Pasien Gagal Ginjal Punya Harapan Hidup Lebih Lama, Bukan Hemodialisa

Penyakit ginjal kronis yang telah memasuki tahap akhir, memang membutuhkan terapi khusus. Pasien dianjurkan untuk menjalani terapi hemodialisis atau cuci darah dalam perut, maupun transplantasi ginjal.

Setiap menit ginjal menyaring 1.000 cc sampai 1.200 cc darah atau sekitar 20% dari total darah dalam tubuh manusia. Jumlah yang cukup banyak mengingat ginjal hanya seukuran kepalan tangan.

Jika ginjal tidak berfungsi dengan baik, sisa metabolisme akan terakumulasi dan dapat meracuni tubuh.

“Di negara kita penderita PGK tercatat sekitar 12.5% dari populasi dan prevalensinya terus meningkat dari tahun ke tahun, sedangkan Jumlah penderita gangguan ginjal di RSUP Kariadi selama tahun 2015 yang menjalani cuci darah sekitar 208 orang. Data Report of Indonesian Renal Registry (IRR) tahun 2014 juga menyebutkan jumlah penderita baru yang menjalani cuci darah di Jateng adalah 2.192 orang dan jumah pasien aktif 1.171 orang, jumlah ini diyakini lebih besar karena masih banyak yang belum melaporkan,” ujar DR. dr. Lestariningsih, SpPD, K-GH selaku konsultan Ginjal dan Hipertensi di RSUP Kariadi Semarang. Senin (13/3/2017).

Disebutkan oleh dr Dharmeizar, SpPD, KGH, Ketua Perhimpunan Nefrologi Indonesia, saat ini terduga sekira 2,9 juta penderita Penyakit Ginjal Tahap Akhir (PGTA) di Indonesia. Umumnya, pasien PGTA memiliki risiko diabetes dan hipertensi. Apabila kerusakan ginjal progresif dan tidak dapat disembuhkan, pasien perlu menjalani terapi ginjal.

Terapi cuci darah melalui perut untuk penderita gagal ginjal kronik dinilai lebih efisien dan lebih murah dibandingkan dengan hemodialisa atau cuci darah di rumah sakit.

Jika hemodialisis menggunakan mesin untuk cuci darah dan harus dilakukan di klinik atau rumah sakit, CAPD menggunakan selaput perut pasien. Karena itu, CAPD bisa dilakukan di mana saja, di kantor, di rumah, saat tidur, bahkan dalam perjalanan.

Untuk melakukan CAPD, diperlukan pemasangan kateter di dalam perut pasien untuk memasukkan cairan yang berfungsi menarik racun dari tubuh.

Menurut dr.Atma Gunawan, Sp.PD, Konsultan Ginjal hipertensi dari Malang CAPD Center membagikan pengalamannya. Ia mengatakan, hampir semua pasien penyakit ginjal kronis yang datang, 95 persen harus menjalani cuci darah memakai mesin hemodialisa.

“Sebagian besar harus melakukannya 2 kali seminggu, bahkan 3 kali seminggu. Karena memulainya terlambat, maka angka harapan hidup selama 1 tahun rendah, hanya 50 persen,” kata Atma dalam acara yang sama.

Di Malang CAPD Center, termasuk terbanyak menangani  pasien  CAPD yaitu 290 pasien atau 34 persen dari seluruh pasien pasien yang menjalani dialisis.

Namun, menurut Atma pelaksanaan CAPD bukan tanpa kendala. Misalnya, sebagian besar peserta CAPD adalah memiliki kriteria yang memerlukan cairan dialisis khusus yang lebih mahal sehingga akhirnya banyak yang drop out.

Infeksi rongga perut juga masih menjadi momok bagi pasien karena kurang menjaga kebersihan.

“Berdasarkan analisis kematian, angka kesintasan pasien yang menjalani CAPD sebenarnya lebih baik dibandingkan hemodialisa, yaitu hampir dua kali lipat. Hal ini akibat kualitas hidup hidup pasien yang menjalani CAPD jauh lebih baik,” jelas Atma.

CAPD akan lebih efektif jika dimulai sejak awal. Artinya pasien tidak perlu menjalani hemodialisis terlebih dahulu selama bertahun-tahun, baru beralih ke  CAPD.

Sharing is caring!

(Visited 3,726 times, 1 visits today)