Ini Perkenalanku Dengan PMKM, Organisasi Mahasiswa Kesmas STIKes Surya Global Yogyakarta

Waktu itu saya mulai tertarik, dan bertekad akan mengikuti organisasi PMKM ini, sampai akhirnya saya menjabat sebagai Kadiv Humas PMKM 2017/2018 saat ini.

Awal mula saya kenal PMKM atau Persatuan Mahasiswa Kesehatan Masyarakat STIKes Surya Global ini waktu perkenalan Ormawa (Organisasi Mahasiswa) saat Poros/Ospek dulu. Waktu itu saya mulai tertarik, dan bertekad akan mengikuti organisasi PMKM ini, sampai akhirnya saya menjabat sebagai Kadiv Humas PMKM 2017/2018 saat ini.

Persatuan Mahasiswa Kesehatan Masyarakat yang biasa disebut PMKM berdiri pada tanggal 27 September 2007. PMKM merupakan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Kesehatan Masyarakat di STIKES Surya Global Yogyakarta.

PMKM memiliki visi menjadi wadah aspirasi mengelola potensi dan merealisasikan program kerjanya dan menambah rasa tanggung jawab dari anggotanya.

Untuk mewujudkan visi tersebut, PMKM memiliki misi:

  1. Sebagai media penggalian potensi, bakat, dan minat mahasiswa kesehatan masyarakat
  2. Sebagai penyalur aspirasi dan kreatifitas mahasiswa prodi ilmu kesehatan masyarakat
  3. Sebagai media informasi kesehatan antara mahasiswa pada khususnya dan seluruh civitas akademika pada umumnya.
  4. Sebagai pembentuk kader kesehatan masyarakat yang terampil, kritis, inovatif, berkualitas dan professional.
  5. Sebagai penjalin komunikasi dan informasi antara mahasiswa prodi ilmu kesehatan masyararakat dengan lulusannya

Saya banyak belajar dari para pendahulu, kakak-kakak saya, senior-senior saya di PMKM, meski hanya sesekali dalam kegiatan Makrab maupun kegiatan lainnya. Tulisan ini pun saya dedikasikan untuk mereka, bahwa kami-kami yunior di kampus senantiasa berusaha, menjaga, menjalankan amanah estafet organisasi.

PERIODE I Tahun 2007/2008
Ketua : Umi Hanifah
Wakil : Rahmat Niwa

PERIODE II Tahun 2008/2009
Ketua : Fadhil Ahmad Junaidi
Wakil : Sofia

PERIODE III Tahun 2009/2010
Ketua : Esha Permata Dewi
Wakil : Nurlatifah

PERIODE IV Tahun 2010/2011
Ketua : Yusuf Eka Saputra
Wakil : Nofita Safitri

PERIODE V Tahun 2011/2012
Ketua : Fatonah Oktavyanti
Wakil : Hendra Ul Muflihun

PERIODE VI Tahun 2012/2013
Ketua : Nurul Fitria Maretna
Wakil : Ahmad Nawakil

PERIODE VII Tahun 2013/2014
Ketua : Arianita Dyah Wulaning Ayu
Wakil : Gina Darojatunnisa

PERIODE VIII Tahun 2014/2015
Ketua : Iskandar
Wakil : Suci Dwi Yanti

PERIODE IX Tahun 2015/2016
Ketua: Upik Pita Damayanti
Wakil: Devita Sulva Urbach

PERIODE X Tahun 2016/2017
Ketua: Moh. Mahsun
Wakil: Afifah Johairiyah

PERIODE XI Tahun 2017/2018
Ketua: Farah Irmania Tsani
Wakil: Mely Tri Sayekti

Harapan kedepannya, tentu untuk PMKM sendiri agar mampu menjadi jembatan untuk mahasiswa STIKes Surya Global, khususnya mahasiswa prodi kesmas dalam menyalurkan minat dan bakatnya. Juga bisa menaungi atau memecahkan masalah yang ada di dalam kampus maupun di luar kampus.

Terimakasih untuk rekan-rekan pengurus, staf magang dan juga mahasiswa kesmas STIKes Surya Global tentunya, mari bersama-sama kita membangun budaya literasi, budaya menulis, budaya membaca, budaya berdiskusi, untuk edukasi kesehatan masyarakat Indonesia yang lebih baik.

imam syafii

Apa yang Bikin Kamu Bangga Sebagai Seorang SKM?

Ya, karena seharusnya kebanggaan itu diikuti pula oleh Rasa Syukur. Bangga sebagai SKM, Bersyukur karena menjadi bagian dari Profesi Mulia ini.

Apa yang Bikin Kamu Bangga Sebagai Seorang SKM?

Ya, karena seharusnya kebanggaan itu diikuti pula oleh Rasa Syukur. Bangga sebagai SKM, Bersyukur karena menjadi bagian dari Profesi Mulia ini.

#skm #skmuntukrepublik #kesmas #kesehatanmasyarakat #anakkesmas #mahasiswakesmas #kesmashits #kesmas_id

A post shared by Kesmas-ID (@kesmas.id) on

Apa yang Bikin Kamu Bangga Sebagai Seorang SKM?

@merishadheas 

Menjadi bagian dari pencegahan dan penyelamatan masyarakat dalam bidang kesehatan. Karena kesehatan masyarakat meliputi beberapa bidang dan sangat dibutuhkan untuk berkoordinasi dengan pemerintah dan tenaga medis.

@aig_baladhika

Belajar ilmu kesehatan masyarakat seperti belajar menjadi orang yg asyik dan pintar menempatkan diri di masyarakat

@arianita_dyah

Multitalent

@mitariyadi24

SKM itu bisa belajar multidisipliner ilmu. Dari macam-macam penyakit tropis manusia, kes.veteriner, kesling, farmakologi, gizi, kia, segala jenis vektor nyamuk, lalat dan tikus serta kutu-kutuan, sampai ke-ergonomisan benda-benda yang digunakan manusia, dan masih banyak lagi.

@mayyasaaini

SKM itu adalah Pengabdian Masyarakat, Menjadi orang yang bisa bermanfaat bagi orang lain.

@putrimayaa_

Orang yg dipercaya masyarakat untuk curhat masalah kesehatan yg dialami, karena SKM dekat dengan masyarakat❤️

SKM Nusantara Sehat, Mengabdi Untuk Kesehatan Masyarakat Pulau Terluar

Neni Yulita, lulusan SKM, hampir dua tahun ini ditempatkan di salah satu pulau terluar di Kepulauan Sangihe, Nusa Tabukan, dalam program Nusantara Sehat.

Bertugas di daerah terpencil, jadi tantangan tersendiri bagi Neni Yulita. Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM) ini, hampir dua tahun ditempatkan di salah satu pulau terluar di Kepulauan Sangihe, Nusa Tabukan.

 

Laporan: Sriwani Adolong, Sangihe

NENI memulau tugasnya di Nusa Tabukan pada 2 Desember 2016. Program Nusantara Sehat yang menempatkannya di sana. Nusa Tabukan masuk daftar pulau terluar di Indonesia. Lokasinya cukup jauh dari ibu kota Kepulauan Sangihe, Tahuna. Sekira 2,5 jam paling cepat. Itupun harus menempuh transportasi laut dan darat. Transit di Kecamatan Petta. Sebagai tenaga kesehatan di wilayah kepulauan, Neni harus ekstra kerja.

Profesinya menuntut dia harus memberi pengetahuan pada masyarakat terkait hidup sehat. Fokusnya mengatasi permasalahan kesehatan masyarakat melalui pendekatan promotif dan preventif. “Dititikberatkan pada upaya pencegahan. Mempertahankan masyarakat sehat agar tetap sehat dan memberikan dorongan kepada mereka yang sakit agar memperhatikan kesehatannya,” jelas perempuan asal Provinsi Jambi ini.

Dikisahkannya, berbagai kendala harus dihadapi. Mulai dari jaringan internet sulit, sehingga sering ketinggalan informasi. Apalagi jika ada informasi penting dari Dinas Kesehatan, terkadang nanti bisa diketahui keesokan harinya. “Selain itu medannya harus naik turun gunung dengan jalanan licin,” ceritanya, pada Manado Post.

Neni pun harus menjajal kampung yang satu, ke kampung lain. Alat transportasinya adalah perahu. Cuaca ekstrem sering ditemui. Namun harus ditempuh untuk melihat kondisi masyarakat.

Namun dia bersyukur kesulitan tersebut bisa hilang karena masyarakat dan pemerintah kecamatan maupun kampung sangat ramah dan baik. “Yang membuat betah juga banyak ikan. Saya sering makan ikan,” katanya tersenyum. Hal itu juga yang membuat Neni jarang meninggalkan lokasi tugas. “Saya ke Tahuna nanti ketika ada yang perlu dikonsultasikan atau diinformasikan ke dinas. Lain dari itu tinggal di tempat tugas karena harus terus melihat kondisi masyarakat,” ungkapnya.

Dia berharap aktivitas di Puskesmas bisa berjalan lancar meski terkendala listrik karena masih menggunakan PLTS. Agar semua masyarakat dapat terlayani dengan baik. “Di pulau ini saya sadar kesehatan masyarakat sangat mahal. Sehingga saya ingin terus berupaya agar kedepannya masyarakat pulau mendapat pelayanan kesehatan yang baik,” tutup Nenu.

Sumber http://manadopostonline.com/read/2018/01/24/Gigihnya-Tenaga-Kesehatan-Mengabdi-di-Pulau-Terpencil/29426

Tingkatkan Skill Pengurus, Divisi Humas PMKM Surya Global Gelar Training Pengelolaan SOSMED

Divisi Humas PMKM STIKes Surya Global Yogyakarta mengadakan Pelatihan Pengelolaan Sosial Media bertempat di Graha Santri, 3 Januari 2018 kemarin.

Guna meningkatkan pengetahuan dan pemahaman pengelolaan sosmed organisasi, Divisi Humas PMKM (Persatuan Mahasiswa Kesehatan Masyarakat) STIKes Surya Global Yogyakarta mengadakan Pelatihan Pengelolaan Sosial Media bertempat di Graha Santri, 3 Januari 2018 kemarin.

Kegiatan ini merupakan salah satu program kerja Divisi Humas, dan diikuti oleh 10 orang terdiri dari pengurus dan staff magang.

Seperti kita ketahui bersama, pada jaman sekarang ini, semua orang tidak bisa terlepas dari yang namanya sosial media. Terlebih dengan sangat banyaknya pilihan sarana dan prasarana untuk mengakses dan memberikan informasi kepada orang lain.

Belakangan ini sosial media tidak hanya digunakan untuk mencari teman, akan tetapi sosial media juga dimanfaatkan sebagai aspek untuk belajar dan meningkatkan pemahaman untuk memberikan aspriras kreatif yang bermanfaat bagi orang lain.

Kegiatan pelatihan ini dimulai pada jam 20.00- 21.30 WIB, dengan menghadirkan narasumber Kang Niwa, Founder Kesmas-ID. Dalam penyampaiannya, materi dan praktek yang diajarkan oleh pemateri sangat menarik, sehingga peserta tidak merasa jenuh.

“Sebagai Humas kita dituntut harus mampu menyampaikan informasi kepada masyarakat dengan cara kreatif, dan inovatif. Salah satunya dengan memanfaatkan sosial media secara baik dan optimal”, ujar Kang Niwa.

Narasumber juga menyampaikan tips bagaimana cara mengukur, indikator keberhasilan dari proses komunikasi via sosial media itu sendiri.

“Saya berharap kegiatan ini dapat berlangsung secara rutin dan berkesinambungan dari pengurus yang sekarang sampai pengurus yang akan datang. Dan saya juga berterima kasih kepada Kang Niwa, selain merupakan pendiri PMKM SSG yang pertama beliau juga sudah mau berbagi ilmu serta meluangkan waktu untuk memenuhi undangan teman-teman penggurus disini. Sangat disayangkan sekali apabila teman-teman tidak manfaaatkan dengan baik dan benar’’ ujar Imam Safii, Ketua Divisi Humas PMKM.

Harapannya dengan adanya pelatihan ini mampu memberikan pengetahuan dan kemampuan untuk mengelola sosial media dengan baik dan benar guna untuk meningkatkan keberhasilan PMKM sesuai dengan visi-misi PMKM kedepannya.

Ini Nih Tantangan Mahasiswa Kesmas Jaman Now! Yang Mahasiswa Wajib Baca!

Tantangan mahasiswa kesmas saat ini adalah “melawan faktor internal”, seperti kemalasan, kekurang aktifan di dalam kelas dan di organisasi kemahasiswaan.

Nur Sefa Arief Hermawan SKM, M. Kes, anak pertama dari dari pasangan Narno (almarhum) dan Sri Suhartini punya segudang prestasi. Pria tiga bersaudara kelahiran Kotabumi 31 tahun lalu ini bekerja di Kampus Umitra sebagai Ketua Penjaminan Mutu STIKES Umitra, juga sebagai tenaga pengajar Kesehatan Masyarakat.

Lulus dari SMAN 1 Terbanggi Besar Lampung Tengah (2005), Sefa melanjutkan pendidikannya di S1 Kesehatan Masyarakat STIKES Umitra (2009) dan Pascasarjana Kesehatan Masyarakat STIKES Umitra (2016).

Prestasi akademiknya pun sangat baik, terbukti ia lulus sebagai wisudawan terbaik Prodi Kesehatan Masyarakat Reguler pada tahun 2009 dengan IPK 3,51, dan wisudawan terbaik Umitra pada tahun 2016 dengan IPK 3,93.

Prestasi non akademiknya pun cukup baik, pernah menjadi Ketua Panitia Hari Kesehatan Nasional (HKN) tingkat Kabupaten Pringsewu Lampung pada tahun 2012, pernah menjabat sebagai Wakil Direktur Bidang Kemahasiswaan di Akbid Alifa Pringsewu Lampung pada tahun 2010-2013.

Ia merupakan sosok yang aktif dalam berorganisasi. Pernah menjabat sebagai Sekjen BEM Umitra pada tahun 2008, pendiri Himakes (Himpunan Mahasiswa Kesehatan) Umitra pada tahun 2009, Anggota Pengda IAKMI Lampung periode (2016-2020) Bidang Organisasi, juga Anggota HPTKES Propinsi Lampung periode (2017-2021) Divisi Penjamin Mutu.

Pelantikan Pengurus HIMAKES Mitra Lampung 2008 2009

Dalam pandangannya, tantangan mahasiswa Kesehatan Masyarakat saat ini adalah “melawan faktor internal”, seperti kemalasan, kekurang aktifan di dalam kelas dan di organisasi kemahasiswaan. Juga harus peka mengikuti perkembangan pengetahuan zaman now, termasuk juga didalamnya proses belajar mengajar terutama mensukseskan metode pembelajaran Student Center Learning (SCL).

Tantangan berikutnya adalah mahasiswa saat ini harus ekstra belajar karena ketika lulus nanti bukan hanya ijazah dan transkrip nilai yang akan menjadi persyaratan dalam dunia kerja namun juga Surat Tanda Registrasi (STR), dimana syarat mendapatkan STR harus lulus Uji Kompetensi Kesmas terlebih dahulu.

Lalu tantangan setelah lulus adalah sebagai seorang Ahli Kesehatan Masyarakat hendaknya bisa menjadi pionir dalam upaya preventif dan promotif di bidang kesehatan dan bekerja sesuai dengan bidang keilmuan yang dimiliki. Jangan sampai seorang lulusan Kesmas, namun saat bekerja nanti lebih memilih menjadi seorang pegawai bank. Tentu itu tidak relevan dengan bidang keilmuan yang dipelajari sebelumnya.

Untuk mahasiswa Kesmas, baik mahasiswa Umitra atau mahasiswa Kesmas lainnya, hendaknya lebih aktif proaktif menjadi mahasiswa. Jadilah mahasiswa yang aktif baik di kampus maupun di organisasi kemahasiswaan. Jangan lupa untuk tetap tawakal kepada Allah SWT. Jadikan perkembangan teknologi dan informasi sebagai doping mahasiswa untuk hal-hal yang posistif bagi kemajuan almamater tercinta”, pesan Sefa untuk mahasiswa kesmas.

Kesmas-ID? Cukup membanggakan, karena turut mengangkat informasi mengenai kesehatan masyarakat kepada khalayak umum karena pandangan masyarakat selama ini mengenai kesmas masih sangat kurang.

“Dengan adanya portal kesmas ini, tentu akan sangat membantu dalam menyebarkan informasi yang up to date dan relevan, serta menjadi referensi bagi mahasiswa, dosen dan juga masyarakat umum sehingga dapat menangkal informasi hoax tentang kesmas itu sendiri. Ia pun berharap Kesmas-ID bisa menerbitkan rubrik jurnal ilmiah online dan juga menerbitkan Majalah Kesmas-ID”, ujar Sefa sekaligus mengakhiri sesi wawancara siang ini.

Interview Kesmas-ID Lampung bersama Pak Sefa

Ini Alasanku Jatuh Cinta Sama Jurusan Kesehatan Masyarakat

Rasanya lucu ketika mengingat awal mula saya bisa masuk jurusan kesehatan masyarakat adalah karena fikiran tersebut. Mau tahu kisah selengkapnya?

Nama saya Nadhirul Mundhiro, biasanya supaya lebih mudah orang-orang panggil saya Mumun, si pemimpi yang sedang berproses. Lahir di Lamongan, 10 Desember 1997, saya anak kedua dari Moh. Kholil dan Kiswati. Saya Alumni dari SMAN 6 Tangerang Selatan.

Semua berawal ketika saya masih SMA. Saya menemukan fakta bahwa saya tertarik akan dunia kesehatan, berhubungan dengan orang banyak dan sangat bahagia ketika kehadiran saya dapat membantu serta membuat orang lain tersenyum.

Ceritanya waktu itu saya melihat Puskesmas yang selalu ramai dikunjungi oleh masyarakat, kemudian langsung terfikirkan oleh saya bagaimana caranya untuk membuat puskesmas ini sepi. Puskesmas sepi, karena masyarakat semuanya sehat dan masyarakat tersenyum bebas tanpa menahan sakit. Rasanya lucu ketika mengingat awal mula saya bisa masuk kesehatan masyarakat adalah karena fikiran tersebut.

Ya, ini awal saya mencari-mencari sumber informasi di Google jurusan apa yang sekiranya cocok dan pada akhirnya saya melangkahkan kaki saya dengan berkuliah di jurusan Kesehatan Maysarakat dimana fokusnya adalah promotif dan preventif.

Waktu itu saya mendaftar di PTN dengan jurusan Kesehatan Masyarakat dan Biologi (yang ini karena saya suka pelajarannya makanya saya memilih ini juga) namun sayangnya saya tidak diterima di PTN yang saya tuju. Waktu itu ada 3 PTN yang saya coba dan pada akhirnya orang tua menyuruh saya Akutansi katanya kerjanya bakal terjamin dibanding di Kesehatan Masyarakat.

Namun saya berfikir ini loncat banget dari jurusan waktu di SMA yaitu IPA, ya memang tidak apa-apa namun alasan lain adalah saya orangnya kurang suka itung-itungan apalagi akutansi akan berhubungan dengan angka dan lagi-lagi keinginan saya untuk masuk kesmas entah mengapa bisa sekuat ini. Sampai akhirnya sudah tidak memungkinkan untuk mendaftar di negeri, jatuhlah pilihan di UMJ.

Saya dan mamah saya sudah masuk ke gedung UMJ dan melihat brosur yang awalnya tujuan saya dan mamah saya ke UMJ adalah untuk ke gedung fakultas ekonomi dan bisnis, ternyata di brosur itu ada fakultas kedokteran dan kesehatan dan tertera Prodi Kesehatan Masyarakat yang membuat saya langsung bahagia seketika, dan saya langsung mencoba lobbying mamah untuk ke gedung tersebut.

Setelah mengambil formulir Akutansi saya juga mengambil formulir untuk Kesehatan Masyarakat. Setelah sampai rumah kembali lagi saya mencoba untuk melobbying orang tua ya sangat susah waktu itu karena tetap menginginkan saya masuk akutansi namun pada akhirnya saya diizinkan untuk masuk Kesehatan Masyarakat.

nadhirul mundhiro

Sekarang, saya semester 5 dan mengambil peminatan Epidemiologi. Untuk tahun saya peminatan, yang terbuka adalah Kesling, K3, Manajemen RS dan Epidemiologi karena mahasiswa yang minat akan peminatan tersebut lebih dari 15 orang.

Nah kenapa saya memiliki peminatan ini karena Epidemiologi merupakan ilmu yang biasa disebut Mother of Public Health. Epidemiologi tidak hanya mempelajari distribusi penyakit dan faktor faktor penyebab penyakit, tetapi juga mengkaji segala macam masalah kesehatan. Seperti pernyataan dari  WHO berikut ini “Epidemiology is the study of the distribution and determinants of health-related states or events (including disease), and the application of this study to the control of diseases and other health problems.”

Dapat disimpulkan bahwa epidemiologi adalah ilmu yang mempelajari penyakit, distribusi penyakit, faktor faktor penyebab terjadinya penyakit dan cara penyelesaian masalah kesehatan dalam suatu populasi. Maka dari itu tidak heran bahwa epidemiologi dikatakan sebagai mother of public health.

Banyak orang bilang, anak epidemiologi itu terkenal sangat sibuk, jago penelitiannya, menyeramkan, susah dan banyak tugasnya, tapi menurut saya peminatan epidemiologi itu seru, intinya menikmati proses. Mimpi saya semoga dapat kerja di  WHO,  Kementrian Kesehatan atau di berbagai institusi terutama yang berfokus pada penelitian penyakit seperti Plan International, LSM/NGO, bisa juga yang bentuknya pegabdian masyarakat gitu.

Selain kuliah, saya juga aktif diberbagai organisasi yaitu Ikatan Senat Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Indonesia (ISMKMI), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Himpunan Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Indonesia (HIMA KESMAS FKK UMJ) dan Pusat Informasi Konseling Mahasiswa (PIKM).

Selain itu saya juga aktif dalam kegiatan volunteer, seperti kegiatan dari CISDI yaitu “Penggerak Nusantara”, Forum For Young Indonesia “OUR FOOD OUR FUTURE”, NCDFREE, Indonesia Conference on Tobacco or Health Youth Forum 2017, dll. Serta mengikuti berbagai konferensi, workshop, diskusi dll.

nadhirul - ncd free

Saya bangga menjadi bagian dari mereka karena saya selalu percaya, mereka yang bukan siapa-siapa selalu punya kesempatan untuk menjadi manusia berharga. Berharga, karena tak ternilai, tak ternilai karena mereka memberi nilai-nilai tanpa meminta dinilai. Mereka adalah pemberi berbagai warna sembari merajut sejuta asa bagi manusia-manusia lainnya, “It is such a beautiful miracle that we are here”.

Bersyukur karena Allah memperkenankan saya berada didalam lingkaran kisah yang menurut saya luar biasa ini. Kisah tentang perjalanan menggapai ridha-Nya, tentang berjuang karena-Nya, tentang setiap peluh yang bercucuran demi memperjuangkan kebenaran, langkah juang yang kita sama tahu tak akan mudah, namun pada akhirnya dengan menyebut nama-Nya kita menetapkan langkah kita berjuang disini. One simple intervention can tackle multiple societal challenges 🙂

Saya juga punya dosen favort. Dan Dosen favorit saya ialah semua dosen yang telah mengajarkan saya di prodi Kesehatan Masyarakat FKK UMJ. Kenapa? Mereka it supporting system yang luar biasa, bukan cuman sekedar mengajar tapi juga layaknya Ayah dan Ibu, terkadang dapat menjadi sahabat.

Mereka yang selalu mengajarkan tentang apa itu kesehatan masyarakat yang sesungguhnya yang semakin meyakinkan kita gak salah pilih jurusan. Mereka selalu kasih kritik dan saran yang bener-bener ngebangun diri saya, mereka juga yang selalu kasih akses saya buat ikutan berbagai forum kesehatan yang ada dan yang paling penting adalah mereka tidak pelit berbagi pengalaman.

Ya ini pendapat saya, saya senang dengan dosen-dosen yang tidak hanya asyik ketika memberikan materi-materi akademik, ataupun yang kalau kasih nilai itu baik. Saya selalu menyukai dosen yang juga memberikan saya sudut pandang lain bukan hanya dari pelajaran, tetapi juga kehidupan yang ”Real” nyata. Karena saya orangnya juga suka cerita dalam arti lain berbagi pengalaman, maka dari itu saya bersyukur sangat bisa mengenal dosen-dosen hebat yang selalu mengajari saya banyak hal, sehingga saya bisa mengerti dan memahami makna dari hidup dan kehidupan.

Berawal dari instagram Kesmas-ID yang lewat karena ada yang LIKE waktu itu, saya langsung buka profil instagramnya seketika langsung Jatuh Cinta. Yang saya tangkap selama ini Kesmas-ID itu ada untuk membangun SKM agar dikenal masyarakat lebih luas, melawan berita-berita hoax terkait kesehatan dan banyak cerita-cerita inspiratif dari lulusan-lulusan SKM yang semakin membuat saya selalu bersemangat untuk bergerak, bergerak dan bergerak serta membuat saya semakin mengerti apa itu SKM.

Semoga kedepan Kesmas-ID selalu sukses, bergerak, selalu menginspirasi dan semoga saya bisa jadi bagian dari Kesmas-ID Institute, Amin.

Kisah dr Rio Herison Penggagas Posyandu Remaja Penangkal Kenakalan ‘Kids Jaman Now’

Setidaknya kegiatan ini sudah menelurkan 65 kader posyandu remaja yang akan terus berkembang karena kegiatannya positif dan mendapat dukungan banyak pihak.

Muda dan berprestasi. Itulah dua kata untuk menggambarkan sosok dr Rio Herison. Pemegang dua kali gelar Dokter Teladan tingkat Kabupaten Meranti pada 2015 dan 2017. Serta Dokter Teladan tingkat Provinsi Riau pada 2017. Dan yang lebih membanggakan ia masuk dalam 10 besar dalam nominasi Dokter Teladan tingkat nasional pada 2017.

Usianya baru genap 33 tahun pada 28 Desember 2017 lalu. Namun, kiprahnya menjadi pelayanan masyarakat di bidang kesehatan, sungguh luar biasa.

Usai lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Riau, Rio langsung mendaftar menjadi dokter pegawai tidak tetap (PTT) Kementerian Kesehatan. Ia lulus dengan  penempatan di Unit Pelaksana Teknis (UPT) Puskesmas Pulau Merbau, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau pada April 2012.

Pilihan yang tidak biasa karena menjadi dokter di daerah terpencil lebih banyak pengabdiannya ketimbang mengejar materi semata.

“Ini panggilan jiwa. Menjadi dokter dan melayani masyarakat di pelosok karena Allah ta’la,” ujar pria kelahiran Bagan Siapiapi, Rokan Hilir.

Lantas kiprah apa yang membuat dokter yang masih lajang ini selalu diganjar dokter teladan ?

“Saya berikhtiar membentuk Posyandu Remaja di sekolah sekolah yang ada di Pulau Merbau,” ujar pria gempal berkulit manis ini.

Setidaknya ada tiga sekolah setingkat SMU dan sederajat yang dibentuk posyandu yakni SMU N 1 Pulau Merbau, Madrasah Aliyah (MA) Hidayatul Mubtadiin Semukut dan MA Hidayatul Rahmah Batang Meranti.

Siswanya dilatih menjadi kader Posyandu. Mereka dipandu untuk bisa mengukur tinggi dan berat badan sehingga bisa menentukan status gizi rekannya. Dalam kegiatan Posyandu Remaja ini juga diisi dengan pemberian tablet penambah darah untuk remaja putri.

Setidaknya kegiatan ini sudah menelurkan 65 kader posyandu remaja yang akan terus berkembang karena kegiatannya positif dan mendapat dukungan banyak pihak.

Yang lebih penting lagi, posyandu remaja ini melahirkan kader kader anti merokok.

“Hasil pengamatan pada awal awal tahun mengabdi di Pulau Merbau, saya melihat tingkat kenakalan remajanya cukup tinggi. Ini bisa dilihat dari kebiasaan mereka merokok di tempat umum tanpa takut dan sungkan,” ujar Kepala Unit Promosi Kesehatan UPT Puskesmas Pulau Merbau ini.

Hasil surveinya, sekitar 40 persen remaja SMP dan SMU di Pulau Merbau punya kebiasaan merokok. Kebiasaan ini dilakukan tidak lagi sembunyi sembunyi. Malah buat gagah gagahan.

Ia khawatir sekali kebiasaan merokok ini bisa menjadi pintu masuk bagi perilaku kenakalan lainnya seperti penyalahgunaan narkoba. Apalagi Pulau Merbau merupakan wilayah pesisir yang berbatasan dengan negeri jiran Malaysia. Sehingga salah satu pintu masuk paling rawan penyelundupan dan peredaran narkoba.

Setelah dua tahun lebih posyandu ini berjalan, remaja merokok di Pulau Merbau bisa ditekan hingga menjadi 4 persen.

“Kader kader Posyandu itu membentuk remaja anti merokok. Mereka aktif mengkampanyekan bahaya merokok kepada teman teman mereka. Dan bisa merubah stigma merokok bukan kebiasaan ‘jantan’ untuk remaja,” ujarnya.

Kader posyandu ini juga aktif melakukan sosialisasi dan kampanye kesehatan ke SMP dan SD. Ini sebagai langkah langkah dini pengenalan bahaya merokok. Dengan langkah ini, lambat laun bisa tercipta kesadaran kolektif di masyarakat tentang bahaya merokok.

Para remaja kader anti rokok ini juga melakukan sosialisasi ke orang terdekat mereka di rumah. Mulai dari ayah, paman atau Abang abang mereka yang merokok.

“Mereka bilang begini, bapak harus berhenti merokok karena berbahaya untuk kesehatan. Saya kader anti rokok, selalu melarang orang orang untuk berhenti merokok. Masak, bapak saya sendiri nggak  berhenti,” ujarnya mengulang cerita para remaja anti rokok binaannya.

Alhamdulillah, banyak bapak bapak yang berhenti merokok karena malu terus menerus diingatkan anaknya.

Muatan Lokal IKR

Tidak hanya posyandu remaja yang digagas Rio. Ia bersama pihak UPT Puskesmas Pulau Merbau juga menginisiasi pelajaran Ilmu Kesehatan Remaja (IKR) sebagai Muatan Lokal yang diajarkan di sekolah tingkat SMU sederajat yakni MA Hidayatul Mubtadiin Semukut dan MA Hidayatul Rahmah Batang Meranti.

“Ini merupakan satu-satunya muatan lokal di sekolah tingkat SMU sederajat yang berbasis kesehatan tidak hanya di Kabupaten Kepulauan Meranti, bahkan di Provinsi Riau,” ungkapnya.

Mata pelajaran ini merupakan kerja sama lintas sektoral dengan UPTD Pendidikan Kecamatan Pulau Merbau melalui penandatanganan MoU dengan kedua sekolah tersebut.

Rio sendiri yang menjadi gurunya. Ia mengajar sebulan sekali dengan mata pelajaran tadi. Pembelajaran Ilmu Kesehatan Remaja ini menganut sistem Problem Base Learning (PBL) dengan jadwal sebulan sekali pada hari Sabtu di Minggu ke-III setiap bulannya.

Di kelas ini, siswa diharapkan mampu memahami dan mengerti tentang informasi-informasi kesehatan remaja mulai dari bahaya rokok, sex bebas, bahaya narkoba, HIV-AIDS dan masalah lainnya.

Yang membuat mata pelajaran ini berbeda dibandingkan dengan penyuluhan kesehatan remaja lainnya yakni siswa tidak hanya mempelajari materi materi yang diberikan. Tetapi juga mengikuti test diakhir materi. Nilai Mid semester dan Ujian Akhir Sekolah dimasukkan ke dalam rapor sekolah.

Pada kelas pertama Muatan Lokal Ilmu Kesehatan Remaja di MA Hidayatul Rahmah diikuti sebanyak 28 orang siswa.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau Hj  Mimi Nazir mengatakan sangat mengapresiasi atas kiprah dokter Rio Herison di Pulau Merbau. Makanya, pihaknya menganugerahi Rio sebagai dokter teladan tingkat Provinsi Riau. Serta mengirimnya untuk tingkat nasional.

“Dokter Rio sudah mengharumkan nama Riau karena masuk 10 besar tingkat nasional,” ujarnya.

Mimi berharap, apa yang dilakukan Rio bisa menjadi inspirasi bagi dokter dokter lainnya tidak hanya di Riau. Tapi juga di berbagai pelosok nusantara. Mengabdikan diri untuk pelayanan kesehatan di mana pun berada.

Sumber http://pekanbaru.tribunnews.com/2017/12/31/kisah-dr-rio-herison-penggagas-posyandu-remaja-penangkal-kenakalan-kids-jaman-now/

Catatan Tim Penilai CTPS PKM Baraka di Desa Bone-bone, Kalian Harus Baca!

Ini tentang pengalaman kami rombongan tim Puskesmas menuju Desa Bone-bone, Kec. Baraka, dalam rangka penilaian lomba Perilaku CTPS di desa tersebut.

Ini tentang pengalaman kami rombongan tim Puskesmas menuju Desa Bone-bone, Kec. Baraka, Kabupaten Enrekang, tak begitu jauh dari kaki Gunung Latimojong – gunung tertinggi se-Sulawesi Selatan.

Semua bermula dari awalnya pihak Desa yang diwakili Petugas Poskesdes mendatangi Kepala Puskesmas Baraka meminta kesedian Tim PKM untuk menilai kondisi dan standarisasi fasilitas CTPS (Cuci Tangan Pakai Sabun) di Desa Bone-bone. Kegiatan ini dalam rangka lomba Perilaku CTPS di desanya demi mendukung pencapaian 100% PHBS tatanan RT.

Masyarakat Desa Bone-bone memang terkenal dengan keaktifan, kegotong royongan, bahu membahu membangun kampungnya.

Akhirnya di PKM sendiri dibentuklah tim kecil 7 sampai 10 orang untuk menyusun instrumen penilaian fasyankes. Desa Bone-bone yang dikenal dengan semua masyarakatnya tidak ada yang merokok, kita mau kembangkan dengan semua masyarakatnya membudayakan cuci tangan pakai sabun.

ranpur tim pkm baraka

Kami berangkat dari PKM sekitar pukul 08.00 pagi hari, Kamis, 21 Desember 2017 menuju Desa Bone-bone. Beranggotakan 11 orang, 6 motor, 2 motor trail. Sampai ke dusun terjauh sekitar pukul 11 menjelang siang.

Desa Bone ada 3 dusun; Dusun Buntu Billa, Angin-angin dan Pendokesan. Lokasi pertama tim melakukan penilaian di Dusun Bunttu bila, kedua di Dusun Angin-angin, ketiga karena paling jauh di Dusun Pendokesan, ada kader/masyarakat serta petugas kesehatan di desa yang menemani saat melakukan kunjungan rumah, karena kita semua nda tau lokasi jalan-jalannya.

Saat menuju ke Dusun Pendokesan, ada beberapa motor petugas tidak mampu mendaki, terpaksa ada sebagian tim yang dibonceng oleh masyarakat Dusun Pendokesan yang memang motornya berbeda dengan motor pada umumnya, sudah dimodifikasi begitu.

Tim PKM Baraka Menuju Desa Bone-bone

Ada banyak yang jadi item penilaian, baik dari segi estetika, kreatifitas/ inovasi fasilitas CTPS, ketersediaan sarana dan prasrana dan ada wawancara dengan masyarakat per KK terkait keberlanjutan fasilitas dan pengunaannya untuk perubahan perilaku. Saat dilapangan, tak lupa semua tim penilai melakukan edukasi partisipatif terhadap masyarakat.

Saat diwawancarai, ada pertanyaan seberapa penting adanya fasilitas ini, mereka sangat menyambut baik dan. mereka merasa penting dan perlu adanya fasilitas untuk CTPS ini.

fasilitas cpts warga bone-bone

Pesannya adalah keberlangsungan kegiatan mencuci tangan ditelur tularkan ke generasi/ anak-anak. Sehingga kedepan tak ada lagi penyakit menular berbasis hiegine sekelas sakit perut, diare yang berulang ditiap tahunnya.

Kami dari pihak Puskesmas Baraka, inisiasi masyarakatlah yang memang akan mewujudkan masyarakat sehat.

Mungkin inilah yang dimaksud sebuah gerakan perubahan sosial, gerakan masyarakat untuk hidup sehat, dari masyaralat dan oleh masyarakat itu sendiri. Petugas kesehatan bertugas mendampingi sehingga dampak bisa terlihat lebih tepat.

fasilitas cuci tangan pakai sabun warga bone-bone

Selesai kegiatan, kami pun diajak kesalah satu rumah terapung (kolam ikan) dan di ajak makan hasil budidaya ikan tawar masyarakat. Kami pun menikmati Pullu Mandoti, beras ketan yang harum, menurut masyarakat Enrekang hanya ada di daerah sekitar Bone-bone.

Kepala Puskesmas, drg. Ira desti Saptari, M. Adm. Kes, mendukung kegiatan ini karena menurut beliau hal ini sebagai usaha perubahan perilaku masyarakat. Terkadang perubahan perilaku tak cukup hanya dengan pengetahuan yang baik, tapi perlu ada fasilitas yang mendukung yang didekatkan dengan masyarakat.

penilaian ctps di bone-bone

Catatan Mahasiswa Umitra Lampung: Jalan Panjang Menjadi Seorang Tenaga Kesehatan Masyarakat

Meski gagal jadi seorang Guru, Apoteker, tapi kini bangga, senang akhirnya saya bisa menjadi bagian dari profesi Kesehatan Masyarakat ini.

Cita-cita sewaktu kecil ingin menjadi seorang guru dan dokter. Karena pada waktu kecil pemikiran saya masih sangat minim akan cita-cita saat besar nanti. Bahkan saat kecil saya merupakan anak yang suka berganti cita-cita jika ditanya oleh orang lain. Kadang ditanya cita-citanya mau jadi apa, saya jawab mau jadi dokter, lain kesempatan saya jawab mau jadi dokter.

Waktu itu, barangkali saya melihat dokter adalah orang yang hebat, bisa menyembuhkan orang sakit, bisa memberikan obat jika sedang sakit, bisa menyuntik orang dan bisa menyembuhkan semua penyakit. Sedangkan guru adalah seseorang yang hebat karena bisa membuat orang menjadi pandai.

Namun, saat beranjak dewasa, waktu SMA niat saya berubah lagi. Saya ingin melanjutkan studi dibidang kesehatan dengan pilihan Farmasi sebagai pilihan pertama, Kesehatan Masyarakat sebagai pilihan kedua, dan Perbankan sebagai pilihan ketiga. Waktu kelas 12, saya mencoba mendaftar pilihan yang ketiga lewat jalur SPAN-PTKIN yang ada di Lampung. Alhamdulillah saya diterima disalah satu Institut Agama Islam Negeri di Lampung, tetapi saya belum cukup senang, karena itu adalah pilihan yang ketiga. Akhirnya saya melepaskan pilihan ketiga, untuk terus mencoba melanjutkan ke pilihan pertama.

Pilihan pertama Farmasi, saya sudah mendaftar studi di salah satu Poltekkes di Lampung, namun saya tidak diterima karena tinggi badan yang tidak memenuhi standar yang telah ditetapkan. Dan pada saat itu saya sangat merasa sedih, karena pilihan pertama saya tidak lolos, padahal sudah mengorbankan pilihan ketiga.

Setelah itu saya mencoba mendaftar pada pilihan yang kedua yaitu Kesehatan Masyarakat. Yang terbayang saat itu FKM UNDIP karena sangat bagus dan akreditasinya sudah A. Tapi orang tua saya tidak mengizinkan saya untuk meneruskan studi di luar Lampung. Alhasil saya mencari lagi kampus di Lampung yang memiliki konsentrasi S1 Kesehatan Masyarakat.

Ada dua perguruan tinggi di Lampung yang memiliki konsentrasi S1 Kesmas. Saya mencari tahu latar belakang kedua perguruan tinggi tersebut, saya mengorek informasi dari berbagai sumber tentang kedua perguruan tinggi tersebut, tentang akreditasinya, tentang biayanya, sampai tentang penilaian orang tentang kedua perguruan tinggi tersebut.

Setelah perjalanan panjang mencari tahu akhirnya saya memilih Perguruan Tinggi Mitra Lampung, karena akreditasi S1 kesmas sudah B dan kualitasnya lumayan bagus, bahkan penilaian orang tentang Perguruan Tinggi Mitra Lampung adalah penilaian yang positif, artinya Perguruan Tinggi Mitra Lampung merupakan salah satu perguruan tinggi di lampung yang memiliki kualitas yang baik dalam akademik maupun non akademiknya. Akhirnya saya mendaftar di Perguruan Tinggi Mitra Lampung ambil S1 Kesmas, dan saat ini saya duduk di Semester 3.

Menurut saya, kuliah kesmas yang menarik adalah semua hal yang berhubungan dengan kesehatan masyarakat itu sendiri, mulai dari tentang preventif, promotif sampai ke rehabilitatif. Itu semua merupakan pengalaman baru dan pertama yang saya dapatkan saat berkuliah di kesmas. Pengalaman yang sangat berharga untuk saya.

Dalam kesmas, saya banyak mengambil pelajaran, tentang berbagai macam penyakit menular, tidak menular, bagaimana mencegahnya, melakukan penyuluhan kesehatan supaya orang tidak sakit, bahkan dari kesmas saya belajar bagaimana menjadi seseorang yang percaya diri dan berani berdiri di depan orang banyak dan mengajak mereka untuk hidup sehat dan terhindar dari berbagai macam penyakit.

Saya sangat senang bisa mengajak orang lain untuk menjalankan kebaikan untuk diri sendiri maupun untuk orang lain. Dari konsentrasi kesmas ini saya bisa menyimpulkan bahwa kesmas itu adalah ilmu dan seni, perpaduan antara ilmu dan seni inilah yang membuatnya menarik.

Penyuluhan Gigi STIkes Umitra Lampung

Pernah bahkan sering ditanya-tanya bisa nyuntik atau ngobatin orang apa tidak. Tetapi saya selalu menjawabnya dengan nyuntik atau ngobatin orang itu bukan bidang saya, bidang saya adalah mencegah orang agar tidak sakit, jadi saya tidak bisa nyuntik atau ngobatin orang. Yang bisa nyuntik dan ngobatin orang itu adalah dokter dan perawat.

Sedangkan saya mencegah bagaimana caranya orang agar tidak sakit, mulai dari merawat dan menjaga lingkungan sekitar sampai memberikan penyuluhan kesehatan tentang hidup sehat, serta melakukan pengawasan terhadap orang sakit yang sudah sembuh agar tidak terkena penyakit yang lain, atau agar penyakit yang dulu tidak kambuh lagi.

Di Kampus Umitra sendiri ada beberapa peminatan unggulan seperti Epidemiologi, Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3), Promosi Kesehatan, Manajemen Pelayanan Kesehatan (MPK), dan Kespro. Rencananya saya ingin mengambil peminatan epidemiologi, karena epidemiologi merupakan ilmu yang mempelajari distribusi, frekuensi penyebaran penyakit, dan juga faktor determinan yang mempengaruhi distribusi dan frekuensi penyakit di populasi. Terlebih lagi menurut saya epidemiologi adalah ilmu yang bergerak untuk melakukan penelitian-penelitian untuk mengetahui distribusi, frekuensi serta faktor resiko terjadinya suatu penyakit.

Dulu waktu saya SMA saya mengikuti ekstrakulikuler KIR (Karya Ilmiah Remaja), disitu saya sering melakukan penelitian-penelitian sederhana yang bisa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat dari bahan dan alat-alat yang sederhana. Sehingga dalam bangku perkuliahan ini saya ingin meneruskan pengalaman saya tersebut dengan terus melakukan penelitian, karena itu saya ingin mangambil peminatan epidemiologi.

Tapi sepertinya peminatan epidemiologi tidak akan dibuka karena tidak mencukupi kuota. Di Kampus Umitra ditetapkan bahwa minimal peminatan itu dibuka ketika sudah memenuhi kuota 10 orang yang ngambil peminatan tersebut, jika tidak mencapai 10 orang maka peminatan itu tidak akan dibuka. Teman-teman saya satu kelas dari sekitar 27 orang yang ada niatan mengambil peminatan epidemiologi hanya 2 orang jadi tidak mungkin dibuka peminatan epidemiologi tersebut.

Jika peminatan epidemiologi tidak dibuka, maka saya akan mengambil peminatan K3 karena peminatan tersebut masih banyak dibutuhkan dalam dunia kerja, dan juga peminatan K3 menurut saya sangat fokus kepada lingkungan kerja dan pekerja. Jadi ketika saya mengambil peminatan K3 pasti akan turun langsung dalam proyek atau pun perusahaan, untuk melihat, mengawasi, memberikan promisi kesehatan kepada pekerja agar dapat bekerja dengan baik, dapat terlindungi atau mencegah dan mengandalikan risiko kecelakaan kerja.

Terjun langsung adalah hal yang sangat menambah pengalaman karena dengan praktik langsung kerja lapangan membuat saya semakin mengerti bahwa keselamatan kerja itu sangat penting bagi pekerja K3 di sektor formal maupun informal. Mencegah kecelakaan kerja merupakan salah satu tugas yang mulia, yang tidak mudah seperti membalikan telapak tangan, tetapi merupakan tugas kemanusiaan yang membutuhkan usaha, kerja keras, keikhlasan dan juga doa.

Saya pun bisa dibilang aktif dalam berorganisasi. Saat ini saya aktif di 3 organisasi seperti BEM, LDK, dan PAMI Lampung. Organisasi yang saya geluti yang berhubungan dengan keilmuan dan profesi kesmas adalah PAMI, Pergerakan Anggota Muda IAKMI (Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia).

PAMI merupakan suatu wadah pengembangan keprofesian sejak menjadi mahasiswa ilmu kesehatan masyarakat. PAMI adalah suatu organisasi yang bergerak di bidang kesehatan dimana PAMI bergerak secara otonom dibawah naungan IAKMI. PAMI bersifat pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat dengan berpatron kepada IAKMI, sebagaimana Tridharma perguruan tinggi yang memberikan tugas penting bagi mahasiswa untuk masyarakat luas.

PAMI tersebar diseluruh wilayah di Indonesia, pusatnya ada di Jakarta. Disini saya tergabung kedalam PAMI wilayah Lampung yang terdiri dari gabungan dua perguruan tinggi di Lampung yang memiliki bidang konsentrasi kesmas yaitu Universitas Malahayati, dan Perguruan Tinggi Mitra Lampung.

Alhamdulillah, PAMI Lampung adalah organisasi yang sangat aktif. PAMI Lampung dalam beberapa tahun terakhir mengadakan MOU dengan Dinas Kesehatan Propinsi Lampung dan IAKMI Lampung. Sehingga kegiatan yang diadakan oleh Dinkes yang berhubungan dengan masyarakat luas terutama Promkes selalu bekerjasama dengan Pami Lampung.

Rakernas PAMI di Tanggerang Selatan

Sejauh ini PAMI Lampung selalu ikut berkontribusi dalam kebijakan ataupun agenda kegiatan yang dilakukan Dinkes dan IAKMI Lampung, mulai dari peringatan hari-hari kesehatan sampai GERMAS. Pami Lampung cukup berkembang sampai saat ini, kegiatan yang diadakan pun lumayan banyak, seperti penyuluhan kesehatan ke Sekolah Dasar, penyuluhan kesehatan di masyarakat luas, dan selalu bekerjasama dengan komunitas dan organisasi lain untuk melakukan kegiatan yang bermanfaat lainnya, seperti PMI.

Kegiatan PAMI Lampung yang sudah dijalani cukup banyak seperti peringatan HKN, Hari HIV/Aids sedunia, dan masih banyak lagi yang lainnya. PAMI Nasional yang setiap tahunnya mengadakan Rakernas, dan Konas, yang dihadiri oleh PAMI di seluruh Indonesia, ada PAMI Bali, Banten, NTT, dan masih banyak yang lainnya tersebar diseluruh penjuru Indonesia.

Dan saat ini, saya pun bergabung dengan Kesmas-ID Lampung. Saya mengetahui Kesmas-ID dari Kak Sigit, dia adalah kakak tingkat saya di Kampus Umitra. Harapan saya setelah menjadi bagian dari Tim Kesmas-ID, saya bisa meneladani semua anggota Kesmas-ID yang telah memiliki banyak pengalaman tentang kesmas dan telah berkecimpung di dunia kesmas.

Saya ingin meneladaninya karena saya ingin menambah wawasan tentang bagaimana menyikapi dan menerapkan promotif serta preventif di dalam masyarakat secara langsung. Saya ingin belajar menggali ilmu lebih dalam apa itu kesmas dan bagaimana kesmas di Indonesia. Saya berharap setelah saya bergabung di Kesmas-ID ini saya bisa mencari informasi terbaru tentang kesmas di seluruh pelosok Indonesia, saling bertukar pikiran atau sharing yang berkaitan dengan kesmas, sehingga saya bisa mendapatkan pengalaman baru dalam Komunitas Kesmas-ID serta bisa mencontoh dari daerah-daerah lain yang sudah maju terkait dengan kesmas.

Tak jauh-jauh pula disini saya juga mendapatkan informasi dari Kak Sigit bahwa saya bisa mempublikasikan tulisan saya terkait semua tentang kesmas. Dari komunitas ini pun saya berharap banyak bahwa saya disini bisa mendapatkan teman-teman baru dan jaringan untuk kedepannya nanti, mungkin bisa berbagi informasi tentang lowongan pekerjaan untuk S1 Kesmas di Indonesia.

Tak ada gading yang tak retak, terimakasih sudah berkenan membaca pengalaman saya mengenal dunia kesmas, dan senang akhirnya saya bisa menjadi bagian dari profesi Kesehatan Masyarakat ini.

Lilik Nurlida

Tenaga Kesehatan Masyarakat Sekaligus Pekerja Seni “Why Not” kan?

Cita-citaku lebih ingin sebagai pekerja seni, dan menjadi tenaga kesehatan merupakan permintaan orang tuaku. Salah jurusan? Ya, tapi kesalahan yang indah!

Nama saya Yulyana, Lahir di ibu kota Sulawesi Tengah tepatnya di Palu, 09 Mei 2000. Saya anak pertama dari dua bersaudara, buah pasangan dari Anjaz Kadri dan Lu’lu. Yuly adalah panggilan akrab saya.

Saya terlahir dikeluarga yang sangat sederhana. Ayah saya seorang Jurnalis di Media Surat Kabar swasta, sedangkan Ibu saya bekerja sebagai seorang guru di Madrasah Aliyah. Sejak kecil saya sudah diperkenalkan musik oleh ayah dan ibu saya.

Ketika berumur 6 tahun, saya memulai pendidikan di MIS Alkhairaat Boyaoge. Setelah lulus saya melanjutkan pendidikan di MTs Alkhairaat Pusat Palu tahun 2011. Selepas lulus dari MTs di tahun 2014, saya melanjutkan pendidikan di MA Alkhairaat Pusat Palu.

Ketika menginjak kelas VIII SMP, saya mewakili sekolah dalam perlombaan singing contest antar sekolah se-Kota Palu, dan berhasil menjadi juara ke 3 dalam perlombaan tersebut. Saya juga pernah mewakili sekolah di acara singing contest kategori female dalam perlombaan english camp se-Kota Palu, dan alhamdulillah berhasil meraih juara ke-2.

Juara 2 singing contest kategori female

Tentu saja ini membuat hati saya senang dan semakin bersemangat dalam mengembangkan bakat yang saya miliki. Sejak saat itu saya lebih sering diikut sertakan mengikuti ajang-ajang perlombaan menyanyi untuk mewakili sekolah.

Selain itu saya juga aktif dalam berbagai kegiatan di sekolah, saya bergabung dengan organisasi PMR dan juga pernah menjabat sebagai sekretaris Persatuan Pelajar Islam Alkhairaat.

Saat ini, saya kuliah Semester I Prodi Kesehatan Masyarakat Konsentrasi Manajemen Rumah Sakit di STIKes Surya Global Yogyakarta.

Sedikit curhat ya, saya yakin kalimat-kalimat yang sangat panjang ini akan membuat kalian malas membaca. Tapi saya ingin membagikan sedikit pengalaman saya buat teman-teman semua yang mungkin niatnya belum lurus dan dihadapi persoalan seperti yang pernah saya alami ini.

Jadi, pertama kali disuruh masuk kuliah kesehatan masyarakat, saya itu agak ragu. Ragunya kenapa? Karena takut kalau salah jurusan! Ya, karena memang pengennya saya jadi pekerja seni, bukan jadi seorang tenaga kesehatan.

Entah kenapa memang jiwa raga saya prefer ke seni musik dan tarik suara (menyesuaikan dengan bakat). Dulu itu pengen sekali lanjutkan studi di ISI Yogyakarta, ingin mengembangkan bakat dan potensi yang saya miliki disana. Tapi apalah daya orang tua tak mengizinkan dan lebih memilih saya melanjutkan studi di STIKes.

Awalnya sih nggak srek gimanaaa gitu, takut kalau nanti nilai bakalan anjlok gara-gara ngambil studi yang tidak sesuai dengan minat bakat yang kita miliki. Tapi saya terus yakinkan diri saya bahwa apapun pilihan orang tua pasti yang terbaik buat anaknya, walaupun diawal rasanya sangat sulit. Orang tua saya pun selalu yakinkan diri saya bahwa saya bisa melewati semunya.

Sebenarnya gak ada yang namanya salah jurusan. Semua itu cuma persoalan niat. Kalo niat kita emang tulus dan ikhlas buat jalani semuanya, ada saja keindahan, kenikmatan, dan kemudahan yang Allah kasih, walaupun pada awalnya tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan.

mahasiswa kesmas STIKes Surya Global Yogyakarta

Masih banyak kok cara lain dan wadah yang bisa menampung bakat dan potensi yang kita miliki, semuanya sudah tersedia di dunia ini. Tinggal bagaimana cara kita menempatkan diri dan tak henti untuk mencari tau hal-hal yang dapat membantu kita untuk mengembangkan potensi itu.

Dan sejauh ini, saya nyaman dengan jurusan yang orang tua saya pilih walaupun memang ada sedikit kesulitan, he..he..

Jadi seorang tenaga kesehatan masyarakat sekaligus pekerja seni why not kan? Toh bisa nambah lebih banyak pundi-pundi rupiah wkwkwk..

Semoga berfaedah yah kawan. Kalau kamu, apa awalnya juga salah jurusan?