Bersatu untuk Berantas TB di Nusa Tenggara Timur
Hasil evaluasi beban TB di NTT tahun 2016 menunjukkan bahwa kita masih memiliki 5.682 kasus, tersebar di semua 21 kabupaten dan kota Kupang.

TB adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis, penyakit menular yang paling mematikan di dunia setelah HIV/AIDS. Bakteri ini menyebar melalui partikel air di udara yang berpindah karena batuk, bersin atau karena meludah.

Hari TB (tuberkulosis) Dunia diperingati setiap tahun pada tanggal 24 Maret dan bertujuan membangun kesadaran masyarakat terhadap penyakit TB. Sebuah penyakit yang meskipun dapat disembuhkan, tetap menjadi epidemi yang merusak di sebagian besar dunia. Pada hari ini, tanggal 24 Maret kita memperingati hari pengumuman penemuan basil TB, penyebab penyakit tuberkulosis oleh Dr Robert Koch pada tahun 1882. Suatu terobosan penelitian yang telah membuka jalan menuju mendiagnosa dan menyembuhkan penyakit ini. Hari TB Dunia adalah kesempatan bagi setiap orang di mana saja untuk bergabung membantu mendidik orang lain tentang TB dan dengan mendesak pemerintah mengambil tindakan.

TB adalah penyakit yang identik dengan orang miskin, karena penyakit ini sebagian besar mendera orang miskin di seluruh dunia. Sejarah keberhasilan berbagai negara memberantas penyakit ini berpangkal pada sejarah pemerintahnya meningkatkan kesejahteraan (baca: kesehatan) masyarakat dengan mengurangi angka kemiskinan dan upaya-upaya preventif dan promotif di samping pengobatan yang tepat pasca ditemukannya streptomycin. Perbaikan lingkungan pemukiman dan sanitasi adalah upaya masa lampau yang telah memberikan hasil yang signifikan dalam menurunkan angka kesakitan TB.

Walaupun dunia telah menyelesaikan satu periode untuk menekan angka kemiskinan dengan berakhirnya kesepakatan global dalam MDG’s tahun 2015 melalui goal pertamanya, kenyataan bahwa kemiskinan masih mendera sebagian besar umat manusia tidak dapat disangkal. Oleh karenanya komitmen baru dunia dalam sustainable developments goal SDG’s (2016-2030) yaitu pembangunan berkelanjutan yang menjaga keserasian dan kehamonisan dalam interaksi sosial-ekonomi-lingkungan, sehingga pembangunan tersebut berkeadilan atau merata (equitable), dengan perubahan lingkungan yang dapat ditolerir secara sosial (bearable) dan tetap memungkinan pertumbuhan ekonomi (viable), mengandung substansi pengurangan kemiskinan dunia. Oleh sebab itu beberapa fakta dapat dikemukakan sebagai bukti bahwa permasalahan penyakit TB masih berjalan beriringan dengan kemiskinan di berbagai belahan dunia.

BACA JUGA:  Ini Kegiatan Puskesmas Orong Peringati Hari Tuberkulosis (TBC) Sedunia

Mitos vs Realitas

Beberapa mitos tentang TB beredar di masyarakat, namun realitas berikut membantu kita mengenyahkan mitos seputar penyakit TB. Beberapa pihak beranggapan dengan penemuan vaksin, obat modern dan teknologi kedokteran yang canggih, TB berhasil diberantas. Realitanya setiap tahun ada lebih dari 10.000.000 orang penderita baru TB dan penyakit menular ini masih sebagai pembunuh utama manusia setelah HIV/AIDS.

Sehubungan dengan itu pula, tidak ada jaminan seseorang yang telah diimunisasi tidak akan terkena TB karena faktanya vaksin yang ada tidak dapat melindungi terhadap TB pada orang dewasa. Semua orang rentan, dan benar bahwa TB bukanlah penyakit yang tidak bisa dicegah dan tidak bisa diobati. Walaupun demikian, tidak semua penderita TB memiliki akses terhadap diagnosis dan pengobatan TB yang dibutuhkan karena ada lebih dari 4 juta penderita TB baru setiap tahun, tidak memiliki akses terhadap pelayanan kesehatan yang bermutu.

Adanya komitmen global untuk mengurangi kemiskinan (MDG’s dan SDG’s) sebagai salah satu sisi dari satu mata uang dengan penyakit TB, maka telah ada cukup kemauan politik dan sumber daya tersedia untuk memberantas TB. Karena menurut teori domino, dukungan politik adalah awal mula dari penyelesaian berbagai permasalahan yang menghimpit masyarakat termasuk permasalahan kesehatan. Kenyataannya, hanya kurang dari separuh saja sumber daya yang dibutuhkan untuk memberantas TB tersedia.

Di Angola keberhasilan pengobatan untuk TB yang rentan terhadap obat adalah 34% (salah satu yang terendah di dunia; rata-rata global adalah 83%). Masih dua pertiga kasus di negara miskin yang tak tertangani. Di China lebih dari 70.000 penderita TB yang resisten terhadap pengobatan multidrug, hanya 5.813 menerima pengobatan yang tepat. Sebagian besar sisanya belum terobati dengan baik.
Di Thailand hanya 50% dari penderita TB yang mendapat pengobatan. Di India ada 2,84 juta orang jatuh sakit TB setiap tahun dan 1,17 juta orang di antaranya tidak terlacak dan mencari pengobatan privat tanpa tanpa pemberitahuan. Di seluruh dunia terdapat 4 juta perempuan terinfeksi TB paru mengalami hambatan dalam memperoleh diagnosis dan pengobatan TB setiap tahun. Penyakit ini masih menjadi momok dalam kesehatan masyarakat diberbagai belahan dunia. Di Indonesia diperkirakan 32.000 orang jatuh sakit yang resisten terhadap pengobatan TB setiap tahun tetapi hanya 1.541 (4,8%) menerima pengobatan (2015).

BACA JUGA:  Ini Dia Persiapan Puskesmas Biji Nangka Menyambut Hari TB Sedunia 2018

Penyebab kematian sebesar 1.100.000 orang per tahun di seluruh dunia (21.918 orang setiap hari atau 126 orang setiap jam) dan 100.000 orang per tahun di Indonesia (264 orang mati setiap hari atau 11 kematian setiap jam) bukanlah hal sepele.

Di Nusa Tenggara Timur

TB masih merupakan beban. Tidak hanya karena kita masih memiliki masyarakat miskin yang cukup banyak (urutan ke tiga terbesar), tetapi juga karena berbagai sebab dan kendala dalam pemberantasan TB.

Hasil evaluasi beban TB di Nusa Tenggara Timiur tahun 2016 menunjukkan bahwa kita masih memiliki 5.682 kasus, tersebar di semua 21 kabupaten dan kota Kupang. Harap dipahami bahwa jumlah ini yang ditemukan di fasilitas pelayanan kesehatan (provider side) , bukan angka ril di masyarakat (customer side) yang biasanya lebih tinggi.

Hal ini terjadi karena skrining TB di masyarakat belum maksimal dan karena penemuan kasus aktif berbasis peran serta masyarakat masih lemah. Kendala utama yang teridentifikasi adalah lemahnya komitmen politik di tingkat provinsi dan kabupaten/kota yang berdampak pada rendahnya alokasi untuk pembiayaan program baik untuk investasi SDM tenaga kesehatan terlatih maupun untuk pengadaan sarana dan prasarana program serta operasional pemberantasan TB.

Hampir seluruh biaya operasional penanggulanagn TB di Nusa Tenggara Timur bersumber dari belas kasihan masyarakat dunia melalui Global Fund.

Porsi terbesar pembiayaan pemberantasan TB masih didominasi oleh sumber pembiayaan yang berasal dari solidaritas masyarakat dunia melalui Global Fund (GF), bukan dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.

Solusi

Pada peringatan TB Day ini dunia menyerukan untuk memberitahukan kepada para pemimpin politik, kepala negara, kepala pemerintahan, dan legislatif untuk meningkatkan aksi nyata mereka terhadap TB untuk memastikan bahwa semua orang yang terkena TB mendapatkan haknya untuk didiagnosis, diobati, dan dirawat. Tentu masing-masing sesuai perannya. TB adalah masalah kita semua, TB adalah masalah bersama kita.

Dasar alokasi anggaran yang proper dan dapat dipertanggungjawabkan dalam tata kelola kepemrintahan yang baik adalah regulasi. Oleh karenanya, perlu landasaan regulasi di berbagai tingkat pemerintahan. Undang-undang tentang Wabah di tingkat nasional, tidak cukup operasional. Diperlukan regulasi di tingkat yang terdekat dengan masyarakat: peraturan Desa, Peraturan Daerah Kabupaten, dan Peraturan Daerah Provinsi.

BACA JUGA:  Ini Dia Persiapan Puskesmas Biji Nangka Menyambut Hari TB Sedunia 2018

Langkah berikutnya yang perlu dilakukan adalah penguatan kepemimpinan dan manajemen pengelolaan program di berbagai tingkat pemerintahan, terutama pada tingkat masyarakat desa, kabupaten/kota dan di tingkat provinsi. Isu lemahnya kerja sama lintas sektor, bahkan lintas program di jajaran dinas kesehatan harus diatasi. Yang tak kalah pentingnya adalah koordinasi dan sinergitas perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi program pemberantasan TB untuk meningkatkan akses pelayanan penderita TB yang berkualitas.

Pemberantasan TB adalah tugas bersama. Memberdayakan masyarakat sejak dini adalah kunci keberhasilan program ini. Masyarakat harus diberdayakan untuk selain menemukan secara aktif kasus TB di masyarakat, terutama dan terpenting adalah upaya-upaya sederhana tanpa banyak biaya yang dapat dilakukan oleh masyarakat untuk meningkatkan / mempromosikan status kesehatannya dan mencegah terjangkit penyakit TB.

Dana desa adalah sumber pembiayaan yang legal dan sangat potensial untuk memberantas penyakit TB di tingkat desa yang belum dipergunakan secara optimal, termasuk mengatasi permasalahan kesehatan lainnya di tingkat desa. Pendampingan teknis dari Puskesmas dan Dinas Kesehatan Kabupaten diperlukan.

Hari TB dunia ke 135 hari ini mengingatkan dan menyadarkan kita semua bahwa masing-masing kita dapat berkontribusi untuk merigatasi masalah ini. Kerjasama semua pihak, baik di tingkat lokal maupun di tingkat global.

Anggota parlemen, nasional maupun global dapat bergabung ke dalam Kaukus TB Global. Lebih dari 2300 anggota parlemen di seluruh dunia telah berjanji untuk bergabung dengan perang melawan TBC melalui kaukus ini. Apakah Anda, anggota Legislatif di Pusat, Provinsi dan Kabupaten mau bergabung ke dalam kaukus yang bergengsi ini? Komuintas hak asasi manusia internasional dan gerakan memberantas TB Global telah bekerjasama untuk mengakhiri TB. Anda tidak tertarik untuk memperjuangkan hak konstitusional masyarakat yang Anda wakili, konstituen Anda? Kami percaya bahwa bersama kita bisa memberantas TB, sekali dan untuk semua: bersatu untuk Akhir TB! Selamat hari TB sedunia.

Ditulis oleh:
Dr. dr. Hyronimus A Fernandez, M.Kes
Ketua Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia NTT

SUMBER

Sharing is caring!

(Visited 408 times, 1 visits today)