Herd Immunity pada COVID-19, Ekspektasi vs Realita
Terlepas dari apapun sebutannya, “new normal” “new era” etc., perjuangan kita dalam menghadapi COVID-19 ini akan mengantarkan kita pada suatu dunia baru yang lebih sehat- sehat mengantar pada sejahtera dan bahagia-semoga.

Seperti kita ketahui, kasus COVID-19 meningkat cepat secara dalam skala global termasuk Indonesia. Di sisi lain perlu diketahui dibalik tingginya angka kasus di Indonesia, sebetulnya hanya sebagian kecil gunung es yang muncul di permukaan sedangkan permasalahan di bawah permukaannya jauh lebih banyak. Hal tersebut diperkuat dengan fakta bahwa masih rendahnya detection rate, kesiapan Yankes, dsb.

Untuk itu, dalam melakukan manajemen pandemic COVID-19: PDR (protect, detect, respond), TTTTI (test, trace, treat, isolate) perlu fokus dan mengarusutamakan upaya pencegahan. Selain itu, di level pemerintahan utamanya, proses asesmen dan policy development harus cepat. Harus fokus dan pastikan APA (Assesment-Policy Development-Assurance) berfungsi dan dijalankan dengan benar.

PSBB sebagai pilihan yang dipilih oleh pemerintah Indonesia saat ini perlu didukung, dengan menjadikan masyarakat, yang mau dan mampu untuk hidup sehat, sebagai garda terdepannya. Hal ini dijalankan melalui strategi ‘’Perang Akar Rumput Covid-19/PARC-19’’. Kemudian Yankes mem-back up dari belakang, serta birokrasi dan dunia usaha yang turut memperkuat. Semua layer governance terlibat.

Berdasarkan data kajian, PSBB terbukti mampu menekan mobilitas penduduk yang itu berarti mereduksi kemungkinan transmisi penularan virus. Penyoalan yang perlu jadi pertimbangan saat ini adalah apakah sudah waktunya untuk ada relaksasi PSBB? Berdasarkan Kriteria yang dikeluarkan WHO, belum satu pun kondisi Indonesia yang mendekati 6 kriteria berikut:

  1. Transmisi mampu terkontrol,
  2. Kapasitas system kesehatan yang mampu TTTI tiap kasus,
  3. Risiko wabah minim dalam setting khusus semisal pada Yankes dan ruang perawatan,
  4. Preventive measures di tempat2 umum seperti sekolah, tempat kerja, dsb,
  5. Importation risk dapat ter-manage, dan
  6. Masyarakat teredukasi, terlibat, dan berdaya dalam menghadapi COVID-19 ini dan mampu untuk menjalankan ‘’norma2 baru’’.

Jika melihat hal tersebut, PSBB belum waktunya untuk direlaksasi tapi justru perlu diperkuat sembari diperluas. Dari sisi klinis, ada sedikit catatan mengenai relakasasi ini di antaranya adalah peerlunya menimbang tatanan di Yankes e.g: membuka kembali kunjungan pelayanan/pemeriksaan kasus2 non covid. Jangan sampai penyakit2 non covid lainnya menjadi neglected.

Selanjutnya, masuk ke pembahasan terkait topik utama diskusi siang tadi yakni tentang ‘’Herd Immunity’’. Sejauh ini Nampak banyak pros cons di masyarakat terkait ini, namun mari kita satukan persepsi.

Ketika seseorang terpajan virus, tubuh akan memberi respon pembentukan antibody (imunitas). Pembentukan imunitas tersebut dapat melalui 2 cara yakni: imunisasi vaksin ataupun imunisasi alami.

Imunitas individu akan dikonversi pada populasi, sehingga dapat melindungi secara tidak langsung populasi. Namun proporsi individu yang imun dalam populasi tersebut harus besar sekitar 70-75%, untuk mencapai Herd Immunity.

Ada faktor-faktor yang memengaruhi herd immunity, diantaranya adalah R0 (Basic Reproduction Number). Dengan tahu itu, kita akan tahu berapa individu di populasi yang harus imun. Sebagai katalis terpenuhinya jumlah individu yang perlu imun tersebut, itulah peran vaksinasi. Terkait vaksin COVID-19 sendiri, saat ini masih dalam proses. Tanpa harus berdiam menunggu terciptanya vaksin COVID-19, kita perlu melakukan usaha-usaha terbaik dalam memutus rantai penularannya, diantaranya dilakukan dalam bahasan berikut:

PAPDI merekomendasikan penekanan pada menaruh perhatian khusus pada populasi rentan: usia > 60 thn, populasi dengan komorbid (hipertensi, diabetes, jantung, pernapasan, ginjal, imun, asma) dan selain itu, tentu melakukan perilaku hidup bersih dan sehat.

IAKMI juga memberikan seruan ‘’4 Sehat 5 Sempurna Lawan COVID-19’’ yang isinya:

  1. Pastikan seluruh propinsi kabupaten/kota hingga desa agar keluarga mampu cegah Covid19 untuk hidup lebih sehat
  2. Sehat kan manajemen Puskesmas agar memiliki kemampuan mendampingi masyarakat untuk mampu cegah dan lawan COVID-19 bersama relawan kesehatan
  3. Sehat kan kapasitas pemerintah daerah agar mampu deteksi COVID-19 secara baik dengan lakukan PDR atau TTTI
  4. Perjelas status sehat epidemiologis untuk semua 34 propinsi dan 514 kabupaten/kota sebagai dasar pelonggaran PSBB wilayah
  5. Sempurna kan protokol hidup baru sehat produktif dilaksanakan pada setiap sektor kehidupan

Akhir kata, terlepas dari apapun sebutannya, “new normal” “new era” etc., perjuangan kita dalam menghadapi COVID-19 ini akan mengantarkan kita pada suatu dunia baru yang lebih sehat- sehat mengantar pada sejahtera dan bahagia-semoga.


Berdasarkan paparan pada Webinar Kolaborasi antara TKMKB, PAPDI, dan IAKMI dengan topik “Herd Immunity pada COVID-19:Ekspektasi v.s. Realita”, 29 Mei 2020.

Narasumber:

  1. Dr. Ede Surya Darmawan, SKM, MDM (Ketua Umum IAKMI)
  2. Dr. dr. Sally Aman Nasution, SpPD-KKV, FINASIM, FACP (Ketua Umum PAPDI)

Disintesis kembali oleh:
Public Health Ninja

Sharing is caring!

(Visited 263 times, 1 visits today)