Kalahkan Tuan Rumah, Tim FKM UAD Raih Juara 3 Lomba Debat di UI

Pada perebutan Juara 3, lomba debat bertajuk “Epidemic Competition 2017”, tim dari FKM UAD berhasil mengalahkan tim dari tuan rumah FKM UI.

Satu tim mahasiswa FKM UAD yang terdiri dari Mahayu, Debie dan Othiy berhasil meraih juara 3 pada acara debat kesehatan di FKM Universitas Indonesia.

Debat ini diikuti oleh 16 tim dari perwakilan beberapa institusi pendidikan kesehatan masyarakat, baik negeri maupun swasta.

Lomba yang bertajuk “Epidemic Competition 2017” diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Epidemiologi FKM UI beberapa waktu yang lalu.

Pada perebutan juara 3, tim dari FKM UAD berhasil mengalahkan tim dari tuan rumah.

“Selain memperoleh juara 3, satu anggota tim yakni Mahayu juga berhasil meraih predikat best speaker” ungkap Ahid selaku dosen pembimbing.

“Target kami sebenarnya masuk semifinal, Alhamdulillah dapat juara 3 dan best speaker” tambahnya.

Ini merupakan prestasi ke 3 yang telah diraih oleh tim ini, sebelumnya juga pernah meraih juara 3 lomba debat di UAD dan Juara 2 di Universitas Andalas dalam satu tahun terakhir.

Dengan capaian ini menambah koleksi prestasi FKM UAD dalam beberapa tahun terakhir ini.

Di harapkan prestasi ini terus terukir sehingga juga dapat memotivasi mahasiswa yang lain untuk bisa berprestasi diberbagai kegiatan kemahasiswaan.

Sumber

Triad Kearifan Lokal Wajah Penulisan Ilmiah Kesehatan

Jika dipetakan menurut triad epidemiologi, aspek host, agent dan environment, Indonesia memiliki ciri khas tersendiri yang tidak dimiliki oleh negara lain.

Indonesia adalah negara yang memiliki banyak kekayaan kearifan lokal yang tidak dimiliki oleh negara lain. Banyak abiotik, biotik maupun budaya yang dapat dimanfaatkan sebagai riset di bidang kesehatan. Jika dipetakan menurut triad epidemiologi, dari aspek host, agent dan environment di Indonesia memiliki ciri khas tersendiri yang tidak dimiliki oleh negara-negara lain.

Host, memiliki ciri khas tersendiri yang tercermin dari budaya. Riset di bidang kesehatan dapat memanfaatkan aspek tersebut, sehingga menghasilkan artikel ilmiah yang sangat bernilai untuk publikasi di jurnal nasional maupun internasional.

Penelitian tersebut tidak harus bersifat kualitatif tapi juga dapat dilakukan melalui riset kuantitatif. Kita harus pandai melihat segala fenomena yang terjadi pada masyarakat daerah di Indonesia untuk diangkat pada sebuah riset yang akan dijadikan sebagai jurnal penelitian.

Seperti riset kajian budaya terhadap masalah kesehatan, mengangkat variabel yang justru akan dinilai unik. Setiap daerah memiliki budaya yang berbeda, yang  menjadi nilai lebih untuk riset. Indonesia juga memiliki kesenian daerah seperti tari, upacara ritual keagamaan yang selama ini dianggap sebagai mitos penyembuhan dan kesenian lainnya dapat dijadikan sebagai riset.

Di masyarakat suku banjar Kalimantan Selatan mengenal kesenian yang bernama madihin, sebuah nyanyian yang berisi cerita ataupun pesan yang dapat dimanfaatkan sebagai media promosi kesehatan.

Dilakukan penelitian  dengan cara mengukur efektivitasnya, atau perubahan pengetahuan dan perilaku. Tentu jika dijadikan sebagai jurnal ilmiah yang dipublikasi akan menjadi rujukkan pembelajaran antropologi kesehatan.

Agent yang dimiliki Indonesia ada yang tidak ada di wilayah lain. Tentu kita mengenal cacing Buski yang hanya ada di Kalimantan Selatan. Para peneliti datang ke Kalimantan Selatan untuk melakukan riset dan hasilnya dipublikasi secara internasional.

Tapi sangat disayangkan banyak peneliti tersebut berasal dari luar negeri. Sungguh sangat ironis, kita sebagai pemilik Indonesia tetapi hanya bisa membaca saja jurnal yang penelitiannya ditulis peneliti luar negeri yang meneliti di Indonesia.

Environment Indonesia memiliki kondisi geografis yang sangat unik, dan setiap musim selalu menghasilkan dampak kesehatan. Kondisi geografis dapat menjadi riset yang berkaitan dengan gizi dan pangan, yang sebagai implikasinya terhadap penyakit akibat rawan pangan. Musim di Indonesia meskipun hanya memiliki 2 musim sering menghasilkan masalah kesehatan baik secara langsung maupun tidak langsung.

Jika kita mampu ekplorasi melalui riset dan dituangkan melalui jurnal ilmiah yang dipublikasikan tentu akan sangat menaikkan nama Indonesia dalam dunia pendidikan. Hasil penelitian tersebut tentu akan menjadi bahan yang efektif dalam advokasi kebijakkan strategis baik kepada WHO, FAO maupun lembaga internasional sehingga Indonesia terbantu dalam menyelesaikan permasalahan kesehatan.

Jalin Sinergitas, PAEI Sulsel Gelar Dialog Dengan Media Massa

Sinergitas PAEI dan Media Massa dalam Upaya Penanggulangan Current Issue Epidemiologi”, di Hotel Grand Imawan, Makassar, Jumat (18/8).

Dalam rangka mengembangkan dan mensosialisasikan eksistensi profesi epidemiologi kepada seluruh stakeholder dan lintas sektor terkait, Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) menggelar dialog “Sinergitas PAEI dan Media Massa dalam Upaya Penanggulangan Current Issue Epidemiologi”, di Hotel Grand Imawan, Makassar, Jumat (18/8).

Ketua Panitia dialog Sinergitas PAEI dan Media Massa, Dr Masriadi, mengungkapkan bahwa keberadaan PAEI sebagai organisasi profesi kesehatan di tingkat provinsi harus mampu berkontribusi terhadap peningkatan kesehatan bagi masyarakat Sulsel.

“Kehadiran PAEI wajib memberikan masukan bagi pemerintah di Sulsel, olehnya itu PAEI juga sangat mengharapkan dukungan dari media sebagai sumber informasi terkait kejadian-kejadian yang berkaitan dengan masalah kesehatan, khususnya yang penyakit yang bersifat epidemiologi,” terang Masriadi.

Dirinya juga menyampaikan bahwa dengan adanya dialog yang digelar, pihaknya juga bisa mendapakan masukan dari sektor terkait dalam rangka peningkatan dan pengembangan profesi epidemiologi di Sulsel.

Sementara, Ketua Umum PAEI Cabang Sulsel, Prof Dr Ridwan Amiruddin, dalam pertemuan tersebut menyampaikan visi PAEI adalah meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dengan mengembangkan ilmu pengetahuan dan metode epidemiologi dalam pemecahan masalah kesehatan.

“Misi PAEI yang utama adalah memberikan pandangan dan masukan kepada penentu kebijakan bidang kesehatan dari sudut pandang epidemiologi mengenai situasi kesehatan, kebijakan kesehatan serta kondisi masyarakat sebagai sasaran pelayanan kesehatan,” terang Ridwan.

Selain visi utama tersebut, lanjutnya, PAEI juga melakukan peningkatan capacity building bagi petugas kesehatan dalam bidang epidemiologi untuk mengemban berbagai tugas, mulai dari pelaksana, perencana, hingga pengambilan keputusan.

Sumber rakyatsulsel.com

Ini Peran Epidemiologi yang Perlu Mahasiswa Kesmas Tahu

Epidemiolog itu berpikir bahwa bagaimana caranya supaya orang jangan masuk Rumah sakit. Ini tugas yang harus dijalankan oleh seroang Epidemiolog

Peran seorang Epidemiolog dalam dunia kesehatan sangat penting. Seorang epidemiolog kesehatan bertugas melaksanakan kegitan pengamatan, penyelidikan/penelitian, tindakan pengamanan, penanggulangan, penyebaran/penularan penyakit dan faktor risiko yang mempengaruhi, secara cepat dan tepat dengan melakukan pengumpulan, pengolahan, analisis data dan interprestasi, penyebaran informasi serta pengembangan stretegi dan metode.

Hal ini diungkapkan saat kegiatan Sosialisasi dan Advokasi Peningkatan Profesionalisme Tenaga Epidemiologi Kesehatan (TEK) dan Pengukuhan Badan Pengurus Pengurus Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) Cabang Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), yang dilaksanakan Balroom Sotis Hotel, Selasa (8/8/2017).

Hadir saat kegiatan itu, Ketua PAEI Pusat, Dr. dr. Hariadi Wibisono, MPH, penggiat Unicef Dr. Ermin Ndoen, PhD.
Dr. Hariadi Wibisono, dalam materinya tentang rencana lima tahun kegiatan dan penguatan organisasi PAEI di NTT, mengatakan, tuntutan peran epidemiologi sesuai dengan tuntan zaman.

Oleh karena itu, seorang epidemiolog dituntut untuk mengikuti perkembangan yang ada saat ini.

“Epidemiolog itu berpikir bahwa bagaimana caranya supaya orang jangan masuk Rumah sakit. Ini tugas yang harus dijalankan oleh seroang Epidemiolog,” ungkap Dr. Hariadi.

Sumber kupang.tribunnews.com

Masyarakat Jakarta Mungkin Lebih Sehat Seandainya Jakarta Lebaran Tiap Hari

Coba lihat foto diatas! Kalo yang aku pelajarin, anak Kesmas pasti tahu deh, mungkin ini yang namanya Triple burden. Tau kan apa itu Triple Burden? Yang gak tau biar aku jelasin, yang lupa boleh kita belajar lagi sama-sama.

Triple Burden itu istilah yang dipakai dalam ilmu epidemiologi mas, mbak, om, tante, atau bahasa umumnya beban ganda atau berlebih. Indonesia termasuk salah satu negara yang menanggung beban berlebih.

Kenapa bisa disebut beban berlebih? Karena urusan penyakit menular belum beres, penyakit tidak menular trend-nya meningkat, untuk masalah penyakit menular dan tidak menular belum beres, lingkunganya juga ngikut mulai nggak beres.

Efek rumah kaca yang semakin meningkat, pencemaran dimana-dimana, masih dijumpai beberapa kawasan industri yang belum memperdulikan lingkungan sekitar, pengelolaan hasil limbah tidak sesuai SOP. Akhirnya pencemaran kemana mana, ke udara, air dll.

Sehingga akumulasi dampak bisa terjadi perubahan iklim, perubahan iklim mempengaruhi perubahan ekosistem, ekosistem mempengaruhi perkembangan” breeding place baru untuk pertumbahan vektor-vektor penyakit.

Kenapa situasi udara di Jakarta sebelum dan pasca lebaran berbeda? Mengingat Jakarta salah satu kota metropolitan, dimana volume kendaraan baik roda dua dan empat lumayan banyak, sehingga kalau kita akumulasi dampak asap dari kendaraan yang berjuta-juta tiap hari nya tidak menutup kemungkinan asap dari kendaraan ini akan naik berkumpul di atas udara dan terjadinya pencemaran udara.

Mengingat Jakarta juga salah satu daerah yang minim ruang terbuka hijau, sehingga sulit untuk terjadinya netralisasi, ditambah lagi aktivitas kawasan-kawasan industrinya, rokok, dll, dan ini memang bukan masalah baru, sudah klasik.

Masalah kesehatan yang agak sulit untuk dikendalikan, mungkin beberapa intervensi yang bisa dilakukan untuk memperkecil bahaya paparan pencemaran udara di Jakarta seperti pakai masker, itu yang paling mudah, untuk personal . Dan kalau masalah pencemaran lingkungan, sudah menjadi isu kesehatan global sebenarnya.

Harapan saya, kepada pemangku kebijakan seandainya jika masih ada kawasan hijau di Jakarta, ada baiknya dilestarikan, atau lebih diluaskan. Segera mengimplementasikan kawasan tanpa rokok di lingkungan DKI Jakarta walaupun tidak mudah.

Terakhir, semoga ada kebijakan yang mendukung program-program bidang kesehatan dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal.

Penyelidikan Epidemiologi Diterapkan Pada Kasus DBD

Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) yang sudah diketahui dan didata di Kabupaten Batara sudah dilakukan penanganan baik oleh dinas Kesehatan.

Untuk menjaga lingkungan sehat perlu partisipasi masyarakat, oleh itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Batara mengajak warga setempat untuk berperilaku hidup sehat.

Kadis Kesehatan Batara H Robansyah mengatakan, semua Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) yang sudah diketahui dan didata di Kabupaten Batara sudah dilakukan penanganan baik oleh dinas Kesehatan.

Yakni, dengan berkoordiansi dengan pihak rumah sakit dan pihak puskesmas. Bahkan, setiap ada kasus di rumah sakit oleh dinas Kesehatan Batara sudah dilakukan Penyelidikan Epidemiologi (PE) atau penanganan.

Penanganannya, sebut dia, dengan melakukan pengecekan apakah itu terkena DBD atau tidak, bukan hanya mengira-gira dengan melakukan pemeriksaan laboratorium dengan memeriksa sample darah.

“Sebab dengan PE kita bisa mengambil tindakan apa yang akan dilakukan selanjutnya,” kata Robansyah didampingi Kabid Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Junnu SKM MPH dan kasie Pencegahan dan Penanggulangan penyakit manular H Domi Sono SKM, kemarin (8/5).

Junnu menambahkan, upaya yang dilakukan Dinas Kesehatan selain penyuluhan, yang dilakukan mereka juga melakukan fogging untuk memutuskan mata rantai langsung.

“Kita harapkan jangan sampai terjadi penularan langsung jadi kita tetap melaksanakan fogging fokus. Sebab fogging sebelum masa penularan dengan melihat trend peningkatan penyakit itu dengan mengedepankan fogging fokus saja, yang diberantas atau disemprot adalah nyamuk dewasa, tapi kalau jentik harus melalui dengan melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PNS),” tutupnya.

SUMBER

Bukan Pegawai Biasa, Keahliannya Sebagai Intelijen Dibidang Penyakit

Hery Martanta bukanlah pegawai biasa. Keahliannya dalam bidang epidemiologi penyakit, “Saya ini intelijen di bidang penyakit,” kata Hery sambil tertawa.

Sebagai aparatur sipil negara (ASN) di Pemkab Klaten, Hery Martanta bukanlah pegawai biasa. Keahliannya dalam bidang epidemiologi penyakit tidak dimiliki oleh ASN yang lain. ”Kalau di Polri ada intelijen, saya ini intelijen di bidang penyakit,” kata Hery sambil tertawa.

Menurut pria yang kini menjabat Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan itu, menjadi ahli epidemiologi bukanlah cita-citanya sejak kecil. Disiplin ilmu yang mempelajari pola kesehatan dan penyebab berbagai penyakit serta fakor yang terkait itu, baru menariknya saat di bangku SMA.

Baginya, ilmu epidemiologi mengandung seni. Seni untuk mengamati, mencari dan menganalisis kemunculan sebuah penyakit. Mendalami ilmu epidemiologi, bagi sarjana kesehatan masyarakat lulusan Undip tahun 2000 itu, memiliki tantangan yang tidak ada di disiplin ilmu yang lain. Jika dokter hanya ahli memberi obat dan menebak penyakit, epidemiologi mencari penyebab penyakit. Meskipun tidak memberi obat bagi orang yang sakit, tetapi disiplin ilmunya itu mencegah kemunculan penyakit sejak awal. ”Saat saya memberi penyuluhan, kadang harus melarang orang untuk tidak melakukan sesuatu. Tetapi tidak waton melarang, melainkan berdasarkan ilmu,” jelas alumnus pascasarjana epidemiologi Undip 2010 itu.

Mempelajari ilmu itu menurutnya mengasyikkan, tetapi memerlukan kecermatan dan analisis yang tidak kalah rumit dengan ilmu eksakta. Meski disiplin ilmunya tidak begitu dikenal di masyarakat seperti kedokteran, tetapi Hery mengaku bangga dengan ilmu yang ditekuninya.

SUMBER