Koordinasi Lintas Sektor Dan Lintas Program Penurunan Stunting Di Era Adaptasi Kebiasaan Baru

Stunting atau anak kerdil masih menjadi prioritas nasional karena dampaknya terhadap kualitas Sumber Daya Manusia suatu bangsa. Di masa pandemi Covid-19 dimana situasi ekonomi yang makin menurun akan berdampak terhadap status gizi masyarakat sehingga dikhawatirkan akan meningkatkan kasus stunting. Dalam RPJMN menetapkan target prevalensi stunting pada tahun 2024 sebesar 14%. Berdasarkan hasil Riskesdas tahun 2018 prevalensi stunting nasional 30,8% dan turun 3.1% menjadi 27,7% pada tahun 2019 hasil Survey Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) 2019.

Di Kabupaten Bangka prevalensi stunting Balita tahun 2018 sebesar 23,9% mengalami penurunan dari tahun 2013 yaitu 32,27%, dan menurun kembali pada tahun 2019 sebesar 20,86 %  (SSGBI, 2019) sehingga dari tahun 2013 sampai tahun 2019 terjadi penurunan 11, 41%. Sedangkan berdasarkan hasil pencatatan dan pelaporan gizi berbasis masyarakat secara elektronik atau E PPGBM prevalensi stunting pada Baduta di Kabupaten Bangka menurun dari 8.9% pada tahun 2018 menjadi 4,35% pada tahun 2019. Untuk itu perlu dilakukan upaya pencegahan dan penurunan stunting yang terpadu selama masa pandemi Covid-19 menuju Adaptasi Kebiasaan Baru.

Upaya pencegahan stunting dilakukan secara terpadu melalui intervensi gizi spesifik dan intervensi gizi sensitive, Intervensi gizi spesifik khususnya menyasar pada kelompok 1000 Hari pertama kehidupan (HPK) yaitu mulai dari kehamilan sampai anak dibawah dua tahun biasanya dilakukan oleh bidang kesehatan. Sedangkan intervensi  gizi sensitive diberikan pada  sasaran masyarakat  yang dilakukan oleh lintas sector seperti Dinas Pendidikan, PU, Pangan dan Pertanian, Dinas Sosial, Dinas Pemdes, Dinas KB  dan OPD terlibat lainnya.

Dalam upaya meningkatkan koordinasi antara lintas program dan lintas sector serta menyamakan tujuan intervensi untuk menurunkan dan mencegah terjadinya stunting pada balita, maka perlu dilakukan pertemuan koordinasi dan konvergensi antara lintas sektor dan lintas program terkait dalam upaya penurunan stunting di Kabupaten Bangka yang dilaksanakan pada tanggal 3 dan 4 Agustus 2020 di Novilla Boutique Resort Sungailiat, Bangka. Dalam pertemuan ini Kabupaten Bangka berkomitmen untuk menurunkan angka stunting yang tertuang dalam Rencana Aksi Daerah Penurunan Stunting yaitu menuju Kabupaten Bangka Zero Stunting.

Koordinasi Stunting di Era AKB Kab Bangka

Acara yang dibuka oleh Bupati Bangka Mulkan, SH, MH ini didampingi oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Narasumber berasal Kepala Bappeda Propinsi Kepulauan Bangka Belitung, Kepala Bappeda Kabupaten Bangka, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Kabupaten Bangka, Kepala Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinas Kesehatan Provinsi Kep Bangka Belitung dan Koordinator PKH Dinas Sosial Kabupaten Bangka. Dengan peserta pertemuan dari Lintas OPD, Kepala Puskesmas, Petugas Gizi puskemas, Camat, Kepala Desa, Bidan Puskesmas, Bidan Desa, Kader Pembangunan Manusia, PKK Desa yang berada di 14 desa lokus stunting Kabupaten Bangka.

Menurut Bupati Bangka dalam masa pandemi Covid-19 dikhawatirkan akan terjadi peningkatan kasus wasting dan stunting. Untuk itu dalam memasuki adaptasi kebiasaan baru, upaya yang dilakukan adalah pembinaan secara intensif ke desa lokus stunting dengan tetap mengacu pada protokol kesehatan. Penurunan dan Pencegahan Stunting secara konvergensi di Kabupaten Bangka dilaksanakan berdasarkan 7 pilar pengelolaan yaitu pengelolaan kelembagaan, pengelolaan advokasi, pengelolaan pernikahan, pengelolaan kehamilan, pengelolaan pengasuhan, pengelolaan sanitasi dan pengelolaan inovasi dengan menerapkan pendekatan pentahelix dalam pembangunan. Pendekatan Pentahelix ini melibatkan unsur pemerintah, masyarakat, akademisi, pengusaha dan media bersatu membangun kebersamaan dalam pembangunan terutama dalam konvergensi pencegahan dan penurunan stunting.

Kepala Bappeda Kabupaten Bangka, Ir Pan Budi Marwoto. M.Si memaparkan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya stunting adalah faktor perilaku termasuk disini adalah pola konsumsi keluarga, perawatan dan pengasuhan anak serta perilaku dalam menjaga hidup bersih dan sehat. Terutama di masa pandemic COVID 19 dimana pendapatan masyarakat menurun sehingga berdampak terhadap status ekonomi dan status gizi masyarakat karena daya beli menurun.

Selain itu faktor determinan yang juga berpengaruh terjadinya stunting pada baduta adalah masih adanya anggota keluarga yang merokok, bila dilihat dari pengeluaran kelompok makanan pada keluarga di Kabupaten Bangka berdasarkan laporan BPS Bangka maka rata rata pengeluaran untuk belanja merokok sebesar 12,52% dari total pengeluaran konsumsi makanan pada tahun 2018, hal ini dapat mengurangi kesempatan keluarga untuk belanja makanan bergizi seperti ikan, daging, telur, susu, sayur dan buah untuk kelompok yang rentan terjadinya stunting yaitu kelompok ibu hamil, ibu menyusui, bayi dan balita.

Dalam pertemuan ini dibahas juga tentang analisa situasi masalah stunting di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, dimana untuk Kabupaten Bangka sendiri pada tahun 2019 tinggal 2 desa lokus stunting yaitu Kotakapur dan Rukam. Intervensi gizi spesifik selama pandemi Covid 19 oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka, Intervensi gizi sensitive oleh OPD terkait yaitu Pemanfaatan Dana Desa oleh Dinas Pemdes dan Program Bantu Sosial  PKH dalam pencegahan dan penurunan stunting dari Koordinator PKH Dinas Sosial Kabupaten Bangka.

Pada masa pandemic covid 19, Intervensi gizi spesifik sebagian besar tertunda dan tidak optimal dimana pemantauan pertumbuhan balita di posyandu menjadi lebih rendah karena  orangtua takut terjadi penularan Covid 19 pada balita walaupun di sebagian tempat yang masuk zona hijau di Kabupaten Bangka sudah dilakukan dengan door to door, penimbangan mandiri di rumah ataupun di puskesmas/pustu/poskesdes, untuk itu dalam masa adaptasi kebiasaan baru posyandu mulai dibuka seperti biasa terutama di desa zona hijau dengan menerapkan protocol kesehatan yaitu memakai masker, menjaga jarak dan cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir serta dengan membagi jadwal penimbangan .

Selanjutnya Pan Budi berharap untuk mempercepat penurunan stunting di Kabupaten Bangka menuju Bangka bebas stunting perlu dilakukan intervensi terpadu dan bersama sama setiap sector yang terkait terutama dalam merubah perilaku dalam pemilihan konsumsi makanan bergizi   dan sehat serta tetap menjalankan protokol kesehatan dan perilaku hidup bersih dan sehat dalam keluarga.  

Sharing is caring!

(Visited 92 times, 1 visits today)