Marak Anti Vaksin, Beberapa Daerah Ini Pernah KLB Penyakit

Marak Anti Vaksin, Beberapa Daerah Ini Pernah KLB Penyakit
i Indonesia sendiri beberapa tahun terakhir kejadian mewabah kembalinya penyakit dilaporkan pernah terjadi memicu status KLB, karena warga anti vaksin.

“Biarkan saja orang tua tidak vaksinasi anaknya toh itu anak dia sendiri. Kalau untung rugi ya sendiri.” Pemahaman seperti itu mungkin pernah Anda dengar dan meski sekilas masuk akal namun sebetulnya keliru.

Ketika ada orang tua tak memvaksinasi anaknya maka yang dibahayakan bukan cuma sang anak namun populasi masyarakat secara umum. Hal ini dijelaskan oleh ahli karena ketika cakupan vaksinasi berkurang maka bibit penyakit bisa kembali ke dalam populasi mendapatkan kesempatan untuk menyebar.

Di Indonesia sendiri selama beberapa tahun terakhir kejadian mewabah kembalinya penyakit dilaporkan pernah terjadi memicu status Kejadian Luar Biasa (KLB). Penyebabnya cakupan vaksinasi yang minim salah satunya karena ada gerakan penolakan vaksin atau anti vaksin.

BACA JUGA:  Kalsel KLB Campak, Diyakini karena Banyak yang Menolak Imunisasi

Berikut contoh beberapa daerah yang pernah mengalami KLB penyakit:

1. Padang

Semenjak awal tahun 2015 lalu, terjadi kejadian luar biasa (KLB) atau outbreak penyakit difteri di kota tersebut. Wakil Wali Kota Padang, Ir Emzalmi, MSi, mengatakan bahwa sejak awal tahun sudah ada 24 suspek difteri di kota ini, dengan 4 orang di antaranya positif. Oleh karena itu, outbreak response immunization (ORI) sudah harus dilakukan.

“Target kami imunisasi kepada 250.000 anak usia di bawah 15 tahun. Saat ini sudah kurang lebih 53 persen yang sudah diimunisasi,” ungkap Emzalmi beberapa waktu lalu.

Difteri disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheria. Jika tak mendapat imunisasi, difteria dapat menyebabkan kelumpuhan otot bahkan membuat anak-anak kehilangan nyawa.

2. Aceh

Sepanjang tahun 2017, 53 warga dari beberapa kabupaten di Aceh terkena difteri. 3 di antaranya meninggal dunia dan selebihnya dinyatakan sehat. Angka tersebut meningkat drastis dibandingkan tahun lalu.

BACA JUGA:  Lebih Banyak Anak Terkena Rubella daripada Campak

Kepala Dinas Kesehatan Aceh dr Hanif mengatakan, penyakit difteri ini mulai muncul kembali di Aceh sejak tahun 2010 lalu. Jumlah penderita penyakit ini meningkat pada tahun 2016 dan 2017.

“Tempat kita (Aceh) timbul kembali penyakit difteri padahal dulu sudah kita anggap sudah tidak ada,” kata dr Hanif.

Angka penderita penyakit difteri ini meningkat tajam dalam dua bulan terakhir. Pada tahun 2016 lalu, jumlah warga yang terkena difteri yaitu 11 orang dengan rincian 4 di antaranya meninggal dunia.

3. Malang

Pada tahun 2011 Dinas Kesehatan Kota Malang menyatakan KLB difteri setelah ditemukan puluhan anak terserang penyakit. Pada saat itu Kepala Dinas Kesehatan Malang Enni Sekarengganingati secara detail menyebut ada 48 anak yang diketahui tertular.

“Anak-anak sangat mudah tertular, makanya perlu imunisasi lengkap sebagai pencegahan,” jelasnya.

4. Kalsel

Pada tahun 2015 Kejadian Luar Biasa (KLB) campak terjadi di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Di wilayah tersebut, disebut-sebut ada satu desa yang warganya banyak menolak imunisasi.

BACA JUGA:  Berkaca dari KLB Difteri, 4 Hal Ini Perlu Jadi Perhatian Kita Bersama

“Ada satu desa yang warganya banyak menolak imunisasi. Dari 23 kasus yang kami tangani, 12 kasus berasal dari desa tersebut,” kata Dr dr Edi Hartoyo dari Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin beberapa waktu lalu.

Menurut dr Edi bukan disebabkan oleh faktor agama. Beberapa warga menolak imunisasi karena ada anak yang mengalami demam setelah imunisasi.

5. Papua

Penyakit batuk rejan atau pertusis dilaporkan terjadi di Mbua, Kabupaten Nduga, Papua tahun 2016. Sekitar 55 anak dilaporkan meninggal dunia akibat penyakit yang sebetulnya bisa dicegah ini.

Hanya saja di Papua yang menjadi masalah bukan karena ada penolakan vaksin melainkan terbatasnya akses dan juga tenaga kesehatan. Oleh karena itu menurut laporan Kementerian Kesehatan Papua tahun 2016 masih menjadi provinsi dengan cakupan vaksinasi terendah hanya mencapai 62,9 persen dari estimasi total populasi.

Sumber detik.com

Sharing is caring!

(Visited 338 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *