Hindari Ekspansi PLTU Batu Bara demi Kesehatan Lingkungan
Pemerintah diminta mulai menghindari perluasan penggunaan batu bara sebagai bahan bakar pembangkit listrik, sebab mengganggu kesehatan lingkungan.
Spread the love

Sejumlah kalangan meminta pemerintah mulai menghindari perluasan penggunaan batu bara sebagai bahan bakar pembangkit listrik. Sebab, konsumsi batu bara, terutama yang berkalori rendah, dinilai sangat polutif sehingga mengganggu kesehatan lingkungan.

Pengamat lingkungan dari Universitas Wijaya Kusuma Surabaya, Abdus Sair, menyatakan sudah semestinya pemerintah berani mengambil keputusan tegas dengan mulai mengurangi perluasan penggunaan batu bara dalam proyek pembangkit listrik.

BACA JUGA:  Wali Kota Semarang Dukung Program Jamban Keluarga di Gunungpati

“Tren dunia sekarang, semua negara mulai mengarah pada penggunaan energi terbarukan, sementara Indonesia masih jauh. Jangankan untuk mengganti semua, mencapai target bauran energi terbarukan 23 persen hingga 2025 saja masih berat,” ujar dia ketika dihubungi, Kamis (9/3).

Abdus menambahkan dengan kondisi seperti itu, sudah selayaknya Indonesia mencontoh Tiongkok yang mulai meninggalkan penggunaan batu bara kalori rendah yang sangat polutif dan merusak lingkungan.

Negeri Tirai Bambu itu dituding sebagai negara paling polutif akibat konsumsi batu bara, tetapi kini mengembangkan energi terbarukan dengan membuat panel surya terbesar di dunia.

“Kesehatan masyarakat harus diutamakan daripada nilai ekonomi, apalagi kalau untuk kepentingan perusahaan swasta. Masih banyak potensi energi terbarukan di Tanah Air, seperti listrik tenaga surya, angin, atau geothermal,” papar dia.

BACA JUGA:  Penguatan Sistem Manajemen Pengelolaan Limbah Untuk Meningkatkan Kualitas Lingkungan Hidup

Sebelumnya dikabarkan, PT PLN (Persero) menghapus proyek kabel transmisi tegangan tinggi searah di bawah Laut Jawa Sumatera atau high voltage direct current (HVDC) dari Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2017–2026. PLN beralasan mega proyek tersebut tidak sesuai dengan kondisi saat ini.

Namun, pembatalan proyek itu tidak akan memengaruhi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Sumatera 8, 9, dan 10. Ketiga PLTU tersebut bisa dibangun dan listriknya bisa digunakan untuk seluruh Sumatera. Dalam revisi RUPTL, PLN akan memasukkan PLTU Mulut Tambang dalam rencana khusus.

Energi Terbarukan

Menanggapi hal itu, pengamat energi dari Energi Watch, Mamit Setiawan, meminta PLN mulai memanfaatkan potensi energi terbarukan untuk program kelistrikan pada beberapa wilayah di Sumatera, seperti Sumatera Utara, Jambi, dan Lampung.

BACA JUGA:  Seminar Nasional Kesling 2019 STIKes Mahardika Cirebon, Yuk Daftar!

BUMN listrik itu diharapkan tidak mempertahankan kondisi agar Sumatera terus bergantung pada PLTU Mulut Tambang Palembang, yang menggunakan batu bara kalori rendah, untuk Lampung sampai dengan Sumatera Utara.

“Di Sumut, misalnya, banyak potensi energi terbarukan seperti geothermal atau panas bumi. Begitu juga beberapa wilayah lain di Sumatera. Manfaatkan potensi itu, jangan paksakan semuanya pake PLTU,” tegas Mamit.

Dia juga meminta PLN untuk menyesuaikan lebih dahulu kebutuhan lisrik di wilayah itu terkait dengan rasio elektrifikasi, perizinan, kesiapan masyarakat, serta potensi setiap wilayah.

SUMBER

Sharing is caring!

(Visited 128 times, 1 visits today)