Ajukan Percepatan Pembangunan FIKES, Rektor Baru ini Terus Lakukan Gebrakan

Terpilihnya Prof Adri Patton menjabat sebagai rektor periode 2017-2021, meski belum dilantik secara resmi, dia terus melakukan gebrakan. Saat ini dirinya tengah mengajukan percepatan pembangunan gedung fakultas baru, karena gedung yang telah ada tidak lagi dapat menampung mahasiswa yang setiap tahunnya bertambah.

Rektor UBT, Prof Adri Patton yang saat ini masih menunggu pelantikan berusaha  melakukan sounding ke pemerintah pusat terkait pembangunan gedung tersebut. Terdapat tujuh fakultas yang belum semuanya mempunyai gedung. Diantaranya pembangunan gedung Fakultas Ilmu Kesehatan Masyarakat (FIKES) dan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Borneo Tarakan (UBT) yang mangkrak dari beberapa tahun lalu.

“Saya mengharapkan, pada tahun ini akan ada bantuan dari pemerintah pusat. Saya dan Gubernur berencana akan ke Kemenristek Dikti untuk bersama-sama mensoundingkan agar ada bantuan dari pemerintah pusat untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Tidak hanya gedung itu, tetapi termasuk fasilitas lainnya yang masih belum dimiliki UBT,” tutur Prof Adri.

Lanjutnya, fasilitas yang belum dimiliki UBT seperti laboratorium,  kebun percontohan untuk fakultas pertanian, serta fasilitas lainnya. Mengingat UBT adalah satu-satunya universitas yang berada di perbatasan sehingga harus didukung dengan fasilitas yang lengkap.

“Yang terpenting adalah bagaimana UBT yang merupakan satu-satunya univ negeri yang ada di Kaltara itu memberikan pelayanan publik terhadap peningkatan pendidikan para warga di perbatasan, termasuk kesehatan,” jelasnya.

Saat ini permasalahan yang tengah dihadapi masyarakat perbatasan adalah ketertinggalan, kemiskinian, kebodohan dan lemahnya Sumber Daya Manusia (SDM) oleh karena itu dia inginkan agar ke depannya dapat mengatasi masalah tersebut.

“Saya akan meminta agar kuliah kerja nyata (KKN) nantinya akan langsung menjamah kawasan perbatasan-perbatasan antara Indonesia dengan Malaysia. Sehingga nantinya UBT dapat betul-betul membantu rakyat langsung seperti yang tertuang dalam Tri Dharma perguruan tinggi,” tuturnya.

Sesuai dengan prinsip yang dipegang teguh oleh Prof Adri dirinya akan terus melanjutkan apa yang sudah menjadi tugas rektor-rektor sebelumnya. Untuk dapat menggunakan waktunya empat tahun ke depan meningkatkan kualitas yang ada di UBT.

“Berencana akan membawa UBT menjadi yang terdepan di Kaltara. Terdepan dalam artian, terdepan di daerah perbatasan yang nantinya dapat mampu membawa masyarakat di sana keluar daripada kemiskinan dan kebodohan nantinya,” kata Prof Adri.

Bagaimana caranya, lanjut Adri, yakni dengan terus gencar mengadakan penelitian dan pengkajian terhadap hal-hal yang nantinya akan dapat bekerjasama membantu pemerintah dengan masukan-masukan secara akademis kepada pemerintah.

Kedepannya pihaknya juga akan melakukan komunikasi dengan pemerintah daerah terutama kepada Gubernur Kaltara, kepada bupati/ walikota yang ada di Kaltara, juga termasuk kepada semua SKPD. “Artinya, harus ada andil juga dari pemerintah daerah, baik di kabupaten/ kota maupun pemerintah provinsi,” ujar Prof Adri.

Selain itu, menurut Prof Adri pemerintah juga harus melakukan pembenahan administrasi desa, pembentukan koperasi, memberikan arahan dan pendampingan terhadap dana desa terkait dengan manajemen lainnya.

“Karena Kaltara memiliki laut terluar, yang nantinya bagaimana manajemen sumber daya kelautan itu juga betul-betul dapat dioptimalkan dan digali untuk kesejahteraan masyarakat. Khususnya masyarakat Kaltara,” Prof Adri.

Saat ini Tarakan diketahui memiliki sumber laut yang sangat berlimpah namun hingga kini belum dapat dimanfaatkan dengan baik. Malah sumber laut tersebut dimanfaatkan oleh negara tetangga, seperti misalnya terdapat kasus pencurian ikan dan lain-lain.

“Karena itu bagaimana universitas dengan dunia pendidikannya yang ada, dapat bekerjasama sama dengan aparat penegak hukum tentang bagaimana arahan yang harus dilakukan untuk bagaimana mengatasi hal tersebut,” pungkas Prof Adri.

 

Sumber

Mengenal Lebih Dekat Pos Kedaruratan Kesehatan Masyarakat Kemenkes

Menteri Kesehatan RI, Nila Farid Moeloek meluncurkan Pos Kedaruratan Kesehatan Masyarakat atau PHEOC di Kementerian Kesehatan, Senin, 27 Februari 2017 lalu.

Dalam waktu 24 jam penanggulangan wabah atau kejadian luar biasa (KLB) harus segara dilaksanakan untuk menghentikan penambahan kasus KLB maupun kematian. Karena itu, perlu disusun rencana sebelum KLB atau wabah terjadi dan harus tepat sasaran serta tepat waktu.

Untuk itulah, Menteri Kesehatan RI, Nila Farid Moeloek meluncurkan Pos Kedaruratan Kesehatan Masyarakat atau Public Health Emergency Operating Center (PHEOC) di Kementerian Kesehatan, Senin, 27 Februari 2017 lalu.

PHEOC adalah sebuah tempat untuk menjalankan incident management system untuk mengumpulkan informasi, menentukan keputusan prioritas, dan melakukan koordinasi tindakan, serta komunikasi yang perlu dilakukan.

PHEOC merupakan suatu unit yang berfungsi memperkuat kapasitas Kementerian Kesehatan dalam mencegah, mendeteksi, dan merespons munculnya masalah penyakit berpotensi wabah di Indonesia. PHEOC dibentuk untuk:

  1. Memperkuat pelaksanaan detect, prevent dan respond dalam menghadapi berbagai macam penyakit menular berpotensi wabah guna mencegah terjadinya KLB/Wabah;
  2. Mendorong peningkatan kapasitas inti dalam pelaksanaan international health regulation (IHR, 2005) dan kapasitas pelaksanaan GHSA;
  3. Memfasilitasi  transfer of knowledge, information sharing, dan capacity building di tingkat nasional, regional dan global.

Fungsi PHEOC adalah untuk:

  1. Melakukan deteksi dini, pencegahan, dan respon cepat munculnya penyakit menular berpotensi wabah agar tidak terjadi wabah/KLB atau public health emergencies of international concern (PHEIC);
  2. Melaksanakan perencanaan dan identifikasi sumberdaya guna mendukung penanggulangan KLB/Wabah/PHEIC di tingkat Pusat/Kemenkes;
  3. Memperkuat jejaring kerja lintas program dan lintas sektor dalam penanggulangan KLB/Wabah/PHEIC;
  4. Meningkatkan kapasitas teknik laboratorium, kapasitas detect, prevent dan respond, serta kapasitas Tim Gerak Cepat, Penanggulangan KLB/Wabah/PHEIC di Pusat dan Daerah; serta
  5. Memperkuat implementasi surveilans kesehatan masyarakat di Pusat dan Daerah.

Menkes Canangkan Re-registrasi Online Tenaga Kesehatan Indonesia

Menteri Kesehatan RI, mencanangkan Re-registrasi Online Tenaga Kesehatan Indonesia di saksikan para peserta peserta Rakerkesnas Tahun 2017.

Menteri Kesehatan RI, Nila Farid Moeloek, mencanangkan Re-registrasi Online Tenaga Kesehatan Indonesia di saksikan para peserta peserta Rapat Kerja Kesehatan (Rakerkesnas) Tahun 2017 bertajuk “Sinergi Pusat dan Daerah dalam Pelaksanaan Pendekatan Keluarga untuk Mewujudkan Indonesia Sehat” yang bertempat di Birawa Assembly Hall Bidakara Jakarta, Senin malam (27/2). Continue reading “Menkes Canangkan Re-registrasi Online Tenaga Kesehatan Indonesia”

Kalsel KLB Campak, Diyakini karena Banyak yang Menolak Imunisasi

KLB campak terjadi di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Di wilayah tersebut, disebut-sebut ada satu desa yang warganya banyak menolak imunisasi.

Kejadian Luar Biasa atau KLB campak terjadi di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Di wilayah tersebut, disebut-sebut ada satu desa yang warganya banyak menolak imunisasi.

“Ada satu desa yang warganya banyak menolak imunisasi. Dari 23 kasus yang kami tangani, 12 kasus berasal dari desa tersebut,” kata Dr dr Edi Hartoyo dari Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, ditemui di Eijkmann Institute, Senin (23/3/2015).

Menurut dr Edi, 23 kasus campak yang ia tangani di RSUD Ulin Banjarmasin berasal dari periode Agustus-Desember 2014. Sepanjang 2014, pihaknya sudah menangani 34 kasus dan pada awal 2015 ini sudah ada 15 kasus yang ditangani.

Soal warga yang menolak imunisasi, menurut dr Edi bukan disebabkan oleh faktor agama. Beberapa warga menolak imunisasi karena ada anak yang mengalami demam setelah imunisasi.

Pada Maret 2015, KLB campak dilaporkan terjadi juga di Nunukan, Kalimantan Utara yang berbatasan dengan Malaysia. Sebelumnya lagi, pada awal 2015 terjadi wabah campak di Amerika Serikat yang dikenal sebagai Disney Measles karena pertama kali muncul di Disneyland.

Hasil penelitian Eijkmann Institute yang menggunakan sampel dari RSUD Ulin Banjarmasin menunjukkan, genotype virus yang memicu KLB di Banjarmasin berbeda dengan genotype virus yang memicu Disney Measles.

Sumber detik.com

Padang KLB Difteri, Menkes Luncurkan Outbreak Response Imunization

Menkes lakukan kunjungan kerja ke Provinsi Sumatera Barat, Padang jadi tujuan pertama karena sejak awal 2015 lalu, terjadi kejadian luar biasa (KLB) difteri

Menteri Kesehatan Prof Nila Moeloek, SpM melakukan kunjungan kerja ke Provinsi Sumatera Barat. Padang menjadi tujuan pertama kunker Menkes.

Bukan tanpa alasan Padang menjadi tujuan pertama. Semenjak awal tahun 2015 lalu, terjadi kejadian luar biasa (KLB) atau outbreak penyakit difteri di kota tersebut. Dalam kunjungannya ke SD Pertiwi 2, Kota Padang, Menkes menyempatkan diri melihat langsung proses imunisasi DPT (difteri, pertusis, tetanus).

Wakil Wali Kota Padang, Ir Emzalmi, MSi, mengatakan bahwa sejak awal tahun sudah ada 24 suspek difteri di kota ini, dengan 4 orang di antaranya positif. Oleh karena itu, outbreak response immunization (ORI) sudah harus dilakukan.

“Target kami imunisasi kepada 250.000 anak usia di bawah 15 tahun. Saat ini sudah kurang lebih 53 persen yang sudah diimunisasi,” ungkap Emzalmi, dalam kegiatan ORI di SD Pertiwi 2, Kota Padang, Sumatera Barat, Jumat (20/2/2015).

Dalam sambutannya, Menkes mengatakan bahwa penyakit difteri disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheria. Jika tak mendapat imunisasi, difteria dapat menyebabkan kelumpuhan otot bahkan membuat anak-anak kehilangan nyawa.

Oleh karena itu ia mengimbau kepada seluruh pihak terkait untuk lebih waspada terhadap penyakit ini. Tak lupa, Menkes menitipkan pesan kepada rombongan dokter kecil dari SD Pertiwi yang juga menyambutnya.

“Apa gejalanya difteri? Batuk, demam, susah bernapas, ada putih-putih di tenggorokan. Nah putih-putih itu yang bahaya, nanti nggak bisa napas,” ungkap Menkes lagi.

Sumber detik.com

Virus Campak “Jenis Baru” Beredar di Indonesia

Hasil penelitian Lembaga Eijkman dan RSUD Ulin di Banjarmasin menemukan genotif virus campak yang sebelumnya tak pernah dijumpai di Tanah Air.

Di tengah munculnya banyak virus penyebab penyakit baru semacam SARS dan MERS-Cov, virus penyebab “penyakit lama” masih beredar di Indonesia. Virus campak salah satunya.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Eijkman dan Rumah Sakit Umum Daerah Ulin di Banjarmasin menemukan genotif virus campak yang sebelumnya tak pernah dijumpai di Tanah Air.

Edi Hartoyo, dokter di RSUD Ulin, mengirimkan 16 sampel virus campak yang didapatkan di Banjarmasin ke Lembaga Eijkman. Hasil analisis yang dilakukan menunjukkan, 9 di antara 16 sampel yang didapatkan merupakan genotif D8.

“Itu belum pernah didapatkan di Indonesia sebelumnya,” kata Ageng Wiyatno, peneliti di Lembaga Eijkman, dalam seminar Dengue and Other Emerging Viruses: Confronting the Threats with New Technologies di Jakarta, Senin (23/3/2015).

Menanggapi hal tersebut, Subangkit, peneliti campak di Badan Litbang Kementerian Kesehatan, mengungkapkan bahwa berdasarkan surveillance yang dilakukan lembaganya, persebaran genotif D8 di Indonesia memang tergolong baru.

Subangkit yang bertanggung jawab pada penelitian di wilayah Sumatera dan Kalimantan mengatakan, genotif D8 baru terdeteksi pada 2014. “Kami temukan di Bandung dan Riau,” katanya.

Secara global, terdapat 24 genotif virus campak. Genotif yang beredar di Indonesia mayoritas genotif G2, G3, dan D9. Genotif D8 sendiri saat ini tersebar di wilayah Asia, Eropa, dan Afrika bagian selatan.

Masih tantangan

Meski merupakan penyakit lama dan program vaksinasinya telah dilakukan lewat imunisasi sejak bayi, campak masih menjadi persoalan, bahkan di negara maju seperti Amerika Serikat.

Tahun 2015, Amerika Serikat mengalami outbreak campak. Campak mulai menjangkiti para pengunjung taman hiburan Disney sehingga wabah kali ini kerap disebut “Disney Measles”. Diduga, wabah dipicu oleh pengunjung yang tak menjalani vaksinasi campak.

Di Indonesia, campak masih membuat Banjarmasin dinyatakan mengalami kejadian luar biasa (KLB). Edi mengatakan, sepanjang tahun 2014, masih terdapat 34 kasus, tinggi untuk penyakit campak. Hingga Maret tahun 2015, sudah ada 17 kasus.

Edi mengungkapkan, tingginya kasus campak disebabkan oleh masih adanya penolakan pada vaksinasi. “Ada satu desa yang menolak vaksinasi campak. Kasus campak sebagian besar berasal dari sana. Mereka mengatakan, vaksinasi malah bikin sakit,” katanya.

Penolakan pada vaksinasi campak mengkhawatirkan. Kasus outbreakdi Amerika Serikat menunjukkan bahwa penolakan satu kelompok bisa menyebabkan dampak besar dalam satu komunitas.

Campak sendiri bila dibiarkan bisa memicu komplikasi. Pneumoniaadalah komplikasi paling umum yang dijumpai di Indonesia. Penderita bisa meninggal, bukan oleh campak, melainkan karena komplikasi yang diderita.

Sementara itu, dari sisi sosial, penolakan vaksinasi menjadi pemicu utama kasus campak. Dari sisi biologi, virus terus berkembang dan efektivitas vaksinasi menjadi salah satu isu utama.

Dahulu, vaksinasi campak dipandang hanya perlu dilakukan sekali. Saat ini, vaksinasi campak harus berulang. Anak-anak yang divaksin campak masih berpeluang terjangkit pada usia empat tahun. Pada yang tak menjalani vaksinasi, umur dua tahun sudah bisa terjangkit.

Tantangan itu menjadikan pemetaan virus penting dilakukan. Pengetahuan tentang genotif virus yang beredar, kata Edi, berguna untuk mengetahui asal-usul virus serta mengetahui efektivitas vaksin. Lembaga Eijkman, RSUD Ulin, dan Universitas Lambung Mangkurat menandatangani MoU untuk kerja sama pemetaan virus.

Sumber kompas.com

Genotype Campak Pemicu KLB di Kalsel Belum Pernah Ditemukan di Indonesia

Hasil penelitian awal menunjukkan genotype virus yang memicu KLB di wilayah Kalsel tersebut belum pernah dilaporkan di Indonesia, setidaknya sampai 2011.

Ada temuan menarik terkait Kejadian Luar Biasa KLB campak di Kalimantan Selatan. Hasil penelitian awal menunjukkan genotype virus yang memicu KLB di wilayah tersebut belum pernah dilaporkan di Indonesia, setidaknya sampai 2011.

“Sampai 2011, genotype campak yang bersirkulasi di Indonesia adalah B3 dan H1. Genotype D8 yang kami temukan di Kalsel belum pernah dilaporkan di Indonesia sebelumnya,” kata Ageng Wiyatno, peneliti campak dari Eijkmann Institute, Senin (23/3/2015).

Temuan ini setidaknya memastikan bahwa KLB campak di Kalimantan Selatan tidak berhubungan dengan Disney Measles, yakni wabah campak yang muncul di Disneyland, Amerika Serikat awal tahun lalu. Genotype virus campak yang memicu Disney Measles adalah B3.

Di seluruh dunia, terdapat 23 genotype virus campak yang bersirkulasi. Genotype D8 sudah bersirkulasi di tempat lain, namun di Indonesia belum pernah ada laporan hingga 2011. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) melaporkan, genotype ini ditemukan pada 2014 antara lain di Riau dan Bandung.

Dalam laporan awal penelitiannya, Eijkmann Institute belum menyebut kemungkinan asal genotype tersebut. Kemungkinan bahwa virus dengan genotype tersebut berasal dari Malaysia juga belum bisa dipastikan meski pada Maret 2015 dilaporkan juga terjadi KLB campak di Nunukan, Kalimantan Utara yang berbatasan dengan Malaysia.

“Kita belum punya sampel dari Nunukan jadi belum bisa menduga-duga,” kata Ageng.

Sumber detik.com

Puluhan Anak Maluku Kena Campak, Menkes: Imunisasi Sebanyak Mungkin Anak!

Dinas Kesehatan Provinsi Maluku menyatakan KLB Campak sejak ditemukan lebih dari 90 anak balita di Kabupaten Kepulauan Aru yang terserang penyakit ini.

Ditemukan puluhan kasus penyakit campak pada lebih dari 90 anak balita di Kabupaten Kepulauan Aru, Maluku. Bahkan sejak periode Juli sampai September 2014, sebanyak delapan balita meninggal dunia akibat penyakit tersebut.

Kondisi ini pun membuat Dinas Kesehatan Provinsi Maluku menyatakan status Kejadian Luar Biasa (KLB) di wilayah tersebut. Menanggapi hal ini, Menteri Kesehatan RI, dr Nafsiah Mboi, SpA, MPH, mengaku sangat prihatin sebab penyakit campak bisa dicegah dengan pemberian imunisasi sebelum anak mencapai usia tiga tahun.

“Ini sangat menyedihkan, karena campak itu sebenarnya bisa dicegah dengan imunisasi. Saya berharap seluruh anak-anak Indonesia atau paling tidak 90 persennya diimunisasi. Sayangnya, ada beberapa daerah yang cakupan imunisasinya hanya 60 persen saja,” ujar Nafsiah, ditemui usai melantik anggota Komite Farmasi Nasional (KFN) di Gedung Kemenkes RI, Jakarta, Selasa (23/9/2014).

Menurut Nafiah, peran pemerintah daerah sangat penting untuk mengusahakan agar setiap anak yang berusia di bawah 3 tahun diimunisasi sesuai jadwal. Ini agar anak-anak tersebut bisa terhindari dari 8 macam penyakit, yakni difteri, pertusis, tetanus, hepatitis B, tuberculosis pada bayi, polio, campak, dan haemophilus influenzae type b (Hib).

Lantas mengapa pemberian imunisasi masih belum menyeluruh? Menanggapi pertanyaan ini, Nafsiah menyebutkan bahwa kendalanya masih berada pada kepemimpinan kepala daerah di wilayah tersebut.

“Kendalanya, pertama kepemimpinan kepala daerah. Kalau kepala daerahnya aktif, maka puskesmas dan posyandu bisa berjalan dengan sangat baik. Kan ada beberapa daerah yang pemimpinnya cuek saja,” imbuhnya.

Sumber Detik.com