Mari Kaka Kitorang Patungan Untuk Asmat!

Mari Kaka Kitorang Patungan Untuk Asmat!!! Bersama kita berangkatkan Kapal Kemanusiaan (KK) menuju Papua dengan membawa 100 ton bantuan pangan dan medis serta seratus relawan termasuk tenaga medis dan ahli gizi. Menyasar penderita campak dan gizi buruk yang ada di Kabupaten Asmat, Papua.

Kamu anak muda yang peduli dengan saudara-saudara kita di Asmat, papua?

Mari Kaka Kitorang Patungan Untuk Asmat!!! Bersama kita berangkatkan Kapal Kemanusiaan (KK) menuju Papua dengan membawa 100 ton bantuan pangan dan medis serta seratus relawan termasuk tenaga medis dan ahli gizi. Menyasar penderita campak dan gizi buruk yang ada di Kabupaten Asmat, Papua.

Berdonasi 130K++ dengan membeli kaos kece #Pantunganuntukasmat kita sudah ikut turun tangan membantu saudara-saudara kita di Asmat. Seluruh keuntungan dalam penjualan Kaos ini akan disalurkan melalui ACT (Aksi Cepat Tanggap) dalam Kapal Kemanusiaan untuk Papua.

Kaos combed 30s warna Blue Navy.

Ingin memesan? Silahkan WA/sms ke :

  • Mardiana : 081355623408
  • Santa : 082167447155
  • Yhuni : 081213920733
  • Naomi : 081280582679

Dengan format:

Nama_Ukuran Kaos_lengan panjang/pendek_Alamat lengkap_No.hp

Jika sudah dikonfirmasi jumlah pembayaran, silahkan transfer ke rekening BRI a/n Mardiana: 4985.01.002961.53.7

PO sampai dengan tgl 19 Feb 2018

Kitorang Samua Basodara, Katong untuk Papua.

Ko Traa Kosong Kawan!

#NSBersatu #NSuntukAsmat #PatunganUntukAsmat #KapalKemanusiaanUntukPapua

Etnografi Kesehatan! Ini Hobiku, Mana Hobimu?

Ya, saya suka memotret etnik, mempelajari adat budaya etnik-etnik di Indonesia. Dan sampai sekarang, saya selalu punya ketertarikan tersendiri untuk mempelajari etnografi kesehatan.

Memotret etnik adalah hobi saya. Semenjak masih SD saya tertarik dengan mempelajari berbagai macam etnik di Indonesia.

Makanya waktu kelas 4 SD mata pelajar favorit saya adalah IPS, karena disinilah belajar berbagai macam etnik di Indonesia.

Tidak puas dengan pelajaran di sekolah, pergi ke toko buku bersama ibu untuk beli buku RPUL (buku pintar) dan Ragam Budaya Indonesia. Zaman saya SD gak ada yg namanya gadget atau tablet, ada juga tablet obat atau vitamin.

Kemudian ketika SMA ketika sudah mengenal FB, Youtube, Twitter dan Friendster. Saya sangat hobi mendowload lagu-lagu daerah, dan video-video tentang etnik Indonesia. Hobi membaca mulai menurun, karena beralih ke menonton dan mendengarkan.

Ketika kuliah, saya aktif di organisasi sehingga mendapat kesempatan buat jalan-jalan keliling Indonesia karena dibiayai kampus. Ikut LKTI di kampus luar pulau, ikut acara rapimnas, rapimwil, dsb. Tempat yang seneng dikunjungi adalah museum dan taman budaya. Dan tentunya berfotolah di sana.

Ketika sudah menginjak usia 23 masih tertarik mempelajari etnik. Malahan mendapat kesempatan untuk melakukan studi etnografi kesehatan di pedalaman suku dayak sepauk Kalimantan Barat.

Itu kan mempelajari secara formal karena tugas negara, saya juga suka mempelajari secara informal sebagai tugas pribadi.

Saya suka mempelajari budaya pernikahan atau adat pernikahan. Mulai adat Bugis, Mandar, Banjar, Gayo, Minang dan Dayak. Entahlah adat pernikahan begitu menggoda buat dipelajari. Termasuk mitos pernikahan Jawa dan Sunda.

Baiklah itu tadi soal mempelajari etnik, yang tak kalah penting adalah memotret etnik.

Mesti hanya bermodalkan kamera HP Smartphone, atau kamera DSLR pinjaman atau kamera pocket/prosuimer yang kualitasnya kacangan. Tapi seneng-seneng aja sih memotret.

Dan kalau ada foto etnik, suka terinspirasi buat puisi. Sempet terpikir dan ada keinginan serta sudah memulai buat buku puisi dan fotografi etnik. Tapi gak kelar-kelar, soalnya sempet ditolak dan reviewnya banyak amat dari penerbit. Reviewnya karena kualitas fotonya, maklum bukan fotografer profesional.

Etnografi Kesehatan! Ini Hobiku, Mana Hobimu?

Tertarik Isu Rokok? Yuk Gabung Menjadi Relawan PROGRESIF!

Program ini akan mengintegrasikan informasi mengenai bahaya rokok ke dalam kurikulum sekolah dipadu dengan peningkatkan soft skills siswa untuk tidak terpengaruh tekanan sosial untuk merokok.

Relawan PROGRESIF (Program Generasi Sehat dan Kreatif)

Center for Indonesia’s Strategic Development Intiatives (CISDI) akan kembali melaksanakan program yang bertujuan untuk mengedukasi remaja mengenai bahaya merokok bernama PROGRESIF (Program Generasi Sehat dan Kreatif) setelah sebelumnya menjalankan program serupa, yakni Program Generasi Kreatif: Penggerak Nusantara.

Apa itu PROGRESIF?

Program Generasi Sehat dan Kreatif (Progresif) merupakan program promotif dan preventif untuk mencegah keinginan merokok di usia muda terutama pada anak-anak. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan mengenai bahaya rokok untuk siswa/i kelas 7 dan kelas 8 di sekolah lanjut tingkat pertama (SMP/MTs) terpilih di Jakarta.

Agar anak-anak tidak mudah terpengaruh mengonsumsi rokok dan mampu mempengaruhi teman sebayanya agar tidak merokok, kemampuan soft skill diperlukan sejak dini. Program ini akan mengintegrasikan informasi mengenai bahaya rokok ke dalam kurikulum sekolah dipadu dengan peningkatkan soft skills siswa untuk tidak terpengaruh tekanan sosial untuk merokok.

Melibatkan partisipasi relawan, kegiatan pelatihan, dan kerja kelompok; PROGRESIF menyasar peningkatan pengetahuan sekaligus mengasah keterampilan kepemimpinan siswa.

Tahun ini, CISDI membuka kesempatan bagi kamu yang ingin berkontribusi pada pembangunan negara melalui bidang pendidikan. Apabila kamu merupakan seorang yang memiliki minat yang tinggi untuk menjadi relawan, memiliki ketertarikan pada isu tembakau, serta memiliki pengalaman dalam bidang pendidikan, yuk bergabung bersama kami!

Relawan Progresif akan mendapat pengalaman terlibat dalam pelaksanaan sebuah program positif secara komprehensif: terlibat dalam penyusunan materi edukasi, memberikan workshop kepada siswa/i, dan terlibat dalam publikasi kegiatan dalam setiap channel komunikasi CISDI.

Siapa saja yang dapat bergabung menjadi Relawan PROGRESIF?

  1. Laki-laki/perempuan usia 19-24 tahun;
  2. Diprioritaskan memiliki latar belakang ilmu di bidang kesehatan masyarakat;
  3. Memiliki pengetahuan tentang bahaya dan faktor risiko rokok;
  4. Tertarik dengan isu tembakau pada anak-anak usia sekolah;
  5. Memiliki pengalaman dalam memberikan training atau mengajar ke siswa/sekolah;
  6. Memiliki pengalaman dalam menyusun pengembangan kurikulum;
  7. Memiliki kemampuan manajemen (waktu/pekerjaan) yang baik;
  8. Memiliki kemampuan bekerja dalam tim dan individu yang baik.

Bagaimana peran kamu pada Program PROGRESIF?

  1. Terlibat dalam pengkajian dan penyusunan modul serta mengintegrasikannya dengan kurikulum pendidikan SMP saat ini;
  2. Memberikan training soft skills terhadap siswa di sekolah tempat berjalannya program;
  3. Mengikuti training persiapan menjadi Relawan Progresif;
  4. Hadir dan membantu proses jalannya program secara keseluruhan.

Apakah keuntungan bergabung menjadi Relawan PROGRESIF?

Sebagai volunteer, selain akan mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan diri, kamu juga akan mendapatkan sertifikat volunteer, sertifikat pelatihan, serta keuntungan lainnya.

Kapan dan dimana pelaksanaan kegiatan Program Progresif?

Program Progresif akan dilaksanakan mulai Februari-April 2018 di SMP/Sederajat Area Jabodetabek.

Jadi, tunggu apa lagi? Ayo segera daftarkan diri kamu dan jadi bagian dari generasi muda Indonesia yang aktif dan progresif hingga Jumat, 9 Maret 2018.

——————————————————————————————————————

Submit your application with subject: [Name]_[Position] to secretariat@cisdi.org cc: hrd@cisdi.org

Example email subject: Desi_Volunteer_Progresif

Selengkapnya di http://cisdi.org/pages/index/relawan

Atasi Gizi Buruk, Alumni Nusantara Sehat Siap Tugas ke Asmat!

“Di Asmat akan kita tingkatkan Nusantara Sehat. Kami punya terobosan untuk mengirim dokter spesialis,’ kata Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Ibu Nila Farid Moelok.

Beberapa hari lalu kita mendengar bersama tentang aksi yang dilakukan oleh Ketua BEM UI yang sangat viral di media sosial. Aksi tersebut dilakukan saat Bapak Presiden Jokowi menghadiri acara Dies Natalis Ke-68 di Balaiarung Depok, Jum’at (2/2/2018).

Zaadit Taqwa menyampaikan, kartu kuning yang diberikan ke Jokowi adalah  peringatan yang diberikan untuk melakukan evaluasi di tahun keempat. Karena ada sejumlah permasalahan di pemerintah terutama yang paling disoroti adalah kasus gizi buruk di Asmat, Papua.

Isu gizi buruk di Asmat berdasarkan data Kemenkes menyebutkan, terdapat 646 anak terkena wabah campak dan 144 anak menderita gizi buruk di Asmat. Selain itu, ditemukan juga 25 anak suspect campak serta 4 anak yang terkena campak dan gizi buruk.

Menteri Kesehatan Republik Indonesia  Ibu Nila Farid Moelok berencana akan mengirimkan tenaga kesehatan ke Asmat Papua yang akan bertugas 2 tahun mengabdi dengan basis tim dan individual.

“Di Asmat akan kita tingkatkan Nusantara Sehat. Kami punya terobosan untuk mengirim dokter spesialis,’ kata beliau.

Program Nusantara Sehat sudah berjalan sejak tahun 2015 dan terus berlangsung sampai saat ini dengan mengirimkan tenaga kesehatan ke DTPK dan DBK berbentuk tim dan individual ke seluruh Indonesia.

Ada yang menarik ketika kami menerima informasi pembukaan pendaftaran tenaga nusantara sehat yang ke Asmat, Papua. Melalui grub whatts app, muncul percakapan yang memuat ajakan daftar nama yang bersedia tugas ke sana.

Hutomo :“Ayo bikin daftar nama sebagai berikut, ‘Saya siap tugas ke Asmat Papua’ . Tolong lanjut (tulis nama) bagi yang bersedia.”

BDP : ”Butuh berapa (tenaga kesehatan)?.”

Hutomo,”Ini untuk alumni ns(nusantara sehat).”

Tidak lama setelah pesan ini disampaikan, bermunculan para tenaga nusantara sehat batch 2 yang menulis nama bersedia untuk ditempatkan di Asmat Papua. Ada profesi perawat, bidan, tenaga kesehatan masyarakat, gizi dan tenaga lainnya.

Ardiyansah : ,”Memang persoalan gizi buruk di Asmat ataupun permasalahan kesehatan di lainnya di Papua secara umum mungkin tidak sederhana yang kita fikirkan…”

Sebelum ditugaskan ke penempatan, tenaga kesehatan yang sudah lolos seleksi akan mendapatkan pelatihan dan pembekalan khusus di Pusdikkes TNI AD Jakarta. Penguatan mental sebelum bertugas sangat penting karena permasalahan yang dihadapi di lapangan tidak cukup hanya berbekal dari teori dari bangku kampus.

Tenaga nusantara sehat khususnya batch 1 dan 2 telah menyelesaikan tugas pengabdian selama 2 tahun yang tidak diragukan lagi pengalamannya. Sebagian besar mereka melanjutkan dengan ikut serta penugasan khusus nusantara sehat individu, dan sebagian lainnya masih menunggu pemberangkatan tahap selanjutnya.

Maka ketika ada pertanyaan adakah yang bersedia tugas ke Asmat Papua?,  Kami beri jawaban tidak sedikit tenaga Nusantara Sehat yang sedia untuk mengabdi ke masyarakat dimanapun berada.

Sssstt…! Ini Nih Rahasia Puskesmas Poto Tano Bisa Raih Akreditasi Paripurna!

Puskesmas Poto Tano adalah Puskesmas Pertama yang TERAKREDITASI PARIPURNA Tahun 2017 di  wilayah Indonesia Tengah. Ini nih Rahasia Suksesnya!

Puskesmas Poto Tano adalah Puskesmas Pertama yang TERAKREDITASI PARIPURNA Tahun 2017 di  wilayah Indonesia Tengah
(Red: http://www.sumbawakini.com/2017/10/puskesmas-poto-tano-terbaik-di.html)

Paripurna loh? Tingkatan akreditasi puskesmas tertinggi, dimana hal ini mengindikasikan bahwa semua yang melekat dalam puskesmas, mulai dari Upaya Kesehatan Perorangan (UKP), Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM), dan semua administarsi manajemen puskesmas (Admen) sudah terstandar, sehingga dapat memberikan pelayanan yang paripurna di masyarakat.

Puskesmas Poto Tano

Selain karena memang 3 (tiga) hal tadi sudah bagus, dua hal krusial yang menurutku membuat salah satu puskesmas di Kabupaten Sumbawa Barat – dengan landscape Savana dan Pantai bak surgawi ini – mendapatkan predikat Paripurna adalah:

INOVASI KECAMATAN KELOR

Kelorisasi untuk peningkatan status gizi masyarakat Poto Tano. Jadi, melalui Peraturan Daerah (Perda) yang dicetuskannya, Bapak Bupati menetapkan Kecamatan Poto Tano sebagai Kecamatan Kelor yang mewajibkan setiap Rumah Tangga (RT) menanam minimal 3 (tiga) pohon kelor di pekarangannya untuk memenuhi asupan gizi.

Bahkan posyandu yang ada di kecamatan ini pun PMT (Pemberian Makanan Tambahan)-nya berbahan kelor gengs. Aku sendiri sudah mencicipi dua dari sekian banyak inovasi pengolahan kelor yang ada, yakni nugget kelor dan puding kelor. Awalnya terasa aneh, bahkan mau mengonsumsinya pun ragu-ragu, tapi setelah dicicip ternyata rasanya enak bahkan anak-anak balita pada doyan di sana. Tak tanggung-tanggung, beberapa Kepala Desa pun menganggarkan dana desanya untuk penggalakan kelorisasi ini.

APIKNYA KERJASAMA LINTAS SEKTOR

Salah satu kebijakan Kepala Puskesmas Poto Tano yang aku akui TOP banget adalah ada kewajiban untuk semua petugas puskesmas yang sedang turun lapangan wajib membawa 3 (tiga) buku yakni: 1) Buku Program; 2) Buku Koordinasi Lintas Sektor; dan 3) Buku Keluhan Masyarakat.

Dari sini saja sudah terlihat bagaimana puskesmas ini paham akan urgensi dukungan lintas sektor kan? Sebagai buktinya, aku menyaksikan secara langsung – sehabis posyandu dilaksanakan, terdapat evaluasi yang melibatkan lintas program dan lintas sektor.

Tidak hanya itu, dalam Musyawarah Masyarakat Desa (MMD), puskesmas juga turut hadir dan sumbang pikiran melalui Petugas Kesehatan Desa. Itu masih dari sisi Puskesmas.

Dari sisi Pemerintah Kecamatan dan Desa tak kalah dukungannya. Camat Poto Tano adalah seorang SKM yang dulunya Mantan Kepala Puskesmas Poto Tano. Bisa dibayangkan bagaimana kecamatan yang dipimpin seorang SKM?

Gelontoran dana untuk jaminan kesehatan masyarakat khususnya para lansia dan difabel menjadi mata anggaran terbesar serta dukungan dan komitmen untuk penggalakan KTR di instansi pemerintahan bukan isapan janji politik belaka. Pun juga Kepala Desanya – memahami dengan gamblang apa itu akreditasi, pentingnya untuk masyarakat, dan apa peran desa.

Sepertinya, belum tentu puskesmas yang ada di daerah maju sekalipun sudah terakreditasi paripurna, ha..ha..ha..ha… bangga kok memang! Bahkan semakin bangga karena ini puskesmas penempatan Pencerah Nusantara.

Pencerah Nusantara Poto Tano

Buat teman-teman PN Sumbawa Barat, so proud of you gengs juga semua staf Puskesmas Poto Tano. Semangat terus untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di Kecamatan Poto Tano!

Disini, Romantisme Membangun Kesehatan Masyarakat itu Begitu Nyata!

“This is really called Relationship Goals. At that moment, I immediately admired both of them”, begitu pikirku selepas berkunjung bertemu dengan Bapak Camat dan Ibu Kepala Puskesmas Poto Tano

“This is really called Relationship Goals. At that moment, I immediately admired both of them”, begitu pikirku selepas berkunjung bertemu dengan Bapak Camat dan Ibu Kepala Puskesmas Poto Tano. Keduanya sepasang suami istri. Namun, bukan sepasang suami istri yang “biasa saja” atau seperti pada umumnya.

Jelas! Gak mungkinlah seorang Nurmalasari akan mengagumi kedua sosok tersebut jika beliau berdua adalah “sosok yang biasa saja”. Beliau berdua memiliki hubungan yang LUAR BIASA! Sepasang suami istri yang memiliki kiprah dan pengaruh besar dalam pembangunan suatu bangsa.

Tepatnya pembangunan Kecamatan Poto Tano, Kabupaten Sumbawa Barat. Kecamatan yang memiliki julukan “Kecamatan Kelor” sejak tahun 2017 kemarin. Di bawah tangan cerdas beliau, pembangunan Kecamatan Poto Tano kini maju dengan pesatnya.

Puskesmas Poto Tano, Nurmalasari

Dari sekian banyak kebijakan beliau untuk pembangunan, yang paling aku apresiasi adalah kebijakan beliau di bidang kesehatan. Dari Milyaran jaminan sosial masyarakat yang berbentuk Kartu Pariri Bariri, angka paling tinggi digelontorkan untuk menjamin kesehatan masyarakat serta jaminan untuk lansia dan warga berkebutuhan khusus (difabel).

Tidak kalah penting, adalah komitmen besar beliau dalam mendukung inovasi Tim Pencerah Nusantara Sumbawa Barat dan Puskesmas Poto Tano untuk mengoptimalkan potensi pangan lokal yakni kelor menjadi asupan pangan kaya nutrisi untuk menjamin gizi anak-anak balita hingga dewasa.

Puncaknya ketika Kecamatan Poto Tano dinobatkan sebagai Kecamatan Kelor oleh Bupati Sumbawa Barat. Jelas! Karena Beliau adalah Bapak Camat dengan latar belakang SKM yang dulunya adalah seorang Kepala Puskesmas Pototano. Lihat kan bedanya? Red: tetep promosi Kiprah SKM untuk Negeri ha..ha..ha..ha…

Tidak kalah dengan suaminya, sosok Ibu Kepala Puskesmas Poto Tano ini nampak sangat bersahaja dalam kepemimpinannya. Pernah puluhan tahun menjadi Perawat Pustu di kecamatan ini, membuatnya memahami hal apa yang paling penting untuk mewujudkan pelayanan yang paripurna bagi masyarakat.

Tidak hanya harmonisasi kolaborasi antar profesi di dalam puskesmas, namun apiknya kerja sama yang tercipta antara puskesmas dan lintas sektor, mengantar Puskesmas Poto Tano menjadi salah satu puskesmas terakreditasi PARIPURNA: tingkatan akreditasi tertinggi.

Ah, sungguh indah melihat wujud kolaborasi nan romantis di antara keduanya, Bapak Camat dan Kepala Puskesmas Kecamatan Poto Tano.

Ini Tentang Kisah Tujuh Penjuru, Petualangan Para Pemuda Pencerah Nusantara

Ini tentang petualangan para pemuda Pencerah Nusantara di tujuh penjuru Indonesia, yaitu Sikakap, Pakisjaya, Tosari, Kelay, Ogotua, Lindu, dan Ende.

“Salah satu pilar masyarakat maju adalah tumbuhnya kegiatan yang berlandaskan inisiatif masyarakat sendiri.  Kisah Tujuh Penjuru  merekam kegiatan seperti itu oleh anak-anak muda kita di berbagai pelosok tanah air, khususnya dibidang kesehatan masyarakat. Saya sungguh menghargai semangat dan idealisme mereka untuk menyumbangkan karya nyata bagi bangsanya. Semoga memberikan inspirasi bagi kita semua.”

~ BOEDIONO, Wakil Presiden RI 2009 – 2014 ~


Kemarin saya dapat kiriman buku dari sahabat di Jakarta, Kisah Tujuh Penjuru, begitu saya baca Judul di sampulnya. Luar biasa pikir saya, betapa tidak, di sampul depan buku ini saja, tertulis “testimoni” atas nama Bp. Boediono, Wapres kita saat itu (Buku ini terbit tahun 2014).

Hujan turun di saat rombongan baru menempuh setengah perjalanan. Tidak ada tempat berteduh di tengah sungai. Perjalanan dilanjutkan sehingga seluruh anggota rombongan basah. Dingin sudah pasti, lapar juga tidak bisa diingkari. namun, tidak ada alasan untuk mengeluh. Semua tetap harus dinikmati sampai rombongan benar-benar sampai di kampung yang dituju.

Wah..wah…ini buku novel atau apa? Belum apa-apa sudah bikin penasaran aja. Salut untuk penulis, Editor, dan semua tim yang terlibat dalam penyusunan buku ini. Lha gimana gak salut, Editornya aja ada Pak Wisnu Nugroho, beliau ini disebut-sebut sebagai salah satu yang membidani lahirnya Visual Interaktif Kompas (VIK) Kompas, sebuah model laporan jurnalistik berbasis multimedia.

Tapi sepertinya, gaya penulisan buku ini serasa novel, bisa jadi karena ada sentuhan magis Arimbi Bimoseno disana. Hemm..hanya menduga saja, tapi mungkin ada benarnya. Dan yang paling bikin penasaran, buku ini ditulis oleh Tim Pencerah Nusantara. Siapa mereka? Apa sih yang mereka kerjakan, sampai-sampai Wapres pun mau kasih testimoni untuk “catatan perjalanan” mereka?

Kisah Tujuh Penjuru

Ini tentang pengabdian anak-anak muda yang peduli pada perbaikan kesehatan masyarakat di tujuh penjuru Indonesia, yaitu Sikakap, Pakisjaya, Tosari, Kelay, Ogotua, Lindu, dan Ende.

Berdiri di tujuh penjuru Indonesia, menyentuh kehidupan setidaknya 200.000 orang. Di daerah yang dilupakan, ditengah masyarakat yang ditinggalkan. Di pinggir sungai, di dalam hutan, di tengah samudra lepas, didaerah rawan bencana, di perbatasan, di pulau terpencil, kesemuanya mempresentasikan negeri kita yang beragam. 

Ahhhh…baca pengatar demi pengantar, kalimat demi kalimat di awal buku ini saja sudah bikin hati ini terenyuh, iri (dalam arti positif), apa yang sebetulnya mereka pikirkan?

Seringkali mereka tertantang melangkah lebih maju & bergerak lebih cepat. kadangkala mereka memilih untuk diam, mendengar, dan merenung, semuanya adalah bagian dari sebuah petualangan yang bernama pengabdian untuk sebuah panggilan, PENCERAH NUSANTARA.

Istimewa, Ini Misi Spesial Untuk Pencerah Nusantara Angkatan 6!

“Ratakan sabun dengan tangan sok gosok gosok…

Punggung tangan sela jari, sok gosok gosok…

Telapak tangan sela jari, juga digosok…

Pegang erat jari tangan yo ayo ayo…

Kuncup kanan kuncup kiri

Jempol kanan jempol kiri

Basuh tangan dan keringkan, kumannya hilang…yeee….”

(Catatan Tim PN Ogotua, hal:119)

 

Aahhhh….makin jatuh cinta. Buat kawan-kawan yang gak sempat punya bukunya, jangan khawatir, saya bakal bagi sekelumit kisah inspiratif mereka, Tim Pencerah Nusantara.

Saya sadar, catatan saya ini mungkin tak seindah para penulis aslinya. Tapi satu tujuan saya menulis ini, tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada para penulis, editor, dan semua tim yang terlibat dalam penulisan buku Kisah Tujuh Penjuru ini, ijinkan kami untuk dapat berbagi, meneruskan energi positif yang ada dalam buku ini, MOTIVASI, INSPIRASI dari kawan-kawan Pencerah Nusantara untuk generasi muda di pelosok negeri ini.

~ BERSAMBUNG…

Sumber Foto:

Dok Pribadi dan Dok Tim Pencerah Nusantara

Pencerah Nusantara Muara Enim: Intervensi Kesehatan Sebaiknya Selaras dengan Keluhuran Budaya Lokal!

Program intervensi kesehatan tidak hanya berangkat dari pemikiran yang benar menurut kita, namun juga penting melihat keluhuran budaya yang ada disana.

“Posyandu di sini agak sulit dilakukan di pagi hari Mal, karena sebagian besar masyarakat lagi mantang”, tutur Mas Aris Tri Susilo, Sanitarian sekaligus Team Leader Pencerah Nusantara Muara Enim kala aku berkunjung ke sana untuk melakukan site visit.

Mantang, istilah ini pada awalnya masih asing di telingaku tatkala aku baru saja menginjakkan kaki di Kecamatan Sungai Rotan. Salah satu daerah di Bumi Serasan Sekundang, dimana disana hidup masyarakat dari Marga/Marge Lematang dan Belida/Belide.

Mantang atau bisa disebut “Nyait” atau “begetah” rasa-rasanya tak kan pernah bisa dipisahkan dari metabolisme kehidupan kedua marga/marge ini. Ya, menjadi hal yang lumrah karena mantang ini bisa dibilang jantung kehidupan. Saat jantung ini berhenti berdetak maka tubuh bisa lumpuh bahkan itu pertanda sebuah kematian.

Pun serupa yang terjadi pada masyarakat Sungai Rotan ini. Walaupun sebagian besar wilayah ini disapa oleh anak Sungai Musi, yakni Sungai Lematang, yang pastinya menandakan bahwa menjadi nelayan merupakan salah satu pilihan hidup masyarakat di sana, nyatanya mantang masih menjadi pilihan utama.

Mantang, Menyadap Getah Karet

Mantang, kegiatan mengelola perkebunan karet, adalah primadona hati masyarakat Sungai Rotan. Ritual wajib masyarakat dari pagi hingga siang hari. Seakan mengamini itu semua, Tuhan pun menurunkan rezeki dari langit ke tujuh melalui mantang ini. Roda perekonomian berputar kencang.

Sehingga, jika kegiatan itu bukanlah merupakan kegiatan yang (mungkin) dapat mengancam hidup mereka ataupun bukan kegiatan yang berkaitan dengan keimanan dan keyakinan mereka, maka jangan harap mantang ini bisa ditinggalkannya.

Salahkah nafas kehidupan yang berhembus seperti ini?

Sebagai seorang praktisi dalam pembangunan kesehatan, haram hukumnya kita menyalahkan kegiatan yang bahkan sudah menjadi tradisi yang membudaya. Menjadi kesalahan besar (menurutku) saat kita memaksakan kegiatan-kegiatan kesehatan di waktu mantang.

Mungkin kita lupa bahwa suatu program intervensi kesehatan tidak hanya berangkat dari pemikiran-pemikiran yang benar menurut kita, namun juga yang terpenting adalah dari keluhuran budaya yang ada di sana.

Maka tak heran, Puskesmas Sukarami menjadwalkan kegiatan posyandu dan kegiatan kesehatan lainnya di siang atau sore hari selepas masyarakat selesai “mantang”. Ini merupakan contoh nyata pelaksanaan kegiatan kesehatan yang berbasis keluhuran budaya.

Posyandu di Puskesmas Sukarami

Sumber Foto:
Dok Pribadi & Dok PN 5 Muara Enim

Ini Perkenalanku Dengan PMKM, Organisasi Mahasiswa Kesmas STIKes Surya Global Yogyakarta

Waktu itu saya mulai tertarik, dan bertekad akan mengikuti organisasi PMKM ini, sampai akhirnya saya menjabat sebagai Kadiv Humas PMKM 2017/2018 saat ini.

Awal mula saya kenal PMKM atau Persatuan Mahasiswa Kesehatan Masyarakat STIKes Surya Global ini waktu perkenalan Ormawa (Organisasi Mahasiswa) saat Poros/Ospek dulu. Waktu itu saya mulai tertarik, dan bertekad akan mengikuti organisasi PMKM ini, sampai akhirnya saya menjabat sebagai Kadiv Humas PMKM 2017/2018 saat ini.

Persatuan Mahasiswa Kesehatan Masyarakat yang biasa disebut PMKM berdiri pada tanggal 27 September 2007. PMKM merupakan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Kesehatan Masyarakat di STIKES Surya Global Yogyakarta.

PMKM memiliki visi menjadi wadah aspirasi mengelola potensi dan merealisasikan program kerjanya dan menambah rasa tanggung jawab dari anggotanya.

Untuk mewujudkan visi tersebut, PMKM memiliki misi:

  1. Sebagai media penggalian potensi, bakat, dan minat mahasiswa kesehatan masyarakat
  2. Sebagai penyalur aspirasi dan kreatifitas mahasiswa prodi ilmu kesehatan masyarakat
  3. Sebagai media informasi kesehatan antara mahasiswa pada khususnya dan seluruh civitas akademika pada umumnya.
  4. Sebagai pembentuk kader kesehatan masyarakat yang terampil, kritis, inovatif, berkualitas dan professional.
  5. Sebagai penjalin komunikasi dan informasi antara mahasiswa prodi ilmu kesehatan masyararakat dengan lulusannya

Saya banyak belajar dari para pendahulu, kakak-kakak saya, senior-senior saya di PMKM, meski hanya sesekali dalam kegiatan Makrab maupun kegiatan lainnya. Tulisan ini pun saya dedikasikan untuk mereka, bahwa kami-kami yunior di kampus senantiasa berusaha, menjaga, menjalankan amanah estafet organisasi.

PERIODE I Tahun 2007/2008
Ketua : Umi Hanifah
Wakil : Rahmat Niwa

PERIODE II Tahun 2008/2009
Ketua : Fadhil Ahmad Junaidi
Wakil : Sofia

PERIODE III Tahun 2009/2010
Ketua : Esha Permata Dewi
Wakil : Nurlatifah

PERIODE IV Tahun 2010/2011
Ketua : Yusuf Eka Saputra
Wakil : Nofita Safitri

PERIODE V Tahun 2011/2012
Ketua : Fatonah Oktavyanti
Wakil : Hendra Ul Muflihun

PERIODE VI Tahun 2012/2013
Ketua : Nurul Fitria Maretna
Wakil : Ahmad Nawakil

PERIODE VII Tahun 2013/2014
Ketua : Arianita Dyah Wulaning Ayu
Wakil : Gina Darojatunnisa

PERIODE VIII Tahun 2014/2015
Ketua : Iskandar
Wakil : Suci Dwi Yanti

PERIODE IX Tahun 2015/2016
Ketua: Upik Pita Damayanti
Wakil: Devita Sulva Urbach

PERIODE X Tahun 2016/2017
Ketua: Moh. Mahsun
Wakil: Afifah Johairiyah

PERIODE XI Tahun 2017/2018
Ketua: Farah Irmania Tsani
Wakil: Mely Tri Sayekti

Harapan kedepannya, tentu untuk PMKM sendiri agar mampu menjadi jembatan untuk mahasiswa STIKes Surya Global, khususnya mahasiswa prodi kesmas dalam menyalurkan minat dan bakatnya. Juga bisa menaungi atau memecahkan masalah yang ada di dalam kampus maupun di luar kampus.

Terimakasih untuk rekan-rekan pengurus, staf magang dan juga mahasiswa kesmas STIKes Surya Global tentunya, mari bersama-sama kita membangun budaya literasi, budaya menulis, budaya membaca, budaya berdiskusi, untuk edukasi kesehatan masyarakat Indonesia yang lebih baik.

imam syafii

Apa yang Bikin Kamu Bangga Sebagai Seorang SKM?

Ya, karena seharusnya kebanggaan itu diikuti pula oleh Rasa Syukur. Bangga sebagai SKM, Bersyukur karena menjadi bagian dari Profesi Mulia ini.

Apa yang Bikin Kamu Bangga Sebagai Seorang SKM?

Ya, karena seharusnya kebanggaan itu diikuti pula oleh Rasa Syukur. Bangga sebagai SKM, Bersyukur karena menjadi bagian dari Profesi Mulia ini.

#skm #skmuntukrepublik #kesmas #kesehatanmasyarakat #anakkesmas #mahasiswakesmas #kesmashits #kesmas_id

A post shared by Kesmas-ID (@kesmas.id) on

Apa yang Bikin Kamu Bangga Sebagai Seorang SKM?

@merishadheas 

Menjadi bagian dari pencegahan dan penyelamatan masyarakat dalam bidang kesehatan. Karena kesehatan masyarakat meliputi beberapa bidang dan sangat dibutuhkan untuk berkoordinasi dengan pemerintah dan tenaga medis.

@aig_baladhika

Belajar ilmu kesehatan masyarakat seperti belajar menjadi orang yg asyik dan pintar menempatkan diri di masyarakat

@arianita_dyah

Multitalent

@mitariyadi24

SKM itu bisa belajar multidisipliner ilmu. Dari macam-macam penyakit tropis manusia, kes.veteriner, kesling, farmakologi, gizi, kia, segala jenis vektor nyamuk, lalat dan tikus serta kutu-kutuan, sampai ke-ergonomisan benda-benda yang digunakan manusia, dan masih banyak lagi.

@mayyasaaini

SKM itu adalah Pengabdian Masyarakat, Menjadi orang yang bisa bermanfaat bagi orang lain.

@putrimayaa_

Orang yg dipercaya masyarakat untuk curhat masalah kesehatan yg dialami, karena SKM dekat dengan masyarakat❤️