Sssstt…! Ini Nih Rahasia Puskesmas Poto Tano Bisa Raih Akreditasi Paripurna!

Puskesmas Poto Tano adalah Puskesmas Pertama yang TERAKREDITASI PARIPURNA Tahun 2017 di  wilayah Indonesia Tengah. Ini nih Rahasia Suksesnya!

Puskesmas Poto Tano adalah Puskesmas Pertama yang TERAKREDITASI PARIPURNA Tahun 2017 di  wilayah Indonesia Tengah
(Red: http://www.sumbawakini.com/2017/10/puskesmas-poto-tano-terbaik-di.html)

Paripurna loh? Tingkatan akreditasi puskesmas tertinggi, dimana hal ini mengindikasikan bahwa semua yang melekat dalam puskesmas, mulai dari Upaya Kesehatan Perorangan (UKP), Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM), dan semua administarsi manajemen puskesmas (Admen) sudah terstandar, sehingga dapat memberikan pelayanan yang paripurna di masyarakat.

Puskesmas Poto Tano

Selain karena memang 3 (tiga) hal tadi sudah bagus, dua hal krusial yang menurutku membuat salah satu puskesmas di Kabupaten Sumbawa Barat – dengan landscape Savana dan Pantai bak surgawi ini – mendapatkan predikat Paripurna adalah:

INOVASI KECAMATAN KELOR

Kelorisasi untuk peningkatan status gizi masyarakat Poto Tano. Jadi, melalui Peraturan Daerah (Perda) yang dicetuskannya, Bapak Bupati menetapkan Kecamatan Poto Tano sebagai Kecamatan Kelor yang mewajibkan setiap Rumah Tangga (RT) menanam minimal 3 (tiga) pohon kelor di pekarangannya untuk memenuhi asupan gizi.

Bahkan posyandu yang ada di kecamatan ini pun PMT (Pemberian Makanan Tambahan)-nya berbahan kelor gengs. Aku sendiri sudah mencicipi dua dari sekian banyak inovasi pengolahan kelor yang ada, yakni nugget kelor dan puding kelor. Awalnya terasa aneh, bahkan mau mengonsumsinya pun ragu-ragu, tapi setelah dicicip ternyata rasanya enak bahkan anak-anak balita pada doyan di sana. Tak tanggung-tanggung, beberapa Kepala Desa pun menganggarkan dana desanya untuk penggalakan kelorisasi ini.

APIKNYA KERJASAMA LINTAS SEKTOR

Salah satu kebijakan Kepala Puskesmas Poto Tano yang aku akui TOP banget adalah ada kewajiban untuk semua petugas puskesmas yang sedang turun lapangan wajib membawa 3 (tiga) buku yakni: 1) Buku Program; 2) Buku Koordinasi Lintas Sektor; dan 3) Buku Keluhan Masyarakat.

Dari sini saja sudah terlihat bagaimana puskesmas ini paham akan urgensi dukungan lintas sektor kan? Sebagai buktinya, aku menyaksikan secara langsung – sehabis posyandu dilaksanakan, terdapat evaluasi yang melibatkan lintas program dan lintas sektor.

Tidak hanya itu, dalam Musyawarah Masyarakat Desa (MMD), puskesmas juga turut hadir dan sumbang pikiran melalui Petugas Kesehatan Desa. Itu masih dari sisi Puskesmas.

Dari sisi Pemerintah Kecamatan dan Desa tak kalah dukungannya. Camat Poto Tano adalah seorang SKM yang dulunya Mantan Kepala Puskesmas Poto Tano. Bisa dibayangkan bagaimana kecamatan yang dipimpin seorang SKM?

Gelontoran dana untuk jaminan kesehatan masyarakat khususnya para lansia dan difabel menjadi mata anggaran terbesar serta dukungan dan komitmen untuk penggalakan KTR di instansi pemerintahan bukan isapan janji politik belaka. Pun juga Kepala Desanya – memahami dengan gamblang apa itu akreditasi, pentingnya untuk masyarakat, dan apa peran desa.

Sepertinya, belum tentu puskesmas yang ada di daerah maju sekalipun sudah terakreditasi paripurna, ha..ha..ha..ha… bangga kok memang! Bahkan semakin bangga karena ini puskesmas penempatan Pencerah Nusantara.

Pencerah Nusantara Poto Tano

Buat teman-teman PN Sumbawa Barat, so proud of you gengs juga semua staf Puskesmas Poto Tano. Semangat terus untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di Kecamatan Poto Tano!

Talkshow Kelambu Malaria Massal Mangkalapi

Selama ini masyarakat cenderung tidak memakai kelambu, bahkan menyalahgunakannya. Ini yang merupakan kendala bagi kami sehingga Eliminasi Malaria di Tanah Bumbu belum berhasil.

Malaria merupakan salah satu penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia terkhusus di Indonesia. Malaria disebabkan oleh parasit Plasmodium ditularkan melalui perantaraan nyamuk Anopheles.

Dari 497 kabupaten kota yang ada di Indonesia, 54% diantaranya masih merupakan wilayah endemis malaria, termasuk di Kalimantan Selatan tepatnya di Kabupaten Tanah Bumbu, yang di beberapa wilayahnya masih Endemis Malaria. Di Tanah Bumbu itu sendiri masih ada dua Kecamatan yang masih menjadi wilayah endemis malaria, yakni Kecamatan Kusan Hulu dan Kecamatan Mantewe.

Di Kecamatan Kusan Hulu khususnya, ada beberapa desa yang masih menjadi wilayah endemis malaria. Desa Mangkalapi contohnya, tahun 2017 kemarin terdapat kasus malaria ditemukan di desa tersebut. Dari temuan kasus tersebut Puskesmas Teluk Kepayang bersama Dinas Kesehatan Tanah Bumbu beserta Pemerintah Desa Mangkalapi bekerja sama mengadakan kegiatan Talkshow Kelambu Malaria Massal Mangkalapi pada hari Kamis, 1 Februari 2018.

Masyarakat Tanah Bumbu

Kegiatan yang bertajuk Talkshow ini dipandu oleh pemegang program malaria Dinas Kesehatan Tanah Bumbu, Bapak Sainol Syamsuddin dan dihadiri oleh narasumber Bapak Rahmat Isa. S.si., MKM (Subdit Malaria Dirjen P2M KEMENKES RI  dan Ibu Dr. dr. Widyastuti Wibisana, M.Sc PH (Technical Working Group. GF Malaria).

Diawali dengan narasumber Ibu dr. Widya, beliau menyampaikan kepada masyarakat Mangkalapi tentang bahaya dari malaria itu sendiri dan bagaimana pentingnya mencegah penyakit malaria dengan memakai Kelambu Berinsektisida yang dibagikan gratis oleh pemerintah.

Beliau sedikit berkelakar bahwa malaria itu seperti “rindu” dimana gejalanya hampir sama yang disambut gelak tawa masyarakat. Hal Senada juga disampaikan oleh Bapak Rahmat Isa bahwa malaria ini sangat berbahaya dan salah satu cara pencegahannya dengan memakai kelambu berinsektisida dengan baik dan benar dan tahu cara perawatannya.

Kepala Dinas Kesehatan Tanah Bumbu Bapak Dr. H. M. Damrah, S.Sos., M.Si juga menekankan betapa pentingnya penggunaan kelambu berinsektisida ini dan semua masyarakat Desa Mangkalapi mulai menggunakan kelambu.

Karena permasalahan yang terjadi selama ini masyarakat cenderung tidak memakai kelambu, bahkan menyalahgunakannya dengan menjadikan kelambu tersebut menjadi kandang ayam, alat untuk menangkap Ikan, dan cara merawatnya yang salah. Ini yang merupakan kendala bagi kami sehingga Eliminasi Malaria di Tanah Bumbu belum berhasil. Beliau menginginkan 3 tahun kedepan Tanah Bumbu Bisa Eliminasi Malaria.

Dengan adanya kegiatan Talkshow Kelambu Malaria massal ini, masyarakat mangkalapi bisa paham betul akan pentingnya kesehatan dan mau merubah pola pikirnya dan menanamkannya bahwa LEBIH BAIK MENCEGAH DARIPADA MENGOBATI. Sehat YES! Malaria NO!

Disini, Romantisme Membangun Kesehatan Masyarakat itu Begitu Nyata!

“This is really called Relationship Goals. At that moment, I immediately admired both of them”, begitu pikirku selepas berkunjung bertemu dengan Bapak Camat dan Ibu Kepala Puskesmas Poto Tano

“This is really called Relationship Goals. At that moment, I immediately admired both of them”, begitu pikirku selepas berkunjung bertemu dengan Bapak Camat dan Ibu Kepala Puskesmas Poto Tano. Keduanya sepasang suami istri. Namun, bukan sepasang suami istri yang “biasa saja” atau seperti pada umumnya.

Jelas! Gak mungkinlah seorang Nurmalasari akan mengagumi kedua sosok tersebut jika beliau berdua adalah “sosok yang biasa saja”. Beliau berdua memiliki hubungan yang LUAR BIASA! Sepasang suami istri yang memiliki kiprah dan pengaruh besar dalam pembangunan suatu bangsa.

Tepatnya pembangunan Kecamatan Poto Tano, Kabupaten Sumbawa Barat. Kecamatan yang memiliki julukan “Kecamatan Kelor” sejak tahun 2017 kemarin. Di bawah tangan cerdas beliau, pembangunan Kecamatan Poto Tano kini maju dengan pesatnya.

Puskesmas Poto Tano, Nurmalasari

Dari sekian banyak kebijakan beliau untuk pembangunan, yang paling aku apresiasi adalah kebijakan beliau di bidang kesehatan. Dari Milyaran jaminan sosial masyarakat yang berbentuk Kartu Pariri Bariri, angka paling tinggi digelontorkan untuk menjamin kesehatan masyarakat serta jaminan untuk lansia dan warga berkebutuhan khusus (difabel).

Tidak kalah penting, adalah komitmen besar beliau dalam mendukung inovasi Tim Pencerah Nusantara Sumbawa Barat dan Puskesmas Poto Tano untuk mengoptimalkan potensi pangan lokal yakni kelor menjadi asupan pangan kaya nutrisi untuk menjamin gizi anak-anak balita hingga dewasa.

Puncaknya ketika Kecamatan Poto Tano dinobatkan sebagai Kecamatan Kelor oleh Bupati Sumbawa Barat. Jelas! Karena Beliau adalah Bapak Camat dengan latar belakang SKM yang dulunya adalah seorang Kepala Puskesmas Pototano. Lihat kan bedanya? Red: tetep promosi Kiprah SKM untuk Negeri ha..ha..ha..ha…

Tidak kalah dengan suaminya, sosok Ibu Kepala Puskesmas Poto Tano ini nampak sangat bersahaja dalam kepemimpinannya. Pernah puluhan tahun menjadi Perawat Pustu di kecamatan ini, membuatnya memahami hal apa yang paling penting untuk mewujudkan pelayanan yang paripurna bagi masyarakat.

Tidak hanya harmonisasi kolaborasi antar profesi di dalam puskesmas, namun apiknya kerja sama yang tercipta antara puskesmas dan lintas sektor, mengantar Puskesmas Poto Tano menjadi salah satu puskesmas terakreditasi PARIPURNA: tingkatan akreditasi tertinggi.

Ah, sungguh indah melihat wujud kolaborasi nan romantis di antara keduanya, Bapak Camat dan Kepala Puskesmas Kecamatan Poto Tano.

Ini Tentang Kisah Tujuh Penjuru, Petualangan Para Pemuda Pencerah Nusantara

Ini tentang petualangan para pemuda Pencerah Nusantara di tujuh penjuru Indonesia, yaitu Sikakap, Pakisjaya, Tosari, Kelay, Ogotua, Lindu, dan Ende.

“Salah satu pilar masyarakat maju adalah tumbuhnya kegiatan yang berlandaskan inisiatif masyarakat sendiri.  Kisah Tujuh Penjuru  merekam kegiatan seperti itu oleh anak-anak muda kita di berbagai pelosok tanah air, khususnya dibidang kesehatan masyarakat. Saya sungguh menghargai semangat dan idealisme mereka untuk menyumbangkan karya nyata bagi bangsanya. Semoga memberikan inspirasi bagi kita semua.”

~ BOEDIONO, Wakil Presiden RI 2009 – 2014 ~


Kemarin saya dapat kiriman buku dari sahabat di Jakarta, Kisah Tujuh Penjuru, begitu saya baca Judul di sampulnya. Luar biasa pikir saya, betapa tidak, di sampul depan buku ini saja, tertulis “testimoni” atas nama Bp. Boediono, Wapres kita saat itu (Buku ini terbit tahun 2014).

Hujan turun di saat rombongan baru menempuh setengah perjalanan. Tidak ada tempat berteduh di tengah sungai. Perjalanan dilanjutkan sehingga seluruh anggota rombongan basah. Dingin sudah pasti, lapar juga tidak bisa diingkari. namun, tidak ada alasan untuk mengeluh. Semua tetap harus dinikmati sampai rombongan benar-benar sampai di kampung yang dituju.

Wah..wah…ini buku novel atau apa? Belum apa-apa sudah bikin penasaran aja. Salut untuk penulis, Editor, dan semua tim yang terlibat dalam penyusunan buku ini. Lha gimana gak salut, Editornya aja ada Pak Wisnu Nugroho, beliau ini disebut-sebut sebagai salah satu yang membidani lahirnya Visual Interaktif Kompas (VIK) Kompas, sebuah model laporan jurnalistik berbasis multimedia.

Tapi sepertinya, gaya penulisan buku ini serasa novel, bisa jadi karena ada sentuhan magis Arimbi Bimoseno disana. Hemm..hanya menduga saja, tapi mungkin ada benarnya. Dan yang paling bikin penasaran, buku ini ditulis oleh Tim Pencerah Nusantara. Siapa mereka? Apa sih yang mereka kerjakan, sampai-sampai Wapres pun mau kasih testimoni untuk “catatan perjalanan” mereka?

Kisah Tujuh Penjuru

Ini tentang pengabdian anak-anak muda yang peduli pada perbaikan kesehatan masyarakat di tujuh penjuru Indonesia, yaitu Sikakap, Pakisjaya, Tosari, Kelay, Ogotua, Lindu, dan Ende.

Berdiri di tujuh penjuru Indonesia, menyentuh kehidupan setidaknya 200.000 orang. Di daerah yang dilupakan, ditengah masyarakat yang ditinggalkan. Di pinggir sungai, di dalam hutan, di tengah samudra lepas, didaerah rawan bencana, di perbatasan, di pulau terpencil, kesemuanya mempresentasikan negeri kita yang beragam. 

Ahhhh…baca pengatar demi pengantar, kalimat demi kalimat di awal buku ini saja sudah bikin hati ini terenyuh, iri (dalam arti positif), apa yang sebetulnya mereka pikirkan?

Seringkali mereka tertantang melangkah lebih maju & bergerak lebih cepat. kadangkala mereka memilih untuk diam, mendengar, dan merenung, semuanya adalah bagian dari sebuah petualangan yang bernama pengabdian untuk sebuah panggilan, PENCERAH NUSANTARA.

Istimewa, Ini Misi Spesial Untuk Pencerah Nusantara Angkatan 6!

“Ratakan sabun dengan tangan sok gosok gosok…

Punggung tangan sela jari, sok gosok gosok…

Telapak tangan sela jari, juga digosok…

Pegang erat jari tangan yo ayo ayo…

Kuncup kanan kuncup kiri

Jempol kanan jempol kiri

Basuh tangan dan keringkan, kumannya hilang…yeee….”

(Catatan Tim PN Ogotua, hal:119)

 

Aahhhh….makin jatuh cinta. Buat kawan-kawan yang gak sempat punya bukunya, jangan khawatir, saya bakal bagi sekelumit kisah inspiratif mereka, Tim Pencerah Nusantara.

Saya sadar, catatan saya ini mungkin tak seindah para penulis aslinya. Tapi satu tujuan saya menulis ini, tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada para penulis, editor, dan semua tim yang terlibat dalam penulisan buku Kisah Tujuh Penjuru ini, ijinkan kami untuk dapat berbagi, meneruskan energi positif yang ada dalam buku ini, MOTIVASI, INSPIRASI dari kawan-kawan Pencerah Nusantara untuk generasi muda di pelosok negeri ini.

~ BERSAMBUNG…

Sumber Foto:

Dok Pribadi dan Dok Tim Pencerah Nusantara

Dalam Rangka PBL, Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Ini Wujudkan Pilar ke-5 STBM di Desa Tajau Mulya

Dalam rangka kegiatan intervensi PBL (Praktik Belajar Lapangan), mahasiswa Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru mengadakan kegiatan Penyuluhan dan Pelatihan, Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan.

PBL di Desa Tajau Mulya, Kecamatan Batu Ampar

Ada 2 rangkaian kegiatan, Pertama kegiatan Penyuluhan mengenai Saluran Pembuangan Air Limbah Sederhana yang diadakan pada tanggal 21 Januari 2018 dan kegiatan Kedua yaitu Pelatihan pembuatan Saluran Pembuangan Air Limbah Sederhana diadakan pada tanggal 25 Januari 2018.

Sasaran kegiatan ini adalah warga Desa Tajau Mulya, terutama warga yang tidak mempunyai Saluran Pembuangan Air Limbah.

Pembuatan Saluran Pembuangan Air Limbah Sederhana di Desa Tajau Mulya

Saat kegiatan Penyuluhan dan Pelatihan berlangsung, warga tampak antusias. Hal ini dilihat dari antusiasme warga yang bertanya. Pada saat Pelatihan, didampingi Ibu Yuliana, dari Puskesmas Tajau Pecah, Kecamatan Batu Ampar, beliau berharap kegiatan ini dapat mewujudkan 5 Pilar STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat) yaitu pilar ke-5 Pengelolaan Air Limbah Rumah Tangga.

Masyarakat Desa Tajau Mulya

Pencerah Nusantara Muara Enim: Intervensi Kesehatan Sebaiknya Selaras dengan Keluhuran Budaya Lokal!

Program intervensi kesehatan tidak hanya berangkat dari pemikiran yang benar menurut kita, namun juga penting melihat keluhuran budaya yang ada disana.

“Posyandu di sini agak sulit dilakukan di pagi hari Mal, karena sebagian besar masyarakat lagi mantang”, tutur Mas Aris Tri Susilo, Sanitarian sekaligus Team Leader Pencerah Nusantara Muara Enim kala aku berkunjung ke sana untuk melakukan site visit.

Mantang, istilah ini pada awalnya masih asing di telingaku tatkala aku baru saja menginjakkan kaki di Kecamatan Sungai Rotan. Salah satu daerah di Bumi Serasan Sekundang, dimana disana hidup masyarakat dari Marga/Marge Lematang dan Belida/Belide.

Mantang atau bisa disebut “Nyait” atau “begetah” rasa-rasanya tak kan pernah bisa dipisahkan dari metabolisme kehidupan kedua marga/marge ini. Ya, menjadi hal yang lumrah karena mantang ini bisa dibilang jantung kehidupan. Saat jantung ini berhenti berdetak maka tubuh bisa lumpuh bahkan itu pertanda sebuah kematian.

Pun serupa yang terjadi pada masyarakat Sungai Rotan ini. Walaupun sebagian besar wilayah ini disapa oleh anak Sungai Musi, yakni Sungai Lematang, yang pastinya menandakan bahwa menjadi nelayan merupakan salah satu pilihan hidup masyarakat di sana, nyatanya mantang masih menjadi pilihan utama.

Mantang, Menyadap Getah Karet

Mantang, kegiatan mengelola perkebunan karet, adalah primadona hati masyarakat Sungai Rotan. Ritual wajib masyarakat dari pagi hingga siang hari. Seakan mengamini itu semua, Tuhan pun menurunkan rezeki dari langit ke tujuh melalui mantang ini. Roda perekonomian berputar kencang.

Sehingga, jika kegiatan itu bukanlah merupakan kegiatan yang (mungkin) dapat mengancam hidup mereka ataupun bukan kegiatan yang berkaitan dengan keimanan dan keyakinan mereka, maka jangan harap mantang ini bisa ditinggalkannya.

Salahkah nafas kehidupan yang berhembus seperti ini?

Sebagai seorang praktisi dalam pembangunan kesehatan, haram hukumnya kita menyalahkan kegiatan yang bahkan sudah menjadi tradisi yang membudaya. Menjadi kesalahan besar (menurutku) saat kita memaksakan kegiatan-kegiatan kesehatan di waktu mantang.

Mungkin kita lupa bahwa suatu program intervensi kesehatan tidak hanya berangkat dari pemikiran-pemikiran yang benar menurut kita, namun juga yang terpenting adalah dari keluhuran budaya yang ada di sana.

Maka tak heran, Puskesmas Sukarami menjadwalkan kegiatan posyandu dan kegiatan kesehatan lainnya di siang atau sore hari selepas masyarakat selesai “mantang”. Ini merupakan contoh nyata pelaksanaan kegiatan kesehatan yang berbasis keluhuran budaya.

Posyandu di Puskesmas Sukarami

Sumber Foto:
Dok Pribadi & Dok PN 5 Muara Enim

Hadiri Majelis Taklim, Puskesmas Pelangiran Edukasi Tentang Garam Beryodium

UPT Puskesmas Pelangiran melakukan penyuluhan garam yodium di pengajian majelis taklim Kelurahan Pelangiran, Jumat 26 Januari 2018.

Hubungan keadaaan alam geografi dan lingkungan dengan kejadian gangguan akibat kurang yodium (GAKY) masih menjadi masalah gizi di Indonesia. GAKY adalah rangkaian efek akibat kekurangan yodium pada tumbuh kembang manusia. Untuk itu, UPT Puskesmas Pelangiran melakukan penyuluhan garam yodium di pengajian majelis taklim Kelurahan Pelangiran.

Acara penyuluhan dibuka oleh Ibu Camat Pelangiran, Ibu Fitriani, S.Pd, beliau menyampaikan kepada peserta pengajian majelis taklim untuk seksama mendengarkan apa yang akan disampaikan pihak narasumber, agar kita semua dapat mengetahui apa kegunaan dari penggunaan garam yodium dan dapat terhindar dari hal yang tidak diinginkan bila tak menggunakan garam beryodium.

dr.Panggih Sekar Palupi, dokter umum UPT Puskesmas Pelangiran selaku narasumber menyampaikan agar para ibu-ibu pengajian menggunakan garam beryodium. Hal ini dapat menghindarkan keluarga dari penyakit gondok, keguguran dalam kandungan, tumbuh kembang anak yang tidak maksimal. Dan dengan menggunakan garam yodium dapat meningkatkan kecerdasan anak kita.

Apabila kita masih ragu dalam membeli garam itu mengandung yodium apa tidak, kita dapat mengetesnya dengan cairan yodium test yang dapat dibeli di apotek terdekat.

Acara ini dilaksanakan di majelis taklim Kelurahan Pelangiran, Jum’at 26 Januari 2018 pukul 15.00 WIB yang dihadiri oleh ibu Camat Pelangiran, ibu-ibu pengajian, kader kesehatan,dan staf UPT Puskesmas Pelangiran.

dr.Panggih Sekar Palupi, dokter umum UPT Puskesmas Pelangiran

Ini Perkenalanku Dengan PMKM, Organisasi Mahasiswa Kesmas STIKes Surya Global Yogyakarta

Waktu itu saya mulai tertarik, dan bertekad akan mengikuti organisasi PMKM ini, sampai akhirnya saya menjabat sebagai Kadiv Humas PMKM 2017/2018 saat ini.

Awal mula saya kenal PMKM atau Persatuan Mahasiswa Kesehatan Masyarakat STIKes Surya Global ini waktu perkenalan Ormawa (Organisasi Mahasiswa) saat Poros/Ospek dulu. Waktu itu saya mulai tertarik, dan bertekad akan mengikuti organisasi PMKM ini, sampai akhirnya saya menjabat sebagai Kadiv Humas PMKM 2017/2018 saat ini.

Persatuan Mahasiswa Kesehatan Masyarakat yang biasa disebut PMKM berdiri pada tanggal 27 September 2007. PMKM merupakan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Kesehatan Masyarakat di STIKES Surya Global Yogyakarta.

PMKM memiliki visi menjadi wadah aspirasi mengelola potensi dan merealisasikan program kerjanya dan menambah rasa tanggung jawab dari anggotanya.

Untuk mewujudkan visi tersebut, PMKM memiliki misi:

  1. Sebagai media penggalian potensi, bakat, dan minat mahasiswa kesehatan masyarakat
  2. Sebagai penyalur aspirasi dan kreatifitas mahasiswa prodi ilmu kesehatan masyarakat
  3. Sebagai media informasi kesehatan antara mahasiswa pada khususnya dan seluruh civitas akademika pada umumnya.
  4. Sebagai pembentuk kader kesehatan masyarakat yang terampil, kritis, inovatif, berkualitas dan professional.
  5. Sebagai penjalin komunikasi dan informasi antara mahasiswa prodi ilmu kesehatan masyararakat dengan lulusannya

Saya banyak belajar dari para pendahulu, kakak-kakak saya, senior-senior saya di PMKM, meski hanya sesekali dalam kegiatan Makrab maupun kegiatan lainnya. Tulisan ini pun saya dedikasikan untuk mereka, bahwa kami-kami yunior di kampus senantiasa berusaha, menjaga, menjalankan amanah estafet organisasi.

PERIODE I Tahun 2007/2008
Ketua : Umi Hanifah
Wakil : Rahmat Niwa

PERIODE II Tahun 2008/2009
Ketua : Fadhil Ahmad Junaidi
Wakil : Sofia

PERIODE III Tahun 2009/2010
Ketua : Esha Permata Dewi
Wakil : Nurlatifah

PERIODE IV Tahun 2010/2011
Ketua : Yusuf Eka Saputra
Wakil : Nofita Safitri

PERIODE V Tahun 2011/2012
Ketua : Fatonah Oktavyanti
Wakil : Hendra Ul Muflihun

PERIODE VI Tahun 2012/2013
Ketua : Nurul Fitria Maretna
Wakil : Ahmad Nawakil

PERIODE VII Tahun 2013/2014
Ketua : Arianita Dyah Wulaning Ayu
Wakil : Gina Darojatunnisa

PERIODE VIII Tahun 2014/2015
Ketua : Iskandar
Wakil : Suci Dwi Yanti

PERIODE IX Tahun 2015/2016
Ketua: Upik Pita Damayanti
Wakil: Devita Sulva Urbach

PERIODE X Tahun 2016/2017
Ketua: Moh. Mahsun
Wakil: Afifah Johairiyah

PERIODE XI Tahun 2017/2018
Ketua: Farah Irmania Tsani
Wakil: Mely Tri Sayekti

Harapan kedepannya, tentu untuk PMKM sendiri agar mampu menjadi jembatan untuk mahasiswa STIKes Surya Global, khususnya mahasiswa prodi kesmas dalam menyalurkan minat dan bakatnya. Juga bisa menaungi atau memecahkan masalah yang ada di dalam kampus maupun di luar kampus.

Terimakasih untuk rekan-rekan pengurus, staf magang dan juga mahasiswa kesmas STIKes Surya Global tentunya, mari bersama-sama kita membangun budaya literasi, budaya menulis, budaya membaca, budaya berdiskusi, untuk edukasi kesehatan masyarakat Indonesia yang lebih baik.

imam syafii

Keren! Kelompok MAUGE Kec. Maiwa Berwisata Sambil Olah Raga Olah Jiwa

Kelompok MAUGE Kec. Maiwa mengadakan kegiatan ”Bergerak Sehat dan Bahagia” di Paputo Beach Kota Pare- Pare. Berwisata sambil senam bersama.

Kenalin nih, Kelompok MAUGE kec Maiwa. MAUGE sendiri singkatan dari “Mau Gerak”.

Kelompok MAUGE mayoritas terdiri dari kalangan lansia, tapi ada juga yang masih berusia muda, rentang usia 30 s.d 70 tahun. Kelompok MAUGE diinisiasi oleh Puskesmas Maiwa dan beberapa kelompok senam di Kec. Maiwa. Saat ini Perkumpulan MAUGE dipimpin Oleh Ketua TP PKK Kec. Maiwa, Ibu Hj.Rusmiati.S.Pd.

Minggu, 28 Januari  2018, Kelompok MAUGE Kec. Maiwa mengadakan kegiatan ”Bergerak Sehat dan Bahagia” di Paputo Beach Kota Pare- Pare. Kegiatan ini dikemas dalam aktivitas berwisata sambil hidup sehat (senam bersama).

Menjalin silaturrahmi dan persaudaraan, membuat peserta menjadi sehat dan bugar dengan senam yang baik – benar – terukur dan teratur. Meningkatkan usia harapan hidup, serta mengurangi resiko berbagai penyakit degeneratif yang menjadi salah satu penyebab defisit BPJS sekarang ini.

Selain itu, ada yang spesial dari Kelompok MAUGE Kec. Maiwa ini? Menurut Kapus Maiwa, Yuliati. SKM, M.Kes, kegiatan rutinya adalah senam 3 kali seminggu di Kecamatan Maiwa dan anggota Kelompok MAUGE ini sekali sebulan keluar daerah untuk senam sekaligus rekreasi. Bulan lalu mereka berkunjung ke Permandian Polman Sulawesi Barat.

Menurut Ketua Bidang Pemberdayaan Alumni dan Pemberdayaan Masyarakat Persakmi Cabang Kab. Enrekang ini, MAUGE bukan Gagasan Opini semata tapi kita harus Mau Gerak. Karena dengan bergerak akan terjadi perubahan yang lebih baik.

Mengutip dari buku Rini Puspito dalam bukunya, Terapi Perasaan Positif, gerak kebaikan yang hadir dari jiwa, perasaan yang tenang, akan mampu mengubah atau bervibrasi ke mahluk lain termasuk manusia dan alam.

Kelompok MAUGE Kec Maiwa

Yuk Intip Meriahnya Peringatan Hari Gizi Nasional ke-58 Puskesmas Ciledug!

Jumat, 26 Januari 2018, Peringatan Hari Gizi Nasional ke-58 ini diikuti oleh 200 orang lebih peserta kader se-kecamatan Ciledug dan masyarakat umum.

Peringatan Hari Gizi Nasional ke-58 kali ini berlangsung meriah. Berlangsung Jumat, 26 Januari 2018, kegiatan ini diikuti oleh 200 orang lebih peserta kader se-kecamatan Ciledug dan masyarakat wilayah kecamatan Ciledug.

Bertempat di halaman Kantor Kecamatan Ciledug, dengan tema “Makan Buah dan Sayur Dalam Rangka Menghidupkan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS)” selain senam massal, peserta juga dapat melakukan cek kesehatan gratis, makan buah gratis dan minum jus sayur gratis.

Pemeriksaan Kesehatan HGN 2018 di PKM Ciledug

Penyelenggara kegiatan ini adalah UPT Puskesmas Ciledug, lintas Program (Gizi, Promkes, KIA, KESORGA dan PTM). Kegiatan ini di dukung oleh Kecamatan Ciledug, PKK kecamatan Ciledug, dan Grup Senam Macila. Sebagai sponsor Kegiatan Hari Gizi Nasional UPT Puskesmas Ciledug yaitu Surya Toserba Ciledug.

Rangkaian kegiatan ini dimulai dengan registrasi dan cek kesehatan. Dilanjutkan pembukaan, sambutan Kepala Puskesmas Ciledug, Bapak H. Mohamad Sayid, S.KM.MM, kemudian sambutan dari Camat Ciledug, Bapak Drs. Solihin, MM sekaligus membuka acara Hari Gizi Nasional ini.

Camat Ciledug Bersama Kepala Puskesmas Ciledug

Kegiatan pun dilanjutkan senam masal dipandu oleh Macila Group dan m.akan buah dan minum jus sayur sekaligus penyuluhan mengenai IVA Test.

“Masyarakat jika ingin derajat kesehatannya meningkat tiap hari harus berolahraga selama 30 menit. Dengan adanya pemberian buah-buahan dan sayuran mudah-mudahan masyarakat akan gemar dengan makanan tersebut sehingga gizi masyarakat akan terpenuhi. Dengan adanya pemeriksaan tekanan darah dan gula darah puskesmas berharap agar masyarakat lebih waspada terhadap penyakit yang diakibatkan oleh perilaku.” ujar H. Mohamad Sayid, S.KM.MM, Kepala Puskesmas Ciledug.