Festival Telur VS Rokok: Aksi Kritik Sosial Mendukung #RokokHarusMahal

Jakarta, 29 Juli 2018—Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional 2018, Yayasan Lentera Anak bersama ibu-ibu warga Cibesut Cipinang Besar Utara memasak 500 telur dan disajikan dalam bentuk tulisan #RokokHarusMahal pada kegiatan Festival Telur VS Rokok, yang bertemakan“Penuhi Nutrisi Anak, Lindungi dari Nikotin, Cegah Stunting”. Kegiatan ini sebagai bentuk kritik sosial terhadap murahnya harga rokok di Indonesia, sehingga terjangkau oleh anak-anak dan menjadi pilihan belanja nomor 2 keluarga miskin setelah padi-padian.

Dibandingkan dengan negara-negara di ASEAN, Indonesia termasuk harga rokoknya lebih terjangkau (affordable) . Bahkan Peraturan Menteri Keuangan 2017 (PMK 2017) tidak membuat harga rokok menjadi mahal. Anak-anak masih dapat membeli rokok dengan harga sekitar Rp 1.000 hingga Rp 2000,- per batang. Lebih murah dibandingkan dengan harga telur per butir bahkan ketika harga telur meroket akhir-akhir ini.

Iman Zein, selaku Program Officer Yayasan Lentera Anak menambahkan, “Setiap tahun cukai rokok selalu naik, tapi tidak pernah berhasil membatasi keterjangkauan anak dan keluarga miskin terhadap rokok, mereka masih sanggup membeli rokok. Karena itulah Lentera Anak bersama warga Cibesut Cipinang Utara Jakarta Timur menyelenggarakan Festival Telur vs Rokok, untuk membangun dukungan masyarakat agar rokok harus mahal dan meningkatkan kesadaran untuk mengutamakan pemenuhan nutrisi anak daripada membeli rokok”.

Data Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) yang menyatakan bahwa di perkotaan dan di pedesaan, pengeluaran masyarakat untuk membeli rokok adalah 3,2 lebih besar daripada untuk telur dan susu. Artinya keluarga miskin lebih mengutamakan rokok ketimbang makanan bergizi. Tati Nurhayati,salah seorang warga Cibesut menyampaikan kekhawatirannya tentang belanja rokok. Ia mengatakan, “Saya prihatin lihat bapak-bapak yang kalau belanja rokok bisa habis Rp 20.000 sampai Rp 30.000 sehari, mending uangnya untuk beli telur, bisa dapat sekiloan tuh”.

Belanja rokok yang lebih banyak daripada untuk telur dan susu, akan berdampak kepada tidak terpenuhinya nutrisi anak dan berujung kepada fenomena anak stunting. Menurut Penelitian Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS-UI), anak-anak yang tinggal dengan orang tua yang merokok cenderung memiliki probabilitas anak-anak pendek atau kerdil.

Festival ini dihadiri lebih dari 500 pengunjung, baik anak-anak, remaja, orang tua yang mendapat informasi tentang manfaat telur dan bahaya rokok melalui kegiatan Wisata Telur Versus Rokok, juga tersedia terapi berhenti rokok, cek kesehatan gratis, pojok carnaval, permainan tradisional, instalasi seni dan live music. Sementara itu, ibu – ibu warga Cibesut antusias memeriahkan festival ini dengan memasak 500 telur untuk disantap bersama oleh masyarakat dan diakhiri dengan membaca deklarasi dukungan masyarakat agar rokok harus mahal.

Sharing is caring!

(Visited 41 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *