Perjuangan Kader Jumantik, Sering Diusir saat Inspeksi

Ensri mengaku tergerak menjadi kader jumantik karena melihat tingginya angka kasus DBD. Waktu itu, kepedulian masyarakat akan kebersihan sangat kurang.

Pemicu demam berdarah dengue (DBD) adalah nyamuk Aedes aegypti. Pancaroba menjadi puncak perkembangan si pembawa virus tersebut. Karena itu, peran kader juru pemantau jentik (jumantik) sangat besar. Mereka pun berinovasi untuk menekan angka penderita DBD.

Puskesmas Taman terlihat ramai. Rabu (26/4) siang, tampak antrean di loket pendaftaran. Lalu-lalang masyarakat menandakan bahwa jam operasional tengah berlangsung. Begitu pula di lantai 2 gedung A tersebut. Para staf sibuk di ruangan masing-masing. Sementara itu, beberapa orang berseragam hijau muda menunggu di ruang tamu. Mereka adalah kader juru pemantau jentik (jumantik) Desa Kalijaten, Taman.

’’Laporan rutin,” ucap Ensri Lestari, kader jumantik senior. Saat itu, dia melaporkan kegiatan kader jumantik selama sebulan bersama rekannya, Agustin Ariningtias. Dibentuk di setiap desa, kader-kader tersebut merupakan perpanjangan tangan dinas kesehatan (dinkes) melalui puskesmas kawasan. Sebagai bukti telah melaksanakan tugas, Ensri wajib melapor kepada Imam Soleh, penanggung jawab program DBD Puskesmas Taman.

Sejak terbentuk pada 2007, tepatnya setelah instruksi Dinkes Sidoarjo, Ensri masuk jajaran kader jumantik Desa Kalijaten. Sebelumnya, dia aktif di kelompok kerja (pokja) bidang kesehatan Tim Penggerak (TP) Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Desa Kalijaten. Karena itu, pihak desa tak ragu lagi dan mempercayakan tugas sebagai kader jumantik kepada Ensri. ’’Awalnya, kami punya lima anggota. Karena beregenerasi, sekarang jadi sepuluh,” ungkap Ensri.

Ensri mengaku tergerak menjadi kader jumantik karena melihat tingginya angka kasus DBD. Waktu itu, kepedulian masyarakat akan kebersihan sangat kurang. Selain itu, dia memiliki kepuasan dalam berorganisasi karena apa yang dilakukannya bermanfaat bagi masyarakat. ’’Menekan pertumbuhan jentik nyamuk sudah pasti bisa mencegah persebaran DBD,” katanya.

Dia dan rekan-rekannya dengan sigap melakukan penyuluhan door-to-door.’’Kami ketuk setiap pintu rumah warga. Awalnya ya sering diusir, nggak mau kamar mandinya diinspeksi,” tutur Ensri. Menurut dia, banyak warga yang malu bila kamar mandiatau rumahnya diketahui kotor. Pola pikir tersebut menjadi kendala utama bagi para kader jumantik.

Belum lagi perilaku buang sampah sembarangan yang rentan menjadi sarang nyamuk. Misalnya, kaleng dan sampah plastik. Namun, Ensri tak menyerah. Dia terus menyemangati kawan-kawannya dan melakukan pendekatan personal kepada warga. Akhirnya, sedikit demi sedikit,pengusiran yang menimpa kader-kader jumantik tak lagi terjadi. ’’Sekarang dibawai makanan,” ujarnya, lalu terkikik.

Ensri dan para kader desanya kemudian memutuskan untuk mengadakanlomba jumantik RT setiap tahun, tepatnya mulai 2008. ’’RT yang paling bisa memantau, dan kasus negatif DBD banyak terealisasi, bakal menang,” terang Ensri. Jadi, setiap warga, terutama kader-kader di tingkat RT, berlomba memahami tugas-tugas jumantik. ’’Jentik Aedes aegypti itu panjang, belang, dan kecokelatan. Kalau disenter, langsung bergerak naik turun,” jelas Ensri, mencontohkan sosialisasi yang biasa dilakukannya.

Mereka juga membuat terobosan baru dengan menerapkan Selasa dan Jumat sebagai Hari Jentik. Dengan demikian, warga diajak melakukan pengecekan serta pembersihan rutin ke lokasi-lokasi yang berpotensi menjadi sarang nyamuk. Menurut Ensri, kunci pemberantasan jentik nyamuk adalah 4M plus. ’’Menutup, menguras, mengubur, dan mengawasi.Plusnya dalah pemakaian lotion,bukan cara instan kayak fogging,” ucapnya.

Setelah melakukan berbagai tugas kader jumantik, Ensri tak lupa mendokumentasikannya. Semua foto dan laporan hasil pemantauan rutin diserahkan kepada pihak puskesmas. Tujuannya, deteksi dini sarang nyamuk dapat dilakukan.

Berkat inovasi-inovasi tersebut, kader jumantik Desa Kalijaten didapuk sebagai wakil Kabupaten Sidoarjo untuk maju dalam lomba di tingkat provinsi. ’’Pada 2015, kami jadijuara harapan 1 Kader Jumantik Terbaik dari Dinkes Provinsi Jawa Timur,” tutur Ensri, penuh kebanggaan. Dia memperlihatkan piala dan piagam kemenangan, lalu tersenyum lega.

SUMBER

Bukan Pegawai Biasa, Keahliannya Sebagai Intelijen Dibidang Penyakit

Hery Martanta bukanlah pegawai biasa. Keahliannya dalam bidang epidemiologi penyakit, “Saya ini intelijen di bidang penyakit,” kata Hery sambil tertawa.

Sebagai aparatur sipil negara (ASN) di Pemkab Klaten, Hery Martanta bukanlah pegawai biasa. Keahliannya dalam bidang epidemiologi penyakit tidak dimiliki oleh ASN yang lain. ”Kalau di Polri ada intelijen, saya ini intelijen di bidang penyakit,” kata Hery sambil tertawa.

Menurut pria yang kini menjabat Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan itu, menjadi ahli epidemiologi bukanlah cita-citanya sejak kecil. Disiplin ilmu yang mempelajari pola kesehatan dan penyebab berbagai penyakit serta fakor yang terkait itu, baru menariknya saat di bangku SMA.

Baginya, ilmu epidemiologi mengandung seni. Seni untuk mengamati, mencari dan menganalisis kemunculan sebuah penyakit. Mendalami ilmu epidemiologi, bagi sarjana kesehatan masyarakat lulusan Undip tahun 2000 itu, memiliki tantangan yang tidak ada di disiplin ilmu yang lain. Jika dokter hanya ahli memberi obat dan menebak penyakit, epidemiologi mencari penyebab penyakit. Meskipun tidak memberi obat bagi orang yang sakit, tetapi disiplin ilmunya itu mencegah kemunculan penyakit sejak awal. ”Saat saya memberi penyuluhan, kadang harus melarang orang untuk tidak melakukan sesuatu. Tetapi tidak waton melarang, melainkan berdasarkan ilmu,” jelas alumnus pascasarjana epidemiologi Undip 2010 itu.

Mempelajari ilmu itu menurutnya mengasyikkan, tetapi memerlukan kecermatan dan analisis yang tidak kalah rumit dengan ilmu eksakta. Meski disiplin ilmunya tidak begitu dikenal di masyarakat seperti kedokteran, tetapi Hery mengaku bangga dengan ilmu yang ditekuninya.

SUMBER

Jamban Sehat di Pulau Enggano Warisan Tim Relawan Nusantara Sehat

Sebanyak delapan orang yang tergabung dalam program Nusantara Sehat di Pulau Enggano akan segera meninggalkan pulau yang berada di samudera Hindia lantaran waktu pengabdian mereka akan segera berakhir.

Ini dikatakan oleh salah seorang relawan yang berasal dari Provinsi Bengkulu, Elza Puspita Sari Jum’at (31/03/2017) jika masa mengabdi yang telah dilakukan oleh tim relawan nusantara sehat telah berjalan selama 2 tahun terhitung sejak tanggal 01 Mei 2015 dan berakhir 30 April 2017, dari pengabdian yang dilakukan oleh tim relawan Nusantara Sehat telah banyak memberikan pencerahan terhadap pola hidup masyarkat di Pulau Enggano, salah satunya diadakanya Arisan Jamban di desa Banjarsari Pulau Enggano dengan jumlah Kepala Keluarga sebanyak 30 KK, yang saat ini telah meluas hingga ke tiga dusun yang termasuk dalam wilayah desa Banjarsari, serta dikemukakan oleh Elza jika dalam waktu dekat ini nantinya akan merambat ke desa Meok, ini menandakan bahwa program arisan jamban dapat diterima oleh masyarakat Enggano.

“Kita pada April mendatang akan selesai di Enggano dan akan pulang kembali ke wilayah masing – masing, program arisan jamban yang kita galakan juga sudah menjadi pedoman masyarakat untuk memulai hidup yang sehat tentunya, ini berlanjut ,” kata Elza.

Kemudian Elza juga menuturkan bahwa selain arisan jamban yang sebelumnya menjadi program terdepan bagi mengubah pola hidup masyarakat Enggano yang sehat, tim relawan enggano juga dalam waktu dekat akan melakukan kegiatan sosial lainya seperti melakukan bantuan pemenuhan alat tulis bagi para siswa yang kurang mampu serta juga diuatarakan oleh Elza bahwa juga akan diadakan sunat masal secara gratis serta pemasangan implan, sunat masal program yang dibuat oleh tim relawan enggano ini merupakan sebuah program penutup mereka sebelum meninggalkan Pulau Enggano, namun Elza juga menuturkan bahwa guna menjalankan program ini, pihaknya masih terkendala persoalan dana yang dirasa cukup besar.

“Saat ini kita tengah menyiapkan beberapa program penutup yakni sunatan masal pemasangan Implan dan memberikan bantuan alat tulis kepada anak – anak yang ada di enggano,”ujarnya.

Namun meski demikian dijelaskan lagi oleh Elza bahwa meski masa pengabdian mereka akan berakhir dalam waktu dekat, akan ada tim relawan Nusantara Sehat yang akan mengemban tugas yang telah lebih dahulu dijalankan mereka.

“Akan ada yang baru nantinya untuk meneruskan ini semua,”ujarnya.

Untuk diketahui juga Delapan relawan yang berasal dari lulusan perguruan tinggi Ilmu kesehatan dan kedokteran se Indonesia merasa prihatin dengan masyarakat Pulau Enggano mengabdi di daerah itu. Kedelapan relawan itu berasal dari seluruh Indonesia menjadikan Enggano sebagai desa binaan. Relawan Nusantara Sehat merupakan program Kementerian Kesehatan melibatkan puluhan pemuda yang berasal dari seluruh Indonesia program tahun 2016. Tim relawan ini tidak saja bekerja membantu masyarakat di bidang kesehatan namun juga bidang pendidikan.

SUMBER

WOW! Wisudawan Terbaik Magister FKM Unair Ini Lulus Dengan IPK Nyaris Sempurna

Ana Islamiyah Syamila, wanita asal Lumajang ini menjadi wisudawan terbaik jenjang Magister Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unair dengan meraih IPK 3,95.

Berkomitmen untuk menjalani perkuliahan dengan fokus, mengantarkan Ana Islamiyah Syamila menjadi wisudawan terbaik jenjang Magister Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga. Wanita asal Lumajang itu berhasil meraih IPK 3,95.

Ana merasa bangga dan tidak menyangka bahwa dirinya bisa menjadi wisudawan terbaik. Capaian ini menjadi persembahan yang dapat diberikan kepada orang tua.

“Perasaan saya tentunya senang, paling tidak lulus tepat waktu ditambah nilai plus menjadi wisudawan tebaik. Tetapi, sepertinya sedikit menjadi beban, karena ke depannya harus baik pula,” tutur Ana seperti disitat dari laman Unair, Sabtu (18/3/2017).

Selama proses perkuliahan, tentu tidak selalu berjalan mulus seperti di jalan tol, ada tantangan yang harus dihadapinya. Menempuh studi magister K-3 mendapat tugas yang tidak sedikit, ditambah dengan tesis yang berat. Oleh karena itu, mahasiswa perlu menyiapkan mental dan fisik agar kondisi kesehatan tidak menurun.

“Hal terpenting bagi mahasiswa adalah selesaikan apa yang menjadi tanggungjawab dan jangan menunda,” pesan Ana yang juga penggemar novel ini.

Bagi Ana, membagi waktu secara proporsional adalah prinsip yang ditekuninya. Tak heran ia pun bisa menyelesaikan kuliah selama empat semester di program studi Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K-3).

Seperti saat mengerjakan tugas kuliah, ia selalu bersungguh-sungguh. Baginya tidak ada prinsip mengerjakan tugas yang penting selesai. Hal itu harus dibuang jauh-jauh.

Dalam tesisnya, Ana meneliti tentang penyelam kompresor di kawasan Papuma, Jember, dari aspek kesehatan dan keselamatan kerja (K-3). Para pekerja informal tersebut menggunakan peralatan penyelaman yang tidak sesuai standar yakni kompresor ban modifikasi. Ana berpendapat, pekerjaan-pekerjaan semacam itu harus disentuh standar K-3 agar para pekerja memahami terkait standar dan prosedur yang benar.

Sumber news.okezone.com