Perawatan Gigi Emergensi Pada Pasien Diabetes Melitus
Tulisan ini sebagai Pedoman Perlindungan Petugas Pelayanan Kesehatan Gigi & Mulut, dalam menghadapi penyandang Diabetes Melitus di masa Pandemi Covid-19.
Gilang R. Sabdho Wening, DDS., MPH
Latest posts by Gilang R. Sabdho Wening, DDS., MPH (see all)

Kementerian Kesehatan RI menyatakan bahwa selain dari kontak tidak langsung dan droplet, aerosol (bronkoskopi, nebulisasi, dll) dapat memicu terjadinya penularan COVID-19 melalui airborne. Individu yang memiliki resiko paling tinggi untuk tertular COVID-19 adalah individu yang berkontak erat secara langsung dengan pasien COVID-19 dan/atau petugas pelayanan kesehatan yang merawat pasien COVID-19 (Kemenkes RI, 2020).

Dokter gigi memiliki resiko yang tinggi terhadap infeksi COVID-19, oleh karena sering bertatap muka dengan pasien dan terkena paparan air liur, darah, dan cairan tubuh lainnya, serta penanganan instrument yang tajam (Peng et al, 2020). Oleh karena itu, dokter gigi harus lebih memahami bagaimana mengidentifikasi pasien dengan infeksi COVID-19, dan menggunakan alat perlindungan diri yang ekstra selama praktek dan menghadapi pasien untuk mencegah penularan infeksi COVID-19.

Diabetes Mellitus merupakan penyakit yang dialami oleh sebagian besar penduduk di dunia dan memiliki kaitan yang signifikan dengan keadaan rongga mulut (Wild et al, 2004).

Perubahan keadaan rongga mulut pasien dengan Diabetes Mellitus dapat berupa masalah yang berhubungan dengan gusi seperti hiperplasi gingiva dan periodontitis. Kondisi lainnya dapat berupa karies gigi, oral candidiasis, dan glossodynia. Beberapa individu juga ada yang mengeluhkan seperti nafas berbau aseton dan xerostomia (Bharateesh et al, 2012).

Berdasarkan latar belakang diatas, maka dibuatlah suatu panduan bagi petugas pelayanan kesehatan gigi dan mulut selama masa pandemi COVID-19 dalam menghadapi pasien, khususnya pasien Diabetes Mellitus yang memiliki banyak masalah terkait rongga mulutnya.

Tulisan yang dibuat ini dengan harapan dapat memberikan informasi kepada petugas pelayanan kesehatan gigi dan mulut terutama dalam hal perlindungan diri saat menghadapi pasien Diabetes Mellitus pada masa pandemi COVID-19 ini untuk meminimalisir penularan antara pasien dan petugas pelayanan kesehatan.

Diabetes Mellitus

Diabetes Mellitus (DM) merupakan penyakit yang disebabkan oleh gangguan metabolisme yang ditandai dengan peningkatan gula darah yang disebut dengan kondisi hiperglikemia (ADA, 2018). Diabetes melitus merupakan gangguan metabolisme yang secara genetik dan klinis termasuk heterogen dengan manifestasi berupa hilangnya toleransi terhadap karbohidrat. Tubuh tidak dapat mengubah karbohidrat atau glukosa menjadi energi disebabkan tubuh tidak mampu memproduksi atau produksi insulin kurang bahkan tidak mampu menggunakan insulin yang dihasilkan, sehingga glukosa tidak dapat masuk ke dalam sel untuk diubah menjadi energi dan menyebabkan kadar glukosa di dalam darah meningkat. Kondisi tersebut dapat menyebabkan kerusakan di berbagai jaringan dalam tubuh mulai dari pembuluh darah, mata , ginjal, jantung dan syaraf yang disebut dengan komplikasi dari Diabetes melitus (Sugianto, 2016).

World Health Oragnization atau WHO (2016) menyebutkan bahwa Penyakit ini ditandai dengan munculnya gejala khas yaitu poliphagia, polidipsia dan poliuria serta sebagian mengalami kehilangan berat badan. DM merupakan penyakit kronis yang sangat perlu diperhatikan dengan serius. DM yang tidak terkontrol dapat menyebabkan beberapa komplikasi seperti kerusakan mata, ginjal pembuluh darah, saraf dan jantung.

Klasifikasi DM berdasarkan etiologi menurut Perkeni (2015) dibagi menjadi 2 yaitu Diabetes Mellitus (DM) tipe 1 dan Diabetes Mellitus (DM) tipe 2. Diagnosis DM dapat ditegakkan berdasarkan pemeriksan glukosa darah yang dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai macam pemeriksaan laboratorium seperti pemeriksaan glukosa darah. Metode yang paling dianjurkan untuk mengetahui kadar glukosa darah adalah metode enzimatik dengan bahan plasma atau serum darah vena (Perkeni, 2015).

DM Tipe 2/Non-Insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM)

DM tipe 2 adalah penyakit kronis dengan karakteristik terjadi peningkatan glukosa darah (hiperglikemia) dalam tubuh. Penyebab dari DM adalah gangguan pada sekresi insulin, aksi insulin atau keduanya. DM tipe 2 disebabkan oleh perpaduan antara gangguan aksi insulin (resistensi insulin) dan defisiensi insulin yang terjadi secara relatif sebagai kompensasi sekresi insulin yang tidak adekuat (IDAI, 2015).

DM tipe 2 pada tahap awal perkembangannya tidak disebabkan oleh gangguan sekresi insulin dan jumlah insulin dalam tubuh mencukupi kebutuhan (normal), tetapi disebabkan oleh sel-sel sasaran insulin gagal atau tidak mampu merespon insulin secara normal (Fitriyani, 2012). Berbagai macam faktor gaya hidup juga sangat penting untuk pengembangan Diabetes Mellitus tipe 2, seperti sedentary lifestyle atau ketidakaktifan fisik, merokok dan konsumsi alkohol.

Masalah kesehatan terkait diabetes mempengaruhi kualitas hidup pasien yang mengarah ke aktivitas fisik dan keterbatasan fungsional. Shrivastava et al. (2018), kelompok pasien dengan diabetes tidak terkontrol mengalami rasa sakit dan ketidaknyamanan saat makan yang dapat disebabkan oleh mobilitas gigi.

Kriteria Diabetes Mellitus

Kriteria diagnosis Diabetes Mellitus berdasarkan DEPKES (2018) antara lain:

  • Pemeriksaan glukosa plasma puasa/Fasting Plasma Glucose (FPG) ≥126 mg/dl. Puasa adalao kondnsn tndak ada asupan kalori minimal 8 jam.
  • Pemernksaan glukosa plasma ≥200 mg/dl 2 jam setelao
  • Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO) / Oral Glucose Tolerance Test (OGTT) dengan beban glukosa 75 gram.
  • Pemernksaan glukosa plasma sewaktu ≥200 mg/dl dengan keluhan klasik (poliuria, polidipsia, polifagia dan penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya).
  • Pemernksaan HbA1p ≥6,5% dengan menggunakan metode yang terstandarisasi oleh National Glycohaemoglobin Standarization Program (NGSP).
Kriteria Diagnosis Diabetes Mellitus

Faktor Resiko Diabetes Mellitus

Faktor Resiko yang dapat diubah

  • Perilaku Pola Makan
    Perilaku diet yang tidak sehat yaitu terlalu sering mengkonsumsi makanan manis, kurang olahraga, menekan nafsu makan, dan sering mengkonsumsi makan siap saji (Abdurrahman, 2014).
  • Obesitas
    Obesitas merupakan salah satu faktor risiko utama untuk terjadinya penyakit DM. Menurut Kariadi (2009) dalam Fathmi (2012), obesitas dapat membuat sel tidak sensitif terhadap insulin (resisten insulin). Semakin banyak jaringan lemak pada tubuh, maka tubuh semakin resisten terhadap kerja insulin.

Faktor Resiko yang tidak dapat diubah

  • Usia
    Semakin bertambahnya usia maka semakin tinggi risiko terkena diabetes tipe 2. DM tipe 2 terjadi pada orang dewasa setengah baya, paling sering setelah usia 45 tahun (AHA, 2012). Meningkatnya risiko DM seiring dengan bertambahnya usia dikaitkan dengan terjadinya penurunan fungsi fisiologis tubuh.
  • Riwayat Keluarga
    Diabetes melitus dapat diwarisi gen penyebab DM orang tua. Biasanya, seseorang yang menderita DM mempunyai anggota keluarga yang juga terkena penyakit tersebut. Fakta menunjukkan bahwa mereka yang memiliki ibu penderita DM tingkat risiko terkena DM sebesar 3,4 kali lipat lebih tinggi dan 3,5 kali lipat lebih tinggi jika memiliki ayah penderita DM (Ehsa, 2010).

Perawatan Gigi Emergensi pada Pasien Diabetes Mellitus

Pada masa pandemi COVID-19 ini, perawatan gigi selain emergensi harus ditunda agar dapat mencegah terjadinya penularan virus . beberapa jenis perawatan gigi emergensi pada pasien Diabetes Mellitus adalah sebagai berikut :

  • Terjadi pembengkakan yang menyakitkan pada daerah rongga mulut
  • Pendarahan di rongga mulut yang tidak berhenti
  • Sakit pada gigi atau tulang rahang
  • Infeksi gusi yang meliputi pembengkakakn atau nyeri
  • Penggantian dressing atau mengangkan penjahitan
  • Gigi patah atau lepas
  • Biopsi jaringan normal
  • Penyesuaian gigi palsu yang sakit
  • Pipi atau gusi yang sakit karena kawat gigi
  • Terjadinya trauma pada daerah sekitar rongga mulut

COVID-19

Coronavirus Disease (COVID-19)

Coronavirus disease (COVID-19) merupakan suatu penyakit menular yang disebabkan oleh jenis coronavirus. Coronavirus merupakan famili dari Coronaviridae dari ordo Nidovirales, yang terdiri atas RNA besar, tunggal, dan plus-stranded RNA genom 13 dan 14. Saat ini, ada empat gen coronavirus, yaitu α- CoV, β-CoV, γ-CoV, and δ-CoV15,16. Sebagian besar coronavirus merupakan penyakit menular pada manusia dan vertebrata. α- CoV, β-CoV paling sering menginfeksi sistem pernapasan, pencernaan, dan sistem saraf pusat manusia dan mamalia. Sedangkan γ-CoV, and δ-CoV15,16 biasanya menginfeksi burung (Peng et al, 2020).

COVID-19 ini merupakan jenis β-CoV yang memiliki masa inkubasi rata-rata selama 5 hingga 6 hari, tetapi ada yang membuktikan bawah bisa hingga 14 hari, yang sekarang dijadikan durasi umum untuk observasi medis dan karantina bagi yang berpotensi terinfeksi virus ini (Backer et al, 2020).

Manifestasi Klinis

Pasien yang terinfeksi COVID-19 ini sebagian besar memiliki gejala kasus yang relatif ringan. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Guan et al (2020) dan Yang et al (2020) dan data dari National Health Commision of China (2020), persentase kasus parah dinatar semua pasien yang terinfeksi COVID-19 di Cina adalah sekitar 15% – 25%.

Gejala yang paling sering dialami pasien COVID-19 berupa batuk kering, dan beberapa pasien juga mengalami sesak napas, kelelahan, dan gejala atipikal lainnya, seperti nyeri otot, sakit kepala, sakit tenggorokan, diare, dan muntah-muntah (Chen, Zhou, et al, 2020). Ada beberapa pasien yang melakukan Computed Tomography (CT) pada dada, sebagian besar menujukkan adanya pneumonia bilateral, dengan ground-glass opacity dan bilateral patchy shadows yang menjadi pola paling umum (Guan et al, 2020; Wang et al, 2020).

Cara Penularan

Pada awalnya COVID-19 dimulai dengan penularan dari hewan ke manusia, diikuti dengan penyebaran dri manusia ke manusia yang berkelanjutan (Chan et al, 2020; Del Rio and Malani, 2020). Saat ini, COVID-19 dapat menular secara transmisi langsung (batuk, bersin, dan transmisi droplet) dan transmisi tidak langsung (kontak dengan selaput lender oral, hdiung, dan mata) (Lu et al, 2020). Meskipun pada pasien COVID-19 hanya sedikit yang ditemui ada gejala pada mata, namun paparan mata dapat memberikan jalan masuk yang efektif bagi virus untuk memasuki tubuh (Peng et al, 2020).

Pencegahan Transmisi COVID-19 di Fasyankes Gigi & Mulut

Pengendalian Teknis

  • Melakukan disinfeksi ruangan pelayanan kesehatan gigi & mulut sebelum dan sesudah melakukan pelayanan kepada pasien.
  • Melakukan disinfeksi terhadap peralatan yang digunakan seperti peralatan diagnostik, dental chair, alat tulis, dan peralatan lain yang digunakan setelah melakukan pelayanan terhadap pasien.
  • Menunda tindakan intervensi seperti pencabutan, penambalan gigi jika tidak dalam keadaan mendesak. Jika keadaan yang mendesak untuk dilakukan tindakan maka petugas yang melakukan tindakan harus melakukan universal precaution dengan menggunakan alat pelindung diri yang tepat.

Pengendalian Administratif

Kewaspadaan Standar

1. Melakukan skrining secara cepat dan akurat dalam menentukan status pasien apakah ODP, PDP atau bukan keduanya.

2. Kebersihan Tangan
Kebersihan tangan dilakukan untuk mencegah agar tidak terjadi infeksi, kolonisasi bakteri / virus pada pasien, dan mencegah kontaminasi dari pasien ke lingkungan tempat pasien dirawat, petugas, dan lingkungan kerja petugas. Kebersihan tangan dilakukan dengan mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir bila tangan kotor atau terkena cairan tubuh, atau menggunakan antiseptik berbahan dasar alkohol (alcohol-based hand rubs) 60-95% bila tangan tidak tampak kotor. Kuku petugas harus selalu bersih dan terpotong pendek, tanpa kuku palsu, tanpa memakai perhiasan cincin. Sebisa mungkin hindari menyentuh bagian wajah dengan tangan selama bekerja.

Cuci tangan dengan sabun biasa / antimikroba harus dilakukan pada saat:

  • Sebelum kontak denganpasien
  • Sebelum tindakan aseptik
  • Setelah kontak darah dan/atau cairan tubuh (sekresi/ekskresi), termasuk bila tangan beralih dari area tubuh yang terkontaminasi ke area lainnya yang bersih pada pasien yang sama
  • Setelah kontak dengan pasien
  • Setelah kontak dengan lingkungan sekitar pasien
  • Sebelum memakai dan setelah melepas APD
  • Setelah melepas sarung tangan.

Etika Batuk dan Bersin

Jika ingin batuk dan bersin untuk semua orang termasuk staf fasilitas pelayanan kesehatan gigi & mulut diinstruksikan untuk:

  • a. Tutup mulut dan hidung dengan tisu/sapu tangan atau lengan bagian dalam saat batuk atau bersin
  • b. Buang tisu bekas di wadah limbah terdekat.
  • c. Lakukan kebersihan tangan setelah kontak dengan sekresi pernapasan dan benda/material yang terkontaminasi.

3. Praktik Injeksi

Praktik injeksi yang aman adalah tidak melakukan recapping dan satu spuit untuk satu obat. Membuang jarum bekas injeksi ke dalam safety box.

Kewaspadaan terhadap Transmisi Virus

Tindakan Pencegahan Kontak

Dilakukan saat akan melakukan kontak dengan pasien, cairan tubuh pasien ataupun lingkungan pasien. Lakukan langkah pencegahan standar sebelum kontak.

Tindakan Pencegahan Percikan (Droplet)

Transmisi droplet dapat terjadi ketika partikel droplet berukuran lebih dari 5 mikron yang dikeluarkan pada saat batuk, bersin, muntah, bicara, selama tindakan intervensi mulut dan saluran pernapasan, melayang di udara kemudian jatuh dalam jarak kurang dari 2 meter dan mengenai mukosa atau konjungtiva. Maka perlu dilakukan pembuatan jarak 1 – 2 meter dengan penanda khusus diantara, pasien tidak diperkenankan membawa barang – barang pribadi kedalam ruang pelayanan kesehatan, anjurkan pasien untuk menggunakan masker, hindari kontak dengan pasien lain, dan praktik kebersihan pernapasan dan etika batuk jika merasa tidak enak badan, Bersihkan dan disinfeksikan ruang pemeriksaan / perawatan dengan benar.

Pengelolaan Khusus Bagi Petugas Pelayanan Kesehatan Gigi & Mulut

Petugas pelayanan kesehatan gigi & mulut harus menggunakan:

  1. Baju kerja sesuai ketentuan rumah sakit
  2. Respirator N95
  3. Goggle
  4. Face shield
  5. Sarung tangan medis
  6. Sepatu tertutup

Petugas Kebersihan pelayanan kesehatan gigi & mulut harus menggunakan :

  1. Menggunakan APD sesuai dengan masing-masing lokasi tempat melakukan aktivitas
  2. Goggle/face shield (bila menangani limbah cair atau yang mengandung cairan)
  3. Sarung tangan dobel (medis non-steril pendek dan kimia tebal).
  4. Sepatu tertutup

Perlindungan Petugas Yankes Gigi & Mulut Dalam Menghadapi Diabetes Melitus di Masa Pandemi Covid-19

Alat Pelindung Diri (APD)

APD adalah pakaian khusus atau peralatan yang dipakai petugas untuk memproteksi diri dari bahaya yang ada di lingkungan kerja. APD bagi personel fasilitas pelayanan kesehatan terdiri dari pelindung tangan (sarung tangan), pelindung pernapasan (masker atau respirator), pelindung wajah dan mata, kap penutup kepala, pelindung tubuh (apron/gaun), pelindung kaki (sandal/sepatu tertutup (boot)). Pemakaian APD bertujuan melindungi kulit dan membran mukosa dari resiko pajanan darah, cairan tubuh, sekret, ekskreta, kulit yang tidak utuh dan selaput lendir dari pasien ke petugas dan sebaliknya. Indikasi penggunaan APD adalah jika melakukan tindakan yang memungkinkan tubuh atau membran mukosa terkena atau terpercik darah atau cairan tubuh atau kemungkinan pasien terkontaminasi dari petugas. Pelepasan APD secara sistematis harus dilakukan segera setelah selesai tindakan. Tidak dibenarkan menggantung masker di leher, memakai sarung tangan sambil menulis dan menyentuh permukaan lingkungan.

Alat Pelindung Wajah dan Mata

Macam – macam alat pelindung wajah dan mata :

1. Goggles

Goggles merupakan pelindung mata berbentuk seperti kaca mata yang terbuat dari plastik digunakan sebagai pelindung mata yang menutup dengan erat area sekitarnya agar terhindar dari cipratan yang dapat mengenai mukosa. Pelindung mata/goggles digunakan pada saat tertentu seperti aktifitas dimana kemungkinan risiko terciprat/ tersembur, khususnya pada saat prosedur menghasilkan aerosol, kontak dekat berhadapan muka dengan muka pasien COVID-19. Goggles di indikasikan pada perawatan pasien infeksius rutin yang tidak membutuhkan tindakan medis invasif. Apabila tindakan medis invasif diperlukan seperti intubasi atau tindakan operasi maka goggles harus dikombinasikan dengan pelindung wajah (face shield).

Tata cara penggunaan goggles :

  1. Pastikan tangan telah dibersihkan sebelum menyentuh goggles
  2. Periksa kondisi goggles yang akan digunakan apabila terdapat kerusakan maka goggles tidak dapat digunakan
  3. Letakan tali pengika goggles ke sisi belakang kepala
  4. Letakan bingkai goggles menutupi mata
  5. Kencangkan tali pengikat sehingga membentuk sambungan yang erat antara bingkai dan kulit wajah
  6. Pastikan goggles sudah terpasang dengan baik, tidak longgar atau goyang

Tata cara melepaskan goggles :

  1. Masih menggunakan sarung tangan bersih
  2. Longgarkan tali pengikat kepala
  3. Lepaskan goggles dan letakkan di tempat yang telah disediakan untuk dibersihkan/dekontaminasi.

2. Face Shields / Pelindung Wajah

Face Shields merupakan pelindung wajah dirancang untuk membantu melindungi bagian-bagian wajah pemakainya terhadap paparan tertentu. Sementara kacamata membantu melindungi mata pemakai dari kontaminasi droplet sedangkan pelindung wajah dapat membantu mengurangi paparan terhadap mata dan area wajah lainnya. Pelindung wajah, baik yang sekali pakai atau yang dapat digunakan kembali, harus menutupi bagian depan dan samping wajah. Pelindung wajah saja mungkin tidak memberikan perlindungan mata yang cukup, sehingga harus tetap menggunakan kacamata pelindung.

Tatacara penggunaan pelindung wajah (Face Shield)

  1. Pastikan tangan telah dibersihkan sebelum menyentuh pelindung wajah.
  2. Periksa kondisi pelindung wajah yang akan digunakan apabila terdapat kerusakan maka pelindung wajah tidak dapat digunakan.
  3. Letakan tali pengikat ke sisi belakang kepala dan kencangkan
  4. Pastikan bagian atas dari pelindung wajah menempel dengan baik pada dahi
  5. Pastikan pelindung wajah sudah terpasang dengan baik di kepala dan tidak longgar atau goyang.

Tata cara melepaskan pelindung wajah (Face Shield):

  1. Masih menggunakan sarung tangan bersih
  2. Longgarkan tali pengikat kepala
  3. Lepaskan pelindung wajah dan letakkan di tempat yang telah disediakan untuk dibersihkan/dekontaminasi.

Goggles dan pelindung wajah harus dibersihkan setiap kali selesai digunakan dengan cara merendam goggles/pelindung wajah ke dalam larutan pembersih yang dilarutkan dengan menggunakan air hangat sekitar 49OC dan kemudian permukaan goggles/pelindung wajah digosok dengan menggunakan kain lembut sampai dengan bersih. Deterjen netral dapat ditambahkan apabila diperlukan. Perendaman minimal dilakukan selama 1 menit kemudian dibilas dengan air hangat bersih dan selanjutnya dikeringkan di area yang tidak terkontaminasi. Larutan pembersih dapat menggunakan natrium hipoklorit (cairan pemutih) dengan takaran 5,000 ppm atau rasio 1 bagian cairan pemutih untuk 10 bagian air hangat (1:10).

Googles

  • Seal baik terhadap kulit wajah
  • Frame fleksibel yang dapat menutup seluruh kontur wajah tanpa menekan terlalu dalam
  • Dapat menutup seluruh mata dan daerah sekitarnya
  • Resisten terhadap pembentukan embun atau scrath (“baret”)
  • Memiliki tali ikat kepala yang dapat disesuaikan dengan ukuran masing-masing
  • Dapat digunakan secara berulang setelah prosedur disinfeksi
  • Standar WHO: EU Standard directive 86/686/EEC, EN 166/2002 atau ANSI/ISEA Z87.1-2010

Face Shield

  • Terbuat dari plastik tembus pandang sehingga memberikan visibilitas baik bagi tenaga kesehatan dan pasienMemiliki tali ikat kepala yang dapat disesuaikan
  • Sebaiknya yang resisten terhadap pembentukan embun
  • Dapat digunakan kembali setelah disinfeksi atau sekali pakai
  • Standar WHO: EU Standard directive 86/686/EEC, EN 166/2002 atau ANSI/ISEA Z87.1-2010

3. Masker N95

Masker N95 terbuat dari polyurethane dan polypropylene adalah alat pelindung pernapasan yang dirancang dengan segel ketat di sekitar hidung dan mulut untuk menyaring hampir 95 % partikel yang lebih kecil < 0,3 mikron. Masker ini dapat menurunkan paparan terhadap kontaminasi melalui airborne. Sebaiknya menggunakan masker dengan bentuk “duckbill” atau “cupshape” yang tndak langsung kontak dengan mulut, sehingga lebih aman dan nyaman untuk digunakan.

MASKER (NON FLUID RESISTEN) PARTICULAR RESPIRATOR

  • Digunakan bersama dengan face shield
  • Standar WHO masker N95 Respirator: NIOSH N95, EN149 FFP2

MASKER (FLUID RESISTEN) PARTICULAR RESPIRATOR

  • Bentuk masker tidak mudah berubah
  • Efisiensi filtrasi yang baik
  • Standar WHO masker N95 Respirator:
    – NIOSH N95, EN149 FFP2
    – NIOSH N95 (Amerika NIOSH-42CFR84)
    – EN 149 FFP2 (Eropa EN 1492001)
    – KN95 (Cina GB2626-2006)
    – P2 (Australia/New Zealand AS/NZA 1716-2012)
    – Korea 1st class (Korea KMOEL-2017-64)
    – DS (Jepang JMLWNotification 214, 2018)
  • Resistan air : minimal 80 mmHg pressure berdasarkan ASTM F1862, ISO 22609 atau ekuivalen

FLUID RESISTAN MEDICAL atau MASKER BEDAH

  • Resistensi tinggi terhadap air
  • Mudah untuk bernapas
  • Seal yang baik terhadap kontur wajah
  • Bentuk masker yang tidak berkontak langsung terhadap hidung atau mulut (bentuk “dupkbnll” atau “pup soape”)
  • Standar WHO masker bedah : EN 14483 Tipe IIR performance atau ASTM F2100 level 2 atau level 3 atau ekuivalen

Alat Pelindung Tangan

Sarung tangan merupakan bentuk alat pelindung tangan untuk melindungi pekerja dari kontak dengan bahan infeksius. Namun, sekali terkontaminasi, sarung tangan dapat menjadi sarana untuk menyebarkan bahan menular ke diri sendiri, pasien lain atau ke permukaan lingkungan. Karena itu, cara menggunakan sarung tangan dapat memengaruhi risiko penularan penyakit di lingkungan perawatan kesehatan.

Sarung tangan yang ideal harus tahan robek, tahan bocor, biocompatibility (tidak toksik) dan pas di tangan tidak boleh terlalu longgar atau terlalu ketat. Sarung tangan medis berbahan lateks karet, polyvinyl chloride (PVC), nitrile, polyurethane hanya boleh digunakan sekali. Jika sarung tangan menjadi sobek atau sangat kotor atau akan melakukan tugas perawatan pasien yang lain maka sarung tangan harus diganti sebelum memulai selanjutnya.

Selalu ganti sarung tangan setelah digunakan pada setiap pasien, dan buang di wadah terdekat yang sesuai. Sarung tangan perawatan pasien tidak boleh dicuci dan digunakan lagi. Mencuci sarung tangan tidak lantas membuatnya aman untuk digunakan kembali.

  • Berbahan nitril atau latex
  • Sarung tangan kedua (terluar) sebaiknya mencapai pertengahan lengan bawah (minimal 280 mm dari panjang total)
  • Tersedia berbagai ukuran Standar WHO
  • EU standard directive 93/42/EEC class I, EN 45
  • EU standard directive 89/686/EEC category III. EN 374
  • ANSI/ISEA 105-2011
  • ASTM D6319-10 atau ekuivalen

Alat Pelindung Tubuh

Gown / Gaun medis

Gown/gaun medis merupakan salah satu alat pelindung tubuh untuk pengendalian infeksi secara keseluruhan. Gaun medis digunakan untuk melindungi pemakainya dari penyebaran infeksi atau penyakit jika pemakai bersentuhan dengan bahan padat dan cair atau pasien yang berpotensi menular.

Gaun medis juga dapat digunakan untuk membantu mencegah pemakai gaun dari mentransfer mikroorganisme yang dapat membahayakan pasien yang rentan, seperti mereka yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah.

Persyaratan gaun yang ideal antara lain efektif barrier (mampu mencegah penetrasi cairan), fungsi atau mobilitas, nyaman, tidak mudah robek, pas di badan (tidak terlalu besar atau terlalu kecil), biocompatibility (tidak toksik), flammability, odor, dan quality maintenance. Jenis gaun antara lain gaun bedah, gaun isolasi bedah dan gaun non isolasi bedah.

Menurut penggunaannya, gaun dibagi menjadi 2 yaitu gaun sekali pakai (disposable) dan gaun dipakai berulang (reuseable).

GAUN SEKALI PAKAI

  • Gaun yang memiliki panjang dari leher hingga menutupi atas dari sepatu boot
  • Hindari warna hitam, sebaiknya memiliki warna sedikit terang untuk memudahkan deteksi klinis adanya kemungkinan kontaminasi
  • Ada loop ibu jari atau jari tangan untuk penggunaan lengan panjang agar gaun tidak mudah terlepas
  • Standar WHO :
    Pilihan I : resistan terhadap penetrasi cairan: EN I3795 high performance level, atau AAMI level 3 performance atau ekuivalen
    Pilihan 2 : resisten terhadap penetrasi patogen bloddborne : AAMI PB70 level 4 performance atau ekuivalen

GOWN ALL-COVER SEKALI PAKAI

  • Gaun yang memiliki panjang dari leher hingga menutupi pergelangan kaki dan/atau dapat menutupi kepala hingga pergelangan kaki
  • Hindari warna hitam, sebaiknya memiliki warna sedikit terang untuk memudahkan deteksi klinis adanya kemungkinan kontaminasi
  • Ada loop ibu jari atau jari tangan untuk penggunaan lengan panjang agar gaun tidak mudah terlepas
  • Standar WHO :
    Pilihan I : resistan terhadap penetrasi cairan: setara atau lebih dari ISO I6603 class 3
    Pilihan 2 : resistan terhadap penetrasi patogen bloodborne : setara atau lebih dari ISO I6604 class 2 exposure pressure atau ekuivalen

2. Apron

Apron merupakan pelindung tubuh untuk melapisi luar gaun/gown yang digunakan oleh petugas kesehatan dari penetrasi cairan infeksius pasien yang bisa terbuat dari plastik sekali pakai atau bahan plastik berkualitas tinggi yang dapat digunakan kembali (reuseable) yang tahan terhadap klorin saat dilakukan desinfektan. Jika secara klinis, apron mengalami kerusakan, sebaiknya langsung digantikan dengan yang baru. Apron yang digunakan sebaiknya menutupi selutuh tubuh dan resisten terhadap cairan.

APRON RESISTEN TERHADAP CAIRAN

  • Sekali pakai atau dapat digunakan ulang
  • Terbuat dari bahan polyester dengan PVC-coating atau bahan waterproof lainnya
  • Apron dengan bib (=kancin perekat) Minimal berat 250 gr/m2
  • Ukuran : lebar 70-90 cm dengan panjang 120-150 cm atau standar ukuran dewasa
  • Pilihan I : neck strap yang dapat disesuaikan dengan back fastening at the waist
  • Pilihan 2 : neck strap allowing for tear off with back fastening at the waist

HEAVY DUTY APRON

  • Dibuat dari bahan bukan tenun yang kuat
  • Dapat digunakan kembali setalh prosedur disinfeksi
  • Terbuat dari 100% polyester dengan PVC-coating atau 100% PVC atau 100% karet atau bahan waterproof lainnya
  • Apron dengan bib (=kancing perekat) pada bagian leher hingga bawah gaun
  • Resistan terhadap cairan
  • Minimal berat 300 gr/m2
  • Ukuran : lebar 70-90 cm dengan panjang 120-150 cm atau standar ukuran dewasa

SURGICAL SCRUB (BAJU dan CELANA PANJANG)

  • Bahan yang tidak mudah robek
  • Minimal penjahitan
  • Tidak steril, dapat dipakai berulang atau sekali pakai
  • Baju lengan pendek
  • Celana panjang dengan pinggang tali serut

Alat Pelindung Kaki

Alat pelindung kaki dapat terbuat dari karet atau bahan tahan air atau bisa dilapisi dengan kain tahan air, contohnya sepatu boot/sepatu tertutup dengan pembungkus sekali pakai. Sepatu boot/sepatu tertutup dengan pembungkus sekali pakai merupakan alat pelindung kaki dari percikan cairan infeksius pasien selama melakukan perawatan.

Selain itu sepatu boot dapat melindungi tenaga kesehatan dari alat tajan atau korosif saat terjatuh. Sepatu pelindung harus menutup seluruh kaki bahkan bisa sampai betis apabila gaun yang digunakan tidak mampu menutup sampai ke bawah. Sepatu boot tidak perlu diganti, dapat digunakan terus setelah proses desinfeksi.

  • Tidak licin, dengan permukaan PVC
  • Setinggi atau mencapai lutut, lebih tinggi daripada bagian bawah dari gaun (disarankan posisi dokter gigi tegak saat mengerjakan pasien, dibandingkan posisi duduk karena akan menyebabkan gaun terbuka)
  • Sebaiknya dipilih warna yang terang agar dapat dideteksi jika ada kontaminasi

Alat Pelindung Kepala

Alat penutup kepala/headcap merupakan pelindung kepala dan rambut tenaga kesehatan dari percikan cairan infeksius pasien selama melakukan perawatan. Penutup kepala sebaiknya dapat menutupi kepala dan leher, dan terpisah dari gown/gaun medis. Penutup kepala terbuat dari bahan tahan cairan, tidak mudah robek dan ukuran nya pas di kepala tenaga kesehatan. Penutup kepala ini digunakan sekali pakai.

Penatalaksaan Petugas Pelayanan Kesehatan Gigi & Mulut pada penderita Diabetes Mellitus saat Pandemi Covid-19

a.Penyediaan alcohol-based hand rub (mengandung alkohol minimal 70%), pemajangan poster 6 langkah cara mencuci tangan sesuai WHO, penyediaan tisu dan tempat sampah medis tertutup di ruang tunggu pasien.

b. Melakukan selalu prosedur 6 langkah cuci tangan standar WHO dan hand sanitizer , yaitu

  1. Gunakan sabun dan air mengalir jika tangan terlihat kotor secara klinis atau terkontaminasi dengan bahan. Cuci tangan selama 40-60 detik
  2. Gunakan alcohol-based hand rub jika tangan tidak terlihat kotor secara klinis. Cuci tangan selama 20-30 detik

c. Prosedur cuci tangan harus dilaksanakan pada saat (WHO 5 moment):

  1. Sebelum menyentuh pasien
  2. Sebelum melakukan prosedur pembersihan atau aseptic
  3. Setelah terpapar cairan tubuh
  4. Setelah menyentuh pasien
  5. Setelah menyentuh lingkungan sekitar pasien

d. Dokter gigi dan atau perawat dana tau staff harus memakai APD yang sesuai, Berikut langkah-langkah penggunaan APD gown/gaun medis :

  1. Petugas kesehatan masuk ke antero room, setelah memakai scrub suit di ruang ganti
  2. Cek APD untuk memastikan APD dalam keadaan baik dan tidak rusak
  3. Lakukan kebersihan tangan dengan sabun atau menggunakan hand sanitizer dengan menggunakan 6 langkah
  4. Kenakan sepatu pelindung (boots). Jika petugas menggunakan sepatu kets atau sepatu lainnya yang tertutup maka petugas menggunakan pelindung sepatu (shoe covers) dengan cara pelindung sepatu dipakai di luar sepatu petugas dan menutupi celana panjang petugas
  5. Pakai gaun bersih yang menutupi badan dengan baik dengan cara pertama memasukkan bagian leher kemudian mengikat tali ke belakang dengan baik. Pastikan tali terikat dengan baik
  6. Pasang masker bedah dengan cara letakkan masker bedah didepan hidung dan mulut dengan memegang ke dua sisi tali kemudian tali diikat ke belakang.
  7. Pasang pelindung mata (goggles) rapat menutupi mata
  8. Pasang pelindung kepala yang menutupi seluruh bagian kepala dan telinga dengan baik.
  9. Pasang sarung tangan dengan menutupi lengan gaun

e. Melakukan screening terhadap semua pasien sesuai prosedur, dengan cara mengisi formulir screening sebelum perawatan gigi & mulut. Berikut contoh formulir screening COVID-19

f. Segera merujuk pasien yang diduga terinfeksi virus Covid-19

g. Pasien diminta berkumur dengan:

  • Hidrogen peroksida 0.5 %-1% selama 1 menit, terbukti efektif terhadap Human Coronavirus (COVID-19). Untuk rongga mulut, penggunaan hidrogen peroksida maksimal 3% (Wolff dkk, 1982). Dalam laporan Peng dkk (2020), disarankan penggunaan hidrogen peroksida 1% sebagai obat kumur.
  • Povidon iodine obat kumur (1%) selama 15 detik — 1 menit, yang terbukti efektif terhadap SARS dan MERS. Namun Peng dkk (2020), menyarankan penggunaan povidon iodine 0.2% walaupun belum didukung oleh bukti ilmiah lebih lanjut.

h. Pada pasien yang menderita Diabetes Mellitus, dokter gigi harus memeriksa beberapa aspek untuk menghindari ketidak seimbangan metabolisme selama periode perawatan gigi dan mulut. Beberapa aspek yang perlu dipertimbangkan yaitu menyangkut pola diet, konsumsi obat hipoglikemik oral dan terapi insulin yang sedang dijalani serta upaya-upaya yang dilakukan untuk mengurangi stress dan resiko infeksi. Beberapa aspek tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut :

  • Dnet : Tanpa nnstruksn spesnfik, pasnen yang pemas dapat lupa makan sebelum mengunjungi doktar gigi. Hal ini dapat memicu terjadinya resiko hipoglikemik. Jika perawatan membutuhkan waktu yang lama, perawatan harus dihentikan sementara agar pasien dapat makan makanan ringan untuk mempertahankan asupan kalori.
  • Obat hipoglikemik oral :Pasien harus diinstruksikan untuk meminut obatnya sesuai dosis normal yang diberikan, untuk seluruh pasien dengan rawat jalan.
  • Terapi insulin : Modifikasi terapi insulin harus dipertimbangkan pada pasien diabetes yang jam makannya berubah atau yang harus mendapatkan terapi dental. Jika dibutuhkan, pasien dapat diinstruksikan untuk mendapatkan separuh dosis insulin pada pagi hari dan sarapan seperti biasanya. Sebagian lagi dapat dikonsumsi setelah selesainya perawatan dental.
  • Mengurangi stress : Dokter gigi harus mencoba untuk mengurangi stres pada pasien diabetes. Perawatan dengan jangka waktu yang panjang, dapat digantikan dengan beberapa pertemuan yang lebih singkat. Teknik sedasi tambahan diperhitungkan bila diperlukan.
  • Mengurangi resiko infeksi : Pasien dengan Diabetes Mellitus harus mendapatkan perawatan pencegahan yaitu kunjungan berkala, instruksi oral hygiene, profilaksis, dan perawatan penyakit jaringan periodontal. Pasien juga harus dipertimbangkan untuk profilaksis antibiotika setelah mendapatkan tindakan pernbedahan, terapi endodonti, dan scalling subgingiva bila terdapat periodontitis supuratif. Antibiotika penting untuk perawatan infeksi akut. Pada pasien Diabetes Mellitus harus digunakan bahan suturing yang tidak dapat diabsorbsi karena penyembuhan yang lambat pada pasien ini.
  • Konsultasi medis : Dokter harus dikonsultasi pada perawatan spesnfik untuk memastnkan keparaoan penyakitnya dan kontrol terhadap penyakitnya Dokter juga harus ikut menentukan pemberian insulin selama perawatan giginya.
  • Pemeriksaan Gula Darah Acak (GDA) : Perlu dilakukan pemeriksaan GDA sebelum dilakukan perawatan gigi & mulut, untuk mengetahu pasien memiliki Diabetes Mellitus yang terkontrol atau tidak.

i. Tindakan perawatan gigi disarankan menggunakan rubber dam untuk mengurangi risiko penularan melalui droplet saliva akibat tekanan udara tinggi saat penggunaan handpiece ataupun alat ultrasonic scaler.

j. Keterampilan dalam kontrol infeksi, pembuangan alat tajam dan pencegahan injuri akibat benda tajam perlu ditingkatkan,

k. Pembersihan alat kedokteran gigi dengan sodium hipoklorit 5% dengan perbandingan 1:100 (0.05%) selama l menit. Untuk semua benda dan alat kedokteran gigi dapat dibersihkan menggunakan etanol 70% sebelum proses sterilisasi dengan autoclave.

l. Pembersihan lingkungan kerja, ruang tunggu pasien, gagang pintu, meja, kursi, dental unit dengan desinfektan. Lantai dapat dibersihkan menggunakan benzalkonium klorida 2% (produk pasaran pembersih lantai).

m. Pakaian yang dipergunakan selama praktik diganti sebelum pulang ke rumah. Berikut langkah-langkah melepaskan APD gown/gaun medis :

  1. Petugas kesehatan berdiri di area kotor
  2. Lepaskan sarung tangan dengan cara mencubit sedikit bagian luar sambil di tarik mengarah ke depan kemudian lipat di bagian ujung dalam sarung tangan dan lakukan yang sama di sarung tangan berikutnya dan secara bersama di lepaskan kemudian dimasukkan ke tempat sampah infeksius
  3. Buka gown perlahan dengan membuka ikatan tali di belakang kemudian merobek bagian belakang leher lalu tangan memegang sisi bagian dalam gown melipat bagian luar ke dalam dan usahakan bagian luar tidak menyentuh pakaian petugas lalu dimasukkan ke tempat sampah infeksius
  4. Lakukan desinfeksi tangan dengan hand sanitizer dengan menggunakan 6 langkah
  5. Buka pelindung kepala dengan cara memasukkan tangan ke sisi bagian dalam pelindung kepala di mulai dari bagian belakang kepala sambil melipat arah dalam dan perlahan menuju ke bagian depan dengan mempertahankan tangan berada di sisi bagian dalam pelindung kepala kemudian segera masukkan ke tempat sampah infeksius
  6. Buka pelindung mata (goggles) dengan cara menundukkan sedikit kepala lalu pegang sisi kiri dan kanan pelindung mata (goggles) secara bersamaan, lalu buka perlahan menjauhi wajah petugas kemudian goggles di masukkan ke dalam kotak tertutup
  7. Lakukan desinfeksi tangan dengan hand sanitizer dengan menggunakan 6 langkah
  8. Buka pelindung sepatu dengan cara memegang sisi bagian dalam dimulai dari bagian belakang sepatu sambil melipat arah dalam dan perlahan menuju ke bagian depan dengan mempertahankan tangan berada di sisi bagian dalam pelindung sepatu kemudian segera masukkan ke tempat sampah infeksius
  9. Lakukan desinfeksi tangan dengan hand sanitizer dengan menggunakan 6 langkah
  10. Lepaskan masker bedah dengan cara menarik tali masker bedah secara perlahan kemudian dimasukkan ke tempat sampah infeksius
  11. Setelah membuka scrub suit, petugas harus segera mandi untuk selanjutnya memakai baju biasa

n. Kontrol pembuangan limbah

Alternatif APD Bagi Petugas Yankes Gigi & Mulut

Saat terjadi krisis persediaan APD di fasilitas pelayanan kesehatan maka manajemen harus mengambil langkah untuk menyediakan alternatif APD bagi petugas. Rekomendasi untuk alternatif APD sebagai pengganti jenis APD yang tidak tersedia di Fasyankes yang disajikan dalam tabel berikut bawah ini :

Jenis APD:

  1. Sarung Tangan
    Alternatif:
    – Sarung tangan rumah tangga yang tebal
  2. Masker N95
    Alternatif:
    – Menggunakan pelindung wajah sampai dagu atau melapisinya masker bedah di luar masker N95. Masker N95 dapat dibuka dan di pasang kembali sebanyak 5 kali selama 8 jam. Reuseable dapat dilakukan kecuali setelah masker N95 ini digunakan untuk tindakan aerosol.
    – Elastrometric respirator
    – Powered Air-Purifying Respirators (PAPR)
  3. Kaca Mata (Googles)
    Alternatif:
    – Masker N95 yang sekali pakai (disposable)dapat dijadikan reuseable dengan Kacamata (goggles) yang sekali pakai (disposable) dapat digunakan (reuseable) setelah proses desinfektan
    – Kacamata renang
  4. Face Mask/ Masker Wajah
    Alternatif:
    – Masker wajah diperpanjang lama penggunaannya yang digunakan bersama dengan pelindung wajah (face shield) kedap air yang menutup hingga ke bawah dagu
    – Masker kain apabila sudah tidak ada sama sekali persediaan masker bedah atau masker N 95 yang digunakan bersama dengan pelindung wajah (face shield) kedap air yang menutup hingga ke bawah dagu.
  5. Penutup Kepala
    Alternatif:
    – Surgical hood
    – Topi renang
    – Topi Hiking
  6. Jubah/ Gown
    Alternatif:
    – Coverall yang dapat terbuat dari polyester atau katun polyester yang menyediakan perlindungan 360 derajat karena didesain untuk menutup seluruh tubuh termasuk kepala, belakang dan bawah kaki. Untuk coverall jika menggunakan resleting didepan maka harus di lapisi dengan kain atau penutup yang dijahit
    – Gaun panjang pasien yang dikenakan dengan manset atau jubah laboratorium. Keduanya harus dikombinasikan dengan Apron Panjang
    – Jas hujan sekali pakai (disposable) apabila sudah tidak ada sama sekali persediaan gaun isolasi, gaun bedah, dan coverall
  7. Sepatu pelindung
    Alternatif:
    – Sepatu kets tertutup dengan pelindung sepatu / shoe covers

Daftar Pustaka

  • Abdurrahman, Fadlullah. 2014. „Faktor Pendorong Perilaku Diet Tidak Sehat Pada Mahasiswi‟. Ejournal Psikologi, Vol 2, No 2: 163-170.
  • American Heart Association (AHA). 2012. „Heart disease and stroke statistics – 2012 update‟.
  • Fathmi, A. 2012. Hubungan Indeks Massa Tubuh dengan Kadar Glukosa Darah
  • Backer JA, Klinkenberg D, Wallinga J. 2020. Incubation period of 2019 novel coronavirus (2019-nCoV) infections among travellers from Wuhan, China, 20–28 January 2020. Euro Surveill.25(5).
  • Backer JA, Klinkenberg D, Wallinga J. 2020. Incubation period of 2019 novel coronavirus (2019-nCoV) infections among travellers from Wuhan, China, 20–28 January 2020. Euro Surveill.25(5).
  • Bharateesh JV, Ahmed M, Kokila G. Diabetes and oral health:A case-control study. Int J Prev Med 2012;3:806-9.
  • CDC. New CDC guidance on use of masks, gowns, and eye protection to conserve supplies. AHCA and NCAL 2020. Diakses 4 Maret 2020. https: //www. ahcancal. org/facility_operations/disaster_planning/Documents/COVID – l9%20%E2%80%93%20Update%20 l 2. Pdf
  • CDC. COVID- l 9 Strategies to Optimize the Supply of PPE and Equipment. 2020. https://www.cdc.gov/coronavirus/2Ol9-ncov/hcp/ppestrategy/index.html
  • Chan JF, Yuan S, Kok KH, To KK, Chu H, Yang J, Xing F, Liu J, Yip CC, Poon RW, et al. 2020. A familial cluster of pneumonia associated with the 2019 novel coronavirus indicating person-to-person
  • Chen N, Zhou M, Dong X, Qu J, Gong F, Han Y, Qiu Y, Wang J, Liu Y, Wei Y, et al. 2020. Epidemiological and clinical characteristics of 99 cases of 2019 novel coronavirus pneumonia in Wuhan, China: a descriptive study. Lancet. 395(10223):507–513
  • Disinfection & Sterilization Guidelines | Guidelines Library | Infection Control | CDC [Internet]. Cdc.gov. 2020 [cited 30 March
    2020]. Available from: https://www.cdc.gov/infectioncontrol/guidelines/disinfection
  • Ehsa. 2010. Segala Sesuatu yang Harus Anda Ketahui Tentang Diabetes.Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama
  • Guan W-J, Ni Z-Y, Hu Y, Liang W-H, Ou C-Q, He J-X, Liu L, Shan H, Lei C-L, Hui DS, et al. 2020. Clinical characteristics of 2019 novel coronavirus infection in China
  • Hamid, Agus Rizal AH. Social responsibility of medical journal: a concern for COVID-19 pandemic. Medical Journal of Indonesia. 2020;29(1).
  • Kampf G, Todt D, Pfaender S, Steinmann E. Persistence of coronaviruses on inanimate surfaces and their inactivation with biocidal agents. J Hosp Infect. 2020 Mar;104(3):246-251. doi: 10.1016/j.jhin.2020.01.022. Epub 2020 Feb 6. Kariadi, Sri Hastuti. 2009. Diabetes: Panduan Lengkap Untuk Diabetisi. Jakarta: Mizan Media Utama.
  • Kemenkes Rl. Pedoman pencegahan dan pengendalian coronavirus disease (COVlD-l9). Edisi 27 Maret 2020.
  • KKI. Peningkatan kesiapsiagaan dokter dan dokter gigi dalam penanganan pasien di fasilitas pelayanan kesehatan pada masa darurat bencana wabah penyakit akibat Corona virus disease 20l9 (COVlD-l9) di Indonesia. KKI No. HK.02.03/4/KK|/|ll/0950/2020.
  • Lu R, Zhao X, Li J, Niu P, Yang B, Wu H, Wang W, Song H, Huang B, Zhu N, et al. 2020. Genomic characterisation and epidemiology of 2019 novel coronavirus: implications for virus origins and receptor binding. Lancet. 395(10224):565–574.
  • National Health Commission of China. 2020b. An update of novel coronavirus pneumonia outbreak as of 24:00 on February 25.
  • Peng, Xian. Xin Xiu. Yuqing Li. Lei Cheng. Xuedong Zhou. Biao Ren. Transmission routes of 2019-nCOV and controls in dental practice. International Journal of Oral Science. (2020)12:9.
  • Permenkes Rl. Keselamatan dan kesehatan kerja di fasilitas pelayanan kesehatan. Permenkes No. 52 tahun 20l8.
  • Permenakertrans Rl. Alat pelindung diri. Permenakertrans No. Per. 08/MEN/Vll/20l0.
  • Scully C, Cawson RA. 1994. Medical problems in dentistry 3rd Edition. Wright Chapter 10. p. 250-83.
  • Sonis ST. Fazio RC. Fang L. 1995. Principles and practice of oral medicine 2nd edition. WB Saunders. Phyladelphia. p. 131-45.
  • Wang D, Hu B, Hu C, Zhu F, Liu X, Zhang J, Wang B, Xiang H, Cheng Z, Xiong Y, et al. 2020. Clinical characteristics of 138 hospitalized patients with 2019 novel coronavirus–infected pneumonia in Wuhan, China. JAMA.
  • Wild S, Roglic G, Green A. Global prevalence of diabetes: Estimates for 2000 and projections for 2030. Diabetes Care 2004;27:1047-53.
  • WebMD.Dental Emergencies During COVID-19 Pandemic: Everything You Need To Know. https://www.webmd.com/lung/coronavirus-dental-emergencies
  • WebMD.Coronavirus and Dental Care.https://www.webmd.com/lung/coronavirus-dental-care#1
  • World Health Organization (WHO). Corona Virus Disease (COVID-19) Pandemic. 2020. [accessed 2020 Apr 9]. https://www.who.int/news-room/q-a-detail/q-a-coronaviruses.
  • WHO. Personal Protective Equipment for use in a filovirus disease outbreak; Rapid advice guideline. 20l6. Diakses 4 Maret 2020. https://www.who.int/csr/resources/publications/ebola/persona l-protective-equipment/en/
  • WHO. Infection Prevention and Control for Novel Coronavirus (COVID-19). Modul 3 :IPC in the context of COVID-19 Standard Precaution, Transmisison based Precaution & COVID-19 Specific Recommendation.2020.
  • Yang Y, Lu Q, Liu M, Wang Y, Zhang A, Jalali N, Dean N, Longini I, Halloran ME, Xu B, et al. 2020. Epidemiological and clinical features of the 2019 novel coronavirus outbreak in China.

Downoad Ebook Perawatan Gigi Emergensi Pada Pasien Diabetes Melitus disini:

Sharing is caring!

(Visited 424 times, 1 visits today)