Sharing Session Part 2, Memahami Psikologi Remaja

Posyandu Remaja Indonesia menggelar Diskusi Online Part 2 bertema “Memahami Psikologi Remaja”. Kegiatan yang berlangsung melalui Platform Zoom Meeting ini diikuti oleh penggiat Posyandu Remaja di seluruh Indonesia dan Masyarakat umum pada Minggu siang (26/7).

Bani Bacan Hacantya Yudanagara, Magister Psikologi Universitas Airlangga sebagai narasumber dalam acara tersebut. Sebelum menyampaikan materi diskusi, beliau memberi pertanyaan terlebih dahulu kepada para peserta “Apa yang kalian ketahui soal remaja?”. Beragam jawaban disampaikan peserta bahwa remaja itu kepo, remaja fase mencari jati diri, remaja itu baper, remaja itu banyak teman dan beragam jawaban menarik lainnya.

Narasumber menyampaikan bahwa usia remaja merupakan awal mula muncul ketertarikan terhadap lawan jenis, emosi cenderung tidak stabil, suka mencoba hal – hal baru, fase mencari identitas diri dan mudah terjerumus terhadap perilaku berisiko. Remaja cenderung memutuskan segala sesuatu secara emosional.

Setiap manusia khususnya para remaja harus menerima diri dan menerima segala perubahan yang dialami, berhenti membandingkan diri dengan orang lain. Untuk memahami diri sendiri, remaja perlu memahami apa yang membuat dirinya kesal, situasi yang membuat marah dan sedih, penyebab insecure, skill yang dimiliki dan apakah cara yang dilakukan secara sehat dalam menyelesaikan permasalahan. Beberapa poin tersebut hendaknya ditulis di buku catatan secara rutin untuk mengetahui progress perkembangan diri.

Bani Bacan Hacantya Yudanagara menyampaikan, kita harus menulis surat untuk diri sendiri sebagai pengharapan di satu tahun mendatang. Sebab, segala sesuatu lebih efektif dan lebih mudah dicapai dengan cara ditulis daripada hanya berhenti di angan – angan yang berujung pudar.

Tak lupa membahas mengenai konselor sebaya, yang mana mereka bukanlah superhero yang bisa menyelesaikan semua masalah klien. Dimana tugas konselor sebaya yakni memahami masalah kesehatan yang dialami klien sedini mungkin. Dalam memberikan konsultasi, sebagai konselor sebaya perlu menghindari beberapa hal yaitu menghakimi, memberi solusi secara langsung dan menghindar atas permasalahan klien yang terjadi. Tidak semua masalah bisa diatasi sendiri oleh konselor sebaya. Apabila pengetahuan terbatas, konselor sebaya harus sesegera mungkin merujuk atau melaporkan masalah klien ke pembina atau petugas puskesmas.

Dalam sesi tanya jawab, Yoga Andika selaku moderator acara mengajukan pertanyaan “Bagaiman apabila kita tidak mendapat dukungan orang tua dalam melakukan aktivitas yang positif”. Narasumber memberi saran bahwa kita harus bergabung di lingkungan yang positif dan mampu mengembangkan diri di lingkungan tersebut. Remaja tidak boleh bergantung sepenuhnya terhadap orang tua, remaja harus aktif mengembangkan diri dan menolak hal – hal yang menyebabkan kemunduran diri.

Sharing is caring!

(Visited 45 times, 1 visits today)