Kesmas.ID bersama Forgizinesia mengadakan diskusi online perdana membahas isu stunting, Minggu 20/10/2019. Penasaran bagaimana serunya, cek disini sekarang!

Yogyakarta, MInggu (20/10) Forgizinesia dan Kesmas.ID mengadakan diskusi online dengan tema “Jangan Ada Stunting Diantara Kita” yang dilaksanakan selama 180 menit mulai pukul 14:30-17:30 WIB.

Diskusi ini diikuti sebanyak 243 peserta dari seluruh wilayah Indonesia, baik dari kalangan mahasiswa, pengajar, maupun dari profesional. Tentu hal ini merupakan kebanggaan tersendiri bagi kami pihak penyelenggara.

Sekilas mengenai Forgizinesia (Forum Tenaga Gizi Nusantara Sehat Se-Indonesia) adalah wadah bagi para tenaga gizi yang berkecimpung dalam program gizi Nusantara Sehat untuk saling bersilaturahmi, meningkatkan pengetahuan dan kompetensi, serta untuk memberikan peluang berkarier. Forgizinesia membawa visi besar untuk dapat membangun gizi Indonesia dengan Sumber daya manusia tenaga gizi yang profesional berlandaskan Iman dan Taqwa dan Ilmu Pengetahuan Teknologi.

Diskusi online kali ini, dimula dengan adanya sambutan dari Kang Niwa selaku Founder Kesmas.ID yang menjelaskan tentang tujuan dan maksud Kesmas.ID ini dirintis.

“Kesmas.ID merupakan Media Komunitas Kesehatan Masyarakat. Hanya berita baik saja yang ingin kami sampaikan. Karena kita tahu hoax nomor satu selama ini adalah informasi kesehatan”, ujar kang Niwa selaku Founder Kesmas.id.

Kang Niwa juga berharap Kesmas.ID dapat menjadi penyeimbang informasi kesehatan yang selama iniberedar di masyarakat luas, karena selama ini dirasa kurang berpihak kepada tenaga kesehatan masyarakat. “Selama ini masih banyak orang awam yang bertanya, apa itu profesi kesmas? dan lewat Kesmas.ID inilah kami menjawab”, imbuh Kang Niwa.

Dalam diskusi kali ini, panitia menghadirkan dua narasumber luar biasa, Pertama yakni Bapak Otong Kusmana, SKM.,MPH, Pengelola Program Gizi di Dinas Kesehatan Kabupaten Tasimalaya. Beliau memaparkan tentang pelaksanaan program gizi di Kabupaten Tasikmalaya.

Beliau mengungkapkan bahwa di wilayah Tasikmalaya masih ada puskesmas yang belum mempunyai tenaga gizi berlatar pendidikan gizi serta sarana pengukuran antropometri di posyandu yang terbatas.

Dari hasil Riskesdas 2013 dan 2018 Kabupaten Tasikmalaya masih menghadapi masalah gizi terutama stunting di atas angka Nasional maupun Jawa Barat. Sehingga dilakukan beberapa program rutin yang bertujuan untuk menekan angka stunting, yang salah satunya berfokus pada penanganan balita gizi buruk dengan menyelenggarakan TFC (Therapeutik Feeding Care) di salah satu puskesmas.

Salah satu peserta dari Puskesmas Sapaya, Riza Arsyta, Amd.Gz bertanya lebih jauh tentang apa saja kegiatan TFC. “Perawatan TFC terdiri dari perawatan balita gizi buruk setelah lepas masa stabilisasi perawatan di rumah sakit, transfer pengetahuan dan keterampilan pemberian makan, rawat jalan. Dan untuk SOP penanganan gizi buruk atau stunting dimulai dari deteksi/pemantauan-penanganan-evaluasi,” jawab Otong Kusuma.

BACA JUGA:  Seminar Gizi untuk Bangsa, Kontribusi dan Keterlibatan Stakeholders dalam Penurunan Stunting

Para peserta seminar sangat antusias mengikuti diskusi online tersebut. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya pertanyaan yang masuk yaitu berjumlah 23 pertanyaan untuk materi pertama. Akan tetapi tidak semua bisa terjawab dikarenakan keterbatasan waktu.

Narasumber Kedua yaitu Ibu Debby Wulan Sari, A.Md.Gz selaku Ketua Forgizinesia, yang juga Pendamping Program Kampung Gizi Litbangkes Kemenkes RI di Lokus Stunting Tasikmalaya.

Ibu Debby berbagi ilmu tentang Program Inovasi Kampung Gizi Tasikmalaya. Beliau menyampaikan bahwa kampung gizi adalah salah satu model penelitian dari Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes) dalam penanggulangan stunting di Lokus stunting di Tasikmalaya di tiga kecamatan. Tujuan kegiatan tersebut diutamakan untuk menurunkan angka stunting di Kabupaten Tasikmalaya dengan intervensi program gizi spesifik dan non spesifik bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Tasikmalaya. Ini merupakan program pengembangan penanggulangan stunting integrasi lintas sektor karena masalah stunting berat jika hanya dibebankan dari pihak kesehatan saja.

Debby menyebutkan salah satu kegiatan untuk mensosialisasikan stunting melalui kegiatan gerak jalan dan kampanye stunting dengan anak-anak PAUD di Desa Pusparahayu. Beliau juga menambahkan bahwa kita bisa memviralkan stunting ke ibu-ibu balita, ibu hamil dan warga sekitar untuk memberikan pengetahuan tentang stunting.

Debby juga memberikan saran apabila ada pertemuan atau pelatihan stunting dari puskesmas atau dari Dinas Kesehatan sebaiknya dilibatkan perwakilan dari pihak pendidikan, PKK dan sektor lainnya, agar sumber yang diterima bisa lebih dibuat penyelesaian masalah stunting dapat langsung bersama-sama dari tingkat kecamatan atau kota.

Seperti pembahasan materi pertama antusiasme peserta diskusi sangat luar biasa, karena keterbatasan waktu sekali lagi pertanyaan tidak semua terjawab. Akan tetapi puluhan peserta mengungkapkan bahwa mereka sangat senang sekali bisa mengikuti diskusi online dengan pembicara yang luar biasa serta materi yang sangat menarik.

“Terima kasih untuk panitia yang telah mengadakan forum diskusi ini, terima kasih juga kepada narasumber yang telah berbagi ilmu, pengalaman yang sangat menginspirasi dan bermanfaat. Semoga selalu mengadakan diskusi seperti ini sehingga kami tenaga kesehatan yang berada jauh di pelosok dapat menambah ilmu yang ishaallah dapat kami terapkan di wilayah kerja kami,” ungkap Yuri.

Tanya Jawab Diskusi Stunting

Tanya Jawab Materi Pertama

  • (Q) Silvia Fakhrunnisa
    Instansi : Dinkes Ogan Komering Ilir

    Apakah program spesifik dalam penaggulangan stunting sudah berjalan di Dinkes sana? Sejauh mana program gizi spesifik berjalan? Secara kita tahu bahwa untuk program spesifik di dalam Dinas Kesehatan masih berjalan sendiri2.

    (A) Otong
    Alhamdulillah sudah berjalan Mba Silvia, betul tantangan terberat adalah menghilangkan ego program, di kami terutama di satu atap bidang Kesmas, Tiga Seksi sudah memberikan kontribusi untuk penanganan stunting, dan dari dana DAK Non Fisik Stunting dari Kemenkes pun kita alokasikan untuk tiga seksi tersebut.

    (Q) Untuk penetapan desa baru stunting apa berdasarkan data dari bidang kesmas terkhusus kesga dan gizi atau dari bidang lain atau sektor lain?

    (A) Yang pertama indikator utama tetep dari hasil pemetaan gizi, data pendamping dari program lain (UCI, Ibu resiko, BBLR dan angka kemiskinan per desa)
  • (Q) Siti Julaekhah
    Instansi : Puskesmas Tahunan Jepara

    Bapak Saya mau bertanya, yang dijelaakan tadi letak geografis daerah pegunungan, jika tempat saya berada di area pesisir pantai dan banyak ortunya yang bekerja di garmen atau merantau ke luar kota bagaimana cara inovasinya sedangkan yang terkadang datang ke posyandu untuk menimbangkan balita itu neneknya, serta kadang SDM-nya itu ada yang cuek susah diajak koordinasi atau kerjasama dalam mengatasi stunting?

    (A) Otong
    Tetep mungkin, sasaran kita adalah orang yang berada di rumah terutama sering kontak dengan anak, konseling mungkin cara yang paling tepat jika susah untuk mengumpulkan sasaran.
  • (Q) Riza Arsyta, Amd.Gz
    Instasi : Puskesmas Sapaya

    Kegiatan TFC (Therapeutik Feeding Centre) di satu puskesmas untuk perawatan khusus balita gizi buruk, di dalamnya kegiatannya itu ada apa saja?

    (A) Otong
    (a) Perawatan balita gizi buruk setelah lepas masa stabilisasi perawatan di rumah Sakit. (b) Transfer pengetahuan dan keterampilan pemberian makan. Selama perawatan ibunya yang memberikan makan. (c) Rawat jalan.

    (Q) Untuk SOP penangannan gizi buruk dan stunting awalnya bagaiamana? mohon pencerahnny, terimakasih.

    (A) Dimulai dari deteksi/pemantauan – penanaganan – evaluasi.
  • (Q) Lilis Rosdianah
    Instansi : Universitas Bhakti Kencana

    Apakah semua program rutin itu di laksanakan? Penyebab yang paling mendasar kenapa 24 kecamatan masih tinggi angka stuntingnya?

    (A) Otong
    Ya program rutin sudah dilaksanakan, dan itu kegiatan spesifik yang dilakukan Dinkes terutama dibawah Seksi Kesga Gizi, tapi belum sempurna untuk mendongkrak ke dampak program, misal kepatuhan konsumsi Fe, dan PMT masih menjadi PR besar di kami dan yang paling besar daya ungkit untuk perubahan/ perbaikan masalah gizi adalah kegiatan sensitif yang dilakukan oleh lintas sektor/ OPD lain
BACA JUGA:  Cegah Stunting, Puskesmas Embaloh Hilir Punya Duta Fe & Duta PMO Rematri

Tanya Jawab Materi Kedua

  • (Q) Riza Arsyta, Amd.Gz
    Asal Instasi : Puskesmas

    Bagaimana cara pendekatan diri dengan lintas sektor untuk membantu perihal stunting, saya sudah melakukan sosialisasi cegah stunting di tiap desa dan kelurahan di wilayah kerja dengan perjanjian tertentu namun karena kurangnya dana dari desa/ kelurahan sehingga mereka kurang action masalah stunting ini, baiknya apa yang dilakukan?

    (A) Debby
    Pendekatan dengan linsek terkait penanggulangan stunting dengan cara ada monev secara rutin, mungkin diagendekan setiap bulan ada pertemuan. Seperti kampung gizi, kami membuat group Whatapps dengan linsek setempat dan selalu memonev kegiatan melalui WA bagaimana progressnya. Untuk terkait dana, bisa dibuatkan proposal selain ke desa juga bisa ke NGO2 yang kini banyak juga membuat program stunting.
  • (Q) Ade Rossetia
    Puskesmas Kalimati

    (1) Terkait dengan dana, apakah ada dana lain selain yg diakomodir oleh Litbangkes dalam pelaksanaan program Kampung Gizi tersebut? Misalnya ada komitmen Kepala Desa untuk menganggarkan ADD (Anggaran Dana Desa) sekian persen, swadaya masyarakat, atau dana lainnya. (2) Disebutkan juga adanya survei dengan kuesioner dalam sampling kejadian stunting, mungkin bisa sekaligus dishare disini sebagai bahan referensi bagi kami menggali informasi mengenai stunting di wilayah kerja masing-masing.

    (A) Debby
    Ada, kami mendapatkan dana juga dari Bappeda setempat. Untuk dari desa karena baru tahu tentang stunting, komitmen akan menggarakan untuk dana-dana PMT dan Kolam Gizi yang sebelumnya diberikan oleh Dinas Pertanian dan perternakan setempat.
  • (Q) Agung Purnomo
    Instansi: –

    (1) Bagaimana monitoring program kampung gizi bisa dapat berjalan sehingga menekan persentasi tingginya stunting? (2) Apakah di kampung gizi tersebut melibatkan dari rekan-rekan forgisinesia? (3) Kalau iya, peran apa saja yang dilibatkan? (4) Bagaimana peran pemerintah kabupaten untuk mendukung komitmen dalam mengentaskan stunting? (5) Apakah mungkin program ini bisa diterapkan di nasional dengan masalah budaya yang berbeda?

    (A) Debby
    (1) Kami membuat agenda rutin setiap bulan untuk mengadakan monev secara langsung ke wilayah tersebut, tapi monev hanya dilakukan selama 3 bulan turun lapangan sekaligus melakukan pengambilan data kualitatif. (2) Iya, dari forgizinesia dilibatkan oleh Litbakes Kemenkes RI sebagai tenaga pendamping tambahan, perannya sebagai penanggung jawab dalam program-program dalam kegiatan tersebut. Terutama memonev kegiatan-kegiatan kampung gizi yang dilakukan pihak desa dan puskesmas setempat. Untuk tingkat kabupaten langsung dimonev oleh Pak Agus sekaligus koordinator dari kegiatan ini. (3) Sangat mendukung dan baik. Bahkan kami juga mengujungi pihak Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya untuk bekerjasama. (4) Iya bisa, hanya cara pendekatan dan kendalannya masing-masing sesuai dengan daerah setempat. Program yang kita fokuskan adalah 1000 HPK, PMT Balita dan TTD Remaja Putri.
BACA JUGA:  Pameran Kesehatan Dinas Kesehatan Enrekang, Kenalkan Germas Hingga Imunisasi MR

Download Materi

Materi Pertama,


Materi Kedua,

Sharing is caring!

(Visited 585 times, 1 visits today)