Menjadi Kader TBC Seperti Memupuk Ladang Pahala
Fitriana Puspitarani, S.K.M
Latest posts by Fitriana Puspitarani, S.K.M (see all)

“Ibu, ini saya kasih pot dahak ya, besok pagi taruh dahak ibu di pot itu. Besok saya ambil, saya antarkan pot dahaknya ke puskesmas untuk diperiksa.” Begitu kira-kira yang diucapkan kader sebagai penutup pertanyaan skrining kepada warga dalam rangka Investigasi Kontak, yaitu kegiatan pelacakan dan investigasi yang ditujukan pada orang-orang yang kontak dengan pasien TBC untuk menemukan terduga TBC dan penemuan kasus baru. Jemput Pot Dahak adalah salah satu strategi yang diterapkan oleh kader untuk mengatasi tingginya loss to follow up terhadap warga terduga TBC dalam melakukan pemeriksaan ke layanan kesehatan.

Menurut Global Report Tuberculosis yang dirilis oleh World Health Organization (WHO) pada tahun 2019, TBC atau penyakit Tuberkulosis adalah salah satu dari 10 penyakit mematikan di dunia, dan Indonesia menjadi peringkat ke-3 populasi penderita TBC di seluruh dunia. Apakah ini hal yang membanggakan? Tentu saja tidak. Indonesia memiliki beban berat dalam pengendalian TBC, dan hal ini membutuhkan kerja keras dari banyak pihak.

Merujuk pada Petunjuk Teknis Investigasi Kontak yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI, dengan estimasi kasus baru di Indonesia sebesar 843.000 kasus per tahun sementara notifikasi (terlaporkan) kasus TBC sebesar 570.289 kasus maka masih ada sekitar 32% kasus yang belum ditemukan dan diobati (un-reach) atau sudah ditemukan dan diobati tetapi belum tercatat oleh program (detected, un-notified). Keadaan ini merupakan tantangan besar bagi program penanggulangan TBC di Indonesia, diperberat dengan tantangan lain dengan tingkat kompleksitas yang makin tinggi seperti ko-infeksi TBC-HIV, TBC resistan obat (TBC-RO), TBC kormobid, TBC pada anak dan tantangan lainnya.

Berdasarkan hal tersebut di atas, Program Penanggulangan TB Kementerian Kesehatan RI membuat strategi penemuan pasien TBC tidak hanya “secara pasif dengan aktif promotif” tetapi juga melalui “penemuan aktif secara intensif dan masif berbasis keluarga dan masyarakat“, dengan tetap memperhatikan dan mempertahankan layanan yang bermutu sesuai standar.

Dalam upaya skrining kasus TBC di masyarakat, Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) ditugaskan oleh Kementerian Kesehatan RI untuk mengorganisasi kegiatan Investigasi Kontak dan penemuan kasus baru TBC di 10 Provinsi dan 61 kabupaten/kota di Indonesia. Adapun jumlah kader TBC yang telah dilatih oleh LKNU adalah sebanyak 5798 orang dan sebanyak 2637 atau 45% yang aktif melaksanakan Investigasi Kontak sejak tahun 2018 hingga saat ini.

Konsep Investigasi Kontak ini berarti dilakukan skrining terhadap kontak atau orang-orang di sekitar tempat tinggal 1 pasien TBC di 4-5 rumah di sekitarnya dan minimal melakukan skrining pada 20-30 orang. Menurut standar WHO, dari 20 orang yang diskrining ini didapatkan 5-6 terduga TBC yang harus dirujuk kemudian mendapatkan 1 kasus positif baru.

Secara berkesinambungan, monitoring dan evaluasi terhadap kader TBC juga dilakukan bersama dengan petugas puskesmas dan pelaksana LKNU yaitu tim Regional di tingkat Provinsi, dan tim SSR (Sub-Sub Recipient) maupun IU (Implementing Unit) di tingkat Kabupaten/Kota.

Seperti yang dilakukan oleh SSR Jakarta Barat pada bulan Oktober lalu mengadakan pertemuan koordinasi antara Koordinator kader, puskesmas di seluruh wilayah Kota Administrasi Jakarta Barat, dan Suku Dinas Kesehatan Jakarta Barat. Di akhir sesi, Wasor TBC Suku Dinas Kesehatan Jakarta Barat meminta koordinator kader dari Cengkareng, yaitu Ibu Zakiah Alatas untuk menceritakan bagaimana cara beliau dalam memotivasi kader-kader TBC di kecamatannya hingga terus aktif melaksanakan Investigasi Kontak sampai saat ini.

“Menjadi kader TBC saya anggap sebagai ladang pahala. Itu yang terus saya sampaikan kepada orang-orang di sekitar saya yang ingin menjadi kader TBC. Walaupun ada reward untuk kader, hal ini mungkin tidak ada artinya jika dibandingkan dengan ilmu dan pengalaman yang akan kita (Kader TBC) dapatkan.” Ujar Ibu Zakiah Alatas dengan santun menerima apresiasi dari Wasor TBC Jakarta Barat terhadap capaian yang dihasilkannya bersama kader-kader di Kecamatan Cengkareng.

Disusul oleh Bu Fitri, Programmer TBC di Puskesmas Kecamatan Cengkareng, Beliau juga mengapresiasi kinerja kader TBC yang hadir pada pertemuan itu. Menurut beliau, sebagai petugas kesehatan, pekerjaannya sangat terbantu dengan adanya kader TBC dari LKNU. Sehingga apapun yang dibutuhkan oleh kader TBC dalam upayanya membantu Puskesmas, seharusnya dapat didukung penuh oleh petugas kesehatan dan Puskesmas itu sendiri.

“Setiap tindakan yang kita lakukan akan ada artinya.” Begitu penutupnya yang kemudian disusul tepuk tangan dari seluruh audiens. Memang tidak berlebihan jika menganggap pekerjaan kader seperti memupuk ladang pahala. Kader rela turun langsung memberikan pemahaman kepada masyarakat untuk sadar akan keberadaan Tuberkulosis dan memperkenalkan Puskesmas sebagai layanan yang bisa diakses semua masyarakat.

Pekerjaan ini tidak hanya untuk dirinya sendiri, tidak hanya untuk pasien, namun juga masyarakat. Semakin cepat tuberkulosis dieliminasi, maka masyarakat Indonesia bisa semakin berdaya saing melalui bangsa yang sehat. Tidak sedikit kader yang mengakui bahwa keluarganya pernah menjadi pasien TBC sehingga mereka mau turun mengingatkan warga di sekitarnya supaya tidak terjadi hal yang sama yang menimpa anggota keluarganya.

Kader TBC : Pahlawan untuk Pasien dan Masyarakat

SRK LKNU DKI Jakarta

Tidak jauh berbeda dengan Ibu Zakiah Alatas, hal yang sama juga diakui oleh kader TBC dari kota Jakarta Pusat. Ketika kader melakukan skrining dan didapatkan terduga tes yang akan dirujuk ke Puskesmas, kendala lain yang ditemukan adalah transportasi. Meskipun Jakarta termasuk daerah dengan cakupan layanan kesehatan yang mudah dan terjangkau, seringkali masyarakat kesulitan mengakses karena terkendala biaya atau alat transportasi.

Terkadang kader mau tidak mau menjemput terduga TBC di rumah mereka dan membawanya dengan menyewa angkutan umum supaya beberapa terduga TBC yang ditemukannya bisa langsung dibawa ke Puskesmas terdekat. Hal tersebut diakui oleh kader sebagai wujud simpati mereka, karena mereka mengetahui bahaya penyakit TBC jika tidak segera ditangani, maka dampaknya akan meluas di masyarakat.

“Warga kita sudah gak mampu, kalau kena TBC kebanyakan mereka tidak bisa bekerja lagi, lalu mereka akan tambah miskin. Ini seperti dilema.” Ujar Ibu Margareta, salah satu kader dari Jakarta Pusat.

Penanganan TBC seperti mengejar sesuatu yang tidak terlihat. Kita tahu bersama bahwa penyebaran kuman TBC adalah melalui udara dengan partikel yang sangat kecil dan mudah masuk ke dalam tubuh manusia melalui sistem pernapasan. Semua orang yang terlibat dalam kasus TBC, baik pasien, petugas kesehatan, kader, maupun keluarga dan sahabat pasien adalah pahlawan. Misalnya pasien, ketika ia berobat maka ia adalah pahlawan untuk dirinya sendiri dan untuk orang-orang di sekitarnya. Ia ingin sembuh dan ingin melindungi orang-orang di sekitarnya dari penularan kuman TBC.

Oleh karenanya, LKNU bersama dengan Kementerian Kesehatan RI terus berupaya menanamkan paradigma sehat melalui upaya promotif dan preventif dalam upaya penanggulangan TBC dan menyeimbangkan upaya kuratif yang terus dilakukan dalam rangka eliminasi TBC tahun 2030 dan Indonesia Bebas TBC tahun 2045.

Profil Penulis
Fitriana Puspitarani, S.K.M

Rani adalah sapaan kesehariannya, ia bekerja sebagai Koordinator Region 4 DKI Jakarta di Sub Recipient Khusus (SRK) Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) untuk program kerja sama Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Subdirektorat TB dengan dukungan dana Global Fund.

Sharing is caring!

(Visited 108 times, 1 visits today)