LIPUTAN: Peran SKM Dalam Manajemen Bencana

LIPUTAN Peran SKM Dalam Manajemen Bencana
Versi penanggulangan bencana SKM sama dengan prinsip kesehatan masyarakat secara umumnya, bahwa kita mempromosikan kesehatan masyarakat dan mencegah.
meysiadila

meysiadila

Humas Kementrian Kominfo BEM UAD
Mahasiswa FKM UAD Yogyakarta
meysiadila

Disampaikan Oleh: Oktomi Wijaya, SKM, M.Sc,
(Dosen FKM UAD – Pengampu peminatan Kesehatan dan Keselamatan Kerja)

Memulai karir sebagai dosen di kampus UAD dari Januari 2016, Kesehatan dan Keselamatan Kerja, dan Manajemen Bencana.

Reporter : Nanda
Juru Kamera : Yoga
Editor: Amru


Sekilas Profil

Sebelum menjadi dosen saya bekerja sebagai peneliti di manajemen bencana. Karena background saya adalah Sarjana Kesehatan Masyarakat, untuk penanggulangan bencana saya banyak bergerak di sektor kesehatan, bagaimana kesehatan masyarakat didalam penanggulangan bencana.

Tanya: Peran dan Fungsi SKM di Masyarakat ketika terjadi bencana?

Bencana itu ada 3 fase, yaitu fase Pra-Bencana, fase Tanggap Bencana, dan fase Pasca Bencana (Rehabilitasi dan Rekonstruksi).

Peran Kesehatan Masyarakat begitu besar dalam fase penanggulangan bencana, tetapi yang ada saat ini ketika di masyarakat, peran kesmas belum optimal. Jadi ketika terjadi bencana, peran yang banyak masih medis/ kuratif. Misal ketika terjadi bencana dan ada korban, mereka diobati, masih kuratif.

Sementara saya lihat bahwa peran kesehatan masyarakat terlebih SKM dalam penanggulangan bencana masih minim. Contoh, ketika terjadi bencana, misalnya untuk gizi, gizi harus diperhatikan saat terjadi bencana, jangan sampai pengungsi saat kondisi nya drop dan asupan nya setiap hari dikasih mie instant, maka gizi pun harus diperhatikan.

Misalnya Kesehatan Lingkungan, terdapat isu WASH (Water, Sanitation, and Hygine). (Air) harus diperhatikan kualitasnya. Sanitasi harus diperhatikan ditempat lingkungan apakah ada kamar mandi, higienis atau tidak tempat pengungsian nya. Kesmas sangat penting saat adanya bencana untuk mencegah KLB (Misal, nilai E.Colli melebihi nilai ambang batas maka yang terjadi adalah diare).

K3 juga berperan dalam penanggulangan bencana, misalnya ada penolong yang tidak memperhatikan kesehatan dan keselamatan kerjanya, ada bahaya biologi, bahaya kimia dan bahaya yang lain yang dihadapi, jika tidak menggunakan alat pelindung diri maka penolong tersebut dapat terkena penyakit.

Kespro, ketika terjadi bencana misalnya terdapat masalah kespro dengan terbatasnya alat suntik dan korban bencana menggunakan alat suntik yang sama maka akan terjadi penyebaran penyakit. Misalnya juga masalah KB, ditempat pengungsian tidak tersedianya alat KB untuk para ibu-ibu, maka bisa terjadi kehamilan yang tidak diinginkan. Kehamilan yang tidak diinginkan mengakibatkan orang untuk melakukan aborsi atau menggugurkan kandungannya.

Jadi, seluruh aspek kesehatan masyarakat terdapat saat terjadi bencana.

Tanya: Apakah Profesi SKM itu sendiri dikenali oleh masyarakat saat turun ke lapangan?

Itu sudah menjadi tugas kita bersama untuk memperkenalkan kesmas ini kepada masyarakat. Selama ini yang mereka ketahui adalah beberapa profesi lain karena selama ini ketika ada bencana, ketika ada yang luka maka peran kuratif masih sangat besar.

Tenaga kesehatan masyarakatnya pun masih belum optimal dari tugasnya. Itu yang harus kita optimalkan bagaimana SKM bisa bertanggungjawab dalam penanggulangan bencana.

Kita belum mengurusi Kespronya, Keslingnya, Gizinya belum optimal, dll.

Misal, di lokasi pengungsian ada DBD, bisa jadi KLB. Satu orang kena Diare, bisa KLB. Satu orang kena Campak, bisa KLB. Untuk itu peran SKM perlu dioptimalkan.

Tanya: Apakah SKM memiliki identitas khusus saat di lapangan?

SKM belum memiliki identitas ketika di lapangan, namun untuk perannya sudah ada.

Tanya: Bagaimana sistem penanggulangan bencana versi SKM?

Versi penanggulangan bencana SKM sama dengan prinsip kesehatan masyarakat secara umumnya, bahwa kita tidak mengobati orang yang luka akibat bencana, kita tidak mengobati orang yang sakit akibat bencana, namun prinsip kita adalah promotif dan preventif. Yang mana kita mempromosikan kesehatan masyarakat dan mencegah.

Jadi kita tidak menangani per orang, tapi kita menangani masyarakat juga kita mencegah adanya bencana kedua, bencana kedua yaitu bencana yang datang setelah bencana utama.

Misal, bencana gempa, ada korban selamat dari bencana tersebut kemudian dibawa ke pengungsian, namun setelah dibawa ke pengungsian meninggal dunia akbiat terkena penyakit yang sudah menjangkit di pengungsian karena tidak memperhatikan kesehatan masyarakatnya itu sendiri.

Inilah peran SKM sangat diperlukan disaat-saat seperti ini, mencegah dan mempromosikan kesehatan masyarakatnya. Jangan sampai bencana kedua teralami oleh para korban bencana.

Sharing is caring!

(Visited 2,558 times, 1 visits today)
BACA JUGA:  Meningkatkan Kesehatan Masyarakat Desa Borongtala Dengan PHBS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *