Lomba Lingkungan Bersih Sehat, Puskesmas Butuh Dampingi Desa Lugu

Puskesmas Butuh melakukan pendampingan di Desa Lugu dalam rangka penilaian lomba LBS (Lingkungan Bersih Sehat) tingkat kabupaten, 9/11 lalu.

Pada tanggal 09 November 2017, UPT Puskesmas Butuh melakukan pendampingan di salah satu desa wilayah kerja Puskesmas dalam rangka penilaian lomba LBS (Lingkungan Bersih Sehat) tingkat kabupaten.

Desa Lugu merupakan salah satu desa yang akan ditargetkan ODF (Open Defication Free) pada tahun 2017.

Kegiatan ini dihadiri tim penilai dari kabupaten, Camat Butuh juga penggerak PKK Desa Lugu sebanyak 35 Orang.

Adapun kriteria penilaian LBS ini terdiri dari:

  1. Kelengkapan Administrasi Desa
  2. Administrasi warga yang bergotong royong
  3. Jamban keluarga
  4. Air bersih
  5. Tersedianya sarana untuk cuci tangan baik di tempat-tempat umum di desa atau di setiap rumah
  6. SPAL (Saluran Pembuangan Air Limbah)
  7. Pengelolaan sampah rumah tangga
  8. Media Promosi Kesehatan
  9. Program kesehatan lingkungan
  10. Rumah Sehat

Yang menarik selama kegiatan adalah warga Desa Lugu sangat antusias dalam mengikuti penilaian. Kegiatan ini tidak lepas dari peran serta masyarakat dan petugas promosi kesehatan dalam upaya promotif dan preventifnya sehinga tercipta lingkungan yang bersih dan sehat.

Harapanya dari lomba tingkat kabupaten ini desa lugu bisa berpartisipasi sampai dengan tingkat provinsi.

Penilaian Lomba LBS

21 Kader Posyandu Ikuti Pelatihan Kader Kelas Ibu Balita PKM Butuh

UPT Puskesmas Butuh kembali melaksanakan kegiatan Pelatihan Kader Kelas Ibu Balita, 6 November 2017, diikuti 21 orang peserta.

UPT Puskesmas Butuh kembali melaksanakan kegiatan Pelatihan Kader Kelas Ibu Balita, 6 November 2017, bertempat di Aula Balai Desa Kaliwatu Kranggan diikuti 21 orang peserta.

Kader merupakan mitra puskesmas dalam rangka membantu menjalankan program dan kegiatan puskesmas demi tercapainya cakupan kesehatan bayi dan balita secara merata. Terutama pemantauan pertumbuhan dan perkembangan bayi balita.

Sebagai narasumber dalam kegiatan ini, diantaranya:

  1. Dwi Ary Purwati, Amd.Keb; menyampaikan materi tentang ASi Ekslusif dan cara menyusui dg benar
  2. Mami Rusmita, Amd.Keb; menyampaikan materi tentang SDIDTK (Stimulasi Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang)
  3. Sri Mulyani, Amd.Keb; menyampaikan materi penyelenggaraan kelas ibu balita, penyakit terbanyak pada balita
  4. Narimah, Amd.Keb; menyampaikan materi Antropometri.

Dalam pelatihan ini kader diminta mempratekkan cara menyusui dengan benar. Selain itu kader  juga diberikan instrumen sebagai modal utama dalam melaksanakan SDIDTK di posyandu.

Harapanya dengan mengikuti pelatihan kader kelas ibu balita ini, para kader mampu secara mandiri dalam melaksanakan kelas ibu balita dan dapat meningkatkan cakupan kunjungan bayi balita di posyandu.

Pelatihan kader Posyandu PKM Butuh

Pertemuan Lintas Sektor, Bahas Pemanfaatan Dana Desa Untuk Kesehatan

Dengan 10% dari Dana Desa yang diperoleh untuk kesehatan, harapannya tentu desa dapat memfasilitasi kebutuhan masyarakat terutama dibidang kesehatan. 

Pertemuan lintas sektoral UPT Puskesmas Butuh semester ke-2 berlangsung pada tgl 31 oktober 2017 lalu.

Dengan 35 peserta undangan yang terdiri dari Ketua BPD dan FKD se-wilayah kerja UPT Puskesmas Butuh, kegiatan ini dihadiri juga oleh Camat Kec.Butuh, Polsek dan Muspika Kec.Butuh.

Bapak Dwi Hartanto, selaku Kasie Manajemen Informasi Promosi dan Kemitraan Kesehatan dari Dinkes Kab.Purworejo, dalam kesempatan kali ini menyampaikan materi tentang Pemanfaatan Dana Desa Untuk Kesehatan.

Dilanjutkan oleh Ibu dr. Cristinawati yang menyampaikan materi tentang Germas. Kemudian dilanjutan dengan paparan dari Bapak Pono perwakilan dari salah satu desa yang telah menggunakan sebagian dana desa untuk kesehatan.

Dari diskusi yang dilakukan, didapat informasi bahwa mulai tahun 2018, Desa menyediakan 10% dari Dana Desa yang diperoleh untuk dialokasikan dibidang kesehatan.

Harapannya tentu desa dapat memfasilitasi kebutuhan masyarakat terutama dibidang kesehatan.

Kegiatan seperti ini bagus dan perlu rutin dilakukan agar dalam membangun serta meningkatkan derajat kesehatan masyarakat desa dapat dilakukan secara sinergi dengan semua pihak.

Tekan Malaria, Dinkes Purworejo Lakukan Kegiatan MBS Screening

Dinkes Purworejo lakukan kegiatan MBS (Mass Blood Survey) screening pada Senin 30 Oktober 2017 sasar pendatang jelang acara “Jolenen” di Desa Somongari.

Dinkes Purworejo lakukan kegiatan MBS (Mass Blood Survey) screening pada Senin 30 Oktober 2017 sasar pendatang jelang acara "Jolenen" di Desa Somongari, Kec. Kaligesing, Kab Purworejo.

Acara Jolenan/ merti desa merupakan tradisi yang setiap 2 tahun sekali dilakukan di Desa Somongari. Dan pada saat itulah warga Somongari yang merantau di luar kota pulang ke Desa Somongari.

Dengan adanya MBS ini diharapkan dapat menekan penularan malaria. Karena Desa Somongari dalam 2 tahun ini selalu muncul kasus Malaria.

Kegiatan MBS screening merupakan kegiatan preventif penularan kasus Malaria.

Kegiatan tersebut diadakan oleh Dinas Kesehatan Kab.Purworejo Bagian P2, JMD (Juru Malaria Desa), DinKes Provinsi Jateng bagian Malaria, dan Puskesmas Kaligesing.

Sasaran kegiatan adalah para perantau dari berbagai daerah di indonesia. Kegiatan tersebut di koordinasi oleh Bapak Widonarto, S.T bagian P2 Dinkes Kab.Purworejo, dan Purbayu Andhianto Programer Malaria UPT Puskesmas Kaligesing.

Kegiatannya berupa pengecekan darah bagi pendatang oleh JMD (Juru Malaria Desa) se-Kab.Purworejo sebanyak 30 orang. Kegiatan MBS dilakukan di 5 Pos di Desa Somongari.

Tekan Angka Kematian Ibu Bayi, Puskesmas Butuh Rutin Laksanakan Kelas Ibu Hamil

Tekan Angka Kematian Ibu dan Bayi, UPT Puskesmas Butuh rutin melaksanakan kegiatan kelas ibu hamil setiap bulan di setiap desa, 4 kali pertemuan.

Untuk menurunkan Angka Kematian Ibu dan Bayi, UPT Puskesmas Butuh rutin melaksanakan kegiatan kelas ibu hamil setiap bulan di setiap desa dengan sistem 4 kali pertemuan.

Dan sistem tersebut berkelanjutan secara terus menerus setiap bulanya mengingat sasaran ibu hamil yang berbeda silih berganti setiap bulannya dengan cakupan kehadiran 90%.

UPT Puskesmas Butuh memiliki 8 kelompok kelas ibu hamil yang merupakan gabungan beberapa desa terdekat, tim pelaksana kelas ibu hamil terdiri dari; dokter, dokter gigi, bidan (KIA, KB), promkes, gizi, imunisasi.

Senam Hamil Puskesmas butuh

Kegiatan kelas ibu hamil di awali dengan senam hamil, materi yang diberikan meliputi:

  1. Pertemuan Pertama diisi dengan materi kebutuhan dasar selama kehamilan, pemeriksaan kehamilan, dari mulaitanda kehamilan, tanda dan gejala bahaya pada kehamilan, masalah kehamilan yang lainnya dan apa yang harus dihindari selama kehamilan.
  2. Pertemuan Kedua persiapan persalinan, tanda awal persalinan, proses melahirkan, tanda bahaya pada persalinan, IMD dan cara menyusui, memerah ASI dan penyimpanan ASI yang benar dan bahaya pada ibu nifas.
  3. Pertemuan Ketiga diberikan materi tentang perawatan bayi baru lahir,tanda bahaya pada bayi baru lahir.
  4. Pertemuan Keempat diberikan materi tentang KB, pengenalan berbagai jenis KB, dan efek samping dari KB. Serta PMBA (Pemberian Makan Bayi dan Anak).

Pada tanggal 28 Oktober 2017 dilaksanakan kelas ibu hamil pertemuan ke-4 di Desa Lubang Lor, dengan peserta 20 orang ibu hamil dengan materi KB yang disampaikan oleh Bidan Dwi Ary Purwati, Amd.keb.

Bidan Dwi Ary Purwati menyampaikan materi

Yang menarik dari kegiatan kelas bumil pada pertemuan kali ini adalah peserta ibu hamil sangat antusias mengikuti acara, dan tanya jawab seputar alat kontrasepsi.

Harapan dari kegiatan kelas ibu hamil ini adalah untuk menambah pengetahuan ibu hamil selama kehamilan, persalianan dan perawatan pasca persalinan dan untuk menekan angka kematian ibu dan bayi akibat dari kurangnya pengetahuan ibu tentang proses khamilan dan persalinan.

Tekan Angka Kehamilan Remaja, Puskesmas Butuh Purworejo Adakan Sosialisasi Kesehatan Reproduksi

Dihadiri tokoh masyarakat, kader kesehatan dan masyarakat sebanyak 35 orang, Puskesmas Butuh Purworejo adakan sosialisasi Kesehatan Reproduksi Remaja.

Dalam rangka mengurangi angka kehamilan remaja yang setiap tahun menyumbangkan angka, UPT Puskesmas Butuh melakukan kegiatan sweping dengan sasaran remaja usia sekolah dan masyarakat.

Salah satunya dengan Sosialisasi Kesehatan Reproduksi Remaja yang berlangsung pada tanggal 26 Oktober 2017, dilaksanakan di Balai Desa Lubang Sampang Kecamatan Butuh Purworejo.

Dihadiri tokoh masyarakat, kader kesehatan dan masyarakat sebanyak 35 orang, dengan nara sumber Ibu Srimulyani, Amd.Keb sebagai penanggung jawab Program UKM dengan materi “Pergaulan Bebas Akibat Kenakalan Remaja, IMS, HIV dan AIDS”. Kegiatan ini berlangsung selama 2 jam.

Yang menarik dari kegiatan ini adalah para remaja, orang tua atau masyarakat mengerti dan paham akibat dari pergulan bebas, harapannya untuk untuk kegiatan ini adalah berkurangnya angka kehamilan remaja diluar nikah akibat pergaulan bebas.

Purworejo, Kabupaten Endemik Malaria Tertinggi se Pulau Jawa

Kabupaten Purworejo dikenal sebagai daerah endemik malaria. Kabupaten tertinggi jumlah kasus penderita penyakit malaria di Pulau Jawa.

Kabupaten Purworejo Jawa Tengah, yang dikenal sebagai daerah endemik malaria. Purworejo dinobatkan sebagai kabupaten tertinggi jumlah kasus penderita penyakit malaria di Pulau Jawa.

Hal itu mengemuka saat acara Pertemuan Sosialisasi Pencegahan Malaria di Daerah Fokus Provinsi Jawa Tengah tahun 2017 di Pendopo Kabupaten Purworejo, Rabu (30/08/17).

Peserta tidak hanya diikuti oleh perwakilan dari Kabupaten Purworejo saja, namun juga berasal dari Banyumas, Purbalingga, Kebumen, Magelang, dan Banjarnegara. Daerah-daerah tersebut juga merupakan kabupaten endimis malaria di Jawa Tengah.

“Hingga Agustus ini, penderita malaria tertinggi di Jawa Tengah masih Kabupaten Purworejo,” ungkap Tatik Murhayati, Kasi Penanggulangan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah.

Dia mengatakan dari 16 Kecamatan di Kabupaten Purworejo, sebanyak 6 kecamatan masuk wilayah endemis malaria. Jumlah tersebut merupakan jumlah kecamatan terbanyak yang mengalami endemis malaria di Provinsi Jawa Tengah. Keenam kecamatan tersebut yakni Kecamatan Bener, Bagelen, Gebang, Loano, Kaligesing dan Kemiri.

“Untuk Kecamatan Kemiri kasusnya impor, beberapa waktu lalu sudah menjadi kecamatan bebas malaria,” katanya.

Impor itu kata dia, berawal dari adanya warga pendatang yang terjangkit malaria yang kemudian menetap di wilayah itu. “Warga pendatang itu kemudian menularkan malaria,” lanjutnya.

Melihat jumlah penderita yang banyak, kata Tatik, pihaknya telah mempersiapkan kelambu sebagai upaya perlindungan dan pencegahan bagi masyarakat Kabupaten Purworejo agar tidak terjangkit penyakit malaria. Dari total kelambu yang disediakan pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Purworejo mendapat jatah kelambu terbanyak dibandingkan kabupaten lain.

“Tahun 2017 melalui APBD kita siapkan 37.500 kelambu untuk 18.591 KK di 6 kabupaten. Untuk Purworejo sendiri mendapat 25.234 kelambu,” ujar Tatik.

Selain melakukan pencegahan dengan pemasangan kelambu, masyarakat harus memakai pakaian tertutup, khususnya di wilayah endemik malaria saat tidur dan juga di malam hari. Selalu hidup bersih dan sehat dengan membersihkan sanitasi, genangan air atau tumpukan kotoran.

Sementara itu Kabid Penanggulangan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Kabupaten Purworejo, dr Darus menyatakan jika Purworejo memiliki kasus malaria tertinggi tidak hanya se – Jawa Tengah namun tertinggi seluruh Jawa.

“Dari tahun 2015 hingga sekarang saja sudah lebih dari 1.000 kasus, itu artinya Purworejo memiliki angka kasus tertinggi se Jawa,” ungkap Darus.

Darus menambahkan, penderita penyakit yang disebabkan oleh nyamuk anopheles itu membutuhkan cukup waktu untuk penyembuhan dan kontrol kembali untuk pencegahan.

“Memang butuh waktu, yang pasti menghilangkan sumber penularan malaria ya caranya penderita harus diobati secara tuntas,” tandasnya.

Sumber detik.com