA JUGA:  3 Pilar Program Kemenkes Untuk Wujudkan Indonesia Sehat

Akhirnya dengan berbagai sudut pandang, ada yang setuju dan tidak setuju, terjadi kesepakatan dibentuk Jumatik Cilik yang diberi nama TABO Ganjuran, bertugas memantau jentik bersama kader dewasa melakulan PSN setiap Minggu. Tabo ini berawal tahun 2009 hingga saat ini. Biasanya anak-anak usia 7 tahun keatas – SMP. Sampai saat ini sudah ada 3 generasi dan masih tetap aktif.

Program ini menjadi ketertarikan Kemenkes RI sebagai program yang menarik dari Puskesmas Sleman. Akhirnya dipilihlah Dusun Ganjuran, Caturharjo, Sleman ini sebagai percontohan TABO, mengingat dusun ini pertama kalinya dirintisnya TABO.

Selain bertugas memantau jentik, anak-anak ini bertugas memberikan penyuluhan kepada warga yang tidak menjaga kebersihan. Bagi warga yang ada jentikknya akan diberi bendera dan denda 1.000 rupiah. Hal ini dilakukan supaya malu dan mau menjaga kebersihan.

BACA JUGA:  Peringatan HUT RI KE 72 di Lingkungan Kemenkes RI Berlangsung Khidmat

Sampai saat ini, didampingi oleh Puskesmas, kader kesehatan dan anak-anak ini masih aktif melaksanakan Jumatik. Harapannya adalah agar semua warga selalu meningkatkan dan mempunyai kebiasaan ber-PHBS yang baik. Dengan anak-anak yang mengingatkan diharapkan lebih sadar dan malu. Berbeda ketika diingatkan oleh orang dewasa. Dan mencontoh anak-anak yang sejak dini hidup sudah ber-PHBS, diharapkan nantinya akan terbiasa sampai dewasa dan mengingatkan dikeluarganya.

Sampai saat ini ada 17 kader kesehatan dan 30-an anak yang aktif terlibat dan selalu mendapat pendampingan dari Puskesmas. Akhirnya di Caturharjo yang terdiri dari 20 Dusun, juga mengaktifkan TABO di Dusun masing-masing hingga saat ini.

Sharing is caring!

(Visited 121 times, 1 visits today)