Suster, Sa Pu Berat Badan Su Bagus Karena Sa Pu Mama Kasi Sa ASI
Berikut ini salah satu cerita sukses ASI sebagai solusi anak yang lahir dalam kondisi BBLR di salah satu wilayah binaan Puskesmas Mowbja.

Apa yang kita pikirkan ketika mendengar kata “masalah kesehatan anak Papua”? Apakah masalah gizi menjadi masalah yang pertama kali terlintas di benak kita saat mendengar kata itu?

Ya, saat ini masalah gizi pada anak Papua masih menjadi PR bagi kita. Anak yang lahir dengan BBLR memiliki kesempatan yang lebih besar untuk menyumbang masalah gizi pada anak, didukung tanpa adanya perawatan dan asupan yang tepat.

Berikut ini akan saya menceritakan salah satu cerita sukses ASI sebagai solusi anak yang lahir dalam kondisi BBLR di salah satu wilayah binaan Puskesmas Mowbja.

BACA JUGA:  4 Tips Agar Ibu Dapat Memberikan ASI Eksklusif Pada Bayi

Bayi Onel lahir dari Mama Oktovina yang bekerja sebagai petani. Mama Oktovina mengalami anemia saat hamil (Hb 8). Mobilitas yang tinggi, asupan gizi yang kurang saat hamil menjadi salah satu faktor penyebab anemia Mama Oktovina.

Saat itu bayi onel lahir cukup bulan dengan berat lahir 2.000 gram. Mama Oktovina menghabiskan banyak waktunya di kebun di daerah pegunungan di Papua. Hal ini menjadi batasan untuk dia mendapatkan informasi sebanyak mungkin terkait gizi 1.000 HPK khususnya ASI.

Ketika melahirkan beliau sudah diedukasi terkait pemberian ASI. Namun, saat kami berkunjung ke rumah pada hari ke-1 pasca partumnya, sudah tersedia satu bungkus susu formula yang belum dibuka. Ternyata beliau berencana untuk memberikan susu formula kepada bayinya.

Ketika kami menggali terkait pemberian ASI, beliau tidak mengerti. Beliau mengira ASI sama dengan NASI, dan susu berwarna kuning ia kira sebagai kotoran susu. Selain itu, Mama Oktovina berencana memberikan susu formula karena melihat anaknya yang sangat kecil dan juga puting susu Mama Oktovina yang lecet setelah menyusui anaknya.

BACA JUGA:  Promosi ASI Eksklusif Wajib Dilakukan Tenaga Kesehatan

Dari sini kami mengerti ternyata edukasi yang kami sudah sampaikan tidak diterima dengan benar oleh Mama Oktovina. Kami juga menggali cara menyusuinya, ternyata cara menyusui Mama Oktovina juga tidak tepat. Akhirnya, kami mencoba terus mengedukasi ulang terkait ASI dengan bahasa yang paling mudah dipahami beliau dan mengajari beliau terkait cara menyusui yang tepat.

Setelah setengah jam berlalu barulah beliau mantap untuk mencoba untuk memberikan ASI untuk anaknya. 3 hari kemudian kami berkunjung, berat anak sudah 2.300 gram. Dari situ beliau baru yakin terkait manfaat ASI. Pada penimbangan usia 1 bulan, berat anak mencapai 4.000 gram, hal ini mendorong Mama Oktovina untuk terus semangat dalam memberikan ASI saja sampai 6 bulan.

Mama Oktovina bersama Bayi Onel


Bahagia bukan kita sebagai tenaga kesehatan melihat kondisi onel saat ini, dari BBLR menjadi bayi dengan grafik KMS yang sangat memuaskan?

BACA JUGA:  Dosen FKM UMI Sosialisasi Pentingnya Asi Eksklusif di Jeneponto

Kesimpulan yang saya dapat dari cerita bayi Onel adalah selama ini kita mungkin sudah merasa memberikan edukasi sebaik mungkin, tapi ternyata belum tentu semua edukasi yang sudah kita berikan dapat ditangkap dengan baik oleh klien. Maka, kita sebagai tenaga kesehatan WAJIB:

  • Memanfaatkan waktu sebaik mungkin sejak kontak pertama dengan klien, karena kita tidak mengetahui akankah kita masih memiliki kesempatan itu kembali dikemudian hari melihat mobilitas masyarakat kita yang sangat tinggi
  • Berikan KIE dengan sejelas mungkin dan dengan bahasa yang klien mengerti
  • Jangan pernah bosan untuk mengulang edukasi gizi 1.000 HPK, khususnya ASI
  • Selalu minta klien untuk mengulang kembali edukasi terkait ASI eksklusif atau minta klien untuk mempraktekkan cara menyusui bayinya

Sharing is caring!

(Visited 171 times, 1 visits today)