Press Release Webinar Epidemiologi 2020 FKM UMJ

Jakarta, 28 Juni 2020, Mahasiswa Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Jakarta menyelenggarakan Webinar Nasional Kesehatan yang bertema “Efektivitas Implementasi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Dalam Menekan Penyebaran Virus COVID-19: Siapkah Kita Dengan New Normal? “.

Dalam webinar kali ini kami mengundang dua pemateri yaitu dr. Dwi Oktavia Handayani, M. Epid sebagai Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan dr. Pandu Riono, MPH, Ph.D. sebagai Pakar Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, dan selaku Moderator yakni Ibu RR. Arum Ariasih SKM, MKM, Dosen FKM UMJ.

Webinar ini diikuti sebanyak 317 orang terdiri dari Dekan FKM UMJ serta jajarannya, Dosen FKM UMJ, dan 282 peserta dan berasal dari berbagai daerah seperti Jabodetabek, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Banjarmasin, Bengkulu, Riau, hingga Papua. Peserta berasal dari instansi beragam yaitu Perguruan Tinggi, Dinkes Kabupaten, Kantor Kesehatan Pelabuhan, Rumah Sakit, Puskesmas Daerah, BPJS kota, dan Asuransi.

dr. Dwi Oktavia Handayani, M. Epid

Materi Pertama disampaikan oleh Ibu Dwi atau yang biasa dipanggil Ibu Lies menyampaikan “Implementasi PSBB dan Keberhasilan dalam Menekan Angka Kasus di berbagai Daerah dan Siapkah Kita dengan New Normal?”.

Ibu Lies memaparkan situasi Jakarta masih menjadi daerah yang merah karena masih ditemukan 100-200 kasus baru tiap harinya per data 27 Juni 2020. Tren kasus positif selama 14 hari terus naik begitu juga dengan kasus yang sembuh. Sejak awal januari sudah dilakukan upaya untuk menemukan kasus baru lalu melakukan pelacakan atau contact tracing. Bu Lies menjelaskan upaya yang dilakukan untuk menekan angka kasus dengan melakukan Testing-Contact Tracing-Isolating.

Ibu Lies menjelaskan tentang alur yang dilakukan dalam menangani COVID-19 di Jakarta. “Untuk meningkatkan upaya testing dengan melakukan contact tracing yang menindak lanjuti kasus-kasus yang ditemui tetapi kita juga melakukan active case finding dengan mengindikasi daerah-daerah yang diduga daerah rawan penularan seperti pasar, pemukiman padat penduduk dan kelompok rentan lalu dilakukan pemeriksaan untuk menemukan kasus-kasus baru yang mungkin belum terindentifikasi dari contact tracing yang hasilnya cukup besar,” terang beliau.

Ibu Lies juga menyampaikan, “Sekarang kita dalam akhir transisi tahap 1 untuk selanjutnya kita akan lihat bagaimana situasinya akankah kita tetap masuk transisi tahap 2 atau kita bertahan di transisi tahap 1 yang berarti kita masih terus harus dengan saat ini untuk itu kita masih harus melihat perkembangan situasi. Dalam masa transisi ini pemerintah DKI Jakarta mengeluarkan peraturan Gubernur No 51 tahun 2020 yang mengatur bagaimana masyarakat dapat melakukan PSBB di masa transisi ini. Dijelaskan dalam peraturan bagaimana masyarakat dapat hidup bersih dan sehat dan dapat meningkatkan derajat kesehatan. Kemudian bagaimana masyarakat bisa melakukan aktifitas dalam masa transisi ini. Untuk pengendalian moda transportasi, peningkatan penanganan kesehatan, pengawasan & penindakan, dan melakukan Monitoring evluasi yang juga diatur didalamnya.”

“Kami harapkan kita terus mengembangkan kolaborasi pentahelix untuk bisa melakukan pencegahan adalah cara terbaik untuk menghadapi COVID 19. Fase transisi terus dilakukan dengan membangun budaya yang aman sehat dan produktif yaitu dengan tetap melakukan jaga jarak, memakai masker, dan cuci tangan. Dengan kolaborasi pentahelix dapat membantu bersama-sama melakukan pengawasan di area publik, juga bisa meningkatkan upaya Testing-contact tracingisolating, dan juga peran dari media bisa mendukung supaya komunikasi resiko ini bisa tersampaikan dengan baik ke publik, kita bersama-sama bisa membuat gerakan dengan influencer, publik figur, tokoh masyarakat dan mahasiswa supaya masyarakat dapat mengisi masa transisi ini dengan budaya aman sehat dan produktif.” penjelasan Ibu Lies sebagai penutup.

dr. Pandu Riono, MPH, Ph.D

Materi Kedua yang diberikan oleh Pak Pandu yang menyampaikan “Evaluasi Efektivitas PSBB: Apakah Data Kasus Menurun/Kurva Melandai?”. Beliau menjelaskan untuk mengatasi pandemi ini kita harus memperjuangkan kesehatan publik. Masyarakat dan pemerintah harus berusaha supaya semuanya sehat dan tidak ada yang terinfeksi.

Pembatasan sosial sudah diatur dalam Undang – Undang Karantina. Di dalam UU dijelaskan untuk menutup semua kegiatan seperti kegiatan berbasis pendidikan, bisnis, dan keagamaan supaya kita berhenti bergerak karena virus akan mengikuti mobilitas penduduk. Pada 11 Maret 2020 Presiden memutuskan pembatasan sosial dan pada 30 April 2020 DKI Jakarta menjadi provinsi pertama yang diizinkan melakukan pembatasan sosial.

Pak Pandu mengatakan, “Sebenarnya ada Perpres tahun 2019 tentang persiapan pandemi tapi tidak dilakukan hal-hal yang harus disiapkan makanya kita menjadi terlambat dalam fase-fase awal. Walaupun sudah dari bulan Januari mungkin virus sudah masuk Jakarta, tapi dalam surveilens Jakarta sudah ditemukan orang dengan gejala COVID-19 tapi sayangnya mungkin testing kita masih lama dan lemah sekali sehingga tidak mendeteksi”.  Pada bulan Maret dilakukan pembatasan sosial yang memerintahkan penduduk untuk tinggal dirumah dan dilarang berpergian kecuali untuk melakukan hal yang esensial.

Pak Pandu memaparkan data penduduk yang melakukan pembatasan sosial di wilayah Indonesia dari data yang bersumber dari Google Mobility Data. Walaupun PSBB tidak dilakukan oleh semua pemerintah daerah kabupaten atau provinsi tetapi beberapa pemerintah daerah yang melakukan pembatasan sosial secara mandiri berbasis masyarakat. Proporsi penduduk yang tinggal di rumah mencapai 47% setelah diberlakukannya pembatasan sosial sedangkan setengah penduduk masih berpergian. Pada bulan Ramadhan banyak penduduk yang keluar rumah dan berkumpul pada satu tempat. Yang membuat pembatasan sosial tidak efektif adalah kurang patuhnya masyarakat akan larangan dan peringatan dari pemerintah.

Proporsi penduduk yang di rumah di Jakarta pernah hampir menyentuh 60% dan kasusnya dalam 2 minggu menurun tetapi setelah itu proporsi penduduk yang di rumah menurun karena banyak penduduknya yang mudik. Tidak hanya di Jakarta tetapi penduduk Jabodetabek mulai berkurang saat seminggu sebelum bulan Ramadhan yaitu dari 34,9 juta penduduk menjadi 33,2 juta penduduk pada tanggal 3 Mei 2020.

Kondisi Jakarta sekarang menurut data yang dijelaskan oleh Pak Pandu total kasus harian terus meningkat dan penderita yang positif grafiknya mendatar sedangkan korban yang meninggal menurun drastis. Di DKI Jakarta terjadi peningkatan jumlah test tetapi jumlah kasus yang ditemukan cenderung tetap, diperkirakan transmisi di lapangan masih tetap berjalan. Pak pandu menjelaskan jika pembatasan sosial di longgarkan maka testnya harus lebih di tingkatkan dan surveilensnya diperkuat. Surveilensnya yaitu dengan test, lacak dan isolasi untuk menekan penularan.

Untuk mengatahui kapan suatu daerah harus melakukan pelonggaran yaitu dengan mengikuti indikator kesehatan. Ada 3 indikator (1) indikator epidemiologi: bagaimana tren pdpnya, bagaimana tren kasus positifnya, tren kematian (2) kesehatan publik: jumlah test pcr, proporsi di rumah saja (3) fasilitas kesehatan: jumlah ventilator, jumlah APD.

Pak Pandu mengatakan, “Ini juga digunakan sebagai salah satu indikator oleh gugus tugas untuk menzonakan, sebenarnya saya kuramg setuju karena indikator ini dinamis bisa dan berubah-ubah, yang hari ini hijau belom berati besok akan sama. Jadi tidak bisa kita anggap kita zona resiko rendah, kita anggap saja semua resiko tinggi untuk meningkatkan kewaspadaan.”

Sekarang penduduk sudah mulai banyak yang melakukan aktifitas di luar rumah sedangkan resiko penularan masih tinggi. Untuk upaya mencegahnya Pak Pandu melakukan gerakan 3M yaitu menggunakan masker, mencuci tangan pakai sabun, dan menjaga jarak. Menurut studi 3M dapat menurunkan risiko penularan yaitu mencuci tangan pakai sabun dapat menurunkan ± 35%, memakai masker dapat menurunkan ±45%, menjaga jarak dapat menurunkan ±85%.

Pak Pandu menyarankan untuk melakukan pembatasan sosial berbasis komunitas atau RW agar masyarakat bisa memonitor apakah masih ada kerumunan disekitar lingkungannnya dan bisa saling mengingatkannya. Banyak regulasi yang tidak terjalankan karena masyarakat tidak diajak padahal masyarakat adalah garda terdepan “the community is the front line in the response of pandemic” tapi tidak dilakukan begitu di lapangan masyarakat dilupakan. Sekarang yang dilakukan penguatan peran masyarakat untuk meningkatkan 3M.

Sebagai penutup Pak Pandu mengatakan, “untuk intervensi masa mendatang ada 2 kombinasi yaitu suveilens yang kuat test lacak isolasi dan masyarakat dengan 3M. Maka dengan kombinasi itu kita bisa mencegah peningkatan kasus dan gelombang selanjutnya.”

Setelah pemaparan dari kedua pemateri sesi selanjutnya adalah sesi tanya jawab yang diajukan melalui chat room zoom meeting. Pertanyaan pertama diajukan oleh saudari Ranita Darmasari dari UMJ yang ditujukan kepada Ibu Lies pertanyaannya mengenai perihal pengawasan dan penindakan PSSB sudah efektif atau belum dan adakah sanksi bagi pelanggarnya.

Menjawab pertanyaan tersebut, IBu Lies menjelaskan bahwa tentang sanksi dan penindakan serta pengawasan sudah ada peraturannya dan sudah ada yang terkena sanksinya misalnya rumah makan, media, dan perorangan yang tidak mengikuti protokol yang dianjurkan. Masalah ini masih menjadi tantangan bersama. Ibu Lies berharap dengan kolaborasi penthahelix media, akademik, dan juga organisasi masyarakat agar bisa melakukan pengawasan yang efektif bersama karena tidak akan mungkin kalau melakukan pengawasan hanya mengandalkan jajaran pemerintah. Membangun gerakan ajakan yang berangkat dari masyarakat yaitu dengan saling mengingatkan untuk masker ditempat publik hanya dengan gestur tertentu atau kode tertentu sehingga orang lain merasa nyaman dan tidak merasa dihakimi atau dimarahi.

Pertanyaan kedua diajukan untuk Pak Pandu dari Zahra yang berasal dari UMY yaitu mengenai upaya yang dapat mendukung regulasi PSBB saat ini agar efektif juga dengan munculnya istilah new normal  membuat COVID-19 menjadi disepelekan oleh masyarakat. Menurut Pak Pandu, Indonesia belum masuk normal apalagi normal baru, Istilah New Normal memberikan persepsi bahwa kita sudah normal sedangkan Indonesia masih tinggi angka kasusnya dan seharusnya kewaspadaannnya masih merah. PSBB sudah tidak bisa diharapkan lagi karena tidak didukung oleh penduduknya padahal Pemdanya sudah melakukan semaksimal mungkin. Pak Pandu menyimpulkan bahwa hanya ada 2 cara yaitu melakukan 3M yang selalu dikomunikasikakan terus menerus dengan sistematik, terstandar, mudah dipahami, dan dapat diukur untuk merubah perilaku lalu menjadi terbiasa. Sedangkan untuk pemerintah harus melakukan surveilens TLI yaitu test-lacak-isolasi.

Pertanyaan ketiga ditujukan kepada Ibu Lies oleh Juda dari UMY tentang bagaimana kalau upaya penanganan COVID-19 dengan vaksin. Bu Lies menjelaskan bahwa sampai saat ini belum ada vaksin untuk COVID-19 jadi kita tidak bisa diam menunggu sampai vaksin itu ada. Yang harus dilakukan sekarang adalah mencari cara lain yang lebih efektif yaitu dengan bersama-sama mempromosikan pesan 3M secara terus menerus kepada masyarakat.

Pertanyaan terakhir dijawab oleh Pak Pandu yang ditanyakan oleh Paramita mengenai rapid test. Pak Pandu menjelaskan bahwa rapid test tidak efektif dan tidak akurat karena tidak mendeteksi orang yang membawa virus tetapi hanya mendeteksi orang yang mempunyai anti bodi pada virus. Karena tidak akurat, Pak Pandu menyarankan untuk di stop saja termasuk untuk persyaratan perjalanan dan untuk test lebih baik menggunakan swabtest PCR dan melakukan 3M yang lebih penting dibandingkan dengan rapid test.

Peserta Webinar Epidemiologi 2020 FKM UMJ

Agenda acara selanjutnya adalah pemberian e-sertifikat kepada pak Pandu yang diserahkan oleh Dekan FKM UMJ secara virtual dan penyerahan e-sertifikat untuk bu Lies diserahkan oleh Bu Munaya selaku Wadek 1 FKM UMJ. Sesi selanjutnya adalah pemberian e-sertifikat untuk moderator acara yaitu Ibu Arum yang diserahkan oleh Oswin selaku Ketua Pelaksana.

Agenda acara yang terakhirr adalah foto bersama dan pengumuman pemenang doorprize yang ditentukan dari komentar terbaik. Pemenang komentar dimenangkan oleh Irma rokhmania dan Ulinnuha Muhammad. Acara ditutup oleh Nur Armilah selaku MC acara dengan meminta maaf dan berterima kasih sebagai perwakilan panitia Webinar Epidemiologi 2020 kepada pemateri, moderator, dan seluruh peserta.

Penulis:
Nur Armilah Sadiah
Mahasiswa Peminatan Epidemiologi
Fakultas Kesehatan Masyarakat UMJ

Sharing is caring!

(Visited 193 times, 1 visits today)