Gabung di Nusantara Sehat, Bukanlah Satu Pekerjaan, Tapi Ini Pengabdian!

inilah yang bisa kami bagi cerita tentang perjuangan 5 orang pemuda di Tepi Samudra. Nusantara Sehat, bukanlah satu pekerjaan, tapi ini pengabdian!

Awalnya  saya gak nyangka bisa gabung di Nusantara Sehat.

Saya menjadi seorang SKM ini seperti orang yang mengalami kecelakaan yang beruntung.

Kenapa beruntung? Iyalah, dulu sempat diterima di kedokteran di salah satu perguruan tinggi negeri di Jakarta. Tapi karena kondisi, akhirnya saya tidak lanjutkan, dan memilih untuk kuliah di FKM UAD Yogyakarta. Di UAD, saya lulus peminatan Manajemen RS.

alumni FKm UAD Yogyakarta

Setelah lulus, saya coba daftar Pencerah Nusantara, tapi gak lolos, sampai akhirnya saya coba daftar di Nusantara Sehat dan dinyatakan Lolos tergabung di Nusantara Sehat Batch 4.

Sekitar bulan September 2016, saya mulai menjalani pendidikan di Pusdikkes TNI AD bersama 273 anggota lainnya. Selama 40 hari kami ditempa, kami mendapatkan materi seputar kesehatan, mental, fisik, juga terjun ke lapangan, praktek di Puskesmas. Kami juga sempat pemusatan latihan fisik di BPPK Ciloto selama 3 hari.

Pendidikan Nusantara Sehat

Sampai pada hari pengumuman, akhirnya saya dan tim tahu, bahwa kami akan ditugaskan ke Puskesmas Labuhan Hiu, Kec. Pulau-pulau Batu Timur, Kab. Nias Selatan Sumatera Utara.

Perjalanan ke lokasi saya dan tim, berangkat dari Bandara Soekarno hatta, terbang menuju Bandara Kuala Namu Medan. Dilanjutan penerbangan ke Gunung Sitoli Nias. Kemudian kami masih harus lanjut perjalanan darat 4-5 jam menuju Kab. Teluk Dalam. Kemudian, kami harus nyebrang laut dengan jarak tempuh 6-7 jam perjalan laut ke Pulau Tello menggunakan Kapal Roro. Kemudian masih harus lanjut perjalanan laut 6-7 jam menuju Kecamatan Pulau-Pulau Batu Timur menggunakan Kapal Nelayan.

peta kabupaten nias selatan

Perjuangan belum berakhir. Sesampainya di lokasi Puskesmas, saya dan rekan tim, saling pandang, ketika melihat kondisi Puskesmas yang memprihatinkan. Kawan Apoteker saya sempat “kerdip mata”, seolah dia berkata “Sudah lah Bang, kita hadapi aja”.

Merapikan Stok Obat

Satu waktu kami juga lakukan kegiatan kunjungan desa. Sampai di satu Desa Labuhan Rima, kami bertemu dengan keluarga Bapak Yusrin, dimana istri beliau dalam keadaan sakit. Sempat dibawa berobat ke klinik di Kecamatan Pulau Tello, kemudian berangkatlah mereka ke Gunung Sitoli. Sesampainya di Gunung Sitoli, Dokter yang memeriksa istri beliau bilang, “Penyakit ini Hepatitis. Percuma saya obati. Karena gak juga akan sembuh. Hatinya sudah rusak. Berdo’a sajalah”.

Satu pengalaman menarik juga pernah saya alami bersama tim. Waktu itu kami melakukan kunjungan ke Desa Lagan. Disana ada satu keluarga yang tinggal terpencil, jauh dari pusat desa. Lokasinya ada diatas bukit, dimana hanya ada jalan setapak, bahkan beberapa lokasi tampak seperti hutan tanpa jalan.

Perjalanan menuju Desa Lagan

Disana tinggal satu keluarga Bapak Yatieli Nazara, dimana istri beliau sudah meninggal, dan kini ia tinggal dengan 7 orang anak. Pada saat kami lakukan pemeriksaan kesehatan, kami cek tensi beliau sampai 180 bahkan pernah sampai 240 mmHg.

Ada banyak pengalaman yang rasanya tak habis-habis untuk diceritakan. Tapi setidaknya inilah yang bisa kami bagi cerita tentang perjuangan 5 orang pemuda Nusantara Sehat di Tepi Samudra.

Bergabung di Nusantara Sehat, bukanlah satu pekerjaan, tapi ini pengabdian!

Kab. Nias Selatan Sumatera Utara

Yuk Share Postingan Ini:
Al Firqan Anshari, SKM., MPH.
Al Firqan Anshari, SKM., MPH.

Co-Founder & Editor KESMAS.ID |
Nusantara Sehat Individual Based, Batch VII |
Nusantara Sehat Team Based, Batch IV |

Articles: 7

3 Comments

  1. Saya selalu mengagumi kisah-kisah perjuangan seperti ini. Semoga tetap terjaga jiwa pengabdian dan keikhlasannya. Bahkan ketika medan juang sudah sangat berbeda dan waktu yang berputar tetap menyajikan ujian dalam bentuk yang berbeda.

    Tabik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *