Kisah Alura: Bukan Dokter Gigi Biasa!

Pelatihan survival di gunung kencana
Drg.Irene Adyatmaka, Phd mengajarkan aku bahwa Dokter Gigi juga harus peduli sekitar, Dokter Gigi gak cuma duduk ngerjain pasien di klinik atau poli aja. Tapi bisa bertindak lebih dari itu. Pencerah Nusantara 5 Sumbawa Barat jadi ladang baktiku.

Namaku Fatmasari Purba, kawan-kawan biasa panggil aku Fatma. Lahir di Pekanbaru, 4 Juli 1991, aku tinggal di Pekanbaru, Provinsi Riau.

Ayahku Partobuan Purba, seorang Pedagang, sedangkan Mamakku (alm) Rifni Agriani, ia seorang Guru. Aku anak pertama dari 3 bersaudara.

Satu hal, pesan orang tuaku yang aku pegang teguh, “Satu-satunya harta yang Mamak berikan untuk kamu adalah kesempatan menuntut ilmu. Bahagiakanlah dirimu dan orang lain dengan harta itu,” itu pesan Mamak yang aku ingat.

Aku lulus sekolah SMAN 8 Pekanbaru. Masuk FKG Universitas Andalas tahun 2009, dan alhamdulillah lulus 2016. Dulu waktu kecil punya cita-cita “Ingin jadi Gubernur”, ha..ha.. tapi setelah lulus SMA, aku ingin sekali jadi Dokter/ Dokter Gigi. Ya, jadi seorang Dokter Gigi yang ahli dalam kesehatan masyarakat, terutama dibidang kesehatan gigi mulut masyarakat.

Kenapa kuliah jurusan itu? Karena aku ingin sekali mengenakan jas putih dokter, dan aku ingin sekali ahli di bidang kesehatan. Terutama ingin membanggakan Mamakku.

Orang tuaku sangat mendukung, walaupun orang tuaku tahu, kuliah di FKG itu pada saat Koas akan sangat mahal. Tapi orang tuaku selalu berjuang agar aku tetap bisa meraih cita-cita yang diinginkan.

BACA JUGA:  Pencerah Nusantara Muara Enim: Intervensi Kesehatan Sebaiknya Selaras dengan Keluhuran Budaya Lokal!

Mereka berharap, anaknya ini bisa jadi Dokter Gigi yang bermanfaat bagi orang banyak dan lingkungan sekitar, mampu menolong sesama dan berjiwa kepemimpinan.

Awal mula kenal Pencerah Nusantara (PN) dari senior drg. Mustika Arini, Pencerah Nusantara 4. PN ini buat aku kesempatan ke-2, sebelumnya aku pernah bekerja di JKM (Jaringan Kesehatan Kesejahteraan Masyarakat) yang bergerak di bidang Tuberculosis. Tertarik sama PN, aku mulai baca-baca artikel tentang PN, tanya ke senior yang lulus PN, cari tahu peran dan fungsi Dokter Gigi di Puskesmas dan di masyarakat.

Motivasi awal ikutan PN mulanya ingin coba-coba keluar dari zona nyaman dan ingin tahu kondisi kesehatan di Indonesia. Sempat bayangin, awalnya aku kira ikut PN ini sangat berat, karena bakal ditugasin di daerah yang cukup jauh dari rumah dan bekerja langsung terjun di masyarakat.

Dari proses seleksi PN, yang paling berdebar itu waktu proses wawancara. Karena disana aku ditanya tentang hubungan profesiku sebagai Dokter Gigi dan Gizi (Secara PN itu program utamanya Gizi dan KIA) kalau KIA aku bisa jawab, karena skripsiku waktu itu tentang “Manifestasi Oral Ibu Hamil”, tapi kalau tentang Gizi, selain Gizi mempengaruhi tumbuh kembang gigi, aku kurang bisa jawab banyak. Tapi setelah wawancara itu, aku tetap cari tahu akan hal itu.

PD itu penting kan? Yak, 80% waktu itu aku yakin betul bakal diterima PN, ha..ha..ha..Alhamdulillah, bersyukur, karena PN merupakan salah satu program yang aku ikuti, karena dapat membantu diriku ini mengembangkan diri dan kemampuan lebih baik lagi.

BACA JUGA:  Pencerah Nusantara Bercerita; Salam Sayang Untuk Nenek Deng Tete

Orang tuaku selalu mendoakan, terutama alm.Mamak aku yang sangat setuju kalau aku ikutan PN ini. Beliau sangat senang aku mau mengabdi. “Itu salah satu rasa syukur kita sama Allah karena kita udah dikasi ilmu”, kata Mamak aku.

Dari Pekanbaru penerbangan sampai di Jakarta janjian ketemuan di Bandara Soetta sama Bidan Rahma dan Bidan Nida, habis itu langsung ke Museum Listrik Taman Mini.

Waktu mau pelatihan ke Jakarta, bayangin aja, udah over baggage 15 kg, ha..ha..ha… Waktu itu aku bawa 3 tas dengan berat total 35 kg. Soalnya aku bawa segala jenis tang gigi dan peralatan gigi lainnya yang berat-berat. Waktu itu aku kira di Puskesmas tang-nya udah gak layak pakai atau alatnya udah pada jelek. Waktu itu juga di bandara sempat dikira bawa narkoba karena saya bawa alginat (alat cetak kedokteran gigi), untung waktu itu aku bawa Kartu Dokter Gigi dari KKI. Akhirnya dilolosin, soalnya waktunya juga udah mepet juga waktu itu.

Bayangin pelatihannya PN menegangkan kayak militer-militer, tapi ternyata enggak. Pelatihannya menarik, banyak ilmu baru yang bisa diaplikasikan di lapangan.

Pelatihan PN itu sangat penyenangkan. Materi yang paling aku sukai tentang kepekaan budaya dimana kita diajarkan bahwa menilai berbeda dengan menggambarkan, dan selama ini kita itu banyaknya menilai seseorang sehingga sering mental block. Sebaiknya dalam melihat sesuatu itu lebih ke menggambarkan jangan langsung menilai. Menilai itu opini sedangkan menggambarkan itu fakta.

BACA JUGA:  Ini Ceritaku Tentang Tambi (Nenek) Lusi, Pasien "Langganan" Puskesmas Tumbang Miri

Momen yang bikin aku sedih sekaligus terharu adalah disaat latihan survival, ada sedikit kecelakaan yang bikin aku gak bisa jalan. Namun teman-temenku ber-49 sangat berbaik hati, bergantian membantuaku untuk berjalan dan berpindah tempat, membantu membawakan makanan dll. Saya sangat terharu dengan kebaikan hati mereka terutama 5 orang teman kelompokku (Dewi, Citra, Tania, Prilli, Riki).

Selama pelatihan itu menyenangkan, aura positif teman-teman dan pemateri membuat aku ikut positif juga

Kalau ditanya siapa pelatih yang paling aku suka…Drg.Irene Adyatmaka, Phd jawabnya. Aku suka karena beliau mengajarkan aku bahwa Dokter Gigi juga harus peduli sekitar, Dokter Gigi gak cuma duduk ngerjain pasien di klinik atau poli aja. Tapi bisa bertindak lebih dari itu.

Selama proses pelatihan saya bersyukur mendapat pelajaran baru yang tidak didapat di kampus yang akan menjadi bekal dipenempatan. Selama dipenempatan Sumbawa Barat, ilmu yang didapat dari pelatihan benar-benar dapat aku aplikasikan hampir seluruhnya. Terutama yang paling penting pemahaman untuk tidak mental block terhadap keadaan dan orang lain, pemahaman ini akan membuat kita lebih banyak “nerimo” dan produktif dalam berkarya.

Deg-deg-an, takut ditempatin di tempat yang becek, nggak ada ojek, terus jadi lepek…wkwkwk…becanda…awalnya takut ditempatin di wilayah yang sulit tapi akhirnya disyukuri aja.

Bayangannya awalnya Puskesmasnya sulit, jauh dari kota, SDM nya sulit diapproach, dan beberapa bayangan tertinggal lainnya..tapi…BERSAMBUNG

Sharing is caring!

(Visited 147 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *