Ini Cerita Tentang SKM, Sarjana Kebanyakan Makalah

Ini Cerita Tentang SKM, Sarjana Kebanyakan Makalah
Sering kali gelar SKM itu diplesetkan menjadi Sarjana Kebanyakan Makalah. Kadang bikin kesal, tapi ambil postifnya aja, siapa tahu bikin kita lebih maju.
Deni Frayoga, S.KM

Deni Frayoga, S.KM

Team Leader Pencerah Nusantara Mamuju Utara
UPTD Kesehatan Randomayang
Trans Sulawesi Street, Bambalamotu Village, North of Mamuju District, West Sulawesi, Indonesia
Deni Frayoga, S.KM

Sering kali gelar SKM itu diplesetkan menjadi Sarjana Kebanyakan Makalah, kadang hal ini membuat kita kesal. Bagaimana tidak kesal, gelar ini adalah gelar kebanggaan kita namun selalu diplesetkan ke hal-hal lain.

BACA JUGA:  Besok Kalau Kamu Lulus, Gelar Kamu SKM, Kamu Mau Kerja Dimana?

Tapi kita coba pikir positif saja, memang di kuliah kesehatan masyarakat banyak sekali tugas-tugas membuat makalah. Sehingga inilah yang menjadi alasan mengapa gelar SKM diplesetkan menjadi sarjana kebanyakan makalah.

Dalam hal ini saya berfikir bahwa kalau gelar kita diplesetkan menjadi sarjana kebanyakan makalah, maka inilah kelebihan kita. Tugas membuat makalah yang banyak itu menjadi kelebihan kita, kalau kita kebanyakan membuat makalah itu artinya kita ahli dalam membuat makalah.

Hal ini harus kita kembangkan agar menjadi bernilai, tidak hanya sekedar memenuhi tugas perkuliahan saja. Menulis makalah artinya kita menulis dengan gaya ilmiah, kemampuan menulis ilmiah adalah salah satu kompetensi yang harus setiap mahasiswa kuasai. Kaitannya nanti dengan menulis proposal dan skripsi yang membuat mahasiswa pada umumnya merasa tertekan. Mahasiswa kesehatan masyarakat sudah sering membuat makalah berarti tidak galau dan merasa stress saat menulis proposal dan skripsi.

BACA JUGA:  Arah Masa Depan Sarjana Kesehatan Masyarakat di Era Global

Setiap saya mengisi materi tentang kepenulisan bagi mahasiswa, saya selalu tekankan kepada mahasiswa agar jangan menjadikan aktivitas menulis itu sebagai sesuatu yang menakutkan. Mahasiswa selalu dipacu atau dimotivasi untuk tidak alergi terhadap menulis ilmiah dengan manfaat yang akan diperoleh. Lebih tepatnya adalah ilmiah itu seru.

Mari kita kembangkan kemampuan menulis ilmiah, kita bisa memsnfaatkan hal ini untuk mengikuti lomba-lomba ataupun conference tingkat nasional, regional bahkan internasional. Selain itu kita juga bisa menulis opini-opini mengenai kesehatan masyarakat di media sosial ataupun media masa. Bisa juga kita menulis buku, sangat keren jika kita masih mahasiswa tapi sudah menghasilkan banyak tulisan yang dapat dibaca oleh orang lain dan bahkan dipresentasikan di conference tingkat naisonal, regional maupun internasional.

BACA JUGA:  Dari Jumlah Ideal 57, Jember Cuma Miliki 6 Tenaga Kesehatan Masyarakat

Sharing is caring!

(Visited 637 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *