Ini Ceritaku PKL di Puskesmas, 10 Hari di Kota Jogja

Kami mahasiswa Kesmas Umitra Lampung melakukan kegiatan PKL di Puskesmas di Kota Yogyakarta. Selama di Jogja, kami belajar secara langsung kegiatan PKM.

Yogyakarta, 7/8 acara pertama kali yaitu serah terima Mahasiswa Umitra Lampung oleh pihak kampus kepada pihak Dinas Kesehatan, bertempat di kantor Dinkes Sleman dilanjutkan dengan pembekalan dari pihak Dinkes.

Dari Dinkes, ada beberapa narasumber yang disesuikan dengan kebutuhan peminatan yang ada di Kesmas Umitra, yaitu promkes, MPK, K3, Epidemiologi.

8 Agustus ~ Mahasiswa PKL oleh masing-masing pembimbing kelompok diserah terimakan kepada pihak Puskesmas.

Saya dan 4 mahasiswa kesmas lainnya mendapatkan lokasi penempatan di Puskesmas Kalasan.

dr. Khadimah Yuliati selaku Kepala PKM Kalasan, kami diserahkan pada pembimbing lapangan sesuai peminatan yang ada dikelompok kami (Promkes, MPK)  pada Ibu Catur selaku penanggungjawab UKM, Ibu Tyas selaku UKM Promkes, Pak Gunawan selaku Kepala TU dan Manajemen Yankes, serta Ibu Septi selaku Administrasi PKM.

9 s/d 11 Agustus ~ Kami melakukan kegiatan lapangan yaitu sensus penduduk dan rumah sehat oleh peminatan MPK yang dibimbing oleh Ibu Putri selaku UKM Epid. Kemudian kami melakukan entry data di puskesmas, kegiatan imunisasi MR dilakukan peminatan Promkes dibimbing oleh Ibu Tyas selaku UKM Promkes dan petugas kesehatan lainya.

Data imunisasi yang didapat kemudian di-entry oleh peminatan MPK di Puskesmas.

12 Agustus ~ Diadakan kegiatan senam lansia di Puskesmas yang dimulai dari jam 7 pagi, diikuti para lansia yang ada di Dusun Purwomartani yang dilakukan oleh Ibu Hastuti selaku UKM Kesehatan Lansia.

Juga senam ibu hamil di jam 10 wib di Aula Puskesmas, diikuti ibu hamil yang tinggal di Purwomartani. Senam ibu hamil dipandu (instruktur senam) oleh Ibu Dwi Winarti selaku UKM KIA.

Senam Ibu Hamil di Puskesmas Kalasan

14 s/d 15 Agustus ~ Kami Mahasiswa Kesmas Umitra melakukan wawancara ke Petugas Puskesmas dimasing-masing UKM yang ada di Puskesmas Kalasan. Meminta data kesehatan ke pihak pemegang laporan Puskesmas (Profil Puskesmas, SP2TP, SPM, RBA, DPLH, IKM, RUK per program) sebagai acuan penyusunan laporan PKL kelompok kami kedepannya.

16 Agustus ~ Ini merupakan hari terakhir kami di Puskesmas Kalasan.

Hari itu dilakukan penutupan PKL serta serah terima plakat/ penghargaan untuk Puskesmas Kalasan sebagai rasa terimakasih kami kepada pihak Puskesmas yang sudah banyak membantu kegiatan mahasiswa Umitra Lampung serta membimbing kami selama PKL.

18 Agustus ~ Masing-masing peminatan melakukan presentasi di Aula Dinas Kesehatan Sleman, sekaligus serah terima mahasiswa dari Dinkes kepada pihak Kampus Umitra, bahwa PKL telah selesai dilaksanakan. Akhirnya, seminar laporan pun sudah menanti di kampus.

Ini cerita temanku Vika saat PKL di Puskesmas Kalasan. Kalau kamu?

Pemkab Sleman Mulai Mendata Anak Sasaran Imunisasi MR

Program imunisasi MR yang akan dilaksanakan pemerintah pusat pada Agustus-September mendatang, Pemkab Sleman masih melakukan pendataan.

Pemkab Sleman masih melakukan pendataan untuk anak sasaran imunisasi MR (Measles-Rubella). Hal ini dilakukan jelang program imunisasi MR yang akan dilaksanakan pemerintah pusat pada Agustus-September mendatang.

Kepala Dinas Kesehatan, Nurulhayah menagatakan sasaran imunisasi tersebut yakni anak usia 9 bulan hingga remaja usia 15 tahun. “[pendataan] Salah satunya dengan kerjasama Dinas Pendidikan yakni SD dan SMP,” ujarnya, Minggu (16/7/2017).

Lebih lanjut, ia mengatakan proses saat ini baru sampai pada finalisas sembari menunggu rekapitulasi dari Dinas Pendidikan.

Program nasional ini sedianya akan disampaikan melalui Pekan Imunisasi Sekolah serta melibatkan posyandu. Selain itu, institusi pendidikan berupa Taman Kanak-Kanak juga dilibatkan untuk anak di kisaran usia kurang dari 7 tahun. Rencananya, imunisasi MR akan dilakukan di sekolah pada Agustus sedangkan posyandu akan menyelenggarakan pada September.

Untuk diketahui, campak merupakan penyakit yang disebabkan virus dengan masa inkubasi 8-13 hari yang disertai gejala demam, bercak kemerahan pada kulit disertai batuk dan pilek.

Sedangkan Rubella merupakan penyakit yang menyerang anak dan remaja. Meski demikian, penyakit Rubella menjadi lebih membayakan jika menyerang ibu hamil karena virus tersebut kemudian bisa membahayakan janinnya dan berdampak permanen.

Beberapa waktu belakang, sosial media juga diramaikan dengan sejumlah kasus Rubella yang menyebabkan sejumlah balita menderita gangguan organ vital.

Sumber Solopos.com

Di Kabupaten Ini Ratusan Tenaga Kesehatan Belum Berijazah

Ratusan tenaga kesehatan di Sleman, belum memenuhi ketentuan dalam UU No.36 Th 2014 ttg Tenaga Kesehatan yang mewajibkan setiap nakes memiliki ijazah D3.

Ratusan tenaga kesehatan di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, belum memenuhi ketentuan dalam Undang-undang No.36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan yang mewajibkan setiap tenaga kesehatan memiliki ijazah Diploma Tiga (D3).

“Dari catatan kami memang ada sekitar 150 tenaga kesehatan di Sleman yang belum mengantongi ijazah D3,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman Nurulhayah saat Penilaian Tenaga Kesehatan Teladan Puskesmas Tingkat DIY 2017 di Sleman, Senin (17/4/2017).

Dikutip dari Antara, menurut dia, berdasarkan penempatan yang diberikan, rata-rata para tenaga kesehatan yang belum memenuhi ketentuan tersebut adalah pejabat fungsional.

“Yang masih belum D3, rata-rata adalah pemegang jabatan fungsional,” katanya.

Ia mengatakan secara teknis kebijakan tersebut menjadi dilema yang tidak mudah untuk dihadapi dan diselesaikan terutama bagi tenaga kesehatan yang sudah tidak muda.

“Mereka yang sudah berusia di atas 50 tahun, rata-rata sudah tidak memiliki semangat untuk kembali ke bangku pendidikan mengejar ijazah D3. Di tempat pelayanan kesehatan, para tenaga kesehatan yang belum memiliki ijazah D3 tersebut termasuk tenaga kesehatan senior yang dimiliki,” katanya.

Nurulhayah mengatakan senioritas tersebut salah satu indikasinya adalah memiliki masa pengabdian yang sudah mencapai belasan tahun sehingga meski secara pendidikan tidak memegang ijazah D3, namun secara pengalaman keahlian dari tenaga kesehatan senior tersebut sudah tidak diragukan lagi.

“Namun tetap harus mengikuti regulasi yang ada. Dinas mencoba untuk memberikan kemudahaan akses untuk pendidikan lanjutan tersebut,” katanya.

Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan DIY Hardiyah Djuliani mengatakan, tenaga medis harus segera merampungkan pendidikan D3 untuk memenuhi ketentuan yang diatur dalam Undang-undang 36 /2014 tentang Tenaga Kesehatan.

“Sejak pertama diterbitkan pada 2014, diberi waktu enam tahun hingga 2020. Sudah banyak yang menyelesaikan pendidikan D3. Sisanya masih kami dorong terus,” katanya.

Ia mengatakan, pemerintah telah memberikan kesempatan dan kemudahan untuk proses pendidikan tersebut. Bahkan untuk pendanaan bisa mempergunakan dana dari pemerintah sepanjang memang kegiatan tersebut bisa teralokasikan.

“Sesuai ketentuan yang berlaku, tenaga kesehatan yang tidak memiliki ijazah D3 harus diturunkan statusnya menjadi asisten tenaga kesehatan,” katanya.

Sementara dalam lomba tenaga kesehatan teladan, Kabupaten Sleman mengirimkan empat wakilnya, yakni dr Umi Latifah yang berkualifikasi sebagai Tenaga Dokter, Catur Haryati Juliana sebagai Tenaga Kesehatan Lingkungan, Dian Mayasari sebagai Tenaga Ahli Teknologi Laboratorium Medis (ATLM) dan Iwan Susanto sebagai Tenaga Keperawatan.

Hardiah Djuliani menjelaskan bahwa pada 11 April 2017 seluruh peserta penilaian tersebut terlebih dahulu telah mengikuti tes tulis, kemudian dilanjutkan dengan presentasi terkait dengan program-program unggulan.

“Tim Penilai akan menilai secara objektif dan dengan bobot yang sama terhadap empat kabupaten dan satu kota di DIY. Teknis pelaksanaan Penilai Tenaga Kesehatan Teladan Puskesmas Tingkat DIY 2017 berbeda dengan tahun sebelumnya. Pada tahun ini peserta penilaian tidak diterima di masing-masing Kelompok Kerja (Pokja), tetapi dipusatkan pada satu tempat,” katanya.

SUMBER