Awas Lho Mom, Anak Gemuk Bukan Berarti Sehat

Menurut Riset Kesehatan Dasar Kementrian Kesehatan Republik Indonesia pada 2013, secara nasional masalah gemuk pada anak usia 5-12 tahun masih tinggi.

Menjaga kesehatan anak memang sudah menjadi kewajiban para orang tua. Tentunya orang tua patut untuk mengatur pola makan untuk kesehatan tubuh si buah hati. Tubuh anak yang subur dan montok dinilai lucu bagi sebagian orang tua.

Penilaian seperti ini kemudian membuat orang tua membiarkan anaknya tumbuh berkembang hingga hampir melupakan berat badan ideal pada anak di usianya. Pembiaran seperti ini justru membahayakan tubuh si anak di masa perkembangannya.

Banyak orang tua yang salah kaprah bahwa anak bertubuh gemuk itu sehat. Tak heran jika orang tua memberikan konsumsi yang berlebihan demi membangun respon sehat dari orang lain mengenai anaknya.

Anggapan yang terlanjur menjamur dikehidupan masyarakat seperti ini jelas tidak benar adanya. Orang yang gemuk belum tentu sehat sepenuhnya, justru bisa menandakan kondisi yang sebaliknya. Orang yang gemuk bisa saja menyimpan penyakit yang harus diwaspadai sejakdini, terlebih sedari masa anak-anak.

Kondisi kegemukan seseorang yang melebihi batas normal biasa disebut dengan obesitas. Tidak hanya berlaku bagi orang dewasa, obesitas pun bisa menimpaanak-anak dan remaja. Usia 5-15 tahun merupakan usia rentan pada anak menderita obesitas. Kecenderungan anak berbadan gemuk sejak kecil dapat berlanjut hingga anak tersebut dewasa. Inilah mengapa obesitas pada anak menjadi momok menakutkan yang siap menghantui para orang tua.

Dilansir dari tempo.co, terdapat sebanyak 15 provinsi di Indonesia yang memiliki prevalensi sangat gemuk di atas nasional, yakni Kalimantan Tengah, JawaTimur, Banten, Kalimantan Timur, Bali, Kalimantan Barat, Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Jambi, Papua, Bengkulu, Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, dan DKI Jakarta.

Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementrian Kesehatan Republik Indonesia pada 2013, secara nasional masalah gemuk pada anak usia 5-12 tahun masih tinggi, yakni 18,8% yang terdiri atas gemuk 10,8% dan sangat gemuk atau obesitas 8,8%. Sedangkan prevalensi gemuk pada remaja usia 13-15 tahun sebesar 10,8% terdiri atas 8,3% gemuk dan 2,5% sangat gemuk atau obesitas. Prevalensi kegemukan pada anak terendah berada di daerah Nusa Tenggara Timur sebesar 8,7% dan tertinggi di daerah DKI Jakarta sebesar 30,1%.

Obesitas bisa disebabkan pula oleh pola makan anak. Junk food dan makanan serba instan menjadi kegemaran anak-anak di era globalisasi seperti sekarang ini. Makanan tersebut bukan tidak boleh dikonsumsi oleh anak-anak, tetapi harus dalam batas wajar. Orang tua harus memberi jeda dalam pemberian junk food atau makanan instan, seperti sekali sebulan atau dua kali dalam satu bulannya. Kandungan karbohidrat, lemak, dan gula pada makanan juga menjadi sumber masalah penyebab obesitas pada anak-anak. Oleh sebab itu, makanan maupun minuman yang manis pun perlu dibatasi.

Era globalisasi yang penuh dengan alat-alat canggih membuat anak lebih menyukai duduk menikmati gadget miliknya, dibandingkan beraktivitas aktif di luar rumah. Kebiasaan menonton televisi dan bermain game menghapus kebiasaan anak-anak dahulu yang gemar bermain petak umpet, engklek, kelereng, dan sebagainya di usianya. Transisi kebiasaan seperti ini mengakibatkan anak-anak cenderung malas untuk bergerak. Anak yang minim melakukan mobilitas cenderung lebih mudah gemuk dari pada anak yang aktif bergerak. Hal ini dapat diantisipasi dengan ketegasan orang tua dalam mengurangi jam untuk menonton tv ataupun bermain game. Orang tua harus aktif mengajak anak-anaknya bermain dan memotivasi mereka untuk bereksplorasi dengan permainan-permainan yang mengasah kekuatan ototnya untuk bergerak aktif. Dengan begitu, proses pembakaran di tubuh anak akan berlangsung dengan baik dan tidak menimbun lemak sehingga mengurangi kerentanan terhadap obesitas.

Selain itu, banyak isu yang beredar di masyarakat mengenai obesitas. Salah satunya anggapan bahwa ‘banyak tidur bikin gemuk’ yang ternyata tidak benar. Tidur yang kurang pada anak justru menaikkan risiko obesitas karena mengganggu proses metabolisme dan menaikkan selera anak untuk makan makanan ringan. Oleh karena inilah orang tua perlu mengawasi jam tidur anak sehingga anak mendapatkan istirahat yang cukup setiap harinya.

Obesitas pada anak di usia pertumbuhan tentu berdampak buruk bagi penderitanya, dimulai dari peningkatan risiko penyakit tidak menular, gangguan hormon, hingga penurunan kemampuan belajar. “Obesitas yang terjadi pada anak di usia pertumbuhan akan menjadi faktor pemicu terjadinya beberapa penyakit tidak menular, baik itu diabetes mellitus tipe 2 ataupun penyakit kardiovaskuler yang memerlukan pengobatan seumur hidup dan akan menyedot pembiayaan kesehatan yang diskenariokan melalui Jaminan Kesehatan Nasional yang dikelola BPJS Kesehatan,”jelas dr. Anung Sugihantono, M.Kes, Dirjen Gizi dan KIA Kementrian Kesehatan RI. (28/8)

Dampak lain yang secara nyata terlihat adalah rasa minder yang dialami oleh anak-anak bertubuh gemuk ketika bermain dan berbaur dengan sebayanya. Kondisi ini akan semakin diperburuk apabila teman-teman sebayanya mulai memberikan ejekan akan postur tubuhnya. Hal ini akan berpengaruh pada kepribadiannya yang bisa berubah menjadi lebih tertutup dan memilih untuk menyendiri. Secara psikologis, jiwa si anak tentu akan sangat terganggu.

Permasalahan obesitas pada anak akan menjadi masalah dunia kesehatan di masa yang akan datang sehingga perlu dilakukan penanganan sedini mungkin. Salah satunya adalah pengadaan riset yang bersifat sporadis maupun yang bersifat mendalam berkolaborasi antar lembaga riset atau universitas. Dengan lingkup yang sudah sangat beragam, mulai dari aspek perilaku, baik pilihan makanan, pola konsumsi, aktivitas fisik, hingga penelitian yang bersifat public policy.

Anung menuturkan bahwa pemerintah telah melakukan berbagai hal, mulai dari yang bersifat kebijakan, regulasi, hingga dukungan sarana dan prasarana bagi unit pelayanan kesehatan, sekolah, institusi pemerintah lainnya. “Pendekatan program yang sifatnya terintegrasi juga telah dilakukan seperti Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi Masyarakat (Gernas PGM) yang di dalamnya berkaitan dengan penanggulangan gizi kurang dan gizil ebih,” tuturnya.

Tidak hanya dari sisi pemerintah, seluruh pihak memiliki peran dalam menekan prevalensi obesitas di Indonesia, termasuk lulusan kesehatan masyarakat. Lulusan kesehatan masyarakat harus mampu memberikan pengetahuan kepada para orang tua untuk mengontrol perkembangan anaknya. Orang tua perlu menjaga pola asupan makanan bagi anak-anaknya dalam kadar yang seimbang. Di samping itu, orang tua juga perlu mengawasi jajanan anak, khususnya yang memiliki kadar manis yang tinggi. Selain itu, lulusan kesehatan masyarakat perlu memotivasi orang tua dalam mengurangi asupan junk food yang biasa digemari anak-anak masa kini. Penerapan makan sayuran dan buah-buahan sangat penting diberikan kepada anak-anak sejak dini untuk menghapus rasa enggan anak-anak dalam mengonsumsi sayur dan buah-buahan.

Dukungan lulusan kesehatan masyarakat sangat dibutuhkan untuk mengajak para orang tua dalam menerapkan kebiasaan hidup sehat dalam jiwa anak-anaknya. Olah raga dan bermain aktif, contohnya, dapat menjadi cara yang menyenangkan bagi si anak untuk mulai menerapkan hidup sehat sedini mungkin. Selain melatih hidup sehat, gerak motorik pada anak juga akan terlatih sekaligu sbelajar bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya.

Tidak hanya berusaha, pemerintah juga menargetkan prevalensi gizi lebih pada ibu, anak remaja, bayi dan balita serta anak usia sekolah akan berkurang secara umum. “Namun fokus perhatian saat ini kepada remaja dengan usia balita dan usia 18 tahun,” tutup Anung di akhir wawancara.

Mata rantai tingginya kasus obesitas harus segera diputus dengan kepedulian dari seluruh pihak. Penekanan risiko sakit dari obesitas pun perlu dihindari oleh remaja dan orang tua sejak awal, seperti merokok dan minum minuman beralkohol agar tidak memberikan penyakit yang akan diwariskan pada anaknya kelak.

—–

Tulisan ini pernah terbit di Majalah Publica Health Vol. 26 Th V September 2014 bertajuk “Obesitas: Antara Gemas dan Cemas”

Sumber tempo.co

6 Manfaat Memberikan ASI Eksklusif Bagi si Buah Hati

Memperingati Pekan ASI Sedunia, ini 6 Manfaat Memberikan ASI Eksklusif Bagi Bayi, disadur dari Paket Informasi & Edukasi Keluarga Sehat Dinkes Indramayu.

Memperingati Pekan ASI Sedunia, kali ini saya ingin berbagi informasi mengenai ASI Eksklusif.

Berikut ini 6 manfaat memberikan ASI Eksklusif bagi bayi:

  1. Mengandung zat gizi dan berbagai zat kekebalan tubuh yang dibutuhkan bayi
  2. Melindungi bayi dari penyakit seerti diare, sakit telinga, infeksi saluran pernafasan, dan alergi
  3. mudah diserap oleh tubuh bayi, meningkatkan kecerdasan
  4. Menunjang tumbuh kembang yang optimal
  5. Mencegah terjadinya anemia, membantu menunda kehamilan
  6. Praktis, ekonomis higienis dan selalu tersedia dengan suhu yang tepat

6 Manfaat ASI Eksklusif Bagi Bayi

Materi ditulis ulang dari Paket Informasi & Edukasi Keluarga Sehat
diterbitkan oleh Bidang Promkes PL, Dinkes Kab Indramayu Th 2016.

Pentingnya Edukasi Kesehatan Reproduksi Bagi Anak Berkebutuhan Khusus

Edukasi tentang kesehatan reproduksi bagi anak remaja sangat penting. Terlebih untuk anak berkebutuhan khusus.

Edukasi tentang kesehatan reproduksi bagi anak remaja sangat penting. Terlebih untuk anak berkebutuhan khusus. Sama halnya dengan anak-anak remaja normal lainnya, sejak dini edukasi tentang kesehatan reproduksi harus diberikan. Hal ini dilakukan untuk menghindari anak dari kekerasan seksual berbasis gender bagi anak.

Selain orangtua di rumah, sekolah juga menjadi institusi yang tepat untuk menyampaikan pemahaman tentang kesehatan reproduksi pada anak berkebutuhan khusus.

Menurut Country Representative Rutgers WPF Indonesia, Lany Harijanti, sebuah organisasi pusat keahlian dalam kesehatan reproduksi dan pencegahan kekerasan berbasis gender, masih banyak guru atau pengajar yang kurang paham cara menyampaikannya dengan baik.

Beberapa di antaranya, menurut Lany juga masih sungkan membicarakan kesehatan reproduksi karena masih dianggap tabu di masyarakat. Hal ini tentunya menjadi tantangan tersendiri dalam upaya mengurangi kekerasan seksual pada anak, terlebih anak berkebutuhan khusus.

“Biasanya karena yang ditanya malu menjawab gurunya masih belum siap berdiskusi. Biasanya gurunya enggak siap karena banyak berpikir (kesehatan reproduksi) tidak sepantasnya ditanya atau dibicarakan,” ujar Lany kepada VIVA.co.id, di kawasan Kota Tua, Jakarta, Jumat 28 Juli 2017.

Di samping itu, Lany juga mengatakan, bahwa hingga saat ini belum ada materi pendidikan kesehatan reproduksi di Indonesia yang sesuai dengan kebutuhan anak remaja tuna grahita atau keterbelakangan mental.

Menurut Lany, hal yang seringkali ditanyakan terkait dengan kesehatan reproduksi seksual oleh anak berkebutuhan khusus pada dasarnya tak berbeda dengan anak remaja seusianya. Yakni seputar menstruasi, hubungan relasi percintaan, mimpi basah dan lain sebagainya.

“Kami ingin memastikan semua remaja harus mendapat akses yang sama terhadap pendidikan dan layanan kesehatan reproduksi tanpa memandang latar belakang.”

Sumber  viva.co.id

Kenapa Pendidikan Kesehatan Reproduksi Penting Diajarkan di Sekolah, Ini Alasannya!

Ini alasan kenapa pendidikan kesehatan reproduksi penting sebagai salah satu pelajaran atau dorongannya adalah menjadi salah satu muatan lokal di sekolah.

PKBI melihat permasalahan yang terjadi pada remaja adalah karena kurangnya akses informasi yang benar dan dapat dipercaya. PKBI melihat pentingnya dorongan untuk menggagas pendidikan kesehatan reproduksi menjadi bagian dari kurikulum. Berikut alasan kenapa pendidikan kesehatan reproduksi penting sebagai salah satu pelajaran atau dorongannya adalah menjadi salah satu muatan lokal di sekolah.

1. Terdapat anggapan reduktif di kalangan masyarakat luas bahwa seksualitas hanya berkait dengan aspek fisik dan hubungan seksual. Anggapan ini pada gilirannya mempersempit ruang kesehatan reproduksi remaja dan memposisikannya sebagai social taboo. Kondisi ini kemudian berimbas pada aspek pengetahuan yang rendah pada remaja ketika mereka memasuki masa puber (Mulat Miyarsih, 2002).

2. Perilaku seksual remaja khususnya sudah mencapai tahap yang cukup memprihatinkan. Hal ini bisa dilihat dalam beberapa penelitian tentang hal tersebut di Yogyakarta.

3. Reiss dan Halstead (2004) mengatakan bahwa dalam pemberian pendidikan kesehatan reproduksi, sekolah memiliki peran yang sangat signifikan, antara lain:

  • Sekolah merefleksikan nilai yang berlaku dan diinginkan oleh masyarakat. Sekolah bisa memberikan ide dan gagasan tentang apa yang harus dipikirkan anak mengenai seks yang akhirnya digunakan sendiri oleh anak untuk membangun nilai seksualnya. Pengaruh sekolah mampu menyeimbangkan opini-opini ekstrem tentang seks yang diperoleh anak melalui sumber lain.
  • Kedua, sekolah memenuhi kesenjangan antara pengetahuan siswa dan pemahaman mereka, termasuk pengetahuan tentang pentingnya nilai. Hal ini penting karena pendidikan kesehatan reproduksi yang diterapkan tidak mungkin bebas dari nilai. Dalam fungsi inilah, informasi mengenai seksualitas dan kesehatan reproduksi diberikan kepada siswa.
  • Ketiga, sekolah mendorong anak-anak memilih sikap yang rasional terhadap berbagai pengaruh dan pengalaman yang mereka dapat dari luar. Anak-anak membutuhkan bantuan untuk peka terhadap perbedaan nilai-nilai seksual yang mereka ambil dari berbagai sumber secara bertahap melalui refleksi kritis, sehingga mereka akan mulai membentuk, merekonstruksi dan mengembangkan nilai mereka sendiri.

4. Kebutuhan masuknya pendidikan kesehatan reproduksi ke dalam sistem pendidikan formal (sekolah) juga didasarkan pada sebuah asumsi bahwa sistem pendidikan nasional pada jalur formal (sekolah), terlepas dari kelemahan yang ada di dalamnya, merupakan sebuah ruang integral yang memiliki sebuah capaian-capaian yang terukur, sistematis dan terjadwal lewat sebuah struktur kurikulum yang jelas, serta pada tahap tertentu menjadi tanggung jawab pemerintah untuk menjamin pemenuhan hak reproduksi dan seksual remaja.

5. Secara paradigmatik, pendidikan kespro masuk mulok bisa diartikan sebagai sebuah dorongan wacana bahwa sekolah bukan hanya berfungi sebagai tempat untuk mencetak peserta didik yang siap ‘kerja’ dan sukses dalam ‘karir’, akan tetapi juga sekolah secara bersamaan juga berfungsi untuk membentuk pribadi yang sehat secara reproduktif dan seksual. Untuk jenis kesehatan yang terakhir ini seringkali terlupakan oleh pihak sekolah dan pihak pemegang kebijakan pendidikan.

6. Intervensi pada remaja yang dilakukan di luar jalur formal secara paradigmatik sebenarnya sedang berposisi hanya sebagai penangkal implikasi negatif dari sekian pergaulan remaja yang tercipta dari pendididkan jalur formal (sekolah). Intervensi itu tidak melihat secara struktural bahwa tugas menjamin hak reproduksi dan seksual remaja adalah bagian integral yang harus dilakukan sekolah yang diatur lewat sistem pendidikan nasional.

7. Hambatan yang dihadapi, 1) Asumsi kepadatan jam, 2) Keterbatasan SDM pengajar, 3) Pendanaan, 4) Materi dan Metode, dan 5) Kebijakan pendidikan pemerintah.

Dalam rangka pemenuhan hak-hak remaja maka digagas adanya pendidikan kesehatan reproduksi remaja yang komprehensif masuk muatan lokal, PKBI DIY bersama dengan guru dan siswa menyusun modul KESPRO untuk SMP dan SMA kelas 7 dan 8 disertai dengan buku Lembar Kerja Siswa (LKS).

Sumber pkbi-diy.info

Lakuin 10 Cara Berikut Ini, Biar Bayi Lahir Sehat, Ibu Selamat

Lakuin 10 Cara Berikut Ini, Biar Bayi Lahir Sehat, Ibu Selamat: mulai dari rutin pemeriksaan kehamilan hingga merencankana persalinan di fasilitas kesehatan

Lakuin 10 Cara Berikut Ini, Biar Bayi Lahir Sehat, Ibu Selamat:

1. Pemeriksaan paling sedikit 4 x selama masa kehamilan

  • 1 kali pada usia kandungan sebelum 3 bulan.
  • 1 kali pada usia kandungan 4-6 bulan.
  • 2 kali pada usia kandungan 7-9 bulan

Hal ini agar mengetahui kesehatan bayi dalam kandungan.

2. Selalu membawa dan membaca buku KIA.

Karena dalam buku KIA banyak terdapat informasi mengenai kesehatan Ibu dan Anak.

3. Istirahat cukup dan melakukan aktivitas fisik yang dianjurkan seperti halnya senam hamil.

4. Minum vitamin/ tablet tambah darah yang bisa di dapatkan di Puskesmas secara gratis.

5. Makan makanan bergizi seimbang seperti buah buahan, sayur sayuran dan susu untuk ibu hamil.

6. Merencankana persalinan di fasilitas kesehatan misalnya Puskesmas dan Klinik bersalin.

7. Menjaga kebersihan diri

8. Mengikuti kelas ibu hamil yang biasa di laksanakan di puskesmas pertiga bulan sekali.

9. Kenali tanda tanda bahaya kehamilan persalinan dan nifas seperti:

  • Muntah terus dan tidak mau makan.
  • Demam tinggi, bengkak kaki tangan dan wajah, atau sakit kepala disertai kejang.
  • Janin di rasakan kurang bergerak dibandingkan sebelumnya
  • Pendarahan pada hamil muda dan hamil tua.
  • Air ketuban keluar sebelum waktunya.
  • Pendarahan lewat jalan lahir.
  • Tali pusar atau tangan bayi keluar dari jalan lahir
  • Ibu mengalami kejang.
  • Ibu tidak kuat mengejan.
  • Air ketuban keruh dan bau .
  • Ibu gelisah dan mengalami kesakitan yang hebat.
  • Pendarahan lewat jalan lahir
  • Keluar cairan berbau dari jalan lahir
  • Bengkak di wajah, tangan, dan kaki, atau sakit kepala dan kejang kejang,
  • Demam lebih dari 2 hari
  • Payudara bengkak merah disertai rasa sakit.
  • Ibu terlihat sedih murung dan menangis tanpa sebab (depresi).

Jika muncul salah satu tanda di atas segera hubungi bidan atau dokter dan rujuk ibu ke rumah sakit.

10. Rencanakan Keluarga Berencana yang akan di gunakan setelah persalinan.

Karena memiliki banyak manfaat diantaranya:

  • Mencegah kehamilan yang tidak diinginkan
  • Meningkatkan kesehatan ibu
  • Mengatur jarak kehamilan
  • Meningkatkan kesehatan anak
  • Meningkatkan kecukupan ASI
  • Meningkatkan kesejahteraan keluarga
  • Meningkatkan kebahagiaaan keluarga.
  • Mendukung penurunan Angka Kematian Bayi

Sumber: Bidang Promosi Kesehatan dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten Indramayu Tahun 2016.

TB Bisa Disembuhkan, Lakukan Hal Ini Jika Anda Ingin Sebuh Total!

Jika anda, atau keluarga anda dinyatakan TB Positif, maka pasien harus minum obat secara teratur selama 6-8 bulan tanpa putus.

Jika anda, atau keluarga anda dinyatakan TB Positif, maka pasien harus minum obat secara teratur selama 6-8 bulan tanpa putus.

Anda tidak perlu khawatir, karena obat TB diberikan secara GRATIS, dan dapat diperoleh di Puskesmas atau RS.

Agar benar-benar sembuh, pasien akan didampingi oleh Pengawas Menelan Obat (PMO) selama proses pengobatan.

Selama proses pengobatan diperlukan pemeriksaan dahak pada:

  • Akhir Tahap Awal (Intensif) pengobatan sesudah 2-3 bulan
  • 1 Bulan sebelum masa pengobatan berakhir
  • Akhir pengobatan

Apa yang terjadi jika berhenti minum obat TB sebelum waktunya?

Yang terjadi yaitu :

  • Penyakit TB tidak sembuh dan dapat terus menerus menular ke orang lain
  • Kuman TB dalam tubuh menjadi kebal terhadap obat sehingga pengobatan berikutnya akan lebih lama dan lebih mahal karena jenis obatnya berbeda
  • Kuman TB yang kebal obat dapat juga ditularkan kepada orang lain dengan status kebat obat, dan hal ini lebih berbahaya

Bagaimana Cara Mencegah Penularan TB?

  • Penderita TB harus menutup mulutnya sewaktu batuk dan bersin
  • Tidak meludah sembarang tempat
  • Rumah tinggal harus mempunyai ventilasi yang baik agar sinar matahari dan udara cukup kedalam rumah
  • Menjemur alas tidur agar tidak lembab
  • Menemukan dan mengobati pasien TB sampai sembuh akan mencegah penularan pada orang lain
    —–

Ingat, TB Bisa Disembuhkan

Materi ditulis ulang dari Paket Informasi & Edukasi Keluarga Sehat
diterbitkan oleh Bidang Promkes PL, Dinkes Kab Indramayu Th 2016.

Ingin Keluarga Anda Sehat? 7 Tips Ini Bisa Bantu Anda Berhenti Merokok!

Beberapa orang pada akhirnya memutuskan untuk berhenti merokok, diantaranya karena ingin diri & keluarganya hidup lebih sehat  dan berkualitas.

Ada banyak alasan mengapa seseorang akhirnya kecanduan rokok. Seiring berjalannya waktu, apakah beberapa orang pada akhirnya memutuskan untuk berhenti merokok, diantaranya karena ingin diri & keluarganya hidup lebih sehat  dan berkualitas.

7 Tips Ini Bisa Bantu Anda Berhenti Merokok:

1. Motivasi

Bulatkan tekad dan tujuan anda berhenti merokok. Misalnya; niatkan bahwa anda ingin melindungi keluarga (perokok pasif) dari risiko terkena kanker paru-paru dan lain-lain.

Anda ingin menentukan alasan tersebut sebagai motivasi. Mulailah untuk menentukan alasan yang lebih spesifik dan kuat.

2. Berhenti Merokok Seketika (TOTAL) atau Melakukan Pengurangan Jumlah Rokok

Kurangi frekuensi merokok dan jumlah rokok secara bertahap, sehingga pikiran dan tubuh akan mulai terbiasa terhindar dari kecanduan nikotin sedikit demi sedikit.

3. Kenali Waktu dan Situasi Dimana Anda Paling Sering Merokok

Bagi para perokok ada waktu dimana kebiasaan merokok paling sering dilakukan, misalnya saat menunggu, sesudah makan, nongkrong bareng teman, dan lain-lain

Coba alihkan kebiasaan merokok di tempat tersebut dengan aktivitas lain, misalnya mengunyah permen sebagai pengganti.

4. Tahan keinginan Anda Dengan Menunda

Caranya cukup udah, setiap kali anda merasakan dorongan kuat untuk merokok, tundalah hal tersebut selama 5 menit sebelum anda menyalakan rokok tersebut.

Dihari berikutnya, jika muncul dorongan tersebut, tingkatkan menjadi 10 menit, tambah 5 menit penundaan setiap harinya.

Dengan cara ini tubuh anda akan menyadari bahwa dotongan untuk merokok semakin lama akan menghilang secara berlahan.

Menahan diri adalah salah satu kunci dimana anda akan dapat mengendalikan diri dari keinginan merokok.

5. Berolah raga Secara Teratur

Olahraga secara teratur seperti jogin dan jalan kaki akan membantu anda mendapatkan mood yang lebih baik.

Tubuh dan pikiran pun menjadi lebih fresh.

Dengan aktivitas olahraga akan membuat anda terhindar dari stress, sehingga anda tidak perlu merokok laagi sebagai alasan untuk menghilangkan stress.

6. Mintalah Dukungan Dari keluarga dan Kerabat

Mintalah dukungan dari keluarga anda dengan cara meminta mereka untuk selalu mengingatkan anda untuk tidak merokok.

Dukungan teman dan kerabat dekat juga akan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan anda berhenti merokok.

7. Konsultasikan Dengan Dokter

Cara yang ni patut dicoba, sebaiknya konsultasikan dengan dokter untuk membantu anda menghadapi ketergantuan pada nikotin.

Anak Demam Setelah Imunisasi? Ini Tips Mengatasinya

Kebanyakan orang tua mengkhawatirkan akan timbul bengkak, kemerahan, nyeri dan demam pada bekas suntikan sehabis imunisasi.

Ini merupakan efek ringan yang timbul setelah imunisasi. Efek ini merupakan reaksi normal dan bisa ditolerir oleh tubuh, akan hilang dalam 2-3 hari dengan obat penurun panas.

“Boleh diberikan obat penurun panas 30 menit sebelum imunisasi suntik terutama sebelum imunisasi DPT, kemudian dilanjutkan 3-4 jam jika masih panas, bekas suntikan yang nyeri dapat dikompres air dingin,” kata dr Byanicha Aurora.

Efek seperti ini sebelumnya memang sering terjadi pasca imunisasi dikarenakan vaksin pertusis dari sel utuh (DTwP).

Kini telah tersedia vaksin pertusis yang dibuat dari sebagian sel saja (DTap), dengan ini reaksi terhadap vaksin jauh lebih ringan dan jarang menimbulkan demam.

Pembuatan DtaP memerlukan teknologi canggih, maka harganya lebih mahal dari pada DTwP.

“Jika bayi sangat rewel maka tunda imunisasi hingga 1-2 minggu. Untuk anak yang sedang minum antibiotik tetap boleh diberikan imunisasi karena tidak menggangu potensi vaksin,” jelas dr Orin. Yang harus jadi pertimbangan adalah penyakit dan keadaan anak.

Misalnya pada anak sakit berat, malnutrisi, anak dengan HIV dan penggunaan kortikosteroid lama kemungkinan akan menjadi sakit setelah imunisasi dan bisa terjadi respon imun yang menyimpang.

Kecenderungan seperti ini juga bisa terjadi pada anak yang ada riwayat alergi berat terhadap telur dengan gejala kesulitan bernafas, pembengkakan mulut, hingga penurunan tekanan darah, ini merupakan indikasi kontra untuk vaksin influenza, demam kuning, dan demam Q.

“Tetapi jika anak pernah mengalami reaksi alergi berat terhadap suatu vaksin, sebaiknya dosis berikutnya tidak dilanjutkan lagi,” sebutnya.

Tidak juga dibenarkan untuk mengurangi dosis menjadi setengahnya atau dosis terbagi.

“Bagaimana dengan dosis penanggulangan dan keterlambatan penyuntikan yang masih membingungkan masyarakat? Jika jarak imunisasi anak terlambat dari jarak yang dianjurkan, jadwal imunisasi tidak perlu diulang dari awal,” kata Orin.

Aman Untuk Anak

Beberapa diantara ketakutan masyarakat melakukan imunisasi yakni kandungan alumunium dan thimerosal dalam vaksin yang dikhawatirkan merusak ginjal dan menyebabkan autis.

Menurut dokter Byanicha Aurora kandungan alumunium diperlukan sebagai adjuvant agar vaksin kerjanya lebih kuat sehingga bisa merangsang sistem imun tubuh dengan sempurna.

“Tanpa alumunium dosis imunisasi dibutuhkan berkali-kali lipat lebih banyak, kalau sekarang cukup 0,5 cc saja,” kata dr. Byanicha Aurora.

Walau demikian, dosis garam alumunium dalam vaksin dinyatakan aman dan sangat sedikit, setara dengan yang ditemukan pada 975 ml susu formula.

Menyangkut isu adanya merkuri dalam vaksin, sebenarnya ini hanya pemahaman yang salah. Merkuri yang dimaksud masyarakat adalah Thimerosal.

Thimerosal ini merupakan metabolisme etil merkuri bukan metil merkuri yang bersifat merusak ginjal dan saraf serta dapat menyebabkan gangguan perkembangan.

Thimerosal merupakan zat yang digunakan sebagai pengawet dan mencegah kontaminasi bakteri dan jamur pada vaksin multidosis, zat ini tidak akan terakumulasi dalam tubuh karena cepat dikeluarkan melalui urin.

Sumber http://jambi.tribunnews.com/2017/06/26/ini-tips-menangani-demam-anak-pascaimunisasi?page=2

Ini Lho Manfaat Konsumsi Daun Katuk, Gak Cuma Lancarin ASI

Manfaat konsumsi daun katuk untuk para ibu hamil, selain melancarkan ASI yaitu memperkuat tulang, yang semakin lama kandungannya akan bertambah besar.

Sebagian orang mungkin tidak menyukainya, meskipun sebenarnya mengkonsumsi daun katuk secara rutin memiliki banyak manfaat untuk kesehatan, terutama untuk ibu hamil.

Manfaat daun katuk untuk para ibu hamil, yaitu:

  1. Memperkuat tulang, yang semakin lama kandungannya akan bertambah besar.
  2. Menjaga kesehatan mata pada janin yang berada di kandungan ibu.
  3. Dapat menurunkan resiko pendarahan pada ibu hamil.
  4. Dapat melancarkan produksi ASI pada ibu paska melahirkan.

Manfaat lainnya yang dimiliki dari daun katuk, antara lain:

  1. Mengobati sembelit.
  2. Mencegah osteoporosis.
  3. Meningkatkan imunitas tubuh.
  4. Membantu daya penglihatan.
  5. Mengobati infeksi kulit.

Catatan pentingnya dari daun katuk sendiri, bahwa sebaiknya cara mengkonsumsinya direbus terlebih dahulu agar dapat menghilangkan sifat anti protozoa yang ada di dalamnya.

Dan tidak boleh di konsumsi secara berlebihan selama 2 minggu sampai 7 bulan sebanyak 150 gram daun katuk mentah, karena maksimal mengkonsumsi daun katuk per harinya ialah 50 gram per hari.

Apabila mengkonsumsi daun katuk secara berlebihan selama jangka waktu tersebut, maka dapat menyebabkan beberapa efek samping juga, yaitu :

  1. Penurunan nafsu makan.
  2. Gangguan pada pernafasan, sehingga susah untuk tidur.

Produksi Asi Terhambat? 5 Faktor Ini Bisa Jadi Penyebabnya

Air Susu Ibu (ASI) merupakan makanan utama yang dibutuhkan oleh bayi saat pertama lahir sampai usia 2 tahun. ASI merupakan emulsi lemak dalam larutan protein, laktose dan garam-garam organik yang disekresi oleh kedua belah kelenjar payudara seorang ibu.

ASI sangatlah dibutuhkan pada minggu-minggu pertama bayi dilahirkan karena banyak menggandung anti body dan sel darah putih serta kaya akan vitamin A, agar bayi terhindar dari penyakit dan alergi yang bisa saja timbul.

ASI selalu ada pada suhu yang tepat sehingga tidak menyebabkan alergi pada bayi, serta dapat mencegah kerusakan gigi. ASI juga menggandung minyak tak jenuh yang sangat penting untuk pertumbuhan dam perkembangan otak.

Namun, kenyataanya saat ini banyak bayi lahir tidak diberi ASI, karena air susu ibunya tidak dapat di produksi atau tidak dapat keluar.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi hal ini terjadi, diantaranya:

  1. Suka merokok
    Merokok dapat mengurangi volume ASI karena dapat menggangu kerja dari hormon prolaktin dan oksitosin yang berfungsi dalam memproduksi ASI.
  1. Konsumsi alkohol
    Mengkonsumsi alkohol dapat mempengaruhi volume ASI yang keluar, mengkonsumsi alkohol dalam julah dosis yang rendah pun tetap berpengaruh dalam volume ASI yang keluar walaupun di satu sisi dapat membuat ibu merasa lebih rileks sehingga membantu pengeluaran ASI namun disisi lain etanol dapat menghambat produksi ASI dari seorang ibu yang menyusui.
  1. Pil Kontrasepsi
    Penggunaan pil kontrasepsi kombinasi dan estrogen dan progesteron yang sangat berkaitan dengan penurunan volume dan durasi ASI. Namun apabila pil kontrasepsi tidak mengandung progestin maka tidak berpengaruh dalam volume asi yang keluar.
  1. Stres dan Penyakit Kronik
    Keadaan seorang ibu juga dapat berpengaruh terhadap ASI yang di produksi oleh seorang ibu. Seorang ibu yang ada dalam keadaan cemas atau stres dapat mengganggu laktasi sehingga dapat mempengaruhi produksi ASI. Penyakit kronis seperti tumor payudara akan sangat berpengaruh pada produksi ASI yang dikelurkan karena mengganggu produksi laktasi.
  1. Umur Kehamilan saat Melahirkan
    Umur kehamilan dan berat lahir mempengaruhi produksi ASI yang dapat keluar. Hal ini disebabkan bayi yang lahir prematur (umur kelahiran kurang dari 34 minggu) sangat lemah dan tidak dapat menghisap asi dengan normal atau efektif sehingga mempengaruhi produksi ASI lebih rendah dari pada bayi yang tidak lahir prematuratau bayi yang lahir secara normal.