Tahun Ini, Enrekang Optimis Sabet Juara Sekolah Sehat Tk. Provinsi Sulsel

“Kami berharap tahun ini bisa menjuarai Lomba Sekolah Sehat Tingkat Provinsi Sulsel”, ujar Ambo Tuo, S. Ag, M. Ag, Kepala MTsN 1 Enrekang.

Februari 2018, perhelatan Lomba Sekolah Sehat TK. Provinsi Sulsel kembali dimulai. Hampir semua Kab/Kab. se Sulawesi Selatan punya jagoan masing-masing, begitupun dengan Kab. Enrekang.

Salah satu wakil dari Enrekang yang dijagokan untuk berlaga diperhelatan Lomba Sekolah Sehat TK. Provinsi tahun ini adalah MTsN 1 Enrekang.

Koordinasi Persiapan Lomba Sekolah Sehat 2018 Enrekang

Dalam pembinaan rutin bulan lalu oleh Tim Pembina Kabupaten yang dikomandoi oleh Kabid Kesra Kab. Enrekang, Drs. Ansar, M.Pd, berharap kali ini kami kembali menyabet juara nasional. Karena sudah cukup lama merindukannya, 3 tahun lalu kami berhasil membawa MAN 1 Enrekang Juara 4 Sekolah Sehat Nasional.

Menurut Ambo Tuo, S. Ag, M. Ag, Kepala MTsN 1 Enrekang, kami akan mengulang kembali bahkan lebih dari kesuksesan tiga tahun lalu. Tentu harapannya keterlibatan lintas sektor diperlukan, dan rencananya penilaian sekolah sehat tingkat Provinsi Sulsel di Enrekang pada tanggal 9 Februari mendatang, persiapan sekokah bisa dibilang sudah 90 % baik.

Siswa MTsN 1 Enrekang Persiapkan Lomba Sekolah Sehat

Beberapa persiapan yang sudah dilakukan antara lain mengenai administrasi kelengkapan ruangan UKS, kader KKR, duta sekolah sehat, rapor kesehatan, kantin sekolah, toga sekolah, sekokah bugar, dan masih banyak lainnya.

“Kami berharap tahun ini bisa menjuarai Lomba Sekolah Sehat Tingkat Provinsi Sulsel”, ujar Ambo Tuo menambahkan.

Talkshow Kelambu Malaria Massal Mangkalapi

Selama ini masyarakat cenderung tidak memakai kelambu, bahkan menyalahgunakannya. Ini yang merupakan kendala bagi kami sehingga Eliminasi Malaria di Tanah Bumbu belum berhasil.

Malaria merupakan salah satu penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia terkhusus di Indonesia. Malaria disebabkan oleh parasit Plasmodium ditularkan melalui perantaraan nyamuk Anopheles.

Dari 497 kabupaten kota yang ada di Indonesia, 54% diantaranya masih merupakan wilayah endemis malaria, termasuk di Kalimantan Selatan tepatnya di Kabupaten Tanah Bumbu, yang di beberapa wilayahnya masih Endemis Malaria. Di Tanah Bumbu itu sendiri masih ada dua Kecamatan yang masih menjadi wilayah endemis malaria, yakni Kecamatan Kusan Hulu dan Kecamatan Mantewe.

Di Kecamatan Kusan Hulu khususnya, ada beberapa desa yang masih menjadi wilayah endemis malaria. Desa Mangkalapi contohnya, tahun 2017 kemarin terdapat kasus malaria ditemukan di desa tersebut. Dari temuan kasus tersebut Puskesmas Teluk Kepayang bersama Dinas Kesehatan Tanah Bumbu beserta Pemerintah Desa Mangkalapi bekerja sama mengadakan kegiatan Talkshow Kelambu Malaria Massal Mangkalapi pada hari Kamis, 1 Februari 2018.

Masyarakat Tanah Bumbu

Kegiatan yang bertajuk Talkshow ini dipandu oleh pemegang program malaria Dinas Kesehatan Tanah Bumbu, Bapak Sainol Syamsuddin dan dihadiri oleh narasumber Bapak Rahmat Isa. S.si., MKM (Subdit Malaria Dirjen P2M KEMENKES RI  dan Ibu Dr. dr. Widyastuti Wibisana, M.Sc PH (Technical Working Group. GF Malaria).

Diawali dengan narasumber Ibu dr. Widya, beliau menyampaikan kepada masyarakat Mangkalapi tentang bahaya dari malaria itu sendiri dan bagaimana pentingnya mencegah penyakit malaria dengan memakai Kelambu Berinsektisida yang dibagikan gratis oleh pemerintah.

Beliau sedikit berkelakar bahwa malaria itu seperti “rindu” dimana gejalanya hampir sama yang disambut gelak tawa masyarakat. Hal Senada juga disampaikan oleh Bapak Rahmat Isa bahwa malaria ini sangat berbahaya dan salah satu cara pencegahannya dengan memakai kelambu berinsektisida dengan baik dan benar dan tahu cara perawatannya.

Kepala Dinas Kesehatan Tanah Bumbu Bapak Dr. H. M. Damrah, S.Sos., M.Si juga menekankan betapa pentingnya penggunaan kelambu berinsektisida ini dan semua masyarakat Desa Mangkalapi mulai menggunakan kelambu.

Karena permasalahan yang terjadi selama ini masyarakat cenderung tidak memakai kelambu, bahkan menyalahgunakannya dengan menjadikan kelambu tersebut menjadi kandang ayam, alat untuk menangkap Ikan, dan cara merawatnya yang salah. Ini yang merupakan kendala bagi kami sehingga Eliminasi Malaria di Tanah Bumbu belum berhasil. Beliau menginginkan 3 tahun kedepan Tanah Bumbu Bisa Eliminasi Malaria.

Dengan adanya kegiatan Talkshow Kelambu Malaria massal ini, masyarakat mangkalapi bisa paham betul akan pentingnya kesehatan dan mau merubah pola pikirnya dan menanamkannya bahwa LEBIH BAIK MENCEGAH DARIPADA MENGOBATI. Sehat YES! Malaria NO!

Dinkes Kab Berau Distribusikan Imunisasi Hingga Pedalaman

Untuk mencegah masyarakat terjangkit dfiteri, Dinkes Kab Berau melakukan imunisasi kepada anak-anak di semua kecamatan, hingga ke pedalaman.

Untuk mencegah masyarakat terjangkit dfiteri, Dinas Kesehatan Kabupaten Berau melakukan berbagai upaya upaya pencegahan. Salah satunya melakukan imunisasi kepada anak-anak di semua kecamatan, melalui Puskesmas, Pustu hingga Posyandu.

Menurutnya, cara yang paling efektif mencegah penyakit difteri adalah dengan mengoptimalkan program imunisasi.

“Jangan sampai balita tidak diimunisasi,” tegas Kepala Dinas Kesehatan, Totoh Hermanto, Kamis (4/1) pukul 4.00 wita.

”Dalam pencegahan kasus ini, kami melibatkan beberapa tim dalam upaya antisipasi ini. Di antaranya tim kesehatan, rumah sakit, puskesmas, pustu hingga posyandu,” imbuhnya.

Tidak menutup kemungkinan, jika ada warga yang terjangkit difteri, pihaknya akan meningkatkan status waspada menjadi Kejadian Luar Bisa (KLB).

”Satu (kasus) saja ditemukan, bisa ditetapkan kejadian luar biasa (KLB). Karena itu kita harus bersiap-siap,” kata Totoh.

Selain itu pihaknya juga telah mendistribusikan imunisasi difteri dan Universal Child Imunization (UCI) untuk anak-anak di wilayah pedalaman hingga daerah pesisir. Termasuk alat suntik imunisasi sekali pakai juga disiapkan di seluruh Puskesmas dan fasilitas kesehatan lainnya.

Sumber http://kaltim.tribunnews.com/2018/01/04/dinkes-distribusikan-imunisasi-hingga-pedalaman

Dalam Rangka HKN ke-53, Dinkes Prov Papua Barat Lakukan Kegiatan PKBM di Kais Darat

Dinkes Provinsi Papua Barat mengadakan kegiatan PKBM di Puskesmas Kais Darat, Kab. Sorong Selatan, Kamis 14 Desember 2017.

Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat mengadakan kegiatan Pelayanan Kesehatan Berbasis Masyarakat (PKBM) di Puskesmas Kais Darat, Kab. Sorong Selatan dalam rangka memperingati HKN ke 53, Kamis 14 Desember 2017.

Yang menjadi sasaran dari kegiatan ini yaitu masyarakat Distrik Kais Darat, Kabupaten Sorsel, dengan jumlah pasien yang diperiksa mencapai 100 orang lebih karena dihadiri oleh 2 desa di sekitar wilayah puskesmas. Kegiatan berlangsung dari pukul 16.00 hingga 22.00 WIT.

PKBM di Puskesmas Kais Darat

Tim PKBM yang diterjunkan dalam keiatan ini yaitu 10 orang dari Dinkes Provinsi, dan 3 orang dari Dinkes Kab. Sorong Selatan. Kegiatan ini diketuai oleh dr. Irianto Ramandey, M.Kes, yang terbagi menjadi beberapa tim kecil dari KIA dan Gizi.

Isi kegiatan PKBM ini adalah pemeriksaan kesehatan oleh dokter. Selain itu, dilakukan juga penyuluhan PHBS oleh Ibu Rita Apalem, SKM selaku pemegang Program KIA Dinkes Prov Papua Barat. Ada juga penimbangan untuk balita, pemberian PMT, dan kuis menarik untuk anak anak oleh tim Gizi.

Yang menarik, selama kegiatan kuis untuk anak anak, mereka dapat menjawab semua pertanyaan tentang kesehatan, mulai dari mengapa harus sarapan pagi, langkah langkah cuci tangan, ASI, mereka dapat menjawab dengan benar. Tim Puskesmas Kais Darat tidak menyangka ternyata materi penyuluhan selama ini masih mereka ingat.

Anak-anak di Pusesmas Kais darat

Kami berharap dengan diadakannya kegiatan seperti akan menambah kepedulian dari masyarakat itu sendiri. Mereka merasa diperhatikan dan tersentuh dengan kedatangan tim dari Dinas Kesehatan. Hal ini juga menambah semangat teman teman puskesmas untuk terus bekerja dengan giat meski berada di pedalaman.

Gebyar Posyandu Puskesmas Ciledug Berlangsung Meriah

UPT Puskesmas Ciledug gelar kegiatan Gebyar Posyandu, di Halaman Kecamatan Ciledug, diikuti oleh seluruh Kader Posyandu, Sabtu 09 Desember 2017.

UPT Puskesmas Ciledug gelar kegiatan Gebyar Posyandu, di Halaman Kecamatan Ciledug bekerjasama dengan Kecamatan, PKK , UPTD Pendidikan, PGRI, PPKBP3A Kecamatan Ciledug dan 10 Desa wilayah Kec. Ciledug, Sabtu 09 Desember 2017.

Kegiatan ini diikuti oleh seluruh Kader Posyandu Kecamatan Ciledug berjumlah 300 orang lebih, staf instansi di Kec. Ciledug juga para warga Kec. Ciledug.

Sebelumnya, acara dimeriahkan oleh penampilan Tari Topeng khas Cirebon lalu dilanjut senam bersama terlebih dahulu sebagai wujud aktivitas fisik yang merupakan indikator Germas.

Bapak H.Mohamad Sayid, S. KM. MM. selaku Kepala Puskesmas Ciledug

Kemudian acara dimulai dengan pembukaan, doa, sambutan dari Ketua Panitia Ibu Uciyatun, AMG. Dilanjutkan Kepala Puskesmas Ciledug, Bapak H. Mohamad Sayid, S. KM, dan Kepala Camat Ciledug, Bapak Drs. Solihin, MM sekaligus membuka kegiatan Gebyar Posyandu ini.

Kegiatan Gebyar Posyandu berupa kegiatan perlombaan penyuluhan yang diikuti oleh Kader Posyandu Kecamatan Ciledug. Setiap desa mewakilkan satu orang kader untuk perlombaan penyuluhan kader.

Kedua yaitu lomba Stand Terbaik, yang diikuti oleh 10 desa di wilayah kerja Puskesmas Ciledug. Setiap desa mendekor stand desanya masing-masing dengan kreatif dan memunculkan ciri khas dari masing-masing desanya dengan tema Posyandu.

Stand Kader Posyandu

Lomba Ketiga yaitu, lomba PMT (Pemberian Makanan Tambahan) dengan bahan baku jagung. Setiap desa membuat PMT dengan bahan baku dari jagung yang dikreasikan oleh masing-masing desa.

Kemudian lomba Keempat yaitu, Senam Maumere, yang diikuti oleh seluruh desa dan instansi yang ada di Kecamatan Ciledug. Satu tim berjumlah 5 orang dengan durasi senam 7-15 menit.

Dan ada juga penghargaan untuk Kader Posyandu dengan kriteria 5 tahun masa kerja (dikategorikan Madya), dengan masa kerja 5-10 tahun (dikategorikan Purnama) dan masa kerja 10 tahun ke atas (dikategorikan Mandiri).

Juri Penyuluhan, Dinkes Kab. Cirebon, PGRI kec. Ciledug dan PKK kec Ciledug

“Gebyar Posyandu itu bukan akhir, tapi sebagai awal untuk kebersamaan untuk memajukan Kecamatan Ciledug” ujar Ibu Siti Dewi Nirwana, S.Tr.Keb, Bidan Koordinator UPT Puskesmas Ciledug.

“Harapan sih tahun depan bisa diselenggarakan lagi lomba-lomba, bisa ditambah lokasi di tengah alun alun. Sponsor lebih banyak lagi, panitia 3 bulan sebelunya sudah bergerak terus ada dukungan Muspika, Dinas Kesehatan dan masyarakat ciledug yang partisipatif, Insya Allah lebih sukses lagi” ujar Bapak H. Mohamad Sayid, S. KM. MM, Kepala Puskesmas Ciledug.

Kegiatan ini disponsori oleh K link, Air mineral cleo, pegadaian ciledug, surya toserba ciledug, sophie martin paris ciledug, elzatta pasar pagi cirebon, kelana cirebon, paloma, jg yamaha ciledug, daihatsu, rocket chicken ciledug, BFI pabuaran, wardah, SAMSAT ciledug, prisma losari, dan donatur lainnya.

Peringati Hari AIDS Sedunia, Dinkes Kab Tasikmalaya Gelar Seminar Kesehatan

Dinkes Kabupaten Tasikmalaya menggelar Seminar Kesehatan dalam rangka memperingati Hari AIDS Sedunia yang bertempat di Hotel Santika, Rabu, 5 Desember 2017.

Tasikmalaya – Dinas Kesehatan Kabupaten Tasikmalaya menggelar Seminar Kesehatan dalam rangka memperingati Hari AIDS Sedunia yang bertempat di Hotel Santika pada hari Selasa, 5 Desember 2017.

Seminar Kesehatan ini berlangsung dari jam 08.00 wib sampai jam 13.00 wib. Peserta Seminar ini berjumlah 100 peserta yang berasal dari STIKes Respati Tasikmalaya, IAIC, FKM Unsil, SMA Cendikia, Akademi Pariwisata, Moka Kabupaten-Kota Tasikmalaya, Saka Bhakti Husada Tasikmalaya, Bidang SDK Dinas Kesehatan Kabupaten Tasikmalaya, TP PKK, Dharma Wanita Persatuan Kabupaten Tasikmalaya, KPA Kabupaten Tasikmalaya, dan Pemegang Promosi dan PM Puskesmas Se-Kabupaten Tasikmalaya.

Kadinkes Kab. Tasikmalaya, Pak Yusep Yustiyana

Seminar dengan tema “Saya Sehat, Saya Berani” ini diawali dengan pembukaan acara oleh Kadinkes Kabupaten Tasikmalaya, Drs. Yusep Yustiyana, MM, dan dilanjutkan dengan foto bersama dengan seluruh peserta seminar. Dalam sambutannya, Yusep memaparkan informasi dari hasil pendataan penduduk tentang kondisi masyarakat saat ini.

“Pada tahun 2004, penderita HIV/AIDS tertinggi di Indonesia terjadi di Provinsi Bali. Saat ini, penderita HIV/AIDS terbanyak di Indonesia terjadi di Papua, Papua Barat, Jawa Timur, dan Jakarta”, paparnya.

Setelah Kadinkes Kabupaten Tasikmalaya memberikan sambutan sekaligus membuka acara seminar, acara selanjutnya adalah materi seminar. Materi yang disampaikan ada 3, yang pertama tentang “Remaja dan AIDS” oleh dr. Yunike RH, M.KM. Materi kedua adalah sekilas cerita AIDS oleh salah satu pengidap AIDS, Iwan Supriyatna. Dan materi ketiga adalah Motivasi oleh Lusi Dian Rosalin. Moderator seminar oleh Dadan Hamdan, S.KM, M.Si dari Dinkes Kabupaten Tasikmalaya.

materi seminar aids di tasikmalaya

Dalam 1 materi terdapat 2 sesi, yaitu sesi pertama adalah penyampaian materi mentor dan sesi kedua tanya jawab peserta kepada mentor. Antusiasme para peserta seminar begitu besar mengikuti jalannya acara seminar dan di saat pembicara seminar oleh salah satu pengidap HIV/AIDS, seluruh peserta hanyut didalam kisah dari penderita AIDS tersebut, bahkan beberapa peserta seminar ada yang sampai meneteskan air mata saat mendengar cerita dari salah satu pengidap HIV/AIDS.

Intisari dari acara seminar ini adalah mencegah penularan penyakit HIV/AIDS, penanganan penderita HIV/AIDS, dan meluruskan stigma di masyarakat bahwa berinteraksi dengan pengidap HIV/AIDS tidak menimbulkan penularan selama tidak ada kontak langsung. Jauhi penyakitnya, bukan penderitanya ujar jajang selaku sukarelawan Tasikmalaya peduli ODHA (Orang dengan HIV/AIDS).

Akhir acara di tutup dengan makan bersama dan door prize. Door prize berupa stiker yang tersembunyi di bawah kursi peserta dan peserta yang menemukan stiker dibawah kursinya adalah pemenang door prize seminar kesehatan ini.

Banda Aceh, Kota Pertama di Luar Jawa 100% Sanitasi Layak

Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes menyebutkan, Banda Aceh menjadi kabupaten/kota pertama di luar Jawa yang berhasil mencapai 100% akses sanitasi layak.

Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes Imran Agus Nurali menyebutkan, Banda Aceh menjadi kabupaten/kota pertama di luar Pulau Jawa yang berhasil mencapai salah satu target nasional 100.0.100 yakni 100% akses sanitasi layak.

“Secara internasional, gerakan bebas BABS (Buang Air Besar Sembarangan) ini masuk dalam target SDGs 2030. Sedangkan di Indonesia baru mencakup 70% kepala keluarga, dan di Provinsi Aceh baru 65%. Semoga dengan pencapaian ini Banda Aceh dapat memotivasi kabupaten/kota lainnya di Aceh bahkan Indonesia,” ungkap Imran di Hermes Palace Hotel, Rabu (22/11/2017).

Menurut dia, gerakan bebas BABS sangat penting dalam mencegah berbagai penyakit berbasis air dan lingkungan mulai dari Diare hingga Stunting (tubuh pendek pada anak) yang masih dialami oleh sekitar 27% anak di Indonesia.

Hebatnya, katanya, berdasarkan hasil verifikasi oleh pihak Puskesmas, camat, dan keuchik, 100% akses sanitasi layak di Banda Aceh dicapai dengan penggunaan 100% jamban sehat permanen di setiap rumah warga, dimana hal ini sama dengan target SDGs pada 2030 nanti.

Untuk itu, ia berharap sebelum 2019, Pemko Banda Aceh juga dapat mencapai target akses air minum 100% dan 0% kawasan kumuh. “Semoga Banda Aceh bisa menjadi kota pertama di Indonesia yang bisa mencapai target universal akses 100.0.100, dan menjadi pilot project bagi daerah lain,” kata Imran.

Sementara itu, Walikota Aminullah menyampaikan rasa syukurnya atas pencapaian target 100 persen sanitasi layak seraya menyebutnya sebagai hasil kerja keras segenap unsur pemerintah dan warga Kota Banda Aceh. “Atas prestasi ini kami menyampaikan permohonan kepada pemerintah pusat melalui Kemenkes untuk mengalokasikan lebih banyak lagi dana APBN terkait pembangunan dalam bidang kesehatan,” jelasnya.

“Program-program konkretnya akan segera kami ajukan melalui Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh. Kami yakin dengan hidup bersih dan sehat akan mempermudah dan mempercepat upaya kami dalam mewujudkan visi Banda Aceh Gemilang dalam Bingkai Syariah,” pungkasnya.

Pada kesempatan itu, bertepatan dengan peringatan Hari Kesehatan Nasional ke-53, Walikota Banda Aceh Aminullah Usman mencanangkan sekaligus mendeklarasikan Banda Aceh sebagai kota yang telah bebas dari perilaku BABS oleh masyarakat.

Pencanangan dan pendeklarasian tersebut ditandai dengan penyerahan secara simbolis Sertifikat Open Defecation Free (ODF) kepada sembilan keuchik yang mewakili sembilan kecamatan di Banda Aceh oleh Walikota Aminullah bersama Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes RI Imran Agus Nurali.

Sumber medanbisnisdaily.com

Gerdu Bumil, Langkah Aktif Pemkab Probolinggo Turunkan Angka Kematian Ibu dan Bayi

Kadinkes dr Shodiq Tjahjono mengatakan Gerdu Bumil ini untuk meningkatkan peran serta seluruh pihak dalam mendukung menurunkan jumlah kematian ibu dan bayi.

Pemkab Probolinggo berupaya menekan angka kematian ibu dan bayi. Salah satu caranya dengan Gerakan Peduli Ibu Hamil (Gerdu Bumil). Sejumlah pihak meneken MoU sebagai komitmen mengurangi kematian ibu dan bayi.

Gerdu Bumil diresmikan di Gedung Islamic Center (GIC) Kota Kraksaan, Kamis (16/11/2017) lalu. Dalam acara itu dilakukan pembacaan dan penandatanganan komitmen bersama menurunkan jumlah kematian ibu dan bayi di Kabupaten Probolinggo.

Gerdu Bumil ini diikuti oleh 1000 orang peserta terdiri dari bumi, suami bumil, camat, kepala puskesmas, perwakilan Polres dan Kodim, CSR, Kinerja USAID, OPD terkait, direktur rumah sakit (Waluyo Jati, Tongas, Wonolangan, Graha Sehat dan Rizani), STIKes, TP PKK Kecamatan, bidan koordinator, organisasi profesi (IDI, IBI dan PPNI), MSF, kepala desa, Babinsa dan Babinkamtibmas dan kader (ormas, Fatayat dan Muslimat).

Kepala Dinkes dr Shodiq Tjahjono mengatakan Gerdu Bumil ini bertujuan untuk meningkatkan peran serta seluruh pihak dalam mendukung menurunkan jumlah kematian ibu dan bayi.

“Untuk mengurangi angka kematian ibu dan bayi, perlu komunikasi yang efektif antara lintas sektor dan lintas program tentang kesehatan ibu dan anak, meningkatkan kepedulian keluarga dan masyarakat tentang kesehatan ibu hamil,” katanya, Selasa (21/11/2017).

Sementara Asisten Administrasi Pemerintahan dan Kesra Sekda Kabupaten Probolinggo Asyari mengatakan, keberhasilan pembangunan suatu daerah diukur melalui Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Salah satu indikatornya adalah indeks kesehatan, yang diartikan sebagai kemampuan masyarakat untuk hidup sehat dan mencapai usia harapan hidup cukup panjang di atas 72 tahun.

“Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan IPM bidang kesehatan yang saat ini masih rendah. Yakni 64,12 urutan ke-32 dari 38 kabupaten/kota di Jawa Timur. Salah satu indikatornya adalah kematian bayi di Kabupaten Probolinggo yang masih tinggi.

Sedikitnya 223 bayi di tahun 2016 dan tahun 2017 menurun menjadi 159 sampai dengan bulan Nopember minggu ke-2,” ungkapnya.

Mengingat banyaknya jumlah kematian ibu dan bayi, Asyari menilai perlu adanya suatu upaya yang bersifat pendidikan dan promosi kesehatan. Sehingga masyarakat mengetahui begitu pentingnya kesehatan ibu hamil, yang akan melahirkan generasi penerus bangsa.

“Kegiatan gerakan peduli ibu hami ini merupakan bentuk pembelajaran yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan kepada masyarakat serta suatu kepedulian dari pemerintah daerah terhadap ibu yang hamil sampai melahirkan,” jelasnya.

Sumber duta.co

50 Desa di Demak Dinyatakan Bebas dari Buang Air Besar Sembarangan

Bupati Natsir menyebutkan bahwa dari 249 desa atau kelurahan di Kabupaten Demak, sudah ada 50 desa yang sudah bebas dari Buang Air Besar Sembarangan (BABS).

Problem kebersihan lingkungan telah lama menjadi pekerjaan rumah Pemkab Demak. Untuk mengatasinya, ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Diperlukan kerja keras untuk mengajak masyarakat agar mencintai kebersihan lingkungan, terutama keberadaan jamban di pinggir sungai atau kali. Bahkan, masyarakat Demak perlu pemahaman dan sosialisasi secara menyeluruh serta intensif terkait hal ini. Bupati Demak HM Natsir pun mencoba mengatasi persoalan ini dengan mencetuskan sebuah gerakan yang disebut “Sedekah Jamban”. Jika umumnya sedekah identik dengan uang atau barang, Bupati Demak menjajal terobosan baru dengan solusi sedekah jamban.

“Samasama sedekah, tapi sekedah jamban ini lebih berfungsi sebagai penjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan warga,” sebut Bupati. Bupati mengatakan, menjaga kebersihan dari hulu, lebih baik dibanding mencegahnya saat di hilir. Salah satu hasilnya, yaitu menghilangnya jambanjamban di pinggir sungai yang selama ini telah menjadi budaya dan kebiasaan masyarakat sekitar. Keberadaan jamban di sungai selain mengganggu pemandangan, juga menjadi sarang berbagai macam penyakit. “Sekarang dapat dilihat, sungai-sungai di Demak bahkan di pelosok wilayah sudah bersih dari jamban. Warga Demak sudah menyadari arti penting kebersihan lingkungan bagi kesehatan mereka,” ungkap Natsir.

Bupati Natsir pun meraih penghargaan sebagai bupati terbaik dalam bidang kebersihan dari salah satu media massa. Terkait dengan program Indonesia Sehat, di mana salah satu indikatornya adalah satu keluarga memiliki jamban sehat, Bupati Natsir menyebutkan bahwa dari 249 desa atau kelurahan di Kabupaten Demak, sudah ada 50 desa yang sudah bebas dari Buang Air Besar Sembarangan (BABS). “Kami juga merencanakan program menuju Demak Bebas Buang Air Besar Sembarangan melalui gerakan Sedekah Jamban. Hal ini untuk membantu keluarga yang tidak mampu agar mereka juga bisa menggunakan sarana jamban keluarga sehat sehingga target 100% desa bebas BABS dapat tercapai,” tuturnya.

Pihaknya menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada 50 desa yang sudah bebas BABS. Demak memiliki luas wilayah 89.743 hektare yang menyimpan berjuta potensi, baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia. Ada empat sektor unggulan yang menjadi penopang kemajuan daerah, yakni sektor kelautan dan perikanan, pertanian, UMKM, dan pariwisata. Dengan visi terwujudnya masyarakat Demak yang agamais, lebih sejahtera, mandiri, maju, kreatif, kondusif, berkepribadian, dan demokratis, salah satu misinya adalah meningkatkan mutu pelayanan pendidikan, kesehatan, dan perlindungan sosial sesuai standar.

Kesehatan merupakan hak asasi manusia dan salah satu unsur kesejahteraan yang menjadi tanggung jawab setiap orang, keluarga, masyarakat, serta didukung pemerintah. Oleh karena itu, upaya meningkatkan kesehatan harus secara kontinu dilakukan guna memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dalam bentuk pencegahan penyakit, pengobatan penyakit, dan pemulihan kesehatan.

Usia harapan hidup di Demak pada 2016 mencapai 75,27 tahun atau meningkat dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 73,85 tahun. Ini menunjukkan bahwa pembangunan kesehatan Kabupaten Demak mengalami peningkatan. Bupati Natsir juga mengajak masyarakat untuk melakukan pemberantasan sarang nyamuk secara bersamasama dan kontinu yang diharapkan dapat mencegah penularan penyakit lain yang ditularkan melalui gigitan nyamuk, seperti demam berdarah dengue (DBD).

“Kami juga telah menginstruksikan kepada seluruh kepala OPD, camat, dan kepala desa se- Kabupaten Demak untuk melaksanakan gerakan satu rumah satu juru pemantau jentik (jumantik). Gerakan ini membutuhkan peran masyarakat dengan melibatkan keluarga dalam pemeriksaan pemantauan dan pemberantasan jentik dengan pembudayaan PSN3M plus jumantik,” ujar Natsir. Diharapkan masingmasing rumah, perkantoran, sekolah, rumah sakit, masjid, dan tempattempat umum lainnya menunjuk satu petugas yang bertanggung jawab dalam pemeriksaan pemantauan dan pemberantasan jentik.

“Bupati juga mengajak masyarakat agar mau menanam tanaman pengusir nyamuk, seperti tanaman lavender. Selain itu, Bupati meminta masyarakat selalu menjaga kebersihan air serta lingkungan sekitarnya, sebagaimana slogan Satu Sampah Sejuta Masalah, maka ayo letakkan sampah pada tempatnya,” imbuh Kabag Humas Pemkab Demak Endah Cahyarini.

Sumber koran-sindo.com

60 Tenaga Honorer Promkes Puskesmas se Riau, Ikuti Orientasi di Pekanbaru

Dinas Kesehatan Prov.Riau mengadakan pelatihan bagi 60 Tenaga Honorer Promkes Puskesmas Angkatan I & II dari 11 Kabupaten yang ada di wilayah Prov. Riau.

Dinas Kesehatan Prov.Riau bagian Promosi Kesehatan mengadakan pelatihan bagi Tenaga Honorer Promkes Puskesmas Angkatan I & II berjumlah sekitar 60 orang dari 11 kabupaten yang ada di Riau.

Kegiatan ini dilaksanakan di Hotel Furaya Pekanbaru, 14 sampai 17 November 2017 mendatang.

Tenaga Honorer Promkes Puskesmas Prov Riau

Adapun tujuan dari di adakannya pelatihan ini adalah agar nantinya tenaga promkes ini mampu membantu melakukan pendekatan secara Advokasi, mampu membantu melaksanakan kebijakan promkes dengan cara ABK (Advokasi, Bina Suasana, dan Kemitraan).

Acara ini di buka oleh Bapak Kabid KesMas, Drs. Dedi Parlaungan, Apt, sekaligus memberikan materi Program Indonesia Sehat. Beliau berharap agar tenaga honorer promkes ini nantinya mampu membantu melaksanakan tugas di Puskesmas dengan baik dan lebih mengutamakan pendekatan secara Promotif dan Preventif.

Kabid KesMas, Drs. Dedi Parlaungan, Apt

Adapun Puskesmas yang ditunjuk untuk mengutus tenaga promkes Inhil antara lain; PKM Tembilahan Hulu, PKM Tembilahan Kota, PKM Sungai Piring, PKM Sungai Salak, PKM Sapat, PKM Concong Luar, PKM Pengalihan Kritang, PKM Sungai Guntung, PKM Teluk Pinang, PKM Mandah, PKM Pulau Burung, PKM Selensen.

Adapun materi yang disampaikan diantaranay Program Indonesia Sehat, Keluarga Sehat Pendekatan Secara Promotif dan Preventif, Penyakit Tidak Menular dsb.

Menurut Kasi Promkes Dinkes Prov Riau, Ibu Rozita mengatakan Paradigma Sehat itu nantinya lebih mengutamakan Promotif dan Preventif sebagai salah satu pilar utama agar tujuan akhirnya bisa mencapai Kota Sehat, Kecamatan Sehat serta Paradigma Sehat yang harus diutamakan.

Tenaga Promkes Puskesmas Prov Riau