Puasa Momentum Berhenti Merokok, Semoga Berhasil Kawan!
Pada Bulan Ramadhan ini, terutama bagi umat Islam, merupakan waktu yang sangat tepat dan momentum penting bagi para perokok untuk berhenti merokok.

Masalah merokok merupakan hal yang menjadi kontroversial atau perdebatan, meskipun hasil penelitian dampak rokok terhadap sosial, ekonomi, dan pendidikan cukup banyak. Riset terkait bahaya zat yang terkandung di dalam rokok dan dampak asap rokok terhadap kesehatanpun juga cukup banyak, bahkan mencapai ribuan. Hal tersebut dikarenakan kuatnya daya tawar pengusaha rokok terhadap negara dan maraknya iklan rokok di mana-mana, sehingga mengalahkan akal dan daya nalar masyarakat terhadap bahaya rokok.

Dampak Merokok Secara Sosial

Merokok, dikalangan para ahli hisap atau perokok dapat meningkatkan keakraban atau pertemanan, karena pada saat yang satu kehabisan rokok bisa minta kepada temannya, atau ketika yang satu tidak mempunyai pemantik api, bisa minta kepada yang lain, walaupun masih belum kenal.

Namun, di sisi lain ada juga perokok yang mempunyai rokok cap teman atau dikenal dengan istilah nunut ngudut (selalu minta rokok kepada temannya), maka ini akan berdampak pada sikap antipati teman kepada dirinya.

Ada pula dampak lain, asap rokok yang dikeluarkan sangat mengganggu bagi sebagian orang, sehingga muncul perasaan tidak suka. Hal tersebut kadang menimbulkan keributan, terutama bagi mereka yang mempunyai penyakit tertentu seperti asma, jantung atau alergi.

Dampak Rokok Secara Ekonomi

Secara ekonomi negara, produk rokok menyumbang pajak yang sangat besar, bahkan terbesar dibandingkan pajak lainnya. Ini menandakan bahwa pengusaha rokok memetik untung yang sangat besar dari bisnis rokok. Bahkan salah satu orang terkaya di Indonesia adalah pengusaha rokok.

Mengapa pengusaha rokok dapat meraup untung besar? Awalnya pabrik rokok menyerap cukup banyak tenaga kerja, sehingga biaya untuk tenaga kerja sangat besar. Seiring dengan kemajuan teknologi, pembuatan rokok menggunakan sistem mekanik/mesin, berdampak pada kebutuhan tenaga kerja menjadi berkurang dan produk rokok meningkat dengan biaya yang rendah. Hasil dari upaya tersebut, pengusaha rokok dapat membandrol harga rokok dengan sangat murah, bahkan sebungkus rokok lebih murah dari seporsi makan siang.

BACA JUGA:  Mumpung Bulan Ramadhan Cuy, Yuk Berhenti Merokok!

Sedangkan tembakau, sebagian besar adalah impor dari luar negeri. Bahkan kecenderungan yang terjadi adalah pabrik dan produksi rokok meningkat, perluasan lahan tanaman tembakau cenderung menurun.

Menurut Departemen Pertanian pada tahun 2005, pertanian tembakau tidak menjanjikan, karena salah satunya petani tembakau tidak mempunyai posisi tawar terhadap harga tembakau. Bahkan menurut Kementerian Perindustrian, dampak rokok secara ekonomi, negara untung, perokok buntung. Kecenderungan yang terjadi adalah pengusaha rokok tambah kaya harta dan perokok juga tambah kaya penyakit.

Secara ekonomi kesehatan, merokok mengurangi anggaran rumah tangga untuk peningkatan gizi keluarga. Berdasarkan penelitian pada tahun 2006, pengeluaran keluarga miskin menempatkan rokok menjadi pengeluaran kedua setelah beras. Dampaknya adalah meningkatnya kasus anak kurus, kurang gizi, stunting atau pendek dan mudahnya terkena penyakit serta tidak adanya anggaran untuk berobat. Bahkan jika dibandingkan hasil pajak rokok dengan biaya dampak penyakit yang terkait dengan rokok sangatlah jauh selisihnya.

Harga rokok jika dibandingkan beberapa tahun lalu sudah mengalami kenaikan. Celakanya, ternyata uang jajan anak juga bertambah, bahkan melebihi harga rokok, sehingga rokok dapat dibeli. Terlebih lagi masih banyak warung yang menjual rokok ketengan (batangan), sehingga dengan sepersepuluh uang jajannya, seorang anak dapat membeli rokok.

Dampak merokok terhadap kesehatan

Berdasarkan riset yang dilakukan oleh berbagai peneliti, lembaga penelitian dan perguruan tinggi, asap rokok sangat berbahaya terhadap kesehatan, terutama jika dihirup atau terhirup dalam jangka panjang. Hal ini dikarenakan pada daun tembakau olahan terdapat 2.550 zat kimia, ketika dibakar menjadi sekitar 4.000 zat kimia, 400 di antaranya merupakan zat kimia berbahaya dan yang paling berbahaya ada 43 zat kimia.

Diantaranya nikotin yang dapat menyebabkan ketergantungan dan mengikat sel darah merah sehingga tidak bisa menyerap oksigen yang diperlukan oleh tubuh, tar yang sangat berpengaruh pada terjadinya kanker, seperti kanker paru, tenggorokan, bibir dan kanker lainnya.

BACA JUGA:  Ingin Keluarga Anda Sehat? 7 Tips Ini Bisa Bantu Anda Berhenti Merokok!

Tar juga berpengaruh terhadap terjadinya penyakit sumbatan paru menahun, penyakit jantung dan stroke. Ada lagi karbon monoksida, yang menyebabkan keracunan. Zat kimia lainnya adalah Arsen, DDT, HCN, formalin, ammonia, aceton, cadmium, bahan radio aktif dan zat lainnya yang berdampak pada lemahnya daya tubuh dan sulitnya sembuh jika menderita sakit. Bahkan berdasarkan penelitian lainnya, kematian ibu hamil, ibu melahirkan dan ibu menyusui serta bayi dan balita lebih tinggi dibandingkan pada keluarga yang tidak ada yang merokok.

Artinya dengan merokok, seseorang menanggung resiko besar, antara lain terjadinya pemborosan dalam keuangan keluarga, terganggunya orang lain yang memerlukan udara bersih, sehat dan segar, meningkatnya resiko penyakit pada perokok, baik perokok aktif (orang yang langsung merokok), perokok pasif (orang yang berada di sekitar orang yang sedang merokok) dan perokok tangan ketiga (orang yang tidak merokok, tetapi berada di ruangan bekas orang yang merokok atau saluran pernapasannya kontak dengan benda-benda yang terpapar asap rokok, seperti pakaian, korden dan benda lainnya).

Merokok Menurut Agama

Tidak ada agama yang menyatakan bahwa rokok itu baik dan bermanfaat. Bahkan semua agama menyatakan bahwa merokok merupakan pemborosan, tidak ada manfaatnya bagi kesehatan dan membuat orang ketergantungan. Hal tersebut semestinya menjadi perhatian insan yang beragama, agar terhindar dari perbuatan yang sia-sia, bahkan cenderung merugikan.

Berhenti Merokok Sekarang

Pada Bulan Ramadhan ini, terutama bagi umat Islam, merupakan waktu yang sangat tepat dan momentum penting bagi para perokok untuk berhenti merokok. Hal ini dikarenakan dalam sehari semalam telah mampu tidak merokok selama sekitar 13 jam.

Berdasarkan penelitian, berhenti merokok selama 8 jam akan mengembalikan kadar oksigen ke kadar normal. Berhenti merokok dalam 24 jam karbon monoksida dari rokok dikeluarkan dari tubuh. Berhenti merokok dalam 48 jam (2 hari) nikotin tidak terdeteksi dalam tubuh, indera perasa dan penciuman mulai bekerja dengan baik.

BACA JUGA:  Mumpung Bulan Ramadhan Cuy, Yuk Berhenti Merokok!

Berhenti merokok dalam 72 jam (3 hari) bernapas akan lebih lega, karena paru-paru lebih akan lebih berfungsi. Berhenti merokok dalam 2 – 12 minggu, sirkulasi tubuh menjadi lebih lancar. Lebih lama berhenti merokok akan lebih bersih tubuh kita dari zat-zat berbahaya yang berasal dari rokok.

Untuk berhenti merokok, faktor utama yang paling penting adalah niat. Niat seseorang akan sangat menentukan keberhasilan seseorang dalam berhenti merokok. Banyak orang mampu berhenti dari ketergantungan merokok, karena niat dan tekadnya yang kuat. Jangan menyurutkan niat untuk berhenti merokok, apalagi dalam upaya menjaga kesehatan diri sendiri, keluarga dan orang-orang di sekeliling kita.

Agar mampu berhenti merokok, maka perlu dilakukan dengan cara berhenti seketika atau dengan cara mengurangi secara bertahap. Kemudian, kenali kapan waktu yang merangsang untuk merokok, maka pada waktu-waktu tersebut, perlu diantisipasi dengan tidak menyediakan rokok, korek api dan asbak serta tidak berada di sekitar orang yang sedang merokok. Selanjutnya mintalah dukungan dari keluarga untuk berhenti merokok, berolahraga teratur dan konsultasilah dengan petugas kesehatan.

Jika belum mampu berhenti merokok, minimal tidak merokok di tempat umum atau tempat-tempat yang diwajibkan pemerintah sebagai kawasan tanpa rokok, seperti fasilitas kesehatan, fasilitas belajar mengajar, fasilitas bermain anak, tempat ibadah dan sarana transportasi.

Di samping itu, di tempat-tempat umum dan tempat kerja, jika tidak mampu untuk tidak merokok, maka pilih tempat khusus merokok. Hal ini agar tidak terkena sanksi hukum, karena mayoritas daerah telah melaksanakan peraturan tentang Kawasan Tanpa Rokok (KTR).

Yang lebih penting lagi, tidak merokok di dalam rumah, agar anak, istri dan keluarga kita terhindar dari bahaya asap rokok. Keluarga sehat, keluarga tanpa asap rokok. Keluarga sehat dimulai dari diri sendiri tidak merokok di dalam rumah ataupun di sembarang tempat. Berani tidak merokok, hebat

Sharing is caring!

(Visited 24 times, 1 visits today)