Pelayanan Kesehatan Remaja itu Harus Unik, Betul Gak Sih
Pelayanan kesehatan remaja di Indonesia masih perlu di evaluasi dan dibuat perbaikan dalam berbagai aspeknya. Remaja itu unik, harus menariklah buat mereka.

Nadilah Salma

Editor Kesmas.ID
Nadilah Salma

Latest posts by Nadilah Salma (see all)

Jakarta – Kamis, 25/4 Direktorat Kesehatan Keluarga, Kementerian Kesehatan mengadakan Orientasi Teknis Kesehatan Keluarga TA 2019 di Hotel Kartika Chandra, Jakarta.

Peserta kegiatan ini merupakan perwakilan – perwakilan dari berbagai Dinas Kesehatan. Kegiatan ini berlangsung selama 3 hari yakni mulai 24 April hingga 27 April 2019 dengan berbagai tema bahasan. Salah satu bahasan yakni mengenai Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR). dengan narasumber dr. Fransisca Handy SpA.

Senang sekali, penulis mendapat kesempatan mewakili Kesmas-ID untuk dapat hadir dalam sesi kali ini. Selain melakukan liputan, juga sekaligus bisa belajar mengenal lebih dalam tentang pelayanan kesehatan remaja tentunya.

pelayanan kesehatan remaja, kemenkes

Pada awal sesi pertemuan, digali mengenai pengalaman PKPR di masing-masing daerah yang kemudian diklasifikasikan antara tantangan dan peluangnya. Tantangan yang ditemui misalnya koordinasi antar lembaga yang menangani perihal kesehatan remaja, geografis, biaya, minimnya sumber daya manusia dari segi kuantitas dan kualitas, serta kurangnya sosialisasi mengenai PKPR. Kemudian untuk segi peluangnya misal, menggunakan system daring untuk konsultasi, bermitra dengan swasta, memperkuat advokasi dan integrasi lintas sektoral.

BACA JUGA:  Laskar Nusantara Dilantik, Siap Jadi Agent of Change di Sekolah

Remaja didefinisikan sebagai manusia dalamrentangumur 10-24 tahun. Rentang umur tersebut yang umumnya dipakai dalam definisi remaja secara internasional. Akan tetapi, menurut dr. Fransisca, sebetulnya tidak ada definisi hitam-putih mengenai batasan remaja karena tidak ada landasan medisnya dan lebih dipengaruhi faktor psikososialnya.

Remaja itu unik dalam berbagai aspeknya. Secara fisik, mereka mengalami perubahan yang signifikan yang mana fase ini dikenal sebagai pubertas. Secara psikis pun begitu, misalnya cenderung impulsive, labil, dan berbagai gejola emosi lainnya. Hal itu disebabkan, pada fase ini bagian mid-brain mereka sedang berkembang. Seiring berjalannya waktu, otak mengalami maturasi dari mulai bagian belakang lalu kedepan. Otak bagian tengah, yang merupakan pusat emosi, mature lebih dulu kemudian bagian depan (prefrontal cortex) merupakan pusat rasionalitas.

BACA JUGA:  Siswa SMA di Kecamatan Pulau Merbau Dapat Muatan Lokal Ilmu Kesehatan Remaja

Melihat “keunikan” tersebut diperlukan intervensi khusus pada remaja termasuk dalam hal pelayanan kesehatannya. World Health Organization (WHO), menyatakan bahwa layanan ramah remaja harus bersifat: 1.) Accessible, yakni mudah dijangkau secara jarak, administrasi, dan biaya, 2.) Acceptable, yakni dapat diterima, menjamin kerahasiaan medis remaja tersebut, aman dalam aspek norma dan kultur setempat, 3.) Appropriate, yakni ditanganisecara professional oleh tenaga yang berwenang.

Pelayanan kesehatan remaja di Indonesia masih perlu di evaluasi dan dibuat perbaikan dalam berbagai aspeknya. Berdasarkan SDKI 2012, ada beberapa informasi mengenai remaja dan pelayanan kesehatan berkaitan dengan aksesibilitas, misalnya: faktor yang menyebabkan mereka jadi kelompok yang rendah dala mutilisasi pelayanan kesehatan meliputi tidak mendapat izin, tidak memiliki biaya, tidak ada yang menemani, dan lain-lain. Kemudian terkait akseptibilitas, remaja umumnya malu atau enggan untuk datang ke pelayanan kesehatan kecuali ketika memang mereka sakit. Selanjutnya, ditinjau dari sifat yang ketiga yakni appropriate, pemberi pelayanan kesehatan remaja tidak tersedia ataupun tidak sesuai.

BACA JUGA:  Pentingnya Edukasi Kesehatan Reproduksi Bagi Anak Berkebutuhan Khusus

Maka dari itu, pelayanan kesehatan untuk remaja haruslah sesuai dengan mereka. Buatlah PKPR yang menarik bagi remaja. Jika sistem pelayanan di fasilitaspelayanan kesehatan tidak efektif, coba untuk jemput bola. Selainitu, pelayanan yang diberikan juga harus sustain dan berkualitas. Keberlanjutan (sustainibilitas) menjadi penting, mengingat kekompleksan remaja itu sendiri yang seringkali masalahnya juga kompleks. Pelayanan kesehatan remaja bukan hanya sekadar pelayanan medis semata saat itu juga melainkan tetap butuh pengawalan (follow up) dan penggalian informasi secara lebih luas dan dalam.

Kemudian yang terpenting adalah libatkan remaja untuk berpartisipasi aktif di proses PKPR. Pelibatan tersebut membuat remaja merasa dihargai dan dipercaya sehingga akan meningkatkan semangatnya. Mengingat fase remaja ini merupakan fase pencarian jati diri dimana mereka akan mencari cara untuk bisa memberi makna dan mendapat penghargaan dari orang-orang sekitar.

Sharing is caring!

(Visited 147 times, 1 visits today)