Buku Saku Pengendalian DBD

Buku Saku Pengendalian DBD ini disusun oleh Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kemenkes untuk pengelola DBD Puskesmas.

Buku Saku Pengendalian DBD ini disusun oleh Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kemenkes untuk pengelola DBD Puskesmas. Diterbitkan tahun 2013.

POKENTIK, Aplikasi Digital Health Movement Untuk Berantas DBD

Aplikasi POKENTIK ini hadir dengan harapan agar orang-orang diluar dunia kesehatan jadi lebih peduli pada bahaya penyakit DBD.

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) sampai saat ini masih menjadi salah satu masalah kesehatan di Indonesia. Sejak kasus pertama kali ditemukan pada tahun 1968, sampai dengan tahun 2016, Kementerian Kesehatan mencatat penyakit DBD telah menyebar di 34 Provinsi dan 436 Kabupaten/ Kota (85%) di Indonesia. Selain angka kesakitan dan kematian, tercatat 986 Milyar rupiah kerugian diakibatkan penyakit ini.

Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah, salah satunya dengan mengkampanyekan Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik (G1R1J). Melalui gerakan ini, diharapkan dalam setiap rumah tangga paling tidak ada 1 orang yang peduli secara berkala melakukan upaya Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan 3M Plus.

Melengkapi upaya yang telah dilakukan Kementerian Kesehatan, kami mencoba menghadirkan sebuah inovasi untuk membantu mengkampanyekan G1R1J dan PSN 3M Plus lewat aplikasi POKENTIK.

Aplikasi ini hadir dengan harapan agar orang-orang diluar dunia kesehatan yang tadinya tidak peduli bahkan tidak tahu dengan bahaya penyakit DBD dapat menjadi lebih peduli. Pengalaman kami pribadi, bahkan orang-orang diluar dunia kesehatan banyak yang belum tahu apa itu jentik dan bagaimana bentuknya. Bisa dibayangkan bagaimana tujuan kampanye gerakan pemberantasan sarang nyamuk akan lebih cepat tercapai jika pengetahuan dasar ini saja masih kurang.

Aplikasi POKENTIK ini juga kami buat agar tidak hanya sebatas Data Collecting, namun lebih jauh dari itu kami mengharapkan adanya upaya melibatkan peran aktif masyarakat. Kami juga melihat peluang perkembangan dunia teknologi dan internet saat ini telah berkembang sangat pesat, sulit rasanya mencari orang (khususnya anak muda) yang tidak menggunakan smartphone di era sekarang. Ditambah lagi komposisi demografi Indonesia yang saat ini didominasi oleh usia produktif, dapat dikatakan dua hal ini sebagai sumber daya yang sangat sayang apabila tidak dimanfaatkan untuk dunia kesehatan.

POKENTIK berupaya memaksimalkan kondisi tersebut, memanfaatkan pengguna internet di Indonesia dan intensitas interaksi anak muda dengan gadget mereka untuk upaya pencegahan penyakit.

Melalui POKENTIK, kami mengajak masyarakat umum untuk ikut serta secara aktif melakukan PSN 3M Plus lewat smartphone masing-masing. Seseorang dimanapun berada, bisa melakukan pemantauan (dengan mengisi form yang ada di Aplikasi), kemudian meng-upload foto tempat perindukan nyamuk, dan tidak lupa melakukan PSN 3M Plus.

Hasil pemberantasan ini kemudian difoto kembali, hasil kombinasi kedua foto (foto tempat perindukan dan foto pemberantasan) inilah yang kemudian di share ke media social dengan harapan menjadi inspirasi bagi orang lain untuk melakukan aktifitas serupa.

Video penggunaan POKENTIK oleh Menteri Kesehatan RI.

Fitur-fitur yang ada di POKENTIK saat ini masih sangat sederhana, berupa fitur pengisian form pemantauan yang mengadopsi dari Kementerian Kesehatan dan output berupa website yang dapat diakses di www.pokentik.com.

Kemudian ada fitur pemilihan lokasi, upload foto tempat perindukan nyamuk, dan foto pemberantasan sarang nyamuk. Selain itu ada fitur alarm yang berfungsi sebagai reminder bagi user yang sudah install POKENTIK, dimana setiap minggu akan muncul notifikasi untuk mengingatkan agar melakukan PSN 3M Plus.

Setiap aktifitas yang dilakukan dalam aplikasi POKENTIK juga dihitung POIN, dimana kedepan kami rencanakan agar poin ini dapat dijadikan dasar pemberian reward bagi user yang sudah aktif. Kami juga masih mencari upaya kerjasama dengan berbagai pihak yang peduli untuk pemberian reward ini. Diharapkan kedepan ada beberapa perusahaan melalui dana CSR yang tertarik bergabung.

POKENTIK akan terus kami kembangkan, baik dari segi tampilan maupun fitur yang ada. Pengembangan dalam waktu dekat ini akan diupayakan agar POKENTIK bisa berjalan di iOs (saat ini baru support Android), dan fitur sorting data di website www.pokentik.com. Output data yang ada di website pokentik dapatdijadika nsebagai dasar bagi para pemegang program DBD di level pusat maupun daerah dalam melakukan intervensi, sebagai contoh dengan melihat output peta daerah yang masih kurang melakukan PSN 3M Plus, maka upaya promotif dapat lebih difokuskan ke daerah tersebut. Selain itu, bagi para kader jumantik di Puskesmas juga dapat memanfaatkan aplikasi ini dalam melakukan pemantauan kerumah-rumah warga.

Saat ini juga sedang dilakukan riset agar aplikasi ini dapat mendeteksi secara otomotis jenis jentik dan nyamuk yang di foto lewat smartphone. Akan hadir juga POKENTIK Games, berupa permainan edukatif yang masih berhubungan dengan upaya pencegahan DBD. Harapan kami semoga upaya kecil yang kami lakukan dapat memberikan kontribusi dalam usaha pencegahan penyakit di Indonesia.

Libatkan 44 Dusun, Srandakan Komitmen Jadi Wilayah Bebas Jentik

Jum’at (13/10), bertepatan di Balai Desa Poncosari, Srandakan masyarakat berkumpul untuk  Gerakan Community Deal Bebas Jentik

Jum’at (13/10), bertepatan di Balai Desa Poncosari, Srandakan masyarakat berkumpul untuk  Gerakan Community Deal Bebas Jentik, sekaligus launching kegiatan inovasi “Kentong Lemut” dan Posyandu Remaja “DUMADAK”. Kegiatan yang diawali dengan senam bersama pada pukul 07.00 WIB yang dilanjutkan dengan PSN serentak ini merupakan wujud komitmen masyarakat Srandakan mewujudkan daerah bebas jentik dengan melibatkan 44 Dusun di Kecamatan Srandakan.

“Community deal bebas jentik dilatar belakangi rendahnya ABJ (Angka Bebas Jentik: red) di wilayah kecamatan srandakan dan banyaknya kasus DBD pada periode musim hujan di setiap tahunnya,” terang dr Anugrah Wiendyasari. M.Sc Plt Kepala Puskesmas Srandakan.

Trend DBD di Kabupaten Bantul mengalami penurunan tercatat dari awal Tahun 2017 hingga Agustus ada 451 kasus  sedangkan pada tahun 2016 terdapat 2.442 kasus.

“Kasus DBD memang dipengaruhi beberapa faktor salah satunya adalah cuaca hujan, namun kita tidak bisa menyalahkan alam namun butuh kesadaran masyarakat untuk melakukan pemberantasan nyamuk serta hidup bersih dan sehat,” ujar dr Pramudi D. M.Kes Kepala Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bantul.

dr Pram juga mengungkapkan Dinas Kesehatan maupun Puskesmas selalu mendorong masyarakat untuk bekerjasama melakukan pemberantasan sarang nyamuk karena tindakan preventif terhadap DBD perlu kerja sama dengan semua elemen masyarakat untuk selalu memperhatikan kebersihan lingkungan sekitar.

dr. Anugrah mengungkapkan Kegiatan “kentong Lemut” menjadi gerakan masyarakat cukup efektif. Pasalnya kegiatan yang di lakukan pertama kali dilaksanakan pada  September 2017 di Dusun Wonotingal dapat meningkatkan ABJ, yang sebelum dilaksanakan data ABJ 82% namun setelah dilaksanakan menjadi 86%.

“Kami berharap kegiatan ini dapat direplikasi di dusun-dusun lain, dimana setiap hari Jum’at pada pukul 09.00 Pak RT memukul kentongan yang ada di setiap pos ronda. Maka warga serentak melakukan gerakan 3M dan pada sore harinya remaja melakukan PSN,” terang dr Anugrah.
Bukan hanya itu pada hari itu juga dilakukan launching Posyandu Remaja DUMADAK (PosyanDu ReMaja SranDAKan). Dumadak merupakan kegiatan posyandu remaja yang telah dilaksanakan di dusun celan, sehingga diharapkan kegiatan ini dapat direplikasikan di dusun-dusun lainnya di Srandakan.

“Sejak Juni 2017 pelatihan secara bertahap di 5 dusun yaitu Pengahan, Puron,  Gunung Seren Kidul, Besole, dan Talkondo. Dan dari lima dusun yang sudah terlaksana di Puron,” tambah dr Anugrah.

Tekan Kasus DBD di Banjarmasin, Puskemas Terminal Lakukan Fogging di Jl Karya Mufakat

Banjarmasin – 29/8, Tim fogging Puskesmas Terminal melaksanakan penyemprotan sarang nyamuk (fogging) di Jl. Karya Mufakat Banjarmasin Timur.

Banjarmasin - 29/8, Tim fogging Puskesmas Terminal melaksanakan penyemprotan sarang nyamuk (fogging) di Jl. Karya Mufakat RT.31 Jalur II, Kel. Pemurus Luar, Banjarmasin Timur, Kota Banjarmasin Kalimantan Selatan.

Dengan kegiatan semacam ini, kami harapkan warga pun semakin sadar tentang pentingnya Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) di rumah dan lingkungan sekitar, selain untuk mengurangi kasus DBD di Banjarmasin.

Awas Hati-hati Jangan Tertipu, Bubuk Abate Tidak Dijual, GRATIS!

“Bubuk abate tidak dijual, gratis, itu dibeli menggunakan anggaran pemerintah,” kata Kadinkes Prov Riau, Mimi Yuliani Nazir di Pekanbaru, Jumat (25/8/2017).

Memasuki musim pancaroba atau peralihan musim antara musim kemarau dan musim penghujan sering marak terjadi Demam Berdarah Dengue (DBD). Situasi ini sering dimanfaatkan untuk menjual bubuk abate sebagai pembunuh telur nyamuk.

Ternyata bubuk abate bisa didapat secara gratis dan sudah disediakan oleh pemerintah melalui Dinas Kesehatan.

“Itu (bubuk abate-red) tidak dijual, gratis, itu dibeli menggunakan anggaran pemerintah,” kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Mimi Yuliani Nazir di Pekanbaru, Jumat (25/8/2017).

Menurutnya, bila ditemukan ada yang menjual bubuk abate kepada masyarakat itu hanya oknum-oknum nakal.

“Kalau masyarakat menemukan hal seperti itu (oknum menjual bubuk abate-red) harusnya dilaporkan ke Dinas Kesehatan,” katanya melanjutkan.

Lebih lanjut dikatakannya, bubuk abate itu didistribusikan dari Dinas Kesehatan Provinsi kepada Dinas Kesehatan di kabupaten dan kota. Nantinya Dinas Kesehatan kabupaten dan kota yang akan mendistribusikan itu ke Puskesmas masing-masing.

Artinya bila masyarakat menemukan oknum yang menjual bubuk abate disarankan untuk melaporkannya ke Dinas Kesehatan karena bubuk tersebut dibagikan secara gratis kepada seluruh masyarakat yang membutuhkan.

Sumber riaubook.com

Enrekang Darurat DBD, Masyarakat Harus Lebih Aktif dgn 3M Plus

Sampai pekan terakhir Juli 2017, tercatat sudah ada 10 Kasus DBD di Kab. Enrekang, salah satu penyumbang ada di Kecamatan Baraka

Sampai pekan terakhir Juli 2017, tercatat sudah ada 10 Kasus DBD di Kab. Enrekang, salah satu penyumbang ada di Kecamatan Baraka, tahun ini kita tak boleh kecolongan, kata Kadinkes Enrekang, Marwan Ganoko,

Penyakit Demam Berdarah disebabkan oleh virus dengue yang penyebarannya terjadi melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Karena diperantarai oleh nyamuk tersebut, maka demam dengue tidak bisa menular dari orang ke orang secara langsung. Jadi intervensi kita adalah nyamuknya, bagaimana supaya nyamuk Aedes aegypti diputus mata rantai berkembangannya dan kita jangan sampai tergigit,

Sebagai langkah pencegahan Dinas Kesehatan dlm hal ini Puskesmas Baraka, melalui pengelola Program Pengendalian DBD Anita, AMK, sudah melaksnakan Penyelelidikan Epiodemiologi dan Abatisasi di lokasi-lokasi yang dicurigai terdapat kasus ataupun lokasi Endemik DBD di Wilayah Kec. Baraka.

pengelola Program Pengendalian DBD Puskesmas Baraka

Kadinkes Enrekang berpesan bawah, nyamuk Aedes Aegepty itu banyak berkembang biak di daerah padat penduduk, seperti Daerah Kelurahan Balla, Baraka, dan Tomenawa, tentu kita semua perlu waspada, kita tak bisa mengandalkan fogging, karena biayanya cukup mahal dan tak bisa banyak.

Kadis Menenakan masyarakat harus slebih aktif. Kegiatan pencegahan penyakit demam berdarah dengue tidak hanya melibatkan sektor kesehatan saja, melainkan semua pihak termasuk masyarakat juga harus peduli.

GHBS, Gerakan Hidup Bersih dan Sehat, harus kembali kita aktifkan. Berantas jentik dan hindari gigitan nyamuk demam berdarah dengan cara 3M Plus kunci utama,

  1. Ingatlah untuk menguras tempat-tempat penampungan air (bak mandi/WC, tempayan, ember, vas bunga, dsb) seminggu sekali.
  2. Menutup rapat semua tempat penampungan air seperti ember, gentong dan drum.
    Mengubur barang-barang bekas yang ada di sekitar atau di luar rumah yang dapat menampung air hujan seperti kaleng bekas, botol, plastik dan tempurung kelapa.
  3. Menaburkan bubuk abate atau altosid 2-3 bulan sekali di tempat air yang sulit dikuras atau tempat sulit air.
  4. Memelihara ikan pemakan jentik nyamuk. serta cegah gigitan nyamuk dengan menggunakan obat nyamuk, memakai obat repelant, memasang kawat kasa pada jendela dan ventilasi dsb.

Kadinkes Enrekang juga menyarankan bahwa, jika Anda mengalami gejala seperti flu (misalnya sakit kepala dan demam tinggi) selama lebih dari satu minggu, sebaiknya segera untuk memeriksakan diri Anda ke Puskesmas.

Masyarakat jangan takut, karena petugas kami di tiap-tiap kecamatan Aaktif melayani masyarakat, kita siap lebih keras bekerja, karena masyrakat sehat kunci kita menuju Enrekang yang maju, aman dari ancaman DBD dan jika kita sehat maka masyrakat mampu Produktif dan Sejahtera.

cegah demam berdarah dengan 3 M plus

Jurus Jitu Dinkes Kota Balikpapan Berhasil Tekan Wabah DBD

Sekretaris Dinkes Kota Balikpapan Suheriyono mengatakan, penderita DBD tahun ini jumlahnya menurun drastis. Berikut ini strategi yang kami lakukan.

Pemkab Balikpapan berhasil menekan wabah demam berdarah yang terjadi saban tahun. Sejumlah inovasi ditambah kesadaran masyarakat terbukti ampuh mengurangi populasi jentik nyamuk aedes aegypti.

Sekretaris Dinas Kesehatan Kota (DKK) Balikpapan Suheriyono mengatakan, penderita DBD tahun ini jumlahnya menurun drastis. Sebab, selain beberapa kelurahan telah menggunakan inovasi kelambu air, penanganan penyakit ini dilakukan dengan cepat oleh masyarakat.

“Kelambu air ini dilakukan di semua wilayah. Dengan sasaran awal Balikpapan Selatan. Sebab, paling tinggi kasusnya pada 2016 sebesar 979 kasus,” ucapnya sebagaimana dikutip dari Kaltim Post (Jawa Pos Group), Sabtu (22/7).

Dia menjelaskan, melalui pembagian gratis maupun bantuan CSR, ribuan kelambu air telah terpasang di rumah wilayah Kecamatan Balikpapan Selatan. Kemudian, tak lupa juga pemberian abate kepada masyarakat yang belum menggunakan kelambu air. Melalui penyuluh yang berkunjung ke rumah, abate ditabur di tempat penampungan air yang ada.

“Tahun lalu disediakan abate 14 ton. Kemudian sisa 4 ton. Dan tahun ini kita dapat 6 ton saja. Jadi, abate yang siap diberikan sepanjang 2017 ada 10 ton,” paparnya. Cara lain yang juga ditempuh dalam mengendalikan pertumbuhan nyamuk adalah fogging. Dengan prosedur yang tepat maka jentik nyamuk dan nyamuk bisa dikendalikan.

“Kami fogging gratis. Tidak boleh memungut biaya. Namun sebelum fogging perlu memerhatikan bebas jentik di rumah tersebut. Kalau masih banyak jentiknya percuma. Di-fogging lalu seminggu lagi banyak nyamuknya. Jadi, pencegahan lebih dulu dengan kelambu air atau abate,” ungkapnya.

Dalam pengendalian DBD, lanjutnya, DKK menganggarkan duit Rp 1 miliar. Dengan nominal tersebut, pihaknya berusaha keras dalam melakukan upaya pencegahan kasus DBD. Terbukti jumlah kematian tahun ini menurun drastis. “Tahun lalu, kasus DBD ada 4.113 kasus dengan 26 kematian. Tahun ini, jumlah kasus DBD hingga kini ada 610 kasus dengan 1 kematian. Semoga tidak bertambah lagi,” tutupnya.

Sumber jawapos.com

Prof Uut dan Jalan Terjal Menuju Masyarakat Bebas Demam Berdarah

Ia dan tim berusaha dan berharap dapat membuktikan bahwa teknologi penyebaran nyamuk ber- Wolbachia ini bisa menurunkan penyakit Demam Berdarah Dengue.

Terlibat dalam sebuah penelitian berskala besar dijalani Professor Adi Utarini sejak 2013 lalu. Sebuah penelitian yang dikenal dengan Eliminated Dengue Project Yogyakarta (EDP-Yogya), sebuah proyek besar untuk memberantas peredaran penyakit demam berdarah yang prosesnya dilakukan di Jogja menjadi fokusnya saat ini dan dalam beberapa tahun mendatang.

Membagi antara dunia pribadi dan akademik dalam kesehariannya menjadi tantangan tersendiri bagi perempuan yang akrab disapa Uut ini.

EDP-Yogya telah hadir sebagai projek penelitian sejak 2011 lalu. EDP merupakan sebuah program penelitian yang berfokus pada pengendalian penyakit demam berdarah. Dalam hal ini Prof Uut berperan penting yakni sebagai proyek leader EDP Jogja masa 2013 hingga 2019 mendatang.

Proyek tersebut menerapkan intervensi Aedes Aegypti ber-Wolbachia untuk mengurangi kasus demam berdarah di Yogyakarta, yang didanai oleh Yayasan Tahija, Indonesia.

“Saya bergabung di awal 2013 dimana sudah mulai dalam fase pelepasan di skala terbatas yakni di wilayah Sleman dan Bantul. Kegiatan saat itu sudah mulai intens berhubungan dengan masyarakat, dan memperkuat aspek kesehatan masyarakat,” kata dia saat dijumpai di ruang kerjanya, Selasa (6/6/2017) pekan lalu.

 

Desember 2012 lalu, ia menjalankan amanah sebagai Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Kerjasama Fakultas Kedokteran UGM. Menginjak 2013 ia diminta menjadi bagian dari EDP agar dapat memperkuat komunikasi dengan stakeholder nasional (dalam hal ini yakni Kementerian Kesehatan dan Kementerian Riset dan Teknologi) meskipun penelitian tersebut baru sampai di skala penelitian terbatas.

Memasuki penelitian fase dua tersebut adalah saat bagi EDP membutuhkan dukungan dan keterlibatan institusi serta stakeholder nasional. Maka, perannya sebagai Wakil Dekan diharapkan dapat memfasilitasi serta memperkuat komunikasi dengan stakeholder.

Selain itu, bagi Prof Uut, penelitian dengan teknologi baru tersebut menjadi daya tarik tersendiri baginya. Keterlibatannya sebagai peneliti utama dan project leader, bukan hal yang mudah dijalani Prof Uut sejak empat tahun yang lalu. Dengan perannya tersebut maka ia bertanggung jawab penuh atas keseluruhan proses penelitian.

Melakukan sebuah proses pengabdian masyarakat, berbuat banyak untuk masyarakat menjadi salah satu tujuannya, meski dengan banyak tantangan ia berusaha membantu mewujudkan kesejahteraan masyarakat yang bebas dari penyakit demam berdarah.

Pada tahun awal ia diamanahi memimpin penelitian tersebut bahkan bukan jalan mulus yang ia lalui. Sejak kali pertama tim EDP akan melakukan  pelepasan nyamuk ber-Wolbachia di Sleman sempat terjadi penolakan dari warga di empat RT.

“Kala itu beberapa kelompok kecil warga menjadi skeptis pada penelitian ini, dan kami mengalami kendala dalam mengajak berkomunikasi. Awalnya hanya beberapa kelompok kecil yang lantas merambah memengaruhi RT lain dan pelepasan nyamuk hampir terancam terhenti kala itu,” kata dia.

Berpikir jernih menjadi cara bagi ia dan timnya ketika mengalami kesulitan di lapangan. Waktu itu, ditanamkan pemikiran dalam dirinya bahwa sebaik apapun informasi yang diberikan saat penelitian kepada masyarakat, masyarakat tetap memiliki hak untuk memutuskan dan mempertanyakan penelitian yang akan dilakukan.

Namun, kekhawatiran tersebut seakan luntur dengan informasi yang terus menerus diberikan serta kepercayaan dan dukungan yang diberikan para pemangku kepentingan, khususnya Gubernur DIY.

“Waktu itu ND (Ngarso Dalem) mengatakan kalau yakin penelitian ini bisa berjalan dan membawa manfaat, terus lanjut saja, kami akan mendukung. Peran stakeholder saat itu betul-betul kami rasakan bahkan pada saat terancam terhenti, kepercayaan tetap diberikan kepada tim,” kenang Prof Uut.

Kejadian tersebut, menjadi titik semangat bagi dirinya dan tim EDP untuk melanjutkan penelitian. Menggencarkan pendekatan kepada masyarakat salah satunya melalui sosialisasi pelaksanaan penelitian dengan berbagai cara.

Seiring berjalannya waktu masyarakat pun kian memberikan respon yang positif, kerjasama terbentuk demi suksesnya proyek penelitian. Setelahnya, dengan kerjasama yang makin intens dengan stakeholder, masyarakat, juga tentunya tim EDP maka tak ada yang menjadi hal krusial yang perlu dirisaukan.

Prof Uut mengatakan 2019 mendatang memasuki fase terakhir dalam penelitian. Peletakan telur dan nyamuk akan dilakukan sampai sekitar November 2017 di tahap kedua wilayah Kota Yogyakarta. Selanjutnya pada 2018 akan mulai melihat bagaimana dampaknya.

Banyak hal yang menjadi kesibukan dirinya dan tim di akhir tahun nanti sampai 2019. Tim akan mulai memantau kasus DB, seberapa besar kasusnya dapat terkurangi setelah adanya proyek tersebut. Tantangan terbesar dikatakan Prof Uut justru bakal muncul pasca 2019 mendatang, pasca penelitian.

Melihat dan menerima hasil penelitian di 2019 mendatang menjadi langkah yang memang harus dilalui. Namun, ia dan tim berusaha dan berharap dapat berhasil membuktikan bahwa teknologi penyebaran nyamuk ber- Wolbachia ini bisa benar-benar menurunkan penyakit Demam berdarah dengue.

Namun, secara pribadi, Prof Uut menganggap berhasilnya penelitian adalah ketika lebih banyak masyarakat yang mendapat manfaat dari penelitian tersebut.

“Kalau sampai di titik dapat membuktikan penelitian berhasil dilakukan namun tidak ada yang tertarik untuk mengadopsi penelitian ini ya sama saja. Harapannya nanti bisa kita yakinkan agar pemerintah DIY menjadi wilayah pertama yang akan mengadopsi menjadi kebijakan,” kata dia.

Sumber harianjogja.com

DBD Penyakit Terabaikan, Begini Penjelasan Pakar

Peneliti utama Eliminate Dengue Project (EDP) Yogya menyayangkan penyakit DBD yang “merakyat” ini justru termasuk dalam kategori penyakit terabaikan.

Fakta  menunjukkan betapa DBD telah menjadi penyakit yang sangat lazim diderita di lingkungan sekitar kita.

Fakta itu pula yang disampaikan oleh peneliti utama Eliminate Dengue Project (EDP) Yogya, Fakultas Kedokteran (FK) UGM, Prof. Adi Utarini. Berbeda jika ditanyakan hal yang sama untuk penyakit malaria, TBC atau infeksi HIV AIDS.

Dia menyayangkan penyakit yang “merakyat” ini justru termasuk dalam kategori penyakit terabaikan. Namun, dia berharap banyak pada momentum ASEAN Dengue Day (ADD) yang diperingati tiap tanggal 15 Juni. Harapannya momentum ini bisa meningkatkan perhatian seluruh pihak sesuai dengan tema peringatan ADD yang disepakati tahun ini yaitu “United Fight Against Dengue”.

Prof. Adi menjelaskan penelitian yang ia pimpin tengah memasuki babak akhir. Penelitian pengendalian DBD menggunakan bakteri alami Wolbachia ini telah dilaksanakan sejak 2011. “Wolbachia adalah bakteri alami yang terdapat di sebagian besar serangga di sekitar kita. Ia terbukti mampu menghambat virus DBD di dalam tubuh nyamuk Aedes aegypti,” jelas pakar di bidang kesehatan masyarakat ini.

Penelitian ini dilaksanakan oleh Pusat Kedokteran Tropis, Fakultas Kedokteran, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dan didanai oleh Yayasan Tahija.

Terkait teknologi yang digunakan dalam penelitian ini, ahli serangga EDP Yogya, Warsito Tantowijoyo menjelaskan bahwa teknologi yang digunakan terbukti aman. “Kajian analisis risiko yang telah dilakukan oleh tim independen menunjukkan bahwa risikonya dapat diabaikan (negligible risk),” jelas Warsito, dalam siaran persnya, Jumat (16/06/2017).

Menurut dia, tidak heran jika penelitian ini mendapat respons dari tokoh-tokoh penting seperti Gubernur DIY Sri Sultan HB X, Kemenristek Dikti dan Direktur WHO-TDR. Bahkan, Badan Kesehatan Dunia (WHO) melalui kelompok penasihat pengendalian vektor (VCAG) memberikan rekomendasi agar EDP Yogya melanjutkan penelitian pada skala lebih luas untuk memperoleh bukti epidemiologis.

Rekomendasi itu telah dilaksanakan oleh EDP Yogya. EDP Yogya telah telah meletakkan 5.000-an ember di peletakan tahap kedua sejak Maret lalu. Sedangkan pada Bulan Mei timnya telah menghentikan peletakan 2.000-an ember tahap pertama. “Ember-ember itu berisi telur nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia yang siap menetas dan tumbuh dewasa,” terang Warsito.

Selanjutnya nyamuk yang terbukti aman dari virus DBD ini akan keluar dari ember dan kawin dengan nyamuk setempat yang tidak ber-Wolbachia. Nyamuk Aedes aegypti jantan yang ber-Wolbachia ketika kawin dengan nyamuk lain maka telurnya akan “gabuk” alias tidak akan menetas. Sedangkan  nyamuk Aedes aegypti betina yang ber-Wolbachia yang kawin dengan nyamuk Aedes aegypti lokal akan menghasilkan keturunan yang sudah ber-Wolbachia.

Hasil pemantauan persentase Wolbachia sangat menggembirakan. “Persentase Wolbachia di wilayah peletakan tahap pertama sangat tinggi,” jelas Warsito.

Ia menambahkan bahwa Wolbachia akan bertahan secara berkesinambungan di wilayah tersebut meski timnya telah menghentikan peletakan ember. Dukungan masyarakat dan pemangku kepentingan membuatnya optimis penelitian ini akan berhasil. Menurutnya, dukungan tersebut diberikan karena teknologi ini tidak mengubah kebiasaan masyarakat dan dapat disinergikan dengan metode pengendalian lain yang telah lebih dahulu dijalankan.

Sejalan dengan hal tersebut, Kepala Dinas Kesehatan DIY, drg. Pembayun Setyaning Astutie, M.Kes. mengatakan bahwa DBD merupakan satu dari tiga permasalahan kesehatan yang menjadi fokus penanganan jajarannya.  “Karenanya, saya sangat mendukung penelitian ini.”

Ia mengungkapkan kasus DBD yang masih tinggi di DIY, mencapai 6.241 kasus sepanjang tahun 2016. “Itu artinya ada 172 kasus di tiap 100.000 jiwa penduduk,” jelas Pembayun.

Koordinator Media dan Komunikasi EDP Yogya, Bekti Andari menjelaskan bahwa koordinasi dengan pemerintah dilakukan secara intens. “Koordinasi dengan stakeholder terjalin dengan baik hingga level nasional.”

Dia menambahkan bahwa pihaknya tengah melakukan penjajakan untuk pelepasan Wolbachia pada skala lebih luas. Penjajakan tersebut dimulai semenjak kunjungan Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengkubuwono X ke insektarium EDP Yogya Februari lalu.

Dalam rangka ADD tahun ini pihaknya bekerja sama dengan Pemerintah Kota Yogyakarta dan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Ia berharap momentum ini tidak berhenti sebatas seremoni belaka, namun kewaspadaan seluruh pihak akan bahaya DBD meningkat sehingga DBD tak lagi menjadi penyakit yang terabaikan.  “Kami akan sampaikan pesan kewaspadaan DBD melalui berbagai media,” jelas Bekti

Sumber netralnews.com

Penyelidikan Epidemiologi Diterapkan Pada Kasus DBD

Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) yang sudah diketahui dan didata di Kabupaten Batara sudah dilakukan penanganan baik oleh dinas Kesehatan.

Untuk menjaga lingkungan sehat perlu partisipasi masyarakat, oleh itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Batara mengajak warga setempat untuk berperilaku hidup sehat.

Kadis Kesehatan Batara H Robansyah mengatakan, semua Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) yang sudah diketahui dan didata di Kabupaten Batara sudah dilakukan penanganan baik oleh dinas Kesehatan.

Yakni, dengan berkoordiansi dengan pihak rumah sakit dan pihak puskesmas. Bahkan, setiap ada kasus di rumah sakit oleh dinas Kesehatan Batara sudah dilakukan Penyelidikan Epidemiologi (PE) atau penanganan.

Penanganannya, sebut dia, dengan melakukan pengecekan apakah itu terkena DBD atau tidak, bukan hanya mengira-gira dengan melakukan pemeriksaan laboratorium dengan memeriksa sample darah.

“Sebab dengan PE kita bisa mengambil tindakan apa yang akan dilakukan selanjutnya,” kata Robansyah didampingi Kabid Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Junnu SKM MPH dan kasie Pencegahan dan Penanggulangan penyakit manular H Domi Sono SKM, kemarin (8/5).

Junnu menambahkan, upaya yang dilakukan Dinas Kesehatan selain penyuluhan, yang dilakukan mereka juga melakukan fogging untuk memutuskan mata rantai langsung.

“Kita harapkan jangan sampai terjadi penularan langsung jadi kita tetap melaksanakan fogging fokus. Sebab fogging sebelum masa penularan dengan melihat trend peningkatan penyakit itu dengan mengedepankan fogging fokus saja, yang diberantas atau disemprot adalah nyamuk dewasa, tapi kalau jentik harus melalui dengan melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PNS),” tutupnya.

SUMBER