Seharusnya Tak Perlu Ada Difteri
Untuk itu, selain meningkatkan program imunisasi, sistem pencegahan dan strategi sosialiasinya mesti disesuaikan dengan zaman sekarang.

Di dalam ilmu kedokteran yang tertuang dalam berbagi literasi terpercaya disebutkan penyakit difteri sangat menular dan dapat menyebabkan kematian. Dijelaskan pula bahwa difteri adalah penyakit akibat terjangkit bakteri yang bersumber dari Corynebacterium diphtheriae.

Bahkan di masa lalu, difteri dimasukkan ke dalam golongan penyakit yang mengerikan karena telah menyebabkan ribuan kematian, dan masih mewabah di daerah-daerah dunia yang belum berkembang. Orang yang selamat dari penyakit ini menderita kelumpuhan otot-otot tertentu dan kerusakan permanen pada jantung dan ginjal.

Disebutkan juga anak-anak yang berumur satu sampai sepuluh tahun sangat peka terhadap penyakit difteri. Kuman difteri disebarkan oleh menghirup cairan dari mulut atau hidung orang yang terinfeksi, dari jari-jari atau handuk yang terkontaminasi, dan dari susu yang terkontaminasi penderita.

BACA JUGA:  Dinkes DKI Diminta Cermat dalam Program Vaksinasi

Namun, penyebaran kuman mematikan itu bisa dicegah jika sejak anak usia dini diberikan imunisasi difteri, petusis, dan tetanus (DPT). Imunisasi ini merupakan upaya untuk menimbulkan dan atau meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap penyakit difteri, pertusis, dan tetanus dengan cara memasukkan vaksin DPT ke dalam tubuh sehingga tubuh dapat menghasilkan zat anti terhadap ketiga kuman tersebut, dan apabila suatu saat nanti terpajan dengan ketiga penyakit tersebut anak tidak akan menjadi sakit atau hanya mengalami sakit ringan.

Sayangnya, tidak semua orang tua dan masyarakat menyadari imunisasi itu. Akibatnya, wabah yang seharusnya tidak perlu terjadi malah menjadi kejadian luar biasa. Terbukti, Kementerian Kesehatan melaporkan pada Januari hingga November 2017 tercatat 593 kasus difteri terjadi di Indonesia dengan angka kematian 32 kasus. Kasus tersebut terjadi di 95 kabupaten-kota pada 20 provinsi. Data Kementerian Kesehatan juga menyebutkan kasus difteri yang ditemukan sepanjang 2017 tidak terbatas usia, yang termuda 3,5 tahun, yang tertua 45 tahun.

BACA JUGA:  Ternyata Ini Alasan Orangtua Enggan Antar Bayinya Imunisasi

Dari kenyataan itu, ternyata masih ada yang belum diimunisasi. Faktor kedua, sudah mendapatkan imunisasi, tapi tidak lengkap. Adapun faktor ketiga, terjadi padahal sudah imunisasi lengkap.

Oleh karena itu, Kementerian Kesehatan menyatakan imunisasi difteri sebagai langkah pencegahan utama penyakit tersebut harus dilakukan. Ini artinya, penyebaran difteri bisa dihentikan dengan mencapai kekebalan kelompok yakni 95 persen cakupan imunisasi. Saat terjadi kekebalan kelompok, lima persen orang yang tidak diimunisasi tetap dapat terlindungi dari penyakit tersebut. Namun, ketika capaian kekebalan kelompok tidak terpenuhi, maka bakteri akan mudah menyebar bahkan bisa menginfeksi orang-orang yang sudah melakukan imunisasi. Ketika sudah terjadi seperti itu, maka disarankan penggunaan masker untuk mencegah terjadinya penyebaran bakteri.

Berbagai upaya memang harus segera dilakukan agar wabah difteri tidak meluas. Pemerintah juga tidak bisa hanya menyalahkan salah satu pihak. Pemerintah harus berperan bahwa kasus difteri ini bisa ditanggulangi dan tidak akan terulang lagi.

BACA JUGA:  KLB Difteri, KPAI Ingatkan Bahwa Vaksinasi Adalah Hak Anak

Untuk itu, selain meningkatkan program imunisasi, sistem pencegahan dan strategi sosialiasinya mesti disesuaikan dengan zaman sekarang. Artinya, sekalipun tetap mengandalkan tenaga-tenaga penyuluh di tingkat Puskemas hingga Posyandu, perlu juga ditambah dengan bantuan teknologi informasi, semacam smartphone.

Fungsi dari teknologi digital itu adalah pemberitahuan sekaligus alat bantu mengenai program imunisasi. Jadi, jika ada warga yang terlewatkan bisa segera terdeteksi. Demikian pula sebaliknya, jika ada program imunisasi, warga bisa segera membawa anak-anaknya ke Posyandu.

Kita tak ingin wabah difteri terulang lagi. Maka sangat penting kita untuk mewujudkan lingkungan yang sehat sehingga semua terbebas dari penyakit. Faktor kesehatan akan sangat berperan penting dalam menghadapi kemajuan zaman sehingga kita dapat mewujudkan impian kita di masa depan.

Sumber http://www.koran-jakarta.com

Sharing is caring!

(Visited 325 times, 1 visits today)