Serunya Seminar Nasional Penanggulangan PTM Melalui GERMAS di Era Millenial
Begini keseruan acara Seminar Nasional bertema “Penanggulangan PTM Melalui GERMAS di Era Millenial” yang diselenggarakan Minggu 1/9 lalu di Yogyakarta.
Spread the love

Charista Millenia Bintari

Mahasiswa S1 Kesehatan Masyarakat
Universitas Respati Yogyakarta

Yogyakarta (1/9), CV Khadeejah bekerjasama dengan Pengda IAKMI Yogyakarta, menyelenggarakan Seminar Nasional bertema “Penanggulangan Penyakit Tidak Menular Melalui Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) di Era Millenial” di Hotel Grage Business Yogyakarta.

Ahmad Ahid Mudayana, SKM, MPH

Ahmad Ahid Mudayana, SKM, MPH selaku Sekretaris Penda IAKMI Yogyakarta yang dalam acara ini juga menjadi narasumber menyampaikan harapannya dengan kegiatan ini teman-teman Kesehatan Masyarakat dapat menambah pengetahuan terkait dengan program-program di sektor kesehatan dan saling bertukar gagasan sehingga SDM Kesehatan Masyarakat bisa menjadi lebih unggul.

Dalam paparannya, Pak Ahid menyampaikan mengenai tantangan dan strategi implementasi GERMAS di era industri 4.0. Sebelumnya Ahid menjelaskan tujuan dari GERMAS itu sendiri, diantaranya masyarakat berperilaku sehat yang berdampak pada:

  • Kesehatan Terjaga
  • Lingkungan Bersih
  • Produktif
  • Biaya Berobat Berkurang

Beliau juga menyampaikan beberapa tantangan program GERMAS di era digital ini, yakni mulai memasuki Era Post Truth atau “Era Setelah Kebenaran”. Kemudian saat ini juga mudahnya akses informasi dimana masyarakat sudah tidak lagi melakukan check up di layanan kesehatan lagi tetapi dapat diperkirakan menggunakan gadget, SDM yang handal, hingga big data yang rentan dimanfaatkan oleh negara lain.

BACA JUGA:  Puskesmas Kalibening Sosialisasikan KTR Didukung Lintas Sektoral

Dari beberapa tantangan yang dipaparkan oleh Pak Ahid dalam Seminar Nasional kali ini, beliau juga turut memberikan strategi untuk tetap bisa melaksanakan GERMAS di era digital ini, diantaranya memanfaatkan keterbukaan informasi, one data, memanfaatkan media sosial sebagai media promosi dengan baik, meningkatkan kerjasama dengan pihak-pihak terkait serta meningkatkan kualitas SDM yang dituntut untuk siap menghadapai  era industri 4.0 ini.

Founder Kesmas-ID, Kang Niwa

Dalam menghadapi era industri 4.0 tentu saja segala sesuatunya akan beralih pada berbagai macam alat yang berkaitan dengan teknologi. Untuk itu media promosi kesehatan akan dapat diakses oleh seluruh masyarakat dengan mudah yaitu melalui gadget yang dirasa semua pasti memilikinya. “Optimalisasi Media Sosial Sebagai Media Promosi Kesehatan 4.0”, demikian materi yang disampaikan oleh Rakmatniwa, SKM selaku Founder Kesmas-ID.

Namun, ada beberapa efek negatif teknologi digital pada generasi jaman now, dimana mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang egois dan sulit bergaul, perkembangan otak yang tidak seimbang, kesulitan mengenali emosi, perkembangan bahasa tertunda, sering menahan lapar, haus dan keinginan buang air yang dapat mengganggu sistem pencernaan dan yang paling berbahaya adalah aktifitas fisik yang kurang karena terlalu banyak bermain di perangkat digital. Tentu ini perlu menjadi perhatian orang tua saat ini.

BACA JUGA:  Seminar Nasional HIMA IKM UNNES, Tema Peta Jalan PIS-PK, Daftar Yuk!

Untuk generasi tenaga kesehatan jaman now, karena mereka lebih pandai menggunakan gadget, maka besar harapannya agar mereka dapat memanfaatkan gadget terutama media sosial dalammenyebar iinformasi ajakan-ajakan tentang hidup sehat kepada masyarakat. Tidak melulu menggunakan akun instansi, sehingga akun media sosial personal mereka tidak hanya sebatas untul ber-selfie ria, tetapi ada hal positif yang bisa disampaikan kepada rekan/ followers kita tentang kesehatan.

“Lalu bagaimana dengan kami yang berada di daerah sulit sinyal internet, dan masyarakat juga masih minim menggunakan internet?” tanya salah seorang peserta dari Puskesmas Kalibawang Kulon Progo.

Peserta dari Puskesmas Kalibawang Kulon Progo

Pemanfaatan teknologi informasi boleh jadi tidak selalu tentang media sosial, tetapi bisa melalui media lainnya seperti radio atau televisi lokal yang dapat dijangkau oleh masyarakat setempat. Disesuaikan dengan karakteristik masyarakat lokal tentunya. Selain itu, petugas promosi kesehatan dapat menggandeng komunitas-komunitas lokal seperti komunitas bloger/ penulis, fotografi, videografi,dll untuk dapat turut serta menyebarluaskan informasi kesehatan.

BACA JUGA:  Seminar Nasional K3 SHEA Conference 2018

Acara ini sangat menarik, dan bermanfaat bagi peserta, sebagaimana kesan salah satu peserta berikut ini.

“Yang membuat saya rela datang jauh yaitu saya ingin menambah wawasan karena kami di daerah pasti masih ada kesenjangan pengetahuan antara di daerah saya dengan di Jogja, terutama tentang informasi-informasi terupdate”, ungkap Ambarawati, peserta yang datang dari Dinas Kesehatan Kabupaten Paser, Kalimantan Timur.

Kiki Rahmawati, salah satu peserta dari RSUD Panembahan Senopati Bantul yang juga merupakan alumni dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta sangat mengapresiasi acara dan berharap dengan adanya seminar nasional ini dapat membuat teman-teman terbuka terhadap lingkungan sekitar sehingga dengan didukungnya industri 4.0.

Kartika Puspitasari

“Mengadakan Seminar Nasional ini tidak melulu untuk mengejar SKP, tetapi ilmu serta tema-tema yang menarik yang kita sajikan sehingga dapat memberikan tambahan pengetahuan sehingga dapat diaplikasikan oleh peserta dimanapun kita berada”, ujar Kartika Puspitasari selaku Ketua Panitia Seminar Nasional Kesehatan Masyarakat yang juga bekerja sebagai Surveilans Epidemiologi di Puskesmas Seyegan, Sleman menyampaikan harapannya setelah kegiatan ini berlangsung.

JANGAN LELAH UNTUK BELAJAR! Satu kalimat yang disampaikan oleh Ibu Kartika sekaligus menutup wawancara pada kegiatan hari ini.

Sharing is caring!

(Visited 72 times, 1 visits today)