Dinkes Klaten Datangkan Komisi Ahli Untuk Tanggulangi Leptospirosis

Dinkes Klaten Datangkan Komisi Ahli Untuk Tanggulangi Leptospirosis
Dinkes Klaten datangkan komisi ahli dari provinsi untuk menanggulangi serangan leptospirosis. Hal itu dilakukan mengingat kasus yang terus melonjak.

Dinas Kesehatan mendatangkan komisi ahli dari provinsi untuk menanggulangi serangan penyakit kencing tikus (leptospirosis). Hal itu dilakukan mengingat kasus leptospirosis terus melonjak.

Menurut Plt Kepala Dinas Kesehatan, dokter Cahyono Widodo, Dinas sudah melakukan beberapa langkah sebagai tindak lanjut penanganan kasus leptospirosis tahun 2017. ”Kami datangkan komisi ahli untuk mendampingi,” jelasnya, Jumat (7/7). Komisi ahli itu menurut Cahyono akan diminta mengawal penatalaksanaan penanganan leptospirosis.

BACA JUGA:  Dinkes Klaten Gelar Imunisasi Serentak pada Agustus-September 2017

Langkah itu diambil setelah Dinas menggelar rapat di tingkat Pemkab awal pekan lalu. Langkah lain yang diambil, adalah meminta semua puskesmas yang ada di tiap kecamatan untuk meningkatkan kewaspadaan dan daya deteksi. Begitu menemukan warga dengan gejala dan risiko leptospirosis, diminta segera melapor dan kalau perlu berkoordinasi dengan rumah sakit.

Alat tes cepat sudah disebar ke semua puskesmas. Meskipun angka penderita teptospirosis tahun ini meningkat, tetapi status daerah belum kejadian luar biasa (KLB). Dinas masih optimistis menangani kasus-kasus itu. Apalagi langkah penanggulangan tidak saja dilakukan akhirakhir ini, tetapi sudah dilakukan sejak awal temuan.

Banyak Faktor

Kegiatan penyelidikan epidemologi, kata Cahyono, biasanya langsung dilakukan saat ada laporan kasus. Kasus leptospirosis di Klaten lebih tinggi dibandingkan kabupaten lain disebabkan banyak faktor. Salah satu faktor adalah karena wilayah Klaten merupakan lahan pertanian dan perkebunan sejak lama.

BACA JUGA:  Cegah Leptospirosis dengan Cara Ini

Risiko keberadaan tikus pembawa bakteri leptospira lebih besar dibanding wilayah lain. Kepala Bidang Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Dinas Kesehatan, Heri Martanto mengatakan, leptospirosis merupakan penyakit wilayah agraris. Sebab penularan banyak melalui lahan pertanian. Namun demikian, semua pihak harus ikut serta menanggulangi.

Pola hidup bersih dan selalu mengenakan pelindung kaki dan tangan saat beraktivitas sangat penting untuk pencegahan. Sebelumnya diberitakan, lima orang tewas dan 38 kasus ditemukan di Klaten selama 2017. Selama 2016 hanya ada 36 kasus (SM/ 6/7).

Kepala Dinas Pertanian, Wahyu Prasetyo mengatakan, petugas Dinas sudah menyosialisasikan bahaya leptospirosis ke petani. Baik melalui petugas penyuluh lapangan (PPL) maupun saat pertemuan petani. Sebab penyakit itu yang paling besar menanggung risiko adalah kalangan petani.

BACA JUGA:  Tim Saber Pungli Sergap Bagi-bagi Uang Puskesmas Jatinom Klaten

Sumber suaramerdeka.com

Sharing is caring!

(Visited 132 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *