Kelebihan dan Kekurangan Pemetaan Risiko Kesehatan Masyarakat Versi Gugus Tugas Pusat
Peminatan Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Ahmad Dahlan (FKM UAD) bekerja sama dengan Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) Cabang DIY menyelenggarakan Webinar dengan mengusung tema “Peran Epidemiologi dalam Penaggulangan Wabah Menuju Tahapan Produktif dan Aman dari COVID-19”.

Peminatan Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Ahmad Dahlan (FKM UAD) bekerja sama dengan Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) Cabang DIY menyelenggarakan Webinar dengan mengusung tema “Peran Epidemiologi dalam Penaggulangan Wabah Menuju Tahapan Produktif dan Aman dari COVID-19”. Kegiatan ini diselenggarakan pada hari Senin, 13 Juli 2020 pukul 09.00 – 12.00 WIB melalui aplikasi Zoom Meeting dan live streaming YouTube Universitas Ahmad Dahlan. 

Webinar diselenggarakan dengan mengundang tiga narasumber ahli dibidangnya, yaitu Theodola Baning Rahayujati, drg., M.Kes. selaku Ketua PAEI Cabang DIY; Rokhmayanti, S.KM., M.PH. selaku Koordinator Divisi Surveilans SATGAS COVID-19 UAD sekaligus Dosen dan Ketua Peminatan Epidemiologi FKM UAD, serta Arif Sujagat, S.KM, selaku TIM Penyelidikan Epidemiologi Gugus Tugas RS Darurat Penanganan COVID-19 Wisma Atlet yang juga merupakan Alumni Peminatan Epidemiologi FKM UAD. Pada kegiatan tersebut  Desi Nurfita, S.KM., M.Kes (Epid) selaku Dosen Peminatan Epidemiologi FKM UAD didapuk untuk menjadi moderator.

Acara Webinar ini dibuka dengan sambutan oleh Lina Handayani, S.KM., M.Kes., Ph.D. selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Ahmad Dahlan. Beliau menyampaikan bahwa kegiatan ini disambut baik oleh para peserta yang terdiri dari kalangan akademisi (dosen dan mahasiswa), praktisi kesehatan (puskesmas, dinas kesehatan hingga balai litbang di bawah kementerian kesehatan), dan masyarakat secara umum. Jumlah pendaftar pada webinar ini mencapai 2.203 orang peserta. Sekitar 450 orang mendaftar melalui platform Zoom Meeting dan 1.753 lainnya mendaftar melalui platform YouTube

Kelebihan dan Kekurangan Pemetaan Risiko Kesehatan Masyarakat Versi Gugus Tugas Pusat

Penyampaian materi pertama disampaikan oleh Ibu Baning Rahayujati, drg., M.Kes yang membahas terkait “Kelebihan dan Kekurangan Pemetaan Risiko Kesehatan Masyarakat Versi Gugus Tugas Pusat”. Beliau memaparkan tentang bagaimana proses suatu pemetaan risiko kesehatan yang biasa kita kenal dengan zonasi dari  Covid-19 di tiap wilayah yang ada di Indonesia, serta kelebihan dan kekurangan dari sistem pemetaan tersebut. Di mana dalam proses pemetaan diperlukan indikator yang digunakan oleh gugus tugas pusat, diantaranya yaitu epidemiologi, surveilans kesehatan masyarakat dan pelayanan kesehatan.

Beliau juga menyampaikan fakta – fakta terkait covid19 tentang human to human transmition yang menular melalui droplet, serta belum ditemukannya obat dan vaksin dari covid19. Untuk pencegahan covid dengan menjaga jarak adalah suatu hal yang sulit dilakukan oleh masyarakat karena masarakat indonesia yang mempunyai sifat sosial sangat tinggi dan budaya kekeluargaan yang sangat bagus sehingga untuk tidak berdekataan dengan kelaurganya tentu tidak mudah.

Pentingnya Surveilans COVID-19 di Kampus Menuju New Normal

Rokhmayanti, S.KM., M.PH. memaparkan tentang “Pentingnya Surveilans COVID-19 di Kampus Menuju New Normal”. Beliau menyampaikan tentang lesson learned dari UAD dalam pencegahan dan penanggulangan COVID-19 bagi Sivitas Akademika. Kegiatan Surveilans COVID-19 di UAD dilakukan melalui beberapa tahapan. Pada awal pandemi mulai masuk ke Indonesia, Rektor UAD dengan sigap segera membentuk SATGAS COVID-19 UAD. SATGAS menindaklanjuti perannya dengan melakukan penyebarluasan informasi Nomor Hotline dan ketentuan siapa saja yang harus melapor. SATGAS juga tidak canggung untuk melayangkan surat pemberitahuan dan permohonan penguatan jejaring kepada Dinas Kesehatan DIY dengan harapan, adanya penguatan jejaring akan dapat mempermudah dalam komunikasi dan koordinasi terkait surveilans COVID-19 di lingkungan UAD dan melanjutkan dengan membuat protokol, panduan dan pedoman kesehatan yang berkaitan dengan COVID-19.

Rokhmayanti memaparkan tentang perjalanan surveilans COVID-19 UAD yang terbagi dalam tiga tahap besar. Tahap pertama (Awal Pandemi) adalah tahap dimana Sivitas Akademika masih sangat cemas dan khawatir apabila muncul gejala-gejala yang dirasakan menjadi sangat khawatir jika hal tersebut merupakan salah satu indikasi adanya infeksi COVDI-19 sehingga data pelapor masuk ke hotline pun cukup banyak. Tahap kedua adalahmasa menjelang tradisi mudik lebaran, yang pada saat itu SATGAS harus memberikan himbauan untuk tidak mudik, dan apabila Sivitas Akademika akan mudik maka wajib mengikuti edaran, protokol, panduan, dan pedoman SATGAS (mulai dari melaporkan ke hotline dan mengidentifikasi kondisi kesehatan masing-masing, mematuhi protokol mudik, pedoman perjalanan selama pandemi, panduan sampai di rumah, panduan karantina, dan isolasi mandiri.

Tahap terakhir adalah Surveilans COVID-19 dalam menuju tahapan produktif dan aman dari COVID-19 dimana SATGAS harus mulai menyiapkan dan mengeluarkan surat edaran, protokol, panduan maupun pedoman seperti Protokol Sivitas Akademika kembali ke DIY, protokol memasuki kampus UAD, protokol penggunaan laboratorium untuk penelitian, dll. Semua data yang masuk ke hotline dari tiga tahapan tersebut dianalisis dan dijadikan dasar dalam penanganan dan pengambilan kebijakan terkait COVID-19 di lingkungan UAD.

Pemateri mengakhiri dengan menyampaikan bahwa Surveilans di kampus untuk kehidupan produktif dan aman dari COVID-19 sangatlah penting karena setiap institusi dapat memberikan kontribusi pada penanganan COVID-19 sesuai dengan kemampuan masing-masing dan pada dasarnya COVID-19 bukan hanya menjadi  tanggung jawab pemerintah saja, tetapi juga tanggung jawab bersama.

Keterbatasan bukan alasan untuk tidak berkontribusi, langkah kecil dapat dilakukan dengan mengedukasi masyarakat dan menjadi contoh  yang baik untuk melakukan kebiasaan hidup yang lebih sehat dari sebelum masa pandemi, dan melakukan kerja sama lintas sektor, lintas bidang, serta lintas keilmuan menjadi hal yang sangat penting.

Best Experience Surveilans Epidemiologi RSDC Wisma Atlet

Materi ketiga disampaikan oleh Arif Sujagat, S.KM. Beliau memaparkan terkait ”Best Experience Surveilans Epidemiologi RSDC Wisma Atlet”. Beliau menyampaikan pengalamannya selama bertugas menjadi tim Penyelidikan Epidemiologi di RSDC Wisma Atlet . Beliau juga memaparkan bagaimana surveilans dan tujuan dari surveilans epidemiologi di RSDC Wisma Atlet .

Hal tersebut tentunya juga dijelaskan tentang kriteria dan Definisi Operasional kasus yang terdiri dari OTG, ODP, PDP, dan kasus yang terkonfirmasi. Beliau menyampaikan dalam metode pelaksanaan penyelidikan epidemiologi di RSDC Wisma Atlet. dilakukan dengan cara wawancara, baik melalui telepon dan wawancara langsung dengan pasien. Beliau tentunya juga memaparkan proses dari pelaksanaan penyelidikan epidemiologi di RSDC tersebut.

Peserta mengungkapkan bahwa materi yang disampaikan menarik serta mudah dipahami. Selain itu, antusiasme peserta juga digambarkan melalui banyaknya peserta yang megajukan pertanyaan kepada para narasumber.

Sharing is caring!

(Visited 235 times, 1 visits today)