Sarasehan Capaian Program STBM Klaster Berdaya Desa Katongan

PKPU Cabang Yogyakarta laksanakan sarasehan program STBM klaster berdaya Desa Katongan yang bertujuan untuk menyampaikan capaian program selama 1Thn.

Katongan, (28/8/2017), PKPU Cabang Yogyakarta laksanakan kegiatan sarasehan program sanitasi total berbasis masyarakat (STBM) klaster berdaya Desa Katongan yang bertujuan untuk menyampaikan capaian program selama 1 tahun.

Sarasehan tersebut dilaksanakan pada jam 13.00 WIB di Balai Desa Katongan yang dihadiri oleh Ibu Indiyah sarwiningsih, S.KM selaku Kasie Kesling Dinas Kesehatan Gunungkidul, Bapak Ashari Selaku Sanitarian Puskesmas Nglipar ll, Bapak Sutrisna selaku Kepala Desa Katongan, Bapak Muthori selaku Kepala Cabang PKPU Yogyakarta dan Kader klaster berdaya Desa Katongan.

Kegiatan sarasehan di awali dengan sambutan oleh Bapak Suharto selaku Koordinator Kader yang menyampaikan perjalanan kader dalam mendampingi masyarakat, hingga akhirnya masyarakat mulai mau berubah sedikit demi sedikit.

“Alhamdulillah berkat kerjasama yang baik antara pemerintah desa Katongan, Puskesmas Nglipar II, kader klaster berdaya dan PKPU yang selalu mendampingi secara rutin hingga akhirnya kesehatan masyarakat mulai meningkat. ” ujar Pak Suharto selaku koordinator kader.

Selanjutnya penyampaian capaian program disampaikan langsung oleh Bapak Muthori selaku Kepala Cabang PKPU Yogyakarta yang pada kesempatan itu menyampaikan beberapa capaian program selama 1 tahun, diantaranya adalah pembangunan jamban yang mencapai 70% yaitu 131 KK membangun jamban sehat dari 186 KK yang awalnya belum memiliki jamban dengan target awal 10% pembangunan jamban sehat. Selain itu juga beberapa perubahan prilaku dari masyarakat yang mulai melaksanakan 5 Pilar STBM menjadi pembahasan menarik pada sarasehan tersebut.

Dilanjutkan dengan sambutan dari Kepala Desa Katongan yang mengucapkan banyak terimakasih kepada PKPU yang sudah mendampingi masyarakat sehingga kesehatan masyarakat Desa Katongan mulai meningkat.

Dilanjutkan dengan sambutan dari Ibu Indiyah selaku Kasie Kesling Dinkes Gunungkidul yang memberikan apresiasi sebesar-besarnya kepada kader klaster berdaya Desa Katongan bersama PKPU yang sudah berhasil merubah pola hidup masyarakat secara bertahap. Beliau juga berharap agar dilaksanakan sarasehan rutin untuk mengetahui perkembangan program.

Warga Dusun Ngrandu Merencanakan Pembuatan Sarana Pengelolaan Air Limbah

Setelah diberikan penjelasan tentang pilar ke 5 STBM, masyarakat merencanakan untuk mulai membuat sarana pengelolaan air limbah yang baik di rumah.

Katongan – Bertempat di balai dusun Ngrandu desa Katongan, Pendampingan masyarakat tentang pilar ke 5 STBM dilakukan oleh fasilitator PKPU, kader klaster berdaya desa Katongan dan sanitarian Puskesmas Nglipar II, 19/08.

Dalam pertemuan tersebut, kader klaster berdaya desa Katongan melakukan evaluasi pengetahuan masyarakat tentang 4 pilar STBM yang sudah di bahas di pertemuan-pertemuan sebelumnya. Pada kesempatan tersebut, fasilitator PKPU menyampaikan materi tentang pilar ke-5 STBM yaitu tentang Pengelolaan limbah rumah tangga.

Ada diskusi menarik yang terjadi saat penyampaian pilar 5 STBM tersebut. Pasalnya ada 9 orang yang hadir, menyampaikan saluran pembuangan limbah mereka selama ini dialirkan ke depan rumah. Dan mayoritas masih belum menggunakan saluran pembuangan limbah yang baik.

Setelah diberikan penjelasan tentang pilar ke 5 STBM, masyarakat merencanakan untuk mulai membuat sarana pengelolaan limbah yang baik di rumah mereka masing-masing untuk meningkatkan kebersihan lingkungan rumah.

“Alhamdulillah pak, pertemuan demi pertemuan yang saya ikuti ini banyak manfaatnya, apalagi yang sekarang. Saya dulu pernah ditegur karena limbah saya ke jalan raya. Saya merasa malu, apalagi saya selaku ketua RT. Ini jadi solusi untuk saya. InsyaAllah setelah pertemuan ini, segera saya akan membuat saluran pengelolaan limbah yang baik” ujar salah satu warga yang hadir dalam pertemuan kali ini.

Cegah Leptospirosis dengan Cara Ini

Kami sosialisasi kepada petani untuk merubah pola bekerja setelah matahari terbit sehingga bisa mengurangi resiko penularan bakteri leptospirosis.

Dinas Kesehatan Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, menyosialisasikan tata cara pencegahan penyakit leptospirosis karena selama 2017 terdapat 34 kasus penyakit dengan korban meninggal dunia mencapai 10 orang.

Kepala Seksi Pencegahan Pengendalian Penyakit Tidak Menular dan Zoonesis Dinas Kesehatan Gunung Kidul Yudo Hendratmo di Gunung Kidul, Senin (20/3/2017), mengatakan pihaknya melakukan sosialisasi terkait penyebaran bakteri Leptospira sp.

“Bakteri ini sebenarnya langsung mati jika terkena sinar matahari, namun jika dalam air akan bertahan lama kurang lebih satu bulan,” kata Yudo.

Ia mengatakan penularan penyakit ini sebagian besar menyerang petani, karena biasanya mereka bekerja sebelum matahari terbit, sehingga bakteri tersebut akan mudah masuk ke dalam tubuh.

“Kami sosialisasi kepada petani untuk merubah pola bekerja setelah matahari terbit sehingga bisa mengurangi resiko penularan bakteri,” katanya.

Yudo mengatakan selama 2017 ada 34 kasus ini berada di zona utara Gunung Kidul, yakni berada di Puskesmas Patuk 1 dan 2; Gedangsari 1 dan 2; Nglipar 2 dan Ngawen 1. Dari jumlah tersebut, 15 orang masih suspec atau dugaan, dan sisanya atau 19 orang dari hasil laboratorium postif.

“Berasal dari Kecamatan Nglipar dua orang, Patuk enam orang, dan Kecamatan Gedangsari dua orang. Yang meninggal postif karena penyakit leptopirosis ada satu orang sesuai dengan Kewaspadaan Dini Rumah Sakit (KDRS). Lainnya belum diketahui karena rumah sakit yang menangani tidak mengeluarkan KDRS,” katanya.

Ia mengatakan sebagai upaya pencegahan pihaknya melakukan koordinasi lintas sektoral seperti dari dinas Pertanian dan pihak kecamatan untuk melakukan sosialiasasi.

“Kami melakukan sosialisasi untuk pencegahan,” katanya.

SUMBER