Ingin Sembuh? Ini Lho Peran Penting PMO Buat Pasien TB!

Ingin Sembuh Ini Lho Peran Penting PMO Buat Pasien TB!
Peran PMO dalam pengawasan minum obat sangat penting untuk membantu kelancaran pasien dalam menjalankan pengobatan dan minum obat secara teratur sampai sembuh.

Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis (M.tb) yang dapat menyerang berbagai organ, terutama paru-paru.

Penularan penyakit TB terjadi apabila menghirup udara yang mengandung percikan dahak (droplet nuclei) orang yang telah terinfeksi basil TB pada waktu batuk, bersin dan bicara.

Beban penyakit yang disebabkan oleh TB dapat diukur dengan CNR(Case Notification Rate), prevalensi (diidentifikasi sebagai jumlah kasus TB pada suatu titik waktu tertentu) dan mortalitas (diidentifikasi sebagai jumlah kematian akibat TB dalam jangka waktu tertentu) (1) dan penyakit TB menjadi masalah utama kesehatan global karena penyebab utama pada jutaan orang setiap tahun di seluruh dunia setelah HIV (Human Immuno Deficiency Virus)(2).

Penyakit TB merupakan penyakit yang dapat diobati (curable) sekaligus dapat dicegah (preventable). Maka salah satu program dari WHO untuk menanggulangi penyakit TB yaitu dengan strategi DOTS (Directly Observed Treatment Shortcouse) yang merupakan strategi yang telah diadopsi lebih dari 180 negara dan sebagai pendekatan yang paling tepat dan hemat biaya(3).

Hakikatnya, ketaatan pasien merupakan faktor kunci dalam keberhasilan pengobatan. Beberapa negara sejumlah besar pasiennya melakukan interupsi perawatan sebelum selesai pengobatan karena berbagai alasan, hal ini menjadikan adanya kasus XDR(Extensively Drug Resistence), MDR(Multi Drug Resistence), Total DR (TotalDrug Resisten).

Mempromosikan tentang kesehatan TB melalui pendekatan yang berpusat pada pasien dengan penyuluhan dan motivasi merupakan jauh lebih efektif daripada membelanjakan sumber daya pada hal yang belum tentu output nya(4).

Salah satu panduan dari DOTS adalah panduan OAT (Obat Anti Tuberkulosis) jangka pendek dengan pengawasan langsung. Keadaan yang menjamin keteraturan pengobatan diperlukan adanya pengiringan PMO (Pengawas Menelan Obat) untuk menjamin keteraturan dan kepatuhan pengobatan penderita dengan standar pelayanan yang mengacu pada International Standart for Tuberculosis Care (ISTC) bertujuan mengendalikan tantangan baru yang ditimbulkan penyakit TB seperti ko-infeksi TB/HIV, TB yang resisten obat baik MDR, XDR, total drug resisten (Total DR)serta pencegahan dalam terjadinya penderita mengalami putus berobat (Loss to follow-up)(5).

BACA JUGA:  Potensi Penularan TB di Indramayu Disebut Tinggi

Penderita TB perlu diawasi karena pengobatan TB cukup lama yaitu minimal 6 bulan yang kebanyakan penderita menjadi bosan, selain itu biasanya penderita TB setelah minum obat 2-3 minggu sudah merasa sehat, hal ini yang menjadikan Loss to follow-up pada penderita TB(6).

Penderita TB yang patuh berobat adalah penderita yang menyelesaikan pengobatan secara teratur dan lengkap tanpa terputus selama minimal 6 bulan sampai dengan 9 untuk TB aktif dan selama 12 bulan untuk TB laten bulan sesuai dengan dosis yang sudah ditentukan(7).

PMO adalah seseorang yang ditunjuk dan dipercaya untuk mengawasi atau memantau secara langsung terhadap penderita TB saat minum obat setiap harinya secara teratur dan tuntas dengan menggunakan panduan obat jangka pendek yang sesuai dengan dosis dan jadwal yang sudah ditetapkan oleh tenaga kesehatan(8) yang dapat diperankan keluarga, tetangga, kader atau atau tokoh masyarakat atau petugas kesehatan lainnya(9).

PMO juga berperan menemani penderita TB untuk mengambil perbekalan obat dan pemeriksaan ulang dahak  ke fasilitas layanan kesehatan sesuai jadwal yang ditentukan oleh tenaga kesehatan(6).

Demi menjamin keteraturan pengobatan diperlukan seorang PMO dengan persyaratan menurut Kemenkes RI (2015) adalah:

  • Seseorang yang dikenal, dipercaya dan disetujui, baik oleh petugas kesehatan maupun penderita, selain itu harus disegani dan dihormati oleh penderita; seseorang yang dekat dengan penderita TB;
  • bersedia membantu penderita dengan sukarela;
  • bersedia dilatih dan atau mendapat penyuluhan bersama-sama dengan penderita TB tentang: cara menelan obat setiap hari secara teratur sampai selesai pengobatan, cara pemberian OAT dan jenis OAT sesuai kategorinya, cara mengeluarkan dahak untuk periksa ulang, dan cara pengisian buku kader untuk pencatatan dan pelaporan pelaksanaan PMO dengan tujuan agar dapat membantu PMO untuk memberikan obat kepada penderita TB pada waktu yang tepat dan rutin.
BACA JUGA:  Bantu Pasien TB, SSR Aisyiyah Sragen Gandeng LazisMu & Geprek Group

Penting bagi PMO untuk melihat langsung penderita TB saat minum obat dan kemudian baru mencatatnya di kartu kontrol, dan selanjutnya PMO harus segera membawa kartu tersebut ke Fasyankes setelah pembekalan obat yang diberikan kepadanya telah habis(1).

Seseorang yang telah ditunjuk menjadi PMO harus mampu melaksanakan tugasnya yaitu:

  • memfasilitasi penderita TB untuk memenuhi jadwal pengobatan. Sebelum penderita minum OAT harus dicek dahulu jadwal minum yang telah ditentukan sesuai petunjuk tenaga kesehatan. PMO juga mendampingi dan melihat langsung pada saat penderita minum OAT. Apabila PMO atau penderita akan bepergian maka buat kesepakatan tentang minum obat. Minta bantuan untuk menggantikan PMO  sementara;
  • mencatat kartu kontrol tiap penderita selesai minum OAT;
  • tingkatkan semangat penderita TB untuk melanjutkan pengobatannya;
  • Pergi ke Fasyankes untuk mengambil perbekalan obat apabila obat akan segera habis, dengan menunjukkan kartu pengobatan penderita TB.
  • Review dan diskusi terkait perkembangan penderita dan masalah yang dihadapi dengan petugas;
  • Waspada terhadap adanya efek samping pengobatan. Bila efek samping semakin berat, rujuk penderita ke fasilitas kesehatan yang terdekat;
  • Pastikan penderita pergi ke Fasyankesketika harus melakukan pemeriksaan ulang sputum atau dahak(6).

Peran PMO dalam pengawasan minum obat sangat penting untuk membantu kelancaran pasien dalam menjalankan pengobatan dan minum obat secara teratur sampai sembuh. Maka perlu adanya peran serta dari PMO untuk sering mengingatkan dan melihat langsung penderita TB saat minum obat, sehingga bisa dipastikan terhadap keteraturan pengobatan penderita TB.

BACA JUGA:  Turunkan Dampak Beban Ganda Penyakit TB-DM, Dinkes Kota Cimahi Gelar Workshop

Dengan adanya peran yang besar dari PMO, hal ini diharapkan upaya pengendalian kasus XDR, MDR, Total DR dan pencegahan dalam terjadinya loss to follow up pada penderita TB serta dampak yang tidak diinginkan lainnya dapat tercapai, hingga pada akhirnya akan dapat meningkatkan angka kesembuhan penderita TB, sehingga dapat mencanangkan menuju dunia bebas TB tahun 2030 yang menjadi salah satu target SDGs (Sustained Development Goals).


Referensi:

  1. Kemenkes RI. (2015). Infodatin Tuberkulosis Temukan Obat Sampai Sembuh. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
  2. (2014). Treatment of tuberculosis guidelines: Fourth edition. Switzerland: WHO Press.
  3. Corbett E.L., Bandason T., Cheung Y. B., Munyati S., Godfrey-Faussett P., Hayes R., Churchyard G., Butterworth A., & Peter M. (2007). Epidemiology of Tuberculosis in a High HIV Prevalence Population Provided with Enhanced Diagnosis of Symptomatic Disease. PloS Medicine, 4 (1):164-172.
  4. (2003). Treatment Tuberculosis Guidelines for National Programmes Global. Switzerland: WHO Press.
  5. Sidy Y. N. (2012). Pengaruh Peran Pengawas Menelan Obat dari Anggota Keluarga Terhadap Kepatuhan Pengobatan Penderita Tuberkulosis di Kota Pariaman Tahun 2010-2011. Depok:Universitas Indonesia.
  6. (2010). Buku Saku Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI) The Indonesiaan Association Against Tuberculosis. Jakarta: PPTI.
  7. (2010). Treatment of tuberculosis guidelines: Fourth edition. Switzerland: WHO Press.
  8. Kemenkes RI. (2012). Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2011. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
  9. Firdaus Kholifatul Ma’arif Zainul. (2012). Pengaruh Peranan Pengawas Menelan Obat (PMO) Terhadap Keberhasilan Pengobatan TB Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Baki Sukoharjo.Naskah Publikasi. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Sharing is caring!

(Visited 335 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *