Pandemi COVID-19, Kunjungan Pasien di Layanan Kesehatan Menurun
Pandemi ini tidak hanya berdampak pada tingkat kesehatan masyarakatnya saja akan tetapi juga berdampak pada fasilitas kesehatan, khususnya Rumah Sakit. Krisis keuangan terjadi pada Rumah Sakit.
Latest posts by Ruswati Uswa (see all)

Sejak diumumkan adanya kasus COVID-19 pada akhir tahun 2019 di Kota Wuhan, China pandemi ini sudah merebak hampir ke seluruh negara di dunia. Jumlah penderita terus mengalami peningkatan dari hari ke hari Berdasarkan laporan rutin WHO, per tanggal 22 November 2020, total penderita sudah mencapai 57,8 juta kasus di dunia dan 1,3 juta diantaranya meninggal dunia sejak pertama kali kasus tersebut dilaporkan.

Di Indonesia sendiri per tanggal 24 November 2020 jumlahnya sudah mencapai 506.302 kasus dengan 16.111 kasus diantaranya meninggal dunia. Jumlah penderita akan terus bertambah sejalan dengan berlangsungnya pandemi COVID-19 yang belum diketahui kapan akan berakhir.  

Adanya pandemi ini membuat banyak sektor terdampak, salah satunya yaitu sektor kesehatan. Dampak pandemi pada sektor kesehatan sangat dirasakan terutama pada layanan kesehatan. Sistem perawatan kesehatan menghadapi dua masalah utama yaitu kelalahan fisik dan mental dari tenaga kesehatan.

Selain itu, terjadi peningkatan ketidakmampuan atau ketakutan masyarakat yang memiliki risiko tinggi terhadap COVID-19 untuk berkonsultasi dengan dokter. Akibat dari ketakutan pasien tersebut membuat tergangguanya manajemen dari penyakit kronis. Penderita penyakit kronis yang seharusnya harus mendapatkan perawatan secara rutin, akan tetapi menghentikan perawatannya karena enggan untuk berkunjung ke fasilitas kesehatan.

Berdasarkan hasil survei WHO pada 155 negara di bulan Mei, mengatakan bahwa layanan pencegahan dan pengobatan pada penyakit tidak menular terganggu sejak adanya pandemi COVID-19 terutama di negara dengan penghasilan rendah. Lebih dari separuh (53%) negara yang disurvei menyebutkan layanan penyakit tidak menular yang terganggu seperti pengobatan hipertensi, diabetes dan komplikasi terkait diabetes, kanker serta penyakit kardiovaskular.

Pada sebagain besar negara, para staf Kementrian Kesehatan yang seharusnya menangani penyakit tidak menular mereka dialihtugaskan untuk mendukung COVID-19. Selain itu, terjadi penundaan skrining publik dilebih dari 50% negara, karena mengikuti anjuran WHO untuk meminimalkan perawatan berbasis fasilitas yang tidak mendesak. Situasi ini tentu harus menjadi perhatian karena penderita penyakit tidak memular memiliki risiko tinggi untuk terkena COVID-19.

Keengganan masyarakat untuk datang ke fasilitas kesehatan juga menjadi salah satu penyebab rendahnya jumlah kunjungan pada fasilitas kesehatan. Berdasarkan survei singkat yang dilakukan oleh Markplus, Inc. dalam MarkPlus Industry Roundtable diketahui bahwa masyarakat enggan mengunjungi rumah sakit sejak adanya pandemi COVID-19. Survei dilakukan dengan total responden 110.

BACA JUGA:  Layanan Kesehatan Ramah Remaja, Kaya Apa Sih?

Menurut Business Analyst Markplus, Inc. Rika Nathania Wijaya sebesar 71,8% responden mengaku tidak pernah mengunjungi rumah sakit ataupun klinik sejak adanya pandemi COVID-19. Selain itu, sebesar 64,5% reponden lebih memilih untuk memulihkan kesehatannya di rumah secara mandiri dengan beristirahat dan mengonsumsi makanan sehat.

Pandemi ini tidak hanya berdampak pada tingkat kesehatan masyarakatnya saja akan tetapi juga berdampak pada fasilitas kesehatan, khususnya Rumah Sakit. Krisis keuangan terjadi pada Rumah Sakit. Hal ini berawal dari Kementerian Kesehatan yang mengeluarkan kebijakan agar Rumah Sakit membatasi layanan kesehatan yang sifatnya rutin, kecuali dalam kondisi yang gawat darurat.

Adanya kebijakan tersebut menyebabkan penurunan yang signifikan pada jumlah kunjungan pasien yang berobat dan berakibat pada penurunan pendapatan Rumah Sakit tersebut. Jumlah pendapatan yang tidak sebanding dengan pengeluaran Rumah Sakit yang besar, karena harus melengkapi sarana dan prasarana untuk menghadapi serangan pandemi membuat krisis keuangan terjadi pada sejumlah Rumah Sakit. Sehingga beberapa Rumah Sakit harus melakukan efisiensi dengan merumahkan para karyawannya, seperti yang dialami oleh 157 pegawai RS Islam Faisal di Kota Makasar karena kunjungan turun signifikan sekitar 80-90%.

Walaupun ada kebijakan oleh Kementerian Kesehatan tentang pembatasan pelayanan kesehatan, namun tidak semua layanan dibatasi contohnya seperti layanan esensial. Hal ini dengan tujuan agar tetap terjadi keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan dalam menangani pandemi dengan kebutuhan layanan esensial. Bentuk layanan esensial yang dimaksud seperti imunisasi, pemeriksaan ibu hamil, pengobatan pasien TB dan HIV, hipertensi serta penyakit kronis seperti diabetes. Pelayanan esensial harus tetap dilaksanakan agar tidak terjadi penambahan penyakit lain ketika pandemi COVID-19 usai.

Dalam pelaksanaanya pelayanan esensial harus dijalankan sesuai dengan aturan atau protokol kesehatan untuk mencegah penularan dari COVID-19 di lingkungan Rumah Sakit. Protokol kesehatan yang dilakukan seperti menggunakan masker, mencuci tangan, pengecekan suhu tubuh, penerapan jaga jarak, serta pemakaian APD oleh para petugas kesehatan

Penerapan protokol kesehatan yang ketat perlu diberlakukan kepada seluruh pengunjung, baik pasien, keluarga pasien, serta semua orang yang bekerja di Rumah Sakit. Dengan demikian, masyarakat yang akan berkunjung ke Rumah Sakit tidak perlu merasa khawatir akan tertular COVID-19.

Bagi masyarakat yang merasa khawatir untuk berkunjung ke fasilitas kesehatan, mereka dapat melakukan konsultasi jarak jauh. Oleh karena itu, rumah sakit atau fasilitas kesehatan lainnya direkomendasikan untuk mengoptimalkan sarana komunikasi jarak jauh seperti telepon, email, whatsapp, maupun videocall. Selain mempermudah pelayanan, pasien juga tidak perlu datang ke fasilitas kesehatan.

Penderita penyakit kronis, seperti diabetes dapat berkomunikasi dengan dokter untuk perawatan lanjutan. Salah satu contoh layanan online untuk penderita diabetes yaitu adanya aplikasi “Mobile JKN Fasilitas Kesehatan”. Aplikasi ini dapat diakses oleh para peserta program jaminan kesehatan nasional (JKN/BPJS) untuk melakukan komunikasi dan konsultasi melalui aplikasi mobile JKN bagi peserta, sehingga masyarakat dapat terlayani dengan optimal. 

BACA JUGA:  Tenaga Kesehatan Berfikir dan Bersikaplah di Area Kesehatan

Disamping kemudahan pelayanan yang diberikan, dalam penggunaannya aplikasi Mobile JKN memiliki beberapa kendala. Masyarakat yang menggunakan aplikasi tersebut masih sedikit. Berdasarkan data dari BPJS Kesehatan, dari 10 juta total jumlah pengunduh hanya 432 ribu pengguna aktifnya.

Masih jarang masyarakat yang tahu mengenai aplikasi tersebut diduga sebagai penyebab jumlah pengguna yang sedikit. Selain itu, tidak semua masyarakat mempunyai handphone android, sehingga tidak dapat menggunakan aplikasi tersebut.  Bagi masyarakat di daerah terpencil, dengan koneksi internet yang tidak stabil juga salah satu kendala apabila menggunakan aplikasi tersebut.

Kurangnya pengetahuan mengenai adanya aplikasi Mobile JKN, pemerintah atau dalam hal ini BPJS Kesehatan perlu melakukan sosialisasi yang lebih masif mengenai adanya aplikasi tersebut. Sosialisasi bisa dilakukan melalui media-media yang mudah dilihat oleh masyarakat seperti memasang baliho atau dapat melalui media sosial seperti instagram. Selain itu, bisa dilakukan sosialisasi secara langsung kepada masyarakat ketika mereka berkunjung ke fasilitas kesehatan.

Dengan demikian akan banyak masyarakat yang mengetahui dan menggunakan aplikasi tersebut untuk mempermudah akses pelayanan kesehatan, khususnya pelayanan yang berhubungan dengan BPJS Kesehatan.

Referensi:

  • World Health Organization (WHO). 2020. Weekly epidemiological update – 24 November 2020. [online] Available at : <https://www.who.int/publications/m/item/weekly-epidemiological-update—24-november-2020> [Accessed 25 November 2020]
  • [online] Available at : <https://covid19.go.id/> [Accessed  25 November 2020]
  • Deloitte. 2020. What will be the impact of the Covid-19 pandemic on healthcare systems?. [online] Available at : <https://www2.deloitte.com/fr/fr/pages/covid-insights/articles/impact-covid19-healthcare-systems.html> [Accessed 23 December 2020]
  • WHO. 2020. COVID-19 significantly impacts health services for noncommunicable diseases. Available at :        <https://www.who.int/news/item/01-06-2020-covid-19-significantly-impacts-health-services-for-noncommunicable-diseaseshtml> [Accessed 23 December 2020]
  • National Geographic Indonesia. 2020. Dampak Pandemi COVID-19: Hantam Sistem Layanan Kesehatan dalam 4 Gelombang. [online] Available at : <https://nationalgeographic.grid.id/read/132255604/dampak-pandemi-covid-19-hantam-sistem-layanan-kesehatan-dalam-4-gelombang?page=all> [Accessed 25 November 2020]
  • Kontan.co.id. 2020. Survei Markplus: Masyarakat enggan mengunjungi rumah sakit sejak pandemi Covid-19. [online] Available at : <https://nasional.kontan.co.id/news/survei-markplus-masyarakat-enggan-mengunjungi-rumah-sakit-sejak-covid-19> [Accessed 25 November 2020]
  • Kemkes.go.id. 2020. Pelayanan Kesehatan Essensial tetap Menjadi Prioritas di Masa Pandemi COVID-19. [online] Available at : <http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis-media/20201007/2735324/pelayanan-kesehatan-essensial-tetap-menjadi-prioritas-masa-pandemi-covid-19/> [Accessed 22 December 2020]
  • PERKENI. 2020. Pernyataan Resmi dan Rekomendasi Penanganan Diabetes Mellitus di era Pandemi COVID-19. [online] Available at : <https://pbperkeni.or.id/wp-content/uploads/2020/04/Rekomendasi-Perkeni-Pandemi-Covid-19.pdf> [Accessed 22 December 2020]

Sharing is caring!

(Visited 41 times, 1 visits today)