Turunkan Prevalensi Stunting, FKM UI Gelar Seminar Gizi untuk Bangsa
Seminar Gizi untuk Bangsa tahun ini bertema “Kontribusi dan Keterlibatan Stakeholders dalam Penurunan Stunting” dilaksanakan 20-21 September 2019 di kampus UI.

Jakarta, 20/09/2019 – Seminar Gizi untuk Bangsa (GUB) merupakan agenda rutin yang dilaksanakan oleh Departemen Gizi Kesmas FKM UI. Pada tahun ini, penyelenggara mengambil tema “Kontribusi dan Keterlibatan Stakeholders dalam Penurunan Stunting” dilaksanakan selama dua hari (20-21 September 2019) di Universitas Indonesia. Agendanya terdiri dari seminar dengan narasumber dari berbagai sektor dan simposium yang menyajikan hasil penelitian mahasiswa program Studi Gizi FKM UI.

Stunting merupakan perawakan pendek pada anak akibat malnutrisi yang kronis. Berdasarkan data Riskesdas 2018, prevalensi balita stunting di Indonesia sebesar 30,8% angka tersebut turun dari tahun 2013 37%. Meski begitu, stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat karena masih di atas batas yang ditetapkan WHO yakni 20%.

BACA JUGA:  Kalahkan Tuan Rumah, Tim FKM UAD Raih Juara 3 Lomba Debat di UI

Bapak Entos Zainal selaku narasumber dari Bappenas menyatakan bahwa prevalensi stunting ditargetkan turun menjadi 19% pada tahun 2024. Isu pencegahan stunting ini masuk juga ke dalam RPJMN 2020-2024 yang menitikberatkan pada pembangunan sumber daya manusia. Usaha tersebut bukan suatu yang mudah, perlu kerja sama lintas sektor dengan berbagai terobosan inovasi untuk menangani stunting ini.

Turunkan Stuntin, Seminan Gizi untuk Bangsa

Sebab apabila tidak dicegah, stunting dapat menyebabkan dampak serius terhadap kesehatan anak baik itu jangka pendek maupun jangka panjang. Selain membawa dampak kepada kualitas SDM, stunting juga dapat berdampak ekonomi dan kemajuan pembangunan nasional, sebab kerugian akibat stunting bisa mencapai 4 T per tahun atau 3% PDB. Saat ini telah disusun Stategi Nasional Percepatan Penurunan Stunting untuk konvergensi upaya bersama.

Prof. Dr. dr. Damayanti R. Sjarif, Sp.A(K), selaku dokter konsultan nutrisi dan penyakit metabolik menyampaikan, bahwa dalam pencegahan stunting pemantauan status gizi dan antropometri anak perlu dilakukan secara berkala. Jika ada balita dengan berat badan atau tinggi badan < -2 SD DI Posyandu maka perlu dirujuk ke Puskesmas dan jika ternyata ditemukan penyakit penyerta atau growth faultering atau gizi buruk maka perlu dirujuk ke RSUD untuk mendapat diagnosis medis dari dokter spesialis anak.

BACA JUGA:  FKM UMI Jalin Kerjasama dengan FKM Universitas Indonesia

Beliau juga menekankan bahwa untuk upaya penanganan stunting ini berbeda-beda intervensinya, tidak bisa disamakan semua konteks. Beliau mencontohkan, ada seorang bayi yang berat badannya tidak naik-naik, setelah diselidiki ternyata di keluarganya ada yang TBC, untuk kasus tersebut intervensinya bukan dibangunkan jamban di rumahnya tapi tata laksana yang sesuai.

Selanjutnya Dr. Marudut Sitompul dari Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) menyampaikan beberapa hasil-hasil riset terkait dan teraktual mengenai asupan gizi yang tepat untuk pencegahan stunting. Inti yang perlu digarisbawahi adalah mengenai pentingnya asupan protein hewani yang sangat dibutuhkan pada usia utama tumbuh kembang anak dan bagaimana penggunaan protein terebut.

Asupan protein paling dari sumber protein hewani yaitu telur dan susu karena memiliki nilai cerna (bioavailabilitas) paling tinggi serta memiliki asam amino esensial lebih lengkap dibandingkan protein nabati. Dalam salah satu studi ditemukan bahwa asupan protein hewani yang rendah ini berkontribusi terhadap tingginya prevalensi stunting.

BACA JUGA:  Jangan ada Stunting Diantara Kita, Diskusi Online Perdana Kesmas.id dan Forgizinesia

Seminar Gizi untuk Bangsa

Pada sesi 2, paparan materi lebih mengerucut lagi ke beberapa sektor terkait diawali oleh paparan materi dari Prof. Hardinsyah, M.Sc, PhD, ketua Pergizi Pangan. Materinya berfokus pada susu, yang mengandung zat pembentuk tulang dan protein-protein yang diperlukan untuk tumbuh kembang anak. Intervensi pada hal-hal seperti itu penting karena selama ini intervensi kebanyakan berfokus pada pencegahan anemia dengan pemberian pil Fe tapi lupa memerhatikan zat-zat lainnya yang berperan pada pertumbuhan.

Selanjutnya dipaparkan juga materi dari sektor peternakan yang disampaikan oleh Kementerian Pertanian, penyediaan akses air minum dan sanitasi dari Kementerian PUPR. Kemudian di sesi 3, ada narasumbernya berasal dari Federasi Masyarakat Perunggasan Indonesia, APPNIA, dan  KPAI. Dengan latar belakang bidang narasumber yang beragam, membuat seminar dan diskusi begitu membuka mata akan berbagai peluang konvergensi pencegahan stunting dan informasi mengenai apa saja yang sudah, sedang dan akan diperankan masing-masing.

Sharing is caring!

(Visited 81 times, 1 visits today)